My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Apa Yang Paling Kau Takuti? III



"Tentu saja aku tahu!" sahut Rainy dengan dingin. "Kau hanya parasit kecil yang hidup menumpang di tubuh putri Mawinei, yang bertujuan untuk menyelewengkan putri Mawinei dari Jalan Allah. Mati? Hah? Kau bahkan belum pernah hidup!" Hina Rainy keras.


Untuk sesaat Lilian terpana. Namun kemudian tatapannya berubah dingin dan kemarahan yang liar tergambar jelas dari ekspresi wajahnya. Sesuatu dalam tatapannya membuat firasat buruk merayapi hati Rainy, membuatnya menyesali lidahnya yang tak gentar melawan padahal sudah tahu bahwa keluarganya sedang berada di bawah kekuasaan Lilian. Mata Rainy membesar ketika melihat Lilian berbalik. Tiba-tiba di tangan iblis tersebut muncul sebuah belati. Dengan ngeri Rainy menyadari bahwa itu adalah belati yang sama persis dengan belati yang digunakan Mamut untuk menghabisi nyawa Mawinei. Belati milik Mawinei yang menjadi penyebab kematiannya, beserta putri yang masih berada dalam kandungannya. Lilian bergerak dengan cepat dan tahu-tahu ia sudah berada di hadapan Ratna yang masih dalam posisi berlutut dan mendongak ke atas karena rambutnya ditarik kuat-kuat oleh iblis yang berada di belakangnya, membuat Rainy dihantam oleh rasa panik yang sangat kuat. Lilian membungkuk dan membelai wajah Ratna dengan ujung kukunya, membuat Rainy secara otomatis mulai meronta-ronta di atas kursinya kembali. Mata Lilian melirik ke arah Rainy dan seulas senyum jahat menghiasi bibirnya.


"Coba lihat mamamu," ucap Lilian pada Rainy dengan suara mendayu-dayu. "Begitu cantik, namun begitu tidak berdaya. Persis seperti ibuku dulu."


"Lilian, kau mau apa? Jangan ganggu mamaku! Lilian!" jerit Rainy keras. Namun Lilian tidak menggubrisnya. Ia mengusap bagian atas kepala Ratna dengan lembut, seolah ia sedang mengusap kepala putri kecil kesayangannya.


"Apa kau tahu, Rainy? Aku selalu merasa iri karena kau dibesarkan oleh ibu dan ayah yang sangat memanjakanmu. Kau sungguh beruntung. Mengapa kau boleh begitu beruntung, sementara aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk merasakan belaian tangan ibuku walau hanya sekali saja? Sungguh tidak adil!" ucap Lilian Lagi.


"Jangan ganggu mamaku! Mama! Lilian, lepaskan Mamaku!" pekik Rainy lagi dengan tubuh yang terus meronta-ronta tanpa kenal lelah. Sayangnya rontaannya bahkan tidak mampu membuat kursi yang didudukinya bergerak. Lilian sepenuhnya mengabaikan protes Rainy dan tidak menoleh ke arahnya. Ia masih mencurahkan perhatiannya pada Ratna yang hanya bisa memucat tanpa suara. Tanpa daya untuk melawan.


"Menjauh dari mamaku, kau iblis!" pekik Rainy lagi.


"Hari ini, sudah saatnya kau merasakan apa rasanya kehilangan ibumu di hadapanmu, Tanpa memiliki daya apapun untuk bisa menolongnya, Rainy." ucap Lilian dengan dingin. Iblis itu kemudian menegakkan tubuhnya. Lilian mengangkat tangannya yang menggenggam belati tinggi-tinggi. Lalu, dibawah tatapan ngeri Rainy, belati itu bergerak turun dengan kecepatan tinggi langsung menusuk ke tempat dimana jantung Ratna berada. Ratna bahkan sama sekali tidak mengeluarkan suara. Ia menunduk dan memandang ke arah belati dan tangan yang telah menghujamkan belati itu ke arahnya. Dari tatapannya yang sedikit kosong, Ratna tampaknya belum menyadari apa yang sedang terjadi. Lilian kemudian melepaskan pegangannya pada belati tersebut, sementara Ratna mengangkat wajahnya dan menoleh pada Rainy. Dengan hati hancur, Rainy melihat sinar di mata ibunya meredup, sebelum kemudian tubuhnya melunglai. Iblis yang berdiri di belakang Ratna, melepaskan cengkeramannya pada rambut Ratna dan membiarkan tubuh wanita itu jatuh terkapar di atas rakit. Di sebelahnya, Raka sudah berurai air mata, sementara Rainy kembali meronta-ronta dengan histeris.


