
Lauri lepas kendali. Ia menari dalam tarian kegilaan akibat kebencian dan kehilangan yang meremukkan hati. Apinya di tubuhnya terus berkobar! Membakar siapapun yang berani mendekat dan menghancurkan apapun yang menghalangi jalannya. Tujuannya jelas: untuk membunuh semua prajurit Iban yang ada di tempat itu. Hal ini memberikan kesempatan bagi para tawanan yang tidak berdosa untuk melarikan diri, bukan hanya dari penyandera mereka, namun juga dari Lauri yang saat itu terlihat lebih menyeramkan dari prajurit manapun!
Tak jauh dari Lauri, Maharati akhirnya berhenti histeris. Ia menegakkan tubuhnya dan dengan tangan gemetar, ia merapikan kain yang menutupi tubuh bayi Mawinei. Maharati mengulurkan tangan dan mengusap wajah mungil yang cantik itu dengan penuh perasaan, lalu menunduk dan memberikan kecupan di dahinya. Setelah itu Maharati meletakkan bayi Mawinei di atas lengkung lengan ibunya yang sudah tidak bernyawa. Wajah Mawinei dihiasi oleh senyum puas karena ia mati sambil berpikir bahwa ia telah berhasil membalaskan dendamnya pada orang yang telah menghancurkan keluarganya. Saat Mawinei masih dalam keadaan hidup tadi, senyum itu tampak terdistorsi oleh ekspresi kegilaan yang mewarnai wajahnya. Namun saat Mawinei telah tiada, yang tersisa hanyalah lekuk bibir yang mengabadikan keindahan wajahnya.
"Adikku yang malang. Kau selalu tahu bahwa pada suatu saat kaulah yang akan ganti melindungi kami dengan kekuatanmu, dan kau sudah membuktikan itu pada kami." ucap Maharati sambil mengusap wajah Mawinei dengan jari-jarinya yang masih gemetaran. "Kau tunggulah disini. Aku dan Lauri akan menyelesaikan semuanya dan setelah itu kami akan membawamu pulang ke rumah."
Kemudian Maharati membungkuk dan mencium kening adik kembarnya. Maharati menegakkan kembali punggungnya dan untuk sesaat mengagumi kedua anak dan ibu dihadapannya tersebut. Betapa cantiknya! Membuat Maharati merasa enggan untuk mengalihkan pandangannya. Namun ia harus melakukannya karena saat ini masih ada yang harus ia lakukan.
Maharati lalu bangkit dan berdiri. Ia bagai sebuah ranting kurus yang rapuh dalam balutan kemben hitam dan rok tenun yang panjangnya hanya mencapai di bawah lutut. Rambutnya yang hitam dan panjang berkibaran ditiup angin, sedangkan kakinya yang tanpa alas kaki tampak dipenuhi bekas luka. Maharati berbalik dan memandang ke arah adik laki-lakinya yang telah kehilangan kendali. Tarian apinya tampak begitu indah di mata Maharati. Adik laki-lakinya yang biasanya begitu penyayang dan lembut hati, sekarang telah tumbuh dewasa sebagai pencabut nyawa. Tapi cabutlah sepuasmu, Lauri! Toh mereka hanyalah binatang bertopeng manusia. Tak usah perduli. Lakukan saja.
Perhatian Maharati teralihkan oleh suatu gerakan di sebelah kanannya. Ia menoleh dan melihat seorang gadis kecil yang mungkin belum berusia 5 tahun, menyeret sebuah mandau yang pasti terasa berat baginya, mendekat ke sebuah tubuh yang sedang terkapar di atas tanah. Mata Maharati langsung membesar. Mamut! Itu adalah tubuh Mamut yang sejak terkena sambaran petir, menjadi tidak sadarkan diri. Maharati langsung berjalan mendekati tubuh tersebut dengan sorot mata yang dingin.
Gadis kecil itu sekarang sudah berdiri di dekat kepala Mamut. Ia membungkuk, memegang gagang mandau dengan kedua tangannya dan mencoba mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas kepala Mamut dengan wajah penuh tekad. Keringat membasahi wajahnya yang kotor dan dekil. Gadis kecil itu memundurkan sebelah kakinya, membungkukkan sedikit tubuhnya dan bersiap-siap mengarahkan mandau tersebut ke leher Mamut. Namun sebuah tangan menangkap gagang mandau yang ia pegang, menutupi tangan mungilnya dengan tangan orang dewasa. Si gadis kecil mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan mata dingin Maharati.
Gadis kecil itu mengenal Maharati. Terakhir kali mereka bertemu, Maharati membuatkan kudapan yang enak untuknya. Sejak tadi ia juga sudah melihat Maharati. Namun karena Maharati tampak sedang dalam masalah, ia tidak berani mendatanginya. Kini, melihat Maharati sedang menatapnya dengan tatapan yang terasa begitu asing, gadis kecil itu tak mampu menahan air matanya sehingga menetes satu persatu di wajahnya yang masih sangat belia.
"Apuy Bilung," Panggil Maharati dengan suara datar tanpa emosi. "Apakah kau mau membunuhnya?"
Gadis kecil itu bernama Apuy Bilung. Adik bungsu Deke, suami Mawinei. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat pria-pria dalam keluarganya dibantai. Ia juga melihat Nini, Uma dan Ulak bawi serta Angah bawinya dibunuh karena melawan saat mereka mencoba membawa pergi dirinya dan sepupu-sepupunya dari Betang dengan paksa. Itu adalah sebuah pemandangan yang tidak seharusnya dilihat oleh seorang anak kecil, namun Apuy Bilung melihat semuanya dengan mata terbuka lebar. Sekarang, menemukan bahwa pimpinan dari semua penjahat itu terbaring tak sadarkan diri disitu, yang terpikir di kepala Apuy Bilung hanyalah satu hal. Bahwa ia akan membalaskan dendam keluarganya dengan tangannya sendiri! Namun ternyata mandau itu terlalu berat untuk diangkat dan kakinya terlalu lemah untuk menahan tubuhnya agar bisa berdiri dengan stabil saat memegang mandau tersebut. Apuy Bilung merasa tak berguna. Itulah sebabnya, saat ia melihat Maharati menatapnya dengan matanya yang mirip mata orang yang sudah mati itu, Apuy Bilung tidak mampu menahan diri untuk tidak menangis.
"Jangan menangis! Ini bukan saatnya untuk menangis." Perintah Maharati.
Mendengar kata-kata Maharati, Apuy Bilung menarik nafasnya kuat-kuat untuk menahan agar cairan tidak mengalir dari hidungnya. Ia ingin mengusap air matanya dengan tangannya, namun kedua tangannya masih berada di bawah tangan Maharati yang telah menahan beban Mandau itu darinya, sehingga ia tidak bisa menggunakan tangannya tersebut. Apuy Bilung mengatupkan bibirnya dan mengangguk. Memaksa agar air matanya berhenti mengalir. Maharati benar! Ini bukan saatnya menangis. Ini adalah saat membunuh! Pikir Apuy Bilung.
Apuy berpikir sesaat, namun tak lama kemudian menggelengkan kepalanya. Tidak! Tentu saja itu tidak adil! Ia telah membunuh banyak orang. Namun mengapa ia hanya bisa mati sekali? Dimana keadilannya?
"Lalu bagaimana caranya supaya bisa adil?" tanya Apuy Bilung dengan suara anak-anaknya yang masih polos dan tidak berdosa.
"Menurut Mawinei, caranya adalah dengan memberinya kehidupan yang lebih buruk daripada kematian!" Sahut Maharati tegas. "Apuy Bilung, tutup matamu." perintah Maharati.
"Kenapa?" tanya Apuy Bilung tak mengerti.
"Kau tidak seharusnya melihat ini." Sahut Maharati.
"Aku sudah melihat semuanya." Sahut Apuy Bilung.
"Apa kau tidak takut?" tanya Maharati.
"Tidak." Sahut Apuy Bilung dengan keras kepala. Untuk sesaat Maharati hanya menatapnya tanpa berbicara. Apuy Bilung membalas tatapan Maharati dengan penuh tekad, berusaha meyakinkan Maharati akan keberaniannya. Melihat ini pada akhirnya Maharati hanya menarik nafas panjang dan berkata,
"Jangan katakan bahwa aku tidak memperingatimu untuk menutup mata dan tidak melihat ya."
Dengan membawa mandau di tangan kirinya, Maharati bergerak menuju ke area kaki Mamut dan mengangkat mandaunya tinggi-tinggi. Apuy Bilung membuka matanya lebar-lebar ketika melihat mandau itu turun dengan cepat dan menebas di bagian tengah paha kiri kaki Mamut. Kaki itu langsung terpisah dari tubuhnya. Rupanya rasa sakitnya membuat Mamut bergerak dalam ketidak sadarannya. Melihat ini, Maharati tersenyum dingin. Ia lalu menginjakkan kakinya ke bagian tengah pangkal paha Mamut dan menggunakannya sebagai pijakan untuk melintas ke sisi tubuh Mamut yang sebelahnya lagi. Mamut mengerang kesakitan, namun belum membuka matanya. Maharati berbalik dan kembali menghadap ke tubuh Mamut. Ia lagi-lagi mengangkat mandau di tangannya tinggi-tinggi dan kali ini menebas kaki Mamut yang masih tersisa, di tempat yang sama persis dengan kaki kirinya. Untuk sesaat Maharati memandangi hasil karyanya dengan kagum. Darah dan luka tidak lagi mengganggunya. Yang terlintas di kepalanya hanyalah kalimat, 'betapa simetrisnya!'
Merasa tak puas, Maharati berbalik ke kanan. Ia membungkuk dan menarik tangan Mamut hingga terentang jauh dari tubuhnya. Setelah itu, tanpa berpikir lagi, Maharati kembali mengayunkan mandaunya dan menebas tangan Mamut tepat di atas sikutnya. Mamut mengerang dan menggerakkan kepalanya. Wajahnya yang gosong berkerut-kerut kesakitan. Maharati memandang wajah pria itu untuk sesaat, namun karena Mamut belum juga membuka matanya, Maharati mengabaikan erangannya dan dengan sengaja menginjak tubuh pria itu untuk pindah ke sisi tangannya yang masih tersisa. Sebelum ia sampai, Apuy Bilung telah terlebih dahulu bergerak untuk merentangkan tangan Mamut. Maharati membiarkannya. Begitu Apuy Bilung selesai, Maharati langsung menebas tangan tersebut dengan mandau di tempat yang sama dengan tangan yang sebelumnya. Setelah selesai, Maharati melemparkan Mandaunya ke tanah. Ia lalu menempelkan tangannya ke dada Mamut dan memejamkan matanya. Cahaya putih kehijauan langsung menyebar dari bawah telapak tangan Maharati, ke seluruh tubuh Mamut. Tak lama kemudian luka-luka yang disebabkan oleh terpisahnya tangan dan kaki oleh mandau mengering dan menutup, lalu sembuh dengan kecepatan yang bisa dilihat oleh mata. Rainy menyaksikan itu semua tanpa bisa berkata-kata. Saat itu juga, Maharati telah berubah menjadi sosok pahlawan wanita baru dalam hatinya.