
Rainy memandang pada wanita yang duduk di sofa di hadapannya itu dan berkata,
"Ibu, anda bisa mengikuti wanita tadi. Ia akan membawa Ibu untuk menemukan tubuh Ibu kembali."
Wanita itu mengangguk.
"Aku tahu. Tapi sekarang sudah tidak perlu lagi." wanita tersebut menoleh ke arah pintu yang tertutup sambil tersenyum dan melanjutkan. "Seseorang sudah datang untuk menjemputku." ia lalu bangkit dari duduknya dan memandang Rainy dengan senyum hangat.
"Terimakasih atas bantuanmu." ucapnya. Rainy langsung menggelengkan kepalanya. Ia tidak merasa telah membantu wanita tersebut sehingga ia merasa tak layak menerima ucapan terimakasihnya.
"Saya tidak melakukan apapun, bu. Jangan berterima kasih pada saya." tolaknya. Senyum wanita itu menjadi semakin lebar saat mendengarnya.
"Kamu membuat saya tenang. Kalau tidak bertemu dengan kamu, mungkin saya sudah kehilangan kemampuan berpikir saat tak ada seorangpun yang bisa melihat saya. Jadi terimalah saja ucapan terimakasih saya ya."
Karena malas berdebat, Rainy mengangguk.
"Baiklah." jawabnya. Wanita itu kemudian berjalan perlahan menuju pintu. Lalu terus berjalan menembus pintu yang tertutup. Setelah wanita itu menghilang, Rainy menghela nafas panjang dan mengangkat wajah untuk bertatapan dengan Arka yang berdiri tak jauh darinya.
"Apa ia sudah pergi?" tanya Arka. Rainy mengangguk. Arka menarik nafas panjang dan duduk di sebelah Rainy. Desah nafasnya yang terdengar resah membuat Rainy menoleh padanya. Sepupunya itu tampak sedang berpikir keras. Profil wajahnya yang indah, tulang pipinya yang tinggi dan dagunya yang tegas sungguh bagaikan hidangan yang nikmat bagi mata Rainy. Sayang sekali, kerutan di dahi Arka mengganggu kesempurnaan wajahnya. Membuat Rainy menggerutu dalam hati. Tanpa sadar jemarinya sudah terulur untuk melicinkan kerutan tersebut, sehingga menyebabkan bukan hanya Arka yang merasa terkejut, namun bahkan Rainy sendiripun merasa terkejut.
Mata gadis itu terbelalak menatap jemarinya yang nakal dengan ngeri. Arka mengangkat wajahnya dan memandang ke arah Rainy sementara di saat yang sama, Rainy juga memandangnya. Mata Rainy berkedip-kedip panik, membuat senyum tanpa sadar terukir di bibir Arka. Senyum Arka menyadarkan Rainy dari kepanikannya. Ia menarik kembali tangannya dengan malu dan berusaha menetralkan kembali ekspresinya.
"Apa yang sedang kau pikirkan sampai keningmu berkerut seperti itu?" tanya Rainy. Kata-kata Rainy menghilangkan senyum di bibir Arka. Ia kembali mengerutkan keningnya dengan sangat serius.
"Aku sedang berpikir..." ucapnya pelan. Rainy mengangkat kedua alisnya dan berkomentar dalam hati. Right, don't you think I know that, bro?! Namun ia menahan lidahnya.
"Rainy, bukankah waktu itu kau membuat Ibu Sinta bisa melihat yang tidak kasat mata?" tanya Arka.
"Emm." Rainy mengangguk.
"Dapatkah kau membuatku bisa melihat juga?" tanya Arka lagi. Kening Rainy langsung berkerut mendengarnya. Mengapa tiba-tiba Arka ingin agar bisa melihat yang tidak kasat mata?
"Mengapa kau ingin bisa melihat mereka?" tanya Rainy heran.
"Tugasku adalah untuk melindungimu. Namun bagaimana aku bisa melindungi dirimu bila aku tidak bisa melihat bahaya yang datang mendekatimu?" jawab Arka. Kata-katanya membuat Rainy tercenung. Ia memandang wajah tampan Arka sambil berpikir jawaban seperti apa yang seharusnya ia berikan. Butuh beberapa menit berlalu sebelum Rainy akhir mengangkat suaranya.
"Sesungguhnya bahkan bila kau bisa melihat sekalipun, kau tidak akan bisa melindungi ku dari yang tidak kasat mata." jawab Rainy. Mendengar jawaban tersebut ekspresi wajah Arka langsung berubah. "Kecuali...." lanjut Rainy cepat-cepat, tak tega melihat kekecewaan Arka. "Bila kau dipersenjatai dengan darahku."
"Darahmu?" kata-kata Rainy mengingatkan Arka pada kejadian saat Rainy melukai ujung jarinya agar bisa mengalirkan darah ke atas belati yang kemudian digunakannya untuk membunuh iblis yang menyerang Laura.
"Emm." Rainy mengangguk. "Tahukah kau bahwa kekuatan yang paling utama yang dimiliki oleh keluargaku adalah kemampuan untuk mengendalikan api neraka?"
"Api neraka?" heran Arka.
"Emm. Seperti ini." Rainy mengulurkan sebelah tangannya dengan telapak tangan menghadap ke arah langit-langit. Tak lama kemudian percikan api tiba-tiba muncul dari ujung-ujung jarinya, yang dalam sekejap langsung melebar ke seluruh permukaan telapak tangannya. Anehnya, api yang berwarna merah menyala itu tampak berkobar dengan tenang, seolah ia adalah sebuah entitas yang memiliki kesadaran dan sedang menunggu dengan sabar untuk diperkenalkan pada Arka.
Arka memandang Rainy dan api tersebut dengan takjub. Bagaimana mungkin api bisa muncul begitu saja dan berkobar di tangan Rainy, sementara Rainy sama sekali tidak tampak kepanasan atau kesakitan? Apakah ini trik sulap?
"Ini bukan sulap. Api ini muncul dari dalam tubuhku dan bersemayam dalam darahku." ucap Rainy yang bisa membaca Pikiran Arka hanya dari melihat ekspresi wajahnya.
"Bagaimana bisa..."
"Entahlah." Rainy mengangkat bahu. "Bagaimana bisa Raka melihat masa lalu suatu benda hanya dengan menyentuhnya? Bagaimana bisa Ivan merasakan emosi orang lain layaknya merasakan emosinya sendiri? Bagaimana bisa Ace menyebabkan para mahluk tak kasat mata lari tunggang-langgang setiap kali ia mendekat? Jawabannya adalah sama. Tidak ada yang benar-benar tahu penyebabnya."
"Apakah tidak panas?" Tanya Arka.
"Tidak panas sama sekali. Coba sentuhlah." Suruh Rainy, mengulurkan tangannya mendekati Arka. Arka mengulurkan jarinya untuk menyentuh api tersebut. Ketika ujung jari Arka mendekat, nyala api tersebut tampak berhenti bergerak sesaat, sebelum kemudian dengan tiba-tiba nyala api tersebut memanjang dan bergerak cepat melingkari jari tangan Arka, membuat pria itu terkesiap. Nyala api tersebut diam disana selama beberapa detik, sebelum melepaskan diri dan kembali ke bentuknya semula. Api itu kembali berkobar dengan tenang di atas telapak tangan Rainy.
"Benar-benar tidak panas." ucap Arka takjub.
"Emm. Api ini hanya bisa membakar makhluk-makhluk kegelapan. Bagi kita dan semua mahluk yang masih hidup, serta semua benda yang berasal dari dunia ini, api ini tidak berbahaya sama sekali. Mungkin itu sebabnya leluhurku memberinya nama Api Neraka. Karena ia hanya bisa digunakan untuk membunuh mahluk yang datang dari neraka."
"Api ini bisa membunuh mahluk kegelapan?"
"Benar. Dan karena api ini bersemayam dalam darahku, maka darahku juga bisa digunakan untuk membunuh mahluk kegelapan." jawab Rainy.
"Pantas saja waktu itu kau melumuri belati itu dengan darahmu." ucap Arka.
"Emm. Itulah sebabnya mengapa untuk melindungiku, kau tidak perlu untuk bisa melihat mereka yang tidak terlihat. Cukup lindungi aku dari sesama manusia, karena aku mampu untuk melindungi diriku sendiri dari mahluk halus." tegas Rainy sambil menarik kembali api dari telapak tangannya masuk kedalam nadinya.
Arka kembali tercenung saat mencerna semua informasi yang baru diterimanya. Melihatnya membuat Rainy merasa lega karena ia yakin bahwa penjelasannya akan membuat Arka menarik kembali permintaanya. Namun beberapa saat kemudian, Arka berkata,
"Tapi tetap saja akan lebih mudah bagiku bila aku bisa melihat apa yang engkau lihat."
Rainy tertegun. Dia sudah hampir berhasil mengelabui pria itu, sayang sekali Arka sangat tidak penurut.
Copyright @FreyaCesare