
"Oasenya nyata tapi jarak antara kita dan Oasenya tidak nyata? Saya tidak mengerti." keluh Rainy. Datuk Sanja tersenyum.
"Rainy, apa kau tahu tempat apa menara kultivasi ini?" tanya Datuk Sanja.
Tempat apa menara kultivasi ini? Bukankah jawabannya sudah jelas? Pikir Rainy.
"Tempat berkultivasi?"
"Apakah kau tahu bagaimana caranya seseorang berkultivasi di menara ini?" Tanya Datuk lagi.
"Hmmm... Dengan berlatih keras tanpa henti?" jawab Rainy ragu-ragu.
"Hal yang seperti itu, bukankah kau bisa melakukannya diluar sana? Mengapa kau memerlukan menara?" tukas Datuk dengan sebal.
"Datuk menanyakan ini pada saya, bukankah agak tidak adil? Saya tidak memiliki pengetahuan apapun tentang kultivasi sebelumnya jadi bagaimana saya bisa menjawab pertanyaan Datuk?" protes Rainy sambil memasang wajah cemberut.
"Ck ck ck... Dasar keras kepala! Kita masuk kemari dengan tujuan belajar dan berlatih. Jadi tidak bisakah kau mengambil sikap sebagai seorang murid yang selalu siap untuk melakukan yang terbaik ketika gurumu mengajakmu berpikir?" tanya Datuk Sanja.
"Oh, maafkan saya, Datuk." Ucap Rainy sambil menunduk. Rainy akui bahwa ia telah bersikap kurang sopan tapi itu kan karena... "Saya lapar, Datuk. Saat saya lapar, saya akan menjadi mudah marah. Jadi tolong maafkan saya."
Mendengar ini, Datuk Sanja tersadar. Ia lupa bahwa Rainy bukan anak-anak lain yang dibawanya kesitu sebelumnya, yang telah terbiasa berkultivasi sehingga tidak terlalu membutuhkan makanan sebagai sumber tenaga. Rainy masih manusia biasa yang masih memerlukan asupan makanan 3 kali sehari untuk bisa bertahan hidup, apalagi bila harus melakukan kegiatan yang membebani fisik sepanjang hari.
"Baiklah. Kalau begitu, ini untukmu." Datuk Sanja melemparkan sebuah tas serut mungil berwarna hitam yang entah dikeluarkannya dari mana. Dengan tangkas Rainy menangkapnya. Mengapa Datuk Sanja memberinya tas? Rainy melonggarkan tali serut tas tersebut dan mengintip ke dalam tas untuk mengecek isinya. Apa yang ada di dalamnya membuat Rainy terpana.
Tas tersebut mungkin hanya sebuah tas kain sederhana berukuran 20 x 20 cm dan dari luar terlihat kempes, seolah tak berisi. Namun saat melongok ke dalamnya, Rainy tidak merasa sedang melihat isi sebuah tas, tapi melongok ke dalam sebuah dapur penyimpanan makanan yang siap disajikan di restoran. Bagian dalam tas tersebut terlihat seperti sebuah ruang penyimpanan yang luasnya sekitar 2 x 3 meter dengan rak-rak menempel di setiap dindingnya dan berwadah-wadah makanan memenuhi seluruh rak. Sebagian besar tampak masih mengeluarkan asap seolah baru saja dimasak. Di rak bagian bawah dipenuhi banyak sekali botol air mineral 600 cc yang dingin, beberapa set teko teh yang ujung tekonya mengeluarkan uap panas, dan berkotak-kotak juice buah kemasan yang telah didinginkan sebelumnya. Aroma makanan menguar dari lubang tas yang makin membuat perut Rainy meronta-ronta.
"Datuk, ini...." tanya Rainy sambil menunjuk pada tas di tangannya dengan wajah terpana.
"Ah, apakah kau belum pernah melihat sesuatu yang seperti?" tanya Datuk Sanja. Rainy hanya menganggukkan kepalanya.
"Tas itu namanya tas kosmos. Ia adalah tempat penyimpanan yang walau bagian luarnya hanya seukuran 20x20cm, namun bagian dalamnya telah dimodifikasi sehingga menjadi sebuah ruang penyimpanan besar. Tas kosmos biasanya digunakan untuk menyimpan bahan makanan dan dan makanan jadi karena ia kedap udara dan waktu di dalamnya tidak bergerak, sehingga ketika masakan yang baru selesai di masak dimasukan ke dalamnya, saat dikeluarkan, makanan tersebut akan terlihat persis seperti saat baru dimasukan. Segar dan panas." beritahu Datuk Sanja yang menyebabkan Rainy tak mampu berkata-kata. Cheat! Ini adalah cheat yang paling besar! Kalau begitu caranya, bukankah itu berarti tidak akan pernah ada makanan basi atau bahan makanan yang kadaluarsa di dunia ini?
"Apakah ini sihir?" ucap Rainy pelan, tampak setengah linglung.
"Ah!" seru Rainy ketika sebuah pemahaman melintas di kepalanya. "Jadi tas kosmos ini adalah versi sederhana dari dunia kecil?" tanyanya pada Datuk. Datuk Sanja mengangguk.
"Tepat sekali! Hanya saja tidak ada mahluk hidup yang bisa tinggal dalam tas kosmos dan pernak-pernik sejenis ini."
"Apakah ukurannya hanya selalu sebesar 2x3m, Datuk?"
"Tentu saja tidak! Aku pernah melihat tempat penyimpanan yang besarnya 2 kali lapangan bola. Namun biasanya ia selalu berbentuk pernak-pernik seperti cincin atau kalung, atau jam tangan. Tapi untuk benda seperti ini, untuk membukanya diperlukan aliran qi pemiliknya. Bagi kau yang belum berkultivasi, ini tidak bisa dilakukan. Jadi sementara ini, untukmu cukup tas kosmos tersebut." beritahu Datuk. "Jangan berani-beraninya menghilangkan tas tersebut ya, atau kau tidak akan memiliki makanan untuk menopangmu selama 100 tahun."
"Eh, saya tidak yakin jumlah makanan yang ada di dalamnya akan cukup untuk 100 tahun." protes Rainy dengan kening berkerut.
"Emm. Itu cuma untuk persediaan sebulan. Tenang saja! Ungu sudah menyiapkan banyak makanan untukmu dan semuanya disimpan dalam tas kosmos seperti itu. Coba lihat lagi ke dalam. Seharusnya kau akan menemukan sebuah kotak kecil berisikan tas kosmos." suruh Datuk. Dengan patuh Rainy mengintip kembali ke dalam tas kosmosnya. Benar saja! Di salah satu sudut, Rainy menemukan sebuah kotak kayu mungil berisikan 2 buah tas kosmos dalam warna hitam dan putih. Rainy langsung mengeluarkannya dan memeriksa isinya. Tas kosmos hitam penuh berisikan tas kosmos hitam juga yang digeletakkan begitu saja di dasar tas. Dengan penasaran, Rainy membuka isinya dan menemukan bahwa isinya adalah masakan, minuman, buah-buahan dan beberapa bahan makanan. Bila isi semua tas kosmos hitam tersebut adalah makanan, maka sepertinya Rainy tidak perlu merasa khawatir dengan persediaan makanan selama 100 tahun.
Lalu Rainy membuka tas kosmos yang berwarna putih dan menemukan bahwa isinya adalah sebuah lemari pakaian yang dipenuhi oleh setelah pakaian longgar yang sederhana namun nyaman dipakai, lalu ada juga sejumlah pakaian pribadinya yang pasti telah disiapkan oleh Raka, lengkap dengan berbagai tipe sepatu olah raga dan sepatu boots penahan dingin, beserta mantel bulu yang tebal.
"Apakah kita akan bertemu dengan kawasan yang menyerupai Antartika di dalam menara ini, Datuk?" tanya Rainy.
"Mungkin saja." sahut Datuk. "Medan di menara kultivasi selalu berbeda tergantung dengan kebutuhan mereka yang datang untuk berlatih."
Ah, jadi mantel dan sepatu boot itu adalah untuk menjaga segala kemungkinannya. Raka memang sangat penuh pertimbangan. Ia pasti bertanya pada Ungu terlebih dahulu sebelum menyiapkan semua ini. Berpikir tentang Raka, bibir Rainy langsung tersenyum.
"Makanlah cepat! Bukankah engkau lapar?" suruh Datuk, yang dengan segera membuyarkan lamunan manis Rainy tentang Raka. Datuk Sanja kemudian mengeluarkan sepasang kursi, sebuah meja dan sebuah payung besar untuk berteduh yang Rainy duga keluar dari tempat penyimpanan pribadi milik Datuk.
"Apakah Datuk mau makan sesuatu?" tanya Rainy.
"Tidak perlu." Datuk Sanja menggelengkan kepalanya. "Beri aku sebotol air mineral dingin saja."
Dengan patuh Rainy duduk di salah satu kursi, mengeluarkan 1 kotak berisikan sapo tahu seafood dan nasi, serta 2 botol air mineral dingin, lalu makan dengan tenang. Sambil makan, ia bertanya,
"Datuk, jadi mengapa kita perlu berlatih kultivasi di tempat ini?"