
Rainy mengambil telepon genggamnya dan menghubungi telepon genggam Batari. Namun teleponnya tidak aktif. Ia kemudian memutuskan untuk menghubungi Mr. Jack. Tak lama kemudian ia mendengar suara Mr. Jack yang terdengar agak tertekan di telinganya.
"Paman, apakah paman sedang bersama Dr. Batari?" tanya Rainy.
Hening sesaat sebelum akhirnya Mr. Jack menjawab.
"Benar. Aku sedang bersamanya."
"Apakah dia baik-baik saja?"
Kali ini yang terdengar menjawabnya adalah suara seorang wanita.
"Saya baik-baik saja, Rain. Terimakasih sudah mengkhawatirkan saya." sahut Batari sambil menghela nafas. Gadis ini adalah seorang yang baru dikenalnya, tapi ketika sesuatu terjadi, Rainy adalah yang pertama menanyakan keadaannya.
"Syukurlah. Kalian ada dimana?" tanya Rainy lagi.
"Kami di kantor polisi." jawab Batari.
“Mengapa kalian di kantor polisi?”
“Kami datang ke kantor polisi untuk minta perlindungan polisi.”
“Apakah kak Tari membutuhkan pertolongan saya?”
“Saya tidak bisa pulang ke rumah…”
"Pulanglah kemari. Saya punya banyak kamar di sini."
“Terimakasih, Rainy.”
“Emm. Kembalilah kemari begitu urusan di kantor polisi selesai.” Setelah menyudahi sambungan teleponnya, Rainy menoleh pada Natasha yang masih menunggu di sampingnya.
"Dimana Raka?" Tanya Rainy pada Natasha.
"Pak Raka sedang ada zoom meeting di ruang konferensi." Sahut Natasha.
"Kalau begitu minta tante Meyliana untuk menyiapkan kamar untuk Dr. Batari. Dan katakan pada Ace untuk menyiapkan mobil dalam 15 menit. Kita pergi ke Desa Ampari." Suruh Rainy.
"Baik, Boss." Natasha mengangguk dan langsung berjalan pergi meninggalkan kolam renang. Rainy memasuki paviliun dan bertemu Arka yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Bersiaplah. Kita akan pergi ke Desa Ampari dalam 15 menit." Suruhnya.
"Apakah kau butuh sesuatu untuk dibawa?" tanya Arka. Rainy menggeleng.
15 menit kemudian, Rainy, Arka, Natasha dan Ace sudah berada di dalam mobil yang melaju kencang meninggalkan Resort. Untuk perjalanan tersebut, dengan bijak Ace meminjam mobil dinas resort karena mobil milik Rainy terlalu berlebihan untuk dibawa memasuki desa. Mereka juga dengan sengaja memilih mengenakan seragam pegawai resort agar tidak menakuti penduduk dengan penampilan mereka. Dalam perjalanan, Rainy mengirimkan WA pada Raka untuk menginformasikan kepergiannya. Setelah itu Rainy menyandarkan kepala ke sandaran kursi dan memejamkan mata.
“Nat, coba ceritakan lebih jelas mengenai kasus hari ini.” Suruh Rainy. Natasha mengangguk.
“Tadi malam, karena hendak melahirkan, korban dibawa keluarganya ke rumah Bidan Desa. Tengah malam saat menunggu waktunya melahirkan itulah, orang yang ada dalam rumah tersebut, termasuk korban, Bu bidan dan
suami korban, juga orang-orang yang turut menunggu kelahiran bayi tersebut, semuanya jatuh tertidur. Saat mereka terbangun, tahu-tahu hari sudah pagi. Saat ditemukan korban tergeletak di ranjang, sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Kedua kakinya tertekuk dan selangkangannya terbuka lebar. Bayi laki-lakinya telah lahir dan tergeletak begitu saja tanpa ditutup sehelai benangpun, layaknya bayi yang baru saja dilahirkan, berada di antara kedua kaki ibunya. Bayi tersebut juga sudah tidak bernyawa. Kulit mereka mengering serta pucat pasi, persis seperti orang yang mati karena kehabisan darah. Anehnya, tak ada banyak darah yang menodai ranjang sebagaimana yang biasanya terjadi ketika orang melahirkan. Ah, dan ari-ari bayinya sudah tidak ada.” Cerita Natasha sambil bergidik ngeri. Natasha bersyukur bahwa ia tidak harus melihat sendiri kejadian ini atau dengan ingatan fotografiknya, ia akan dihantui oleh pemandangan tersebut seumur hidupnya.
Baik Rainy, Arka dan Ace, tak ada satupun yang tidak tergerak mendengar cerita ini. Bahkan Arka yang seharusnya tidak memiliki kemampuan untuk berempati, merasa bahwa korban dan bayinya sungguh bernasib malang.
“Lalu apa hubungannya semua ini dengan Dr. Batari?” Tanya Rainy kemudian.
“Dr. Batari memiliki sebuah kalung dengan liontin berbentuk koin emas yang selalu ia kenakan di lehernya. Fakta ini diketahui oleh banyak penduduk desa, karena Dr. Batari suka mengenakan kemeja dengan bagian leher terbuka, sehingga semua orang bisa melihatnya. Kalung yang serupa di temukan di atas tempat tidur, tepat di bawah tubuh bayi korban.”
“Apakah Dr. Batari memiliki alibi?” Tanya Rainy. Natasha mengangguk.
“Pada malam sebelum kejadian, Dr. Batari sedang pergi ke kota B bersama Mr. Jack untuk menonton di sebuah theater. Mereka menginap di kota B dan baru pulang siang harinya.”
“Jadi Paman Jack adalah alibinya.” Ucap Rainy. Natasha mengangguk membenarkan.
“Lalu apa lagi yang terjadi kemudian?” Tanya Rainy lagi.
“Saat Mr. Jack hendak mengantarkan Dr. Batari, mobil mereka berpapasan dengan penduduk Desa yang sedang berbondong-bondong menuju rumah dinas Dr. Batari, sambil membawa Mandau dan parang. Mereka berniat mengadili Dr. Batari secara adat. Untungnya kaca mobil Mr. Jack dilapisi film yang gelap sehingga penduduk tidak bisa melihat bahwa Dr. Batari sedang duduk di dalam mobil. Salah satu aparat desa yang mengenali mobil Mr. Jack, menelepon Dr. Batari dan memberitahukan kejadiannya pada mereka berdua. Mr. Jack langsung membawa Dr. Batari pergi sebelum penduduk desa melihatnya.” Ucap Natasha, mengakhiri ceritanya.
“Apakah sekarang penduduk masih menunggu di rumah dinas Dr. Batari?” Tanya Rainy.
“Sepertinya begitu.” Jawab Natasha.
“Kalau begitu, Ace, kita pergi ke rumah Kepala Desa terlebih dahulu.” Perintah Rainy.
“Siap, Boss!”
Desa Ampari hanya berjarak 2 km dari resort sehingga perjalanan kesana hanya membutuhkan waktu yang singkat. Mobil yang dikendarai Ace memasuki halaman rumah Kepala Desa dibawah tatapan mata para penduduk. Sebagai Desa terdekat yang berada di sekitar Cattleya Resort, Pihak Resort cukup sering bersinggungan dengan penduduk Desa sehingga mereka cukup mengenal orang-orang yang datang dari Resort. Lagipula mereka belum lupa bahwa beberapa minggu yang lalu, orang-orang berwajah indah dan berpakaian rapi ini pernah datang untuk memberikan santunan pada keluarga korban. Namun tetap saja, melihat 4 orang pria dan wanita yang berwajah cantik dan tampan keluar dari mobil, penduduk yang kebetulan melihatnya menjadi terpesona.
Mengapa orang-orang yang bekerja di Resort ini semuanya terlihat cantik dan tampan? Apakah resort tersebut cuma memperkerjakan orang-orang yang memiliki wajah indah saja? Coba lihat, wanita yang tinggi itu, bagaimana caranya agar bisa memiliki kulit seputih itu, tubuh setinggi itu dan wajah secantik itu? Kita dan dia sama-sama makan nasi, tapi mengapa penampilan kita tidak bisa disandingkan dengannya? Bahkan gadis tercantik di desa ini
tidak memiliki sepersepuluh dari kecantikannya, sungguh tidak adil! Dan pria itu, dia malah lebih cantik dari wanita! Dengan wajah seperti itu, dia pasti telah memikat banyak hati wanita! Begitulah percakapan yang berdengung di sekitar rumah Kepala Desa saat penduduk Desa mulai bergosip di antara mereka. Untungnya tak ada satupun dari percakapan itu yang terdengar di kuping Rainy dan timnya. Mereka memasuki kantor kepala desa dengan langkah-langkah ringan dan tenang.
Copyright @FreyaCesare