My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Operasi Penyelamatan Arka



“Ah!” Rainy memegang kepalanya yang dipukul Datuk Sanja dengan  memasang ekspresi kesal. Orang tua ini, mengapa bukan hanya wajahnya saja yang mirip Niwe, namun perilakunya juga mirip? Niwe paling suka memukul kepala Rainy seperti itu bila ia merasa Rainy bersikap tidak masuk akal. Bukan pukulan yang kuat. Hanya sebuah pukulan ringan yang tidak akan menyakiti namun menimbulkan suara yang nyaring.


“Tapi benar kan ini hanya mimpi? Kalau bukan mimpi, bagaimana mungkin saya tiba-tiba berada di tempat ini, padahal tadinya saya berada di kamar rumah sakit?” Tanya Rainy lagi. Kali ini Datuk Sanja mengulurkan tangan dan mencubit pipi Rainy kuat-kuat.


“Ah!” Pekik Rainy.


“Kepehe jida?” Tanya Datuk Sanja yang menanyakan apakah pipi Rainy terasa sakit atau tidak saat dicubit.


“Kepehe.” Sahut Rainy, mengakui bahwa pipinya terasa sakit.


“Kepehe lah? Ow nupi beh. Buhen kok tau kepehe?” Ejek Datuk Sanja dengan gemas. Walaupun Rainy bukanlah seseorang yang fasih berbahasa Bakumpai, namun ia bisa memahami kata-kata Datuk Sanja yang menanyakan apabila pertemuan mereka ini hanyalah mimpi, mengapa Rainy bisa merasakan sakit. Mendengar ini, mata Rainy langsung berbinar.


“Jadi ini bukan mimpi, Datuk?” Tanya Rainy, meminta kepastian. Datuk menyipitkan matanya dan kembali mengulurkan tangan untuk mencubit pipi Rainy yang satu lagi, namun menyadari niat Datuk Sanja, Rainy dengan gesit menangkap tangan Datuk Sanja dan menahannya dalam tangan-tangannya. Rainy lalu mengangguk untuk menjawab pertanyaannya sendiri. “Bukan mimpi! Pipi dicubit terasa sakit jadi bukan mimpi! Tapi bagaimana caranya Datuk membawa saya kemari?” Tanya Rainy kemudian.


“Tentu saja itu karena aku sangat hebat!” seloroh Datuk Sanja dengan ekspresi bosan. “Daripada kau menanyakan hal itu, mengapa tidak membahas tentang bagaimana caramu untuk menyelamatkan Arka terlebih dahulu?”


“Kenapa? Apakah saya tidak boleh tahu?” Tanya Rainy dengan curiga. Datuk Sanja mengangguk kuat-kuat.


“Benar! Sekarang belum waktunya bagimu untuk tahu. Kau bahkan  seharusnya tidak berada disini dan berbicara denganku sebelum waktunya tiba. Kalau saja bukan karena rengekan Lara yang tiada henti memohon untuk diijinkan menolong Arka, aku tidak akan memanggilmu kemari.” Datuk memandang Rainy dengan tatapan tegas. “Karena itu berhenti bertanya-tanya, dan selamatkan saudaramu!”


Rainy memandang Datuk dengan ragu.


“Tapi bagaimana caranya?” Tanya Rainy.


“Jangan khawatir karena aku akan mengajarimu!” Ucap Datuk Sanja. “Dugaanku, Arka pasti disembunyikan di istana iblis itu, yang terletak di alamnya. Disana iblis betina itu memiliki sebuah istana yang besar, dimana dia berlagak jadi seorang ratu, yang dijaga oleh banyak sekali iblis kelas rendah dan kelas menengah. Aku akan mengirimmu langsung ke dalam istana tersebut. Saat telah berada disana, kau harus menggunakan koneksi yang terjalin antara kau dengan Arka, untuk menemukannya.”


“Sekarang duduklah di atas tanah dengan santai dan tutup matamu.” Perintah Datuk Sanja. Dengan patuh Rainy bangkit dari kursi dan pindah untuk duduk ke atas tanah berumput. Rainy menegakkan punggungnya, meletakkan tangannya di atas paha dalam posisi telapak tangan mengarah ke atas dan menutup matanya.


“Atur nafasmu. Gunakan nafas relaksasi. Kosongkan pikiranmu.” Rainy mengatur nafasnya. Ia menarik nafas panjang dengan lembut yang didorongnya langsung mengisi perut, menahannya selama 30 detik, sebelum kemudian menghembuskannya keluar dengan perlahan melalui mulutnya.


“Bayangkan wajah Arka. Imajinasikan sosoknya.” Ucap Datuk Sanja melanjutkan dalam suara bernada datar, dalam tutur yang perlahan. “Lihatlah apakah ada sesuatu yang menghubungkan dirimu dengan dirinya? Kalau kau belum berhasil menemukannya, bersabarlah dan dan biarkan Arka menuntunmu untuk menemukan hubungan tersebut.”


Rainy membiarkan dirinya larut dalam suara Datuk Sanja. Pelan-pelan dunia di sekitarnya menghilang dari indranya. Rainy melepaskan semua emosi dan mematikan volume suara-suara dalam kepalanya. Hanya ada suara Datuk yang menuntunnya selangkah demi selangkah ke alam spiritual yang berada jauh di dalam dirinya. Tak lama kemudian ia telah berhadapan dengan sosok Arka yang tengah tersenyum lembut padanya. Rainy mengulurkan tangannya dan Arka menyambutnya. Namun begitu tangan Rainy berada dalam genggaman tangan Arka, tubuh Arka berubah mengecil. Tiba-tiba Arka menghilang, dan di hadapan Rainy berdiri seorang anak laki-laki berusia sekitar 9 tahun. Mata Rainy langsung terbuka lebar. Ia terpana. Anak itu memiliki wajah yang luar biasa indah, yang sangat mirip dengan Arka. Namun entah bagaimana, Rainy merasa bahwa ia memiliki kedekatan emosi yang sangat kuat dengan anak tersebut padahal Rainy tahu bahwa itu adalah pertama kalinya ia melihat anak tersebut. Anak laki-laki tersebut tersenyum manis dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh kepala Rainy dan mengusap-usap poninya. Poni? Rainy mengerutkan keningnya. Sejak kapan ia mengenakan poni? Dan mengapa saat Rainy dalam posisi berdiri, matanya berada di posisi yang sejajar dengan anak yang berada di hadapannya itu? Rainy mengulurkan tangannya ke atas kepalanya dan menemukan poni menutupi keningnya. Mata Rainy lalu tertuju pada tangannya dan langsung terbelalak kaget ketika melihat bahwa tangannya tidak terlihat seperti tangannya yang biasanya. Itu bukan tangan orang dewasa, namun tangan anak kecil. Rainy terpana. Ia lalu menunduk dan menemukan bahwa tubuhnya bukan lagi tubuh seorang wanita dewasa, namun tubuh seorang anak kecil yang mengenakan gaun mungil setinggi lutut berwarna pink. Pink? Saat masih kecil, Rainy sangat tidak menyukai warna pink.


“Kenapa, Rain?” Tanya anak lelaki tersebut. Rainy mengangkat kepalanya dengan terkejut.


“Kau… Apakah kau mengenalku?” Tanya Rainy dengan ragu-ragu.


“Eh? Kamu ngomong apa sih? Kan kamu kakak kembarku!” Kata anak laki-laki tersebut, membuat Rainy kembali terpana.


“Kapan aku punya adik kembar?” Tanya Rainy. “Kau siapa?” mendengar pertanyaan ini, ekspresi anak laki-laki tersebut berubah cemberut. Ia melangkah maju lalu mengulurkan kedua tangannya dan menempelkan kedua telapak tangannya di pipi Rainy dan mulai menganiaya pipi gadis itu.


“Beraninya kau pura-pura tidak mengenal adikmu!” ucap anak laki-laki itu dengan penuh dendam. “Aku adikmu, Arka!” Kata-katanya tentu saja membuat mata Rainy terbuka semakin lebar. Arka? Anak ini adalah Arka? Namun saat Rainy melihat wajah anak laki-laki itu dengan lebih teliti, ia memang bisa melihat kemiripan anak tersebut dengan Arka. Tapi, sejak kapan ia dan Arka menjadi saudara kembar?


“Rain, kau adalah kakakku. Walaupun kau hanya lebih tua 10 menit dariku, tapi selamanya aku adalah adikmu. Kau tidak boleh melupakan aku!” Ucap Arka. Ia memegang bahu Rainy dan berkata dengan wajah serius. “Rain, bila sesuatu terjadi padamu, jangan khawatir! Aku tak akan membiarkan kau sendirian. Bila aku sedang tidak disisimu dan kau tidak bisa menemukan aku,” Arka meletakkan ujung jari telunjuknya ke dahi Rainy. “Panggillah aku dalam pikiranmu dan aku akan menjawabmu.”


“Bagaimana bila kau tidak bisa menjawabku?” Tanya Rainy kemudian. Mendengar ini, Arka kecil tersenyum manis.


“Aku pasti akan menjawabmu, tidak perduli dimanapun aku berada!”