
Raka memeluk Rainy dengan erat. Ia bisa merasakan betapa tubuh gadis itu tidak berhenti gemetar. Tangisannya terdengar begitu menyayat hati dan membuat Raka mulai membayangkan berbagai skenario penyiksaan yang telah dilakukan Lilian. Sebenarnya penderitaan macam apa yang baru saja Rainy alami di bawah kekejaman Lilian, sehingga ia sampai tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis? Mengingat keangkuhannya, Rainy tidak akan pernah membiarkan air matanya jatuh begitu saja di hadapan Lilian dengan tanpa perlawanan. Tapi tampaknya permainan yang disiapkan iblis itu kali ini, benar-benar berhasil menerobos benteng pertahanan Rainy. Membuat gadis itu tidak mampu menahan air matanya lagi.
Sebelah tangan Raka mengusap kepala Rainy dengan lembut sementara yang sebelahnya lagi memeluk Rainy sambil menepuk-nepuk punggungnya dengan perlahan. Melihat Rainy menangis seperti itu, tanpa bisa ditahan, mata Rakapun mulai turut memanas. Ia membiarkan Rainy melepaskan semua emosi negatifnya, berharap seluruh rasa yang tidak menyenangkan tersebut akan luruh bersama derai air matanya, sehingga ketika esok hari tiba, Rainy bisa tersenyum kembali. 20 menit kemudian tangisan Rainy hanya tinggal berupa sedu sedan saja. Raka menarik nafas panjang. Walaupun di permukaan ia tampak tenang, namun hatinya mendidih oleh amarah. Raka berjanji bahwa hal pertama yang akan ia lakukan besok pagi adalah menghubungi Guru Gilang untuk mencari pertolongan.
Saat pikiran Raka teralihkan oleh kemarahannya, ia merasakan Rainy mengusapkan wajahnya di dada Raka, layaknya seekor kucing. Ini adalah tingkah khas Rainy yang sering dilakukannya bila ia sedang berada dalam pelukan Raka. Namun karena saat ini Rainy baru saja menangis, wajahnya tentu saja dipenuhi oleh airmata dan ingus, yang kemudian ditransfer dengan sukses ke bagian dada sweater putih yang dikenakan Raka. Raka menarik nafas panjang. Untung dirinya bukan penderita mysophobia, sehingga ia masih mampu menerima perbuatan Rainy ini dengan tenang. Ketika akhirnya Rainy mengangkat kepalanya dari dada Raka dan mendongak menatap tunangannya itu, Raka hampir tertawa melihat wajah Rainy yang sembab dan memerah.
"Bajumu kotor." ucap Rainy dengan bibir cemberut. Mendengar ini, Raka mendengