My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Setiap Adzan Tiba



Musa, Miranda dan Julian saling memandang. Tak lama kemudian, Miranda bertanya,


“Ibu, apakah sebelum ini anda pernah memeriksakan diri ke dokter?”


“Dokter, Psikolog. Psikiater… Saya pernah mendatangi mereka semua.” Jawab Herdianti sambil mengangguk.


“Apa diagnosa yang mereka berikan?” Tanya Miranda lagi.


“Depresi. Mereka mengatakan bahwa saya menderita depresi.” Jawab Herdianti.


“Apakah anda setuju dengan diagnose tersebut?” Tanya Miranda.


“Mereka tidak salah, saya memang depresi. Tapi saya akan sangat bersyukur bila ini hanya depresi.” Ucap Herdianti sambil mengerutkan bibirnya, tampak mulai kesulitan mengendalikan emosinya.


“Apakah anda merasakan hal lain?” Tanya Julian ingin tahu.


Wanita tersebut kemudian mengeluarkan telepon genggam dari dalam tas tangannya. Untuk sesaat ia mengutak–atik telepon tersebut sebelum kemudian menyerahkannya pada Miranda. Layarnya menunjukan video yang siap untuk diputar.  Miranda menatap Herdianti dan tersenyum meminta maaf.


“Ibu, bolehkah kami memutar video ini di layar monitor itu?” Miranda menunjuk pada monitor yang terpasang di dinding. Herdianti mengangguk. Miranda lalu mengirimkan video tersebut langsung ke komputer utama Divisi VII.  Tak lama kemudian video tersebut diputar, bukan hanya di monitor di ruang duduk, namun juga di salah satu monitor yang berada dalam ruangan Rainy, sehingga semua orang yang ada disitu dapat turut melihatnya.


Video tersebut tampaknya merupakan rekaman cctv dari sebuah kamar tidur. Dari sudut sebelah kiri atas rekaman terdapat catatan mengenai waktu yang menunjukan bahwa rekaman ini dibuat pada pukul 18.24. Yang pertama kali terlihat di video adalah sebuah ruangan dengan sebuah ranjang besar berada tepat di tengah-tengah ruangan, sebuah lemari built-in yang menutupi sebelah dinding di sisi kiri ranjang tersebut dan sebuah meja rias dan sepasang sofa di sebelah kanannya. Ruangan tersebut terlihat luas dan berperabotan mewah. Lalu terlihat herdiyanti keluar dari sebuah pintu dan memasuki ruangan sambil membawa handuk di tangannya. Sepertinya ia baru saja selesai mandi. Herdiyanti hanya mengenakan sepasang piyama yang bawahannya berupa celana pendek. Kakinya dibiarkan telanjang tanpa alas kaki.


Ketika sampai di kaki ranjang, yang merupakan lokasi fokus utama kamera, Herdiyanti melemparkan handuknya ke atas Ranjang. Tepat pada saat itu, suara Adzan bergema  terdengar nyaring. Herdianti langsung membungkuk sambil memegangi perutnya dan menjerit keras, seolah sedang kesakitan. Tak lama kemudian Herdianti jatuh tersungkur dalam posisi bersujud, lalu kemudian terjatuh ke sisi tubuhnya. Ia meringkuk di atas lantai, sambil terus memegangi perutnya dan berteriak-teriak kesakitan. Perutnya yang tadinya kecil dan rata, tiba-tiba membesar dengan kecepatan yang bisa di lihat oleh mata telanjang. Hanya dalam hitungan detik, tahu-tahu perut herdianti sudah membesar layaknya wanita yang sedang hamil 9 bulan. Herdianti terus berteriak-teriak dan meringkuk sambil memegangi perutnya, sampai pada suatu saat, ia berhenti bergerak. tampaknya sudah pingsan yang mungkin disebabkan oleh rasa sakit yang berlebihan. Herdianti terkulai di lantai dengan tubuh tak berdaya. Baju piyamanya tersingkap lebar hingga menunjukan perutnya yang membesar. Lalu suara Adzan berhenti. Bagaikan balon yang bocor, perut herdianti mengempis dengan kecepatan yang sama seperti saat ia membesar. Hanya dalam waktu 2 menit, perutnya telah rata kembali.


Semua yang melihat ini terpana. Betapa tidak, ini pertama kalinya mereka melihat hal seperti ini.


“Boss, ini…” Ace hendak bertanya, namun terlalu tercengang untuk mampu menguntai 1 kalimat. Namun Rainy mengerti tanpa perlu ditanyakan lebih jauh.


“Santet.” Sahutnya dengan suara dingin.


“Ah???”


“Ibu, sejak kapan ini terjadi?” Tanya Musa dengan nada lembut.


“Sudah 2 minggu ini.” Sahut herdianti,


“Sudah berapa kali ini terjadi?” Tanya musa lagi.


“Terjadi setiap suara Adzan dari dari Masjid bergema.” Jawab Herdianti dengan bibir mencebik sedih akibat menahan tangis yang mulai hidungnya memanas.


“Selain ini, apakah ada gangguan yang lain?” kali ini Julian yang bertanya.


“Tidak ada.” Herdianti menggelengkan kepalanya.


“Musa, minta ia untuk menunjukan secara live.” Perintah Rainy.


“Ibu, bisakah anda tinggal disini sampai waktu Adzan tiba? Kami perlu melihatnya secara langsung.” Tanya Musa kemudian.


“Baiklah.” Herdianti mengangguk. Ia tidak berkeberatan menunjukannya pada mereka karena tujuannya datang ke tempat ini adalah untuk meminta mereka membantunya menyembuhkan dirinya.


“Kalau begitu silahkan ibu mengikuti teman saya. Teman saya akan mengantarkan anda ke tempat dimana anda bisa menunggu dengan lebih leluasa.” Ajak Musa. Herdianti mengangguk.


Tak lama kemudian Sekar muncul dan membawa Herdianti untuk menuju ke Asrama. Di lantai paling atas dari asrama Divisi VII, selain beberapa ruang kelas, terdapat 4 buah kamar yang disiapkan untuk klien yang harus menginap. Kamar tersebut cukup luas dengan perabotan yang berkelas. Namun feature yang paling penting dari kamar tersebut adalah dindingnya yang dibuat soundproof sehingga seramai apapun kegiatan yang terjadi di dalamnya, tidak akan terdengar sampai keluar. Salah satu kamar tersebut telah disiapkan untuk menjadi tempat Herdianti beristirahat.


Sepanjang perjalanan menuju kamar, Herdianti banyak bertanya pada Sekar mengenai Divisi VII dan Sekar sedapat mungkin mempromosikan Divisi VII tanpa membuka identitas asli pemiliknya. Ia hanya menjelaskan bahwa Divisi VII adalah sebuah perusahaan yang dimiliki oleh sebuah keluarga Indigo yang telah beroperasi selama puluhan tahun dan hanya melayani para VVIP di negeri ini, dari belakang layar. Popularitas Divisi VII disebarluaskan secara verbal dan berita tentangnya tidak akan ditemukan dalam entertainment show manapun. Dan kedepannya Divisi VII hanya akan beroperasi dengan cara ini karena pemilik Divisi VII tidak tertarik pada popularitas. Awalnya Herdianti menyayangkan hal ini. Namun ketika mengingat jumlah fee yang harus ia bayar untuk konsultasi awal dan satu kali sesi pertemuan, ia yakin bahwa walaupun Divisi VII hanya memiliki sedikit klien, mereka tidak akan bangkrut.


Yang tidak Herdianti tidak tahu adalah bahwa alasan mengapa Divisi VII hanya beroperasi di belakang layar karena Rainy hanya berniat menggunakannya sebagai tempat untuk melatih diri dan membentuk pasukan guna meningkatkan kemampuan bertarungnya melawan Lilith, Jadi sana sekali bukan untuk mengumpulkan kekayaan. Rainy sudah sangat kaya sehingga walaupun ia hanya hidup berfoya-foya tanpa melakukan apapun seumur hidupnya, uangnya tidak akan pernah habis. Kalau bukan karena memiliki asisten seorang pelaku bisnis yang  mempertimbangkan uang sebagai tujuan utama pendirian perusahaan, Divisi VII mungkin hanya akan menjadi grup paranormal panggilan dari rumah ke rumah. Orang yang merancang perusahaan, menentukan spesifikasi klien dan menetapkan fee adalah Raka. Rainy bisa bersikap kejam dengan menuntut fee berkali-kali lipat hanyalah ketika ia sedang sangat marah saja. Namun biasanya ia tidak mau ambil pusing. Begitulah, jadi bagi Rainy, Raka bukan hanya seorang kekasih dan asisten pribadi, tetapi juga dewa kecil pemanggil uang.


Copyright @FreyaCesare