My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Just Agree With Me



Rainy sedang bertaruh. Rainy berpikir bahwa dengan bersikap begitu dingin dan kasar, Raka akan merasa marah padanya. Namun Rainy meremehkan ketetapan hati Raka. Lagipula sebagai orang yang turut membesarkan Rainy, Raka sangat percaya bahwa ia mengenal Rainy lebih baik dari Rainy mengenal dirinya sendiri. Raka tidak semudah itu bisa ditipu. Itu sebabnya ketika diperlakukan seperti itu, bukannya marah, Raka malah mendengus geli. Raka mengulurkan kedua tangannya dan lagi-lagi, kembali mengurung Rainy dalam pelukannya.


"Permainan apa yang sedang kau coba untuk mainkan? Hmmm?" tanya Raka, dengan senyum geli menghiasi wajahnya. Hilang sudah semua penderitaan yang terpancar dari tubuhnya, berganti dengan.... Kelegaan?


Kening Rainy berkerut. Mengapa Raka merasa lega? Bukannya ia harusnya merasa terhina, terluka dan kecewa? What is going on? Topeng dingin yang terpasang di wajah Rainy langsung terlepas dan digantikan oleh wajah bingung yang menggemaskan. Dengan panik Rainy mencoba melepaskan diri dari kungkungan tangan-tangan Raka, namun Raka malah memeluknya semakin kencang hingga bagian perut ke bawah tubuh mereka menjadi melekat satu sama lain. Rainy meletakkan telapak tangannya di dada Raka untuk mendorongnya menjauh. Sayangnya ia tak cukup kuat untuk bisa melepaskan diri sehingga hanya tubuh bagian atasnya saja yang berhasil menjauh dari Raka, sementara perut sampai kakinya masih menempel rapat di tubuh pria itu.


"Lepaskan aku!" perintah Rainy. Perasaan bingung yang disebabkan oleh sikap Raka menyebabkan kemarahan mulai menguasai kepalanya. "Kubilang lepaskan aku!"


Melihat Rainy lepas kendali justru membuat Raka merasa senang. Ia mudah merasa terluka pada sikap dingin Rainy, namun Rainy yang lepas kendali lebih mudah di baca dan dipahami sehingga lebih mudah untuk dihadapi juga.


"Tak perlu berusaha keras seperti itu. Nanti kau bisa menyakiti bahumu." goda Raka, tersenyum senang melihat Rainy yang melotot padanya. "Katakan padaku, dari tadi bicara tidak karuan, sebenarnya permainan apa yang sedang kau rencanakan padaku?"


"Ini bukan permainan! Aku mengatakan hal yang sebenarnya!" Bantah Rainy keras.


"Kau hampir saja menipuku tadi. Tapi ketika kau merubah strategimu di akhir, aku menyadari bahwa ini semua hanya sebuah sandiwara belaka. Kau sudah tertangkap basah, nak. Jadi berhentilah berpura-pura. Aktingmu sama sekali tidak bagus. Sungguh memalukan untuk dilihat." Ejek Raka dengan kejam, membuat Rainy bertambah meradang.


"Aku tidak sedang berakting! Aku mengatakan yang sebenarnya! Aku sudah nggak mau sama kamu!" tolak Rainy keras.


"Bohong." sahut Raka dengan nada geli. "Teruslah berbohong kalau kau mau, tapi percayalah bahwa kebohonganmu itu tidak akan pernah berhasil."


"Aku tidak bohong!" cetus Rainy bersikeras.


"Rain, apakah kau lupa?" tanya Raka dengan sabar. "Aku termasuk salah satu yang membesarkanmu. Kau praktis tumbuh besar saat duduk di atas pangkuanku atau dipanggul di atas punggungku. Aku mengenal dengan baik semua perilakumu. Dan bahkan walau kau tidak pernah mengatakannya padaku, aku memahami semua rasa takut dan kesengsaraanmu. Aku mengenal semua sisi dari wajahmu. Aku tahu apa yang bisa mengganggumu dan apa yang bisa membuatmu tertawa. Jadi kau tidak akan pernah bisa membohongiku."


Saat mendengar kata-katanya, Rainy hanya bisa memandang Raka dengan mulut sedikit terbuka dan wajah yang tercengang. Sesaat kemudian ia mengatupkan mulutnya dengan kesal. Rainy kesal pada kepercayaan diri Raka. Rainy juga kesal karena Raka tak sedikitpun percaya pada kata-katanya.


"Orang bisa berubah. Jangan lupa, kita sudah berpisah selama 5 tahun." ucap Rainy, masih bersikeras untuk menutupi kebohongannya.


"....."


Terhadap kata-kata Raka ini, Rainy tak mampu berkata-kata. Apakah dirinya terlihat sebegitu polosnya sehingga tidak mampu membuat kebohongan yang meyakinkan di hadapan Raka? Tiba-tiba Rainy merasa kepergiannya selama 5 tahun untuk menjauhi pria itu sangat tidak berguna.


Raka mengangkat sebelah tangannya untuk merapikan anak-anak rambut di kening Rainy yang berantakan sambil berkata dengan lembut,


"Rain, aku tahu bahwa sejak dulu kau selalu mengkhawatirkan tentang keselamatan jiwaku. Kau khawatir bahwa jika kau menikahiku, seperti yang selalu kita impikan,"


Rainy membuka mulutnya untuk berbicara. Namun ujung jari telunjuk Raka menghentikannya.


"Jangan coba untuk berbohong lagi karena kebohonganmu tidak akan berhasil." tegur Raka tegas. Rainy menyipitkan matanya pada Raka dengan kesal dan membuka mulutnya lebar-lebar untuk menggigit jari telunjuk Raka yang menempel di bibirnya. Namun dengan sigap Raka menarik jarinya menjauh. Coba lihat dia, setiap hari berlagak dingin dan dewasa, namun ketika kebohongannya terbongkar, dengan cepat sifat aslinya muncul ke permukaan. Pikir Raka geli. Ia memegang belakang kepala Rainy dan memaksa gadis itu untuk menatapnya.


"Aku tahu kau berpikir bahwa bila kau menikahiku sama saja artinya dengan menghadiahkan jiwaku pada Lilith." ucap Raka sambil menatap lurus pada mata Rainy. Kata-katanya kembali membuat mata Rainy terbuka lebar karena terkejut.


"Oh, nggak usah kaget. Tentu saja aku tahu. Apakah kau lupa bahwa aku memiliki IQ yang superior? Lagipula, aku sangat mengenalmu. Akan sangat memalukan jika aku tak bisa memahami rasa takutmu yang satu ini." seloroh Raka, membuat Rainy kembali menyipitkan matanya dengan kesal. Narsis! Cela Rainy dalam hati.


"Dengar, selama ini aku tidak pernah percaya bahwa sebagai keturunan dari orang yang telah membuat perjanjian dengan iblis, maka ketika kau mati, jiwamu secara otomatis akan menjadi mainan iblis." ucap Raka. "Orang yang mengambil sumpah setia pada iblis adalah leluhurmu. Bukan dirimu! Kau tidak pernah sekalipun menyerah pada iblis. Kau tidak pernah mengambil keuntungan dari keberadaannya disekitarmu. Kau tidak pernah menerima apapun darinya dan tidak pernah menyukai keberadaannya di sekitarmu. Itu sebabnya ia tidak punya hak untuk menguasai jiwamu. Selama kau tidak pernah menyerah pada iblis, jiwamu adalah milikmu, dan hanya milikmu sendiri!" Raka melepaskan pinggang Rainy dan berganti menempelkan telapak tangannya ke kedua pipi Rainy. Ia memandang Rainy lekat-lekat dan berkata,


"Itulah sebabnya aku yakin dan percaya bahwa menikahimu tidak akan pernah menyebabkan aku celaka. Malahan menikah denganmu akan menjadi berkah dalam hidupku dan menjadikanku sebagai pria yang paling bahagia di dunia ini!" Kata-kata Raka menggetarkan hati Rainy dan tatapan mata Raka merebut semua kemampuannya untuk berpikir. Menikahi Raka adalah impian Rainy sejak belia yang ia abaikan karena ia ingin melindungi Raka dari cengkeraman Lilith. Namun kata-kata Raka barusan menggoyahkan hati Rainy. Merayunya untuk percaya serta membuatnya ingin menyerah dan meraih cintanya kembali. Tapi mungkinkah? Tanpa sadar mata Rainy menjadi berkaca-kaca.


Ujung ibu jari Raka mengusap lembut bibir Rainy. Wajahnya yang tampan berada begitu dekat dengan wajah Rainy, membuat Rainy tak mampu berpikir. Raka tersenyum lembut dan berkata dengan nada lembut merayu,


"So just agree with me, okay? Katakanlah bahwa kau bersedia untuk menikah denganku."


Copyright @FreyaCesare