
Setelah kehancuran desa Long Isang, nama Panglima Lauri menjadi pahlawan baru yang ditakuti oleh banyak suku. Musuh yang ingin tahu sesekali mampir untuk menantang dan pulang hanya berupa potongan kepala yang menghitam dan sulit dikenali. Teman yang mencari pertolongan, datang dan memohon bantuan. Namun Lauri bahkan tidak mengijinkan mereka melihat wajahnya sedikitpun. Ia menyuruh Maharati memberitahu pada orang-orang itu bahwa bila mereka menginginkan pertolongan, mintalah pada tuhannya. Namun bila tidak berhasil juga, silahkan mencari Lilith. Lilith mungkin akan membuat mereka menjadi prajurit yang lebih hebat daripada dirinya.
Maharati tentu saja tidak menyampaikan saran terakhir ini. Lauri sudah memiliki banyak dosa di bahunya dan tidak perlu ditambahi dengan dosa menyesatkan orang lain lagi. Maharati memilih cara yang lebih logis yaitu berdebat semampunya. Maharati mengatakan bahwa adiknya hanya ada 1 dan tidak bisa dibagikan. Tanggung jawab adiknya adalah menjaga keluarganya dan bukan keluarga orang lain. Namun karena perkataannya ini, puluhan lamaran perjodohan langsung dilayangkan kepada Lauri, berharap gadis yang beruntung akan bisa membawa Lauri pulang ke desa mereka sebagai keluarga.
Setiap hari ada saja orang yang datang untuk menyampaikan lamaran. Dan bila lamaran tersebut di tolak, keesokan harinya ganti si wanita yang datang langsung menemuinya. Menanggapi kedatangan wanita-wanita ini, yang Lauri lakukan adalah memercikkan apinya ke rambut mereka dan membuat rambut wanita-wanita ini hangus terlalap api, tanpa melukai tubuhnya sedikitpun.
"Hari ini rambutmu. Kalau kau atau keluargamu berani datang lagi karena masalah ini, saat itu kulitmu yang tidak akan bersisa!" begitu satu-satunya ancaman yang Lauri ungkapkan. Setelah beberapa kali mengalami kejadian yang serupa, lamaran-lamaran tersebut akhirnya berhenti dengan sendirinya.
Dan semenjak itu kehidupan pun terus berlalu bagi Lauri dan Maharati. Maharati membaktikan hidupnya untuk mengajari wanita dan anak-anak caranya melindungi diri-sendiri sehingga para pria bisa kembali berdagang dengan hati tenang, sementara Lauri mendorong Angahnya menjadi kepala suku yang baru, sementara ia hanya berada di latar belakang, menjadi panglima tanpa suara.
Lauri membangun sebuah pondok di pinggir hutan dan memilih tinggal sendiri di sana, tidak bersedia untuk hidup dalam keriuh rendahan betang yang bersifat komunal. Maharati membiarkannya. Ia tahu dalamnya duka di hati Lauri dan ia memutuskan untuk tidak membicarakannya. Apa yang bisa kau bicarakan pada seseorang yang memilih melakukan hal terburuk karena alasan yang paling benar? Bila diijinkan untuk kembali pada saat itu, Maharati yakin Lauri tetap akan mengulangi perbuatannya. Ia tidak menyesali keputusannya. Ia hanya merasa terluka bahwa ia tidak punya jalan untuk kembali setelah melintasi batas-batas yang telah Allah tetapkan bagi umatnya. Dan ia yakin Allah tidak akan memaafkannya. pemikiran ini membuat Lauri hidup, namun tidak merasa hidup. Dan Maharati tahu bahwa tidak ada penghiburan yang bisa ia berikan untuk hal itu. Yang ia bisa lakukan hanyalah untuk sesekali duduk di samping adiknya dan menemaninya menikmati waktu yang berlalu dalam kebisuan.
Beberapa tahun kemudian, seorang gadis kecil menjadi dewasa. Birai, gadis kecil yang dahulu selalu memanggil dirinya sendiri sebagai Nara karena ia tidak menyukai namanya, telah menjadi gadis berusia 16 tahun yang penuh kehidupan. Birai tumbuh besar dengan mengikuti Lauri kemanapun ia pergi. Ia memproklamirkan dirinya sendiri sebagai sebuah ekor yang terlepas tanpa sengaja dari tubuh Lauri ketika Allah menciptakannya. Terhadap klaim konyolnya ini, Lauri menjawab,
"Allah tidak pernah salah dan seorang pria tidak memiliki ekor."
Namun si gadis kecil menggelengkan kepalanya dengan keras kepala, mempertahankan bualannya,
"Nara juga tidak pernah salah. Nara bahkan masih ingat rasanya hidup sebagai ekor kak Lauri."
Entah karena ia memang telah mengenal dan menyayangi Birai sejak belia, pada akhirnya Lauri mengalah pada keantikan gadis kecil itu dan membiarkannya mengekorinya kemana-mana. Lalu ketika Birai mulai tumbuh remaja dan berubah dari seorang gadis kecil yang menggemaskan, menjadi sekuntum anggrek hitam yang langka, sejumlah lamaranpun dikirimkan untuknya. Dengan tegas Birai menolak mereka semua. Ketika orangtuanya menanyakan alasannya, Birai menjawab karena dalam hidupnya ini, ia hanya akan menikahi Lauri saja.
Pada akhirnya kedua orangtua Birai menemui Lauri dan menyampaikan keputusan Birai padanya. Mereka meminta Lauri untuk membantu menjelaskan pada Birai bahwa ia tidak seharusnya mengejar cinta Lauri. Namun siapa sangka, kalimat yang terucap dari mulut Lauri adalah,
"Seorang wanita tidak menikahi seorang pria, tapi dinikahi. Tidak melamar, tapi dilamar. Kalau Birai memang menginginkan aku, aku yang akan melamar dan menikahinya."
Jawaban ini tentu saja membuat semua orang terpana karena tidak ada yang menduganya. Melihat ekspresi mereka, Lauri bertanya,
"Apakah menurut Angah berdua, aku tidak pantas menjadi suami Birai?"
Kedua orangtua Birai yang merupakan sepupu dari Datuk Rumbun itu langsung menggelengkan kepalanya dan dengan girang memeluk Lauri. Mereka bukan hanya berasa bahagia karena akhirnya putri mereka memperoleh tambatan hatinya, namun mereka juga merasa bersyukur bahwa pada akhirnya Lauri menunjukan kesediaannya untuk menjalani kehidupan yang normal.
Jadi begitulah, Lauri dan Birai menikah dalam sebuah upacara sederhana. Mereka masih tinggal di pondok mereka sendiri di pinggir hutan, dan untuk Lauri, Birai melahirkan 2 orang putra dan 3 orang putri. Tapi disinilah masalah baru mulai bermunculan.
Sebagai anak dari Lauri, keponakan dari Maharati, dan cucu dari Datuk Rumbun, adalah tidak mungkin rasanya bila anak-anak Lauri terlahir tanpa bakat yang diturunkan oleh leluhurnya. Putra tertuanya, Matingkei, dilahirkan dengan memiliki kemampuan menguasai api, walaupun tidak sekuat Lauri. Putri keduanya, Nara (namanya diambil dari nama alias Ibunya) adalah seorang sheer. Putri ketiganya, Mawinei (yep. Namanya diambil dari nama Gulunya yang telah tiada) adalah seorang empath. Lalu putri ke empatnya, Qeva, memiliki kemampuan untuk mengendalikan hewan.
Sebagai seorang ayah, Lauri tidak pernah mengajari anaknya cara mengembangkan kemampuan mereka. Ia hanya menuntut pada mereka 3 hal, tidak boleh menggunakan kemampuan mereka untuk mencelakai orang lain, merendahkan orang lain atau menantang orang lain. Ke empat anaknya tentu saja sangat patuh pada ayah mereka yang perkasa, namun bukan berarti iblis tak punya cara untuk menyesatkan anak-anak tersebut. Iblis mengirimkan Lilian sebagai perantara. Lilian kemudian mengajari anak-anak tersebut banyak hal dan dengan sangat halus membuat mereka menjadi prajurit kegelapan yang setia. Lilian mengajari mereka menggunakan mantera, mengajari caranya mengutuk dan juga menyembuhkan orang sakit dengan mantra dan jampi-jampi. Menjadikan anak-anak itu sebagai pasukan penyihir. Ketika Lauri serta Maharati menyadarinya, semuanya telah terlambat.
Lalu kemudian, saat melahirkan putra kelimanya, Birai menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dalam kedukaannya, Lauri menyerahkan putra bungsunya, Hanyi, pada Maharati dan meminta kepada kakaknya itu untuk membawa putra bungsunya jauh-jauh dari sana, agar ia bisa hidup sebagai hamba Allah yang mulia, terutama karena Hanyi terlahir dengan membawa elemen cahaya dalam tubuhnya. Tanpa pikir panjang, Maharati menyetujuinya. Ia kemudian membawa Hanyi meninggalkan desa dan menghilang untuk selama-lamanya dari desa tersebut.
Setahun setelahnya, pada hari ulang tahun Hanyi yang merupakan hari kematian Birai, Lauri melemparkan dirinya ke dalam sungai berair deras dan menghilang untuk selama-lamanya. Tubuhnya menjadi bagian dari sungai dan rohnya terkurung dalam tangan-tangan Lilith sampai kelak mungkin Allah, SWT akan memberikan ijin untuk menyelamatkannya.