"Mama! Mamaaaa! Iblis! Beraninya kau menyakiti mamaku! Aku akan membalasmu! Aku akan membalasmu!" Air mata membanjiri wajah Rainy. Ia memandang tubuh Ratna yang terkapar tak bergerak di dekat kaki Lilian. Wajah cantik Ratna membeku dalam ekspresi terkejut sementara matanya yang tak lagi berbinar, terbuka lebar. Darah mengalir membasahi bagian atas pakaiannya hingga menetes turun dari sela-sela rakit dan langsung terjatuh ke atas sungai berapi. Setiap tetesnya membawa pergi kehidupan dari dalam tubuh Ratna dan menggantinya dengan kematian.


Mendengar jeritan Rainy, Lilian mencibir dengan penuh penghinaan.


"Membalasku? Boro-boro membalas, kau bahkan tidak bisa melindungi dirimu sendiri. Sungguh menggelikan!" ejek Lilian dengan jumawa. "Adik kecil, sekarang kau tidak lagi memiliki orangtua, sama seperti aku. Bagaimana? Apa kau suka?"


Rainy mengangkat wajahnya dan memandang Lilian dengan penuh kebencian. Melihat ini, Lilian bergidik pelan; berlagak ketakutan.


"Waaah, kau memang keras kepala! Kau sudah kehilangan orangtuamu, apa kau mau kehilangan suamimu juga?" tanya Lilian, mengingatkan.


Kata-katanya kontan mengingatkan Rainy pada Raka yang masih berada di tangan iblis. Saat itu, Raka masih berada pada posisi tengkurap di atas rakit dengan sebelah kaki iblis yang berdiri di belakangnya, menginjak punggungnya. Raka mengangkat kepalanya dan memandang Rainy. Wajah tampan Raka terlihat babak belur; hasil dari perlawanan keras yang dilakukannya. Namun Iblis di belakangnya itu terlalu kuat untuk Raka hadapi sendiri. Sebentar saja ia sudah berubah jadi seonggok tubuh yang tidak memiliki daya karena rasa sakit dan kelelahan, serta kesedihan. Ia adalah umpan yang berguna untuk mencuri jiwa Rainy dari jalan Allah, SWT. Tadinya ada 3 umpan. Sekarang hanya tinggal dia seorang.


Saat tatapan Rainy beradu dengan mata Raka, Rainy menyadari bahwa tidak terlihat sedikitpun kemarahan pada Rainy terlihat dari sorot mata tersebut. Seolah Raka ingin mengatakan pada Rainy bahwa Raka tidak menyalahkannya karena telah mengakibatkan Raka menjadi korban. Yang ada hanya tatapan lembut penuh cinta yang selalu diperlihatkan Raka kepadanya. Namun hal ini justru membuat isak tangis Rainy menjadi semakin keras. Ia merasa sangat tidak berdaya. Sungguh-sungguh tidak berdaya.


Lagi-lagi Lilian bergerak mendekat. Rakit yang rapuh dan lebar tersebut bahkan tidak bergerak ketika ia melangkah. Sesaat saja ia telah sampai di hadapan Rainy dan berdiri menghalangi tubuh Raka dari penglihatan Rainy. Rainy mengangkat wajah dan menatap Lilian dengan penuh kebencian.


"Wow! Bahkan setelah demonstrasi barusan, kau masih berani menentangku?" tanya Lilian dengan terkejut. "Emmm... Kau memang gadis berdarah dingin." komentar Lilian. "Tapi sayang, tidakkah sudah saatnya bagimu untuk mematuhiku? Hmmm?" tanya Lilian dengan suara merayu.