My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Raka Dan Suara Adzan



Setelah selesai melepaskan semua emosinya di dalam mobil, di parkiran Rumah Sakit itu, Raka mengendarai mobilnya pulang ke rumah. Hal ini dilakukannya bukan saja karena ia telah mengatakan pada Rainy bahwa ia pulang untuk mandi, sehingga ia harus benar-benar melakukannya atau Rainy akan menyadari kebohongannya. Namun terutama karena ia tidak bisa bertemu Rainy dalam keadaan mata sembab dan memerah. Raka tak ingin Rainy mengetahui bahwa ia baru saja menangis, karena bila Rainy tahu maka ia akan bertanya dan Raka tak akan bisa menjawab pertanyaannya. Jadi Raka memutuskan pulang, mandi dan meletakkan kompres dingin di matanya untuk menghilangkan sembab. Siapa sangka, mungkin karena lelah menangis dan juga lelah berjaga di Rumah sakit selama beberapa hari, Raka jatuh tertidur saat sedang mengompres matanya dan baru bangun ketika adzan Ashar bergema dari masjid yang terletak tak jauh dari rumahnya.


Berbaring di atas ranjang, mendengarkan lantunan adzan, tak terasa air mata kembali menggenang di matanya. Walaupun di KTP tertera bahwa ia seorang muslim, Raka bukan berasal dari keluarga yang perduli pada agama. Apabila keluarga Jaya Bataguh jauh dari ajaran agama akibat pengaruh keberadaan Lilith dalam keluarga, namun keluarga Raka tidak memiliki alasan untuk itu. Mereka hanya tidak pernah diajari untuk beragama, kecuali saat 2 jam pelajaran agama Islam setiap  minggunya ketika ia masih di sekolah dahulu. Jadi walaupun Raka mengenal teori, praktek dan konsep Islam, ia tidak pernah melaksanakannya. Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, suara adzan yang memanggil dari masjid terdengar begitu merayu. Raka serasa dipeluk dalam kedamaian yang dibawa oleh lantunan adzan. Raka tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya dan ia merasa begitu tersentuh. Mematikan pikirannya, Raka mengikuti kata hatinya untuk beranjak mengambil air wudhu dan kemudian setelah mengenakan pakaian yang rapi, berjalan keluar menuju Mesjid untuk melakukan sholat Ashar.


Sepanjang ibadahnya, Raka seolah berada di bawah mantra. Ia menekan pikirannya untuk diam dan membiarkan telinga dan hatinya terbuka untuk menerima apapun yang bisa didengar dan dirasakannya pada saat itu. Mendengar ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan, hatinya membuncah bagai dipenuhi oleh gelombang tinggi, yang menerpa habis semua kehampaan dan kegelapan di dalamnya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya Raka merasakan keberadaan Allah dalam hatinya dan dalam seluruh jiwanya, membuat air mata terus mengalir dari sudut-sudut matanya sepanjang ibadah sholat berlangsung. Raka dipenuhi oleh penyesalan pada diri yang tidak pernah menoleh pada Allah. Raka dipenuhi kesedihan pada langkahnya yang tidak pernah mengingat Allah. Raka dipenuhi oleh rasa malu pada hatinya yang selalu mengabaikan Allah. Dan Raka dipenuhi rasa syukur karena disaat terberatnya, Allah telah mengulurkan tangan dan membawanya pulang. Walhasil, saat keluar dari Mesjid hati Raka dipenuhi oleh kedamaian, namun matanya kembali memerah dan sembab.


Saat tiba kembali di rumah, Raka berpikir untuk kembali meletakkan kompres mata untuk mengobati sembab matanya, namun video call dari Rainy membuyarkan semua rencananya. Saat Raka menerima videonya, hal pertama yang diucapkan oleh Rainy adalah,


“Raka, kau ada dimana?” Rainy kemudian menatap lurus ke arahnya, oh, bukan! Ke arah layar telepon genggamnya dan mengamati wajah Raka yang sembab. “Ra…Raka? Kau habis menangis?” Tanya Rainy tak percaya pada apa yang dilihatnya. Rainy tidak pernah melihat Raka menangis. Pria itu sangat keras kepala dalam menunjukan kepriaannya dan memandang air mata sebagai sebuah kelemahan bagi seorang pria. Tapi coba lihat, ia tiba-tiba muncul dengan mata sembab khas orang yang habis menangis dalam waktu yang cukup panjang. Apakah hari ini matahari terbit dari barat?


Mendengar pertanyaan Rainy, Raka tersenyum malu-malu, namun tanpa kesan hendak menutupi.


“Emm. Aku menangis sedikit.” Sahutnya. Hah? Yang benar? Pikir Rainy dengan shock. Ia menatap Raka dengan terpana. Sedikit? Tidak terlihat seperti sedikit ah! Bantah Rainy dalam hati.


“Kenapa kau menangis?” Tanya Rainy lagi.


“Nanti kuberitahu saat aku sampai di sana.” Ucap Raka, masih sambil tersenyum. Rainy menatap Raka dengan khawatir yang membuatnya tidak bisa keluar dari keterpanaannya. Namun senyum Raka terlihat begitu manis dan tanpa beban. Tampaknya ia tidak sedang dalam masalah. Rainy kemudian hanya bisa mengangguk pelan.


“Aku berangkat sekarang. Dah.” Lanjut Raka lagi.


“Dah.” Sahut Rainy masih dalam keadaan terbengong-bengong. Bahkan ketika Video call tersebut terputus, ia masih terpaku dalam ekspresi bingung yang tergambar jelas lewat kerutan di dahi dan matanya yang menekuri telepon genggamnya tanpa berkedip, sama sekali tidak bergerak. Arka yang duduk tidak jauh darinya, memanggilnya dengan hati-hati, khawatir akan mengejutkannya.


“Rain?”


“Ah?” Rainy tersentak kaget dan langsung mengangkat wajahnya ke arah Arka. Untuk sesaat matanya terbuka lebar. “Ya?”


Melihat ekspresinya, Arka mengerutkan keningnya.


“Tidak apa-apa. Aku hanya merasa bahwa Raka sedikit aneh.” Beritahu Rainy.


“Aneh bagaimana?” Tanya Arka. Lagi-lagi Rainy menggelengkan kepalanya.


“Mungkin hanya perasaanku saja.” Ucapnya pelan.


“Emm. Tanyakan saja pelan-pelan bila ia datang nanti.” Suruh Arka. Rainy mengangguk setuju. Namun kemudian ia kembali mengangkat wajah dan menatap Arka dengan ekspresi tertarik. Rainy meletakkan sebelah sikunya di atas sandaran kursi dan menopang dagunya dengan siku itu, lalu memiringkan kepalanya untuk menatap Arka dengan intens. Matanya berkilat oleh tawa.


“Cousin, kau berubah.” Selorohnya tiba-tiba. Kedua alis Arka langsung terangkat ketika mendengar kata-kata Rainy. Semenjak Ratna dan Ardi memutuskan untuk mengangkatnya menjadi putra angkat mereka, Rainy merubah panggilannya dari cousin menjadi kakak. Ini adalah pertama kalinya ia memanggil Arka dengan panggilan cousin lagi.


“Apa maksudmu?” Tanya Arka dengan nada datar seperti biasanya.


“Dulu, bila aku sedang mengalami sesuatu, kau hanya akan berdiri diam di sekitarku dan melindungiku tanpa suara. Tapi sekarang kau sudah bisa bersikap sebagai seorang kakak dan memberiku saran. Sungguh mengagumkan!” Ucap Rainy. Ujung-ujung bibirnya sedikit terangkat naik membentuk senyum tipis yang menghadirkan warna di wajahnya yang tadinya sedikit muram. Membuat Arka tidak bisa mengalihkan matanya dari wajah Rainy.


“Kau juga berubah.” Ucap Arka kemudian. Rainy menaikkan kedua alisnya dengan ekspresi bertanya.


“Kau menjadi lebih mudah tersenyum.” Ucap Arka menjawab pertanyaan tanpa suara yang dilontarkan oleh Rainy.


“Benarkah? Mungkin karena kau adalah kakakku dan aku sedang berada diantara keluargaku sendiri, sehingga aku merasa lebih nyaman.” Ucap Rainy sambil berpikir. Benar, sepertinya rasa nyaman itulah yang membuat Rainy lebih mudah melonggarkan sikap waspadanya sehingga  secara otomatis ia menjadi lebih mudah tersenyum. Rainy kembali menatap Arka dengan seksama. Rainy tidak tahu apa yang membuat dirinya merasa memiliki kedekatan dengan Arka bahkan sejak pertama Rainy melihatnya. Namun apapun itu, ia merasa bersyukur bahwa Arkalah yang menjadi kakak laki-lakinya dan bukan pria lain yang memikat hati kedua orangtuanya untuk mengambilnya sebagai anak mereka. Berpikir begitu, Rainy mengulurkan kedua tangannya dan mencubit pipi Arka dengan cukup kuat.


“Kakak, mengapa kau cantik sekali?” Selorohnya. “Sungguh menyebalkan!”


Mendengar kata-katanya, Kening Arka berkerut dan matanya menyipit. Ia cukup sensitif pada wajah cantiknya sehingga mendengar Rainy mengungkitnya membuatnya dilanda keinginan untuk balas mencubit pipi gadis di hadapannya itu. Tanpa pikir panjang, jari-jari Arka yang panjang, berwarna terang dan lentik, terulur dan balas mencubit pipi Rainy. Membuat gadis itu berteriak ‘Ah!’ dengan terkejut. Tingkah antik mereka membuat Ardi dan Ratna yang melihatnya tersenyum geli.