My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Pertanyaan Lara



Sepanjang perjalanan kembali ke ICCU, tidak seperti biasanya, Rainy tak bisa menahan diri untuk tidak memasang wajah cemberut. Bibirnya cemberut dan wajahnya tertekuk karena kesal. Di dalam kepalanya, Rainy terus memaki-maki Rosa dan Ardi. Sesungguhnya Rainy merasa sangat kecewa. Setelah ia menyerahkan perusahaan kepada Rosa dan meninggalkan Rumah kakeknya, Rainy setengah berharap bahwa perseteruannya dengan kedua saudara kandung ayahnya itu berakhir. Apa lagi yang mereka ingin ributkan dengan dirinya? Ia sudah memberikan semua yang mereka inginkan. Walaupun masih memegang posisi sebagai Kepala keluarga, tapi ia tidak melibatkan diri dalam urusan keluarga besarnya. Ia juga yakin bahwa penyerangan yang direkayasa Hendrik pada dirinya, dan mungkin juga pada ayahnya, tidak ada hubungannya dengan Rosa dan Rudi. Karena itu seharusnya mereka tidak lagi perlu mengganggu dirinya. Namun fakta menyatakan hal yang berbeda. Sangat-sangat berbeda!


Yang paling mengesalkan bagi Rainy adalah ia sempat mengira bahwa Rosa dan Rudi datang karena khawatir dengan keadaan Ardi yang sedang dirawat di ICCU. Namun ternyata, walaupun sempat menanyakan keadaan Ardi kepada Ratna, jelas sekali di mata Rainy bahwa yang mereka lakukan hanyalah sekedar basa-basi. Tujuan Rosa dan Rudi yang sebenarnya adalah untuk menemui Rainy dan membahas masalah Lilith dengannya. Mengapa ia harus perduli mengenai apa yang dilakukan oleh Lilith? Ayahnya hampir mati gara-gara perbuatan Lilian sehingga satu-satunya yang ia perdulikan saat ini adalah untuk menemukan cara untuk menghancurkan iblis-iblis tersebut! Apabila dulu, demi menghormati pesan Jaya Bataguh dan Marleena, Rainy masih memilih untuk setidaknya membina kedamaian palsu di antara iblis dan keluarga Bataguh, namun sekarang semua niat itu telah lenyap bersama kekejaman Lilian pada Ardi. Mulai saat itu ia tidak mau lagi mengurusi masalah keluarga yang tidak pernah bersikap selayaknya keluarganya itu dengan iblis. Tidak sudi lagi!


Melihat wajah Rainy yang tertekuk dengan sinar mata menyala-nyala, Raka dan Arka berpandangan. Rainy adalah seseorang yang jarang menunjukan pergolakan emosinya. Temperamennya cukup baik dengan kontrol emosi yang cerdas dan logika berpikir yang cenderung dingin. Di hadapan Raka, Arka dan kedua orangtuanya, Rainy sering berperilaku layaknya tuan puteri yang manja, namun itu karena mereka adalah kekasih dan keluarganya. Bahkan dulu, sebelum Arka menjadi putra angkat Ardi dan Ratna, Rainy masih membatasi sikapnya di hadapan Arka. Hanya sekarang saja, saat posisi Arka dalam hatinya telah berubah dari sepupu yang baru dikenalnya setelah dewasa, menjadi kakak yang kepada siapa ia berhak bermanja, barulah Rainy melepas filternya di depan pria itu. Sekarang, saat melihat wajah masam Rainy tahulah keduanya bahwa kali ini Rainy benar-benar dibuat marah oleh Rosa dan Rudi. Mulai sekarang, kecuali ada permintaan khusus dari Ardi, keluarga besar Bataguh boleh melupakan keberadaan Rainy sepenuhnya dari hidup mereka karena gadis itu tidak akan pernah memperdulikan mereka lagi. Well, setidaknya itu hal bagus, begitu pikir Raka karena sejak lama Raka memandang sebagian besar anggota keluarga besar Bataguh sebagai parasit raksasa. Semakin sedikit kontak Rainy dengan mereka di masa depan akan semakin baik bagi Rainy.


Ketika Rainy hampir mencapai ruang tunggu ICCU, langkah gadis itu terhenti. Rainy kemudian menarik nafas panjang dan merapikan ekspresi wajahnya. Dengan cepat muka datarnya kembali dengan kekuatan penuh, membuat Raka yang melihatnya dari samping, merasakan dorongan untuk bertepuk tangan. Gadis cantik miliknya ini, apabila ia menjadi artis, pasti akan meraup semua penghargaan artis terbaik dalam tahun pertama karirnya, begitu puji Raka dalam hati. Sambil tersenyum, Raka kemudian mengambil tangan kanan Rainy, menyatukan jari jemari mereka dalam genggaman erat dan lalu menariknya untuk kembali berjalan menuju ruang tunggu ICCU,


sementara Arka mengikuti di belakang mereka. Baru saja sampai di depan ICCU, sebuah tangan tersampir di bahu kiri Rainy dan menghentikan langkah gadis itu. Kalau bukan karena  tangan kanannya masih di gandeng Raka, orang tersebut pasti sudah jadi korban lemparan ala judo Rainy. Namun tak urung Rainy segera menarik tangan tersebut dan hampir memutarnya dalam kuncian keras ketika si pemilik tangan bereaksi dengan terkejut.


“Tunggu!” Sebuah suara yang sangat dikenal Rainy langsung berteriak keras. Rainy menoleh pada orang yang dengan panik langsung melepaskan lengannya dari bahu Rainy. Rainy kemudian bertatap-tatapan dengan Ivan yang menatapnya dengan wajah berkerut seolah hendak menangis.


“Mengapa kau sangat brutal sih?” Tanya Ivan sambil menepuk-nepuk dadanya, seolah-olah hendak menenangkan jantungnya yang berdetak kencang akibat dikejutkan Rainy.


“Ivan?” Tanya Rainy dengan kaget.


“Emm! Apa kau sudah lupa pada wajah sepupumu ini?” Tanya Ivan dengan kesal. Rainy menepuk-nepuk bahunya dengan wajah datar tanpa ekspresi.


“Lain kali bila kau melakukannya lagi, siap-siap saja terkurung di Rumah Sakit setidaknya selama setengah tahun akibat cedera tulang punggung.” Beritahu Rainy dengan wajah serius.


“Apakah itu ancaman?” Tanya Ivan dengan terkejut. Tanpa menjawabnya, Rainy melanjutkan langkahnya menuju ruang tunggu dengan Raka yang jari-jemari tangan kirinya masih terajut dengan jari-jemari tangan kanan Rainy. Raka hanya menggelengkan kepala pada ivan, namun Arka menyempatkan diri untuk menepuk bahu Ivan, mencoba menawarkan simpatinya, sebelum menyusul Rainy dan Raka. Melihat mereka berlalu begitu saja, Ivan mencibir kesal.


Di ruang tunggu mereka bertemu dengan Guru Gilang, Lara, Ace dan Natasha yang rupanya datang berkunjung berbarengan dengan Ivan. Begitu melihat Rainy, Lara langsung mendekat dan memeluk gadis itu dengan hangat, memaksa Raka untuk melepaskan tangan Rainy. Saat Rainy tenggelam dalam pelukan erat Lara, Raka berjalan menuju ke arah Guru Gilang dan mengangguk dengan penuh hormat. Guru Gilang balas mengangguk. Beliau malah mengangkat sebelah tangannya dan menepuk bahu Raka pelan. Percakapan tanpa kata mengalir lewat tatap mata keduanya, membuat Arka yang jeli sampai mengerutkan keningnya. Namun sebagaimana biasanya, Arka hanya menutup mulutnya dan berjalan ke sisi ibu angkatnya.


“Mengapa Rosa dan Rudi tidak bersama kalian?” Tanya Ratna pada Arka.


“Setelah selesai berbicara dengan Rainy, mereka langsung pulang, Ma.” Sahut Arka dengan lembut. Mendengar ini, Ratna menarik nafas panjang. Menyadari bahwa Ratna telah menduga maksud kedatangan kedua saudara iparnya tersebut begitu ia tahu bahwa Rosa dan Rudi telah pergi, Arka mengulurkan tangan dan menggenggam sebelah tangan Ratna dalam telapak tangannya. Arka menepuk-nepuk tangan ibunya pelan dan ketika Ratna menoleh ke arahnya, Arka memberinya senyum yang sangat jarang ia keluarkan. Membuat Ratna sedikit terpana.


“Waaah, mengapa kau begitu tampan? Sekarang mama tahu mengapa kau sangat malas tersenyum. Begitu engkau tersenyum, wanita-wanita muda yang melihatmu pasti tidak akan bisa lagi mengendalikan diri mereka.” Komentar Ratna sambil tersenyum. Sebelah tangannya mengusap wajah Arka dengan penuh sayang sementara itu Lara yang sedang memeluk Rainy, langsung melepaskan tubuh Rainy dan menoleh pada Arka yang saat itu posisinya sedang berada di belakang gadis itu. Sayangnya begitu ia berbalik, Raka sudah menarik kembali senyum dan hanya topeng dingin yang biasanya, terpasang di wajahnya. Lara langsung mencibir dengan penuh penyesalan. Rainy yang melihat ekspresi Lara, walaupun wajahnya tetap tanpa ekspresi, namun dalam hati ia tertawa geli. Arka memang keterlaluan! Pikir Rainy. Padahal Lara begitu cantik, lembut dan feminin. Mengapa Arka tidak pernah memperdulikannya? Padahal semua orang bisa melihat ketertarikan Lara terhadap Arka dalam ekspresi dan perilaku Lara. Sungguh sayang sekali!


Kehilangan kesempatan melihat senyum Arka, Lara kembali berbalik ke arah Rainy dan bertanya,


“Wajahmu pucat dan lingkaran hitam di bawah matamu begitu gelap. Apa kau belum tidur sama sekali?” Tanya Lara pada Rainy. Menarik nafas panjang, Rainy menggeleng.


“Aku hanya kelelahan saja. Tidak apa-apa.” Sahutnya.


“Itu bukan jawaban dari pertanyaanku.” Ucap Lara sambil menatap Rainy lekat-lekat. Rainy mengedipkan matanya sambil menatap Lara. Entah mengapa Rainy merasa sedang diinterogasi oleh seorang kakak. Padahal Lara seharusnya lebih muda beberapa tahun dari Rainy. Melihat tatapan gadis itu yang begitu tajam dan menolak untuk diabaikan, Rainy menarik nafas panjang.


“Tidak apa-apa. Aku hanya tidak bisa tidur selama Papa masih sakit. Nanti kalau Papa sudah sembuh, pasti aku bisa tidur dengan nyenyak lagi.” Sahut Rainy dengan jujur.


“Apakah kau diganggu oleh mimpi buruk?” Tanya Lara. Untuk sesaat Rainy terpana. Mimpi buruknya, mengapa Lara bisa menebaknya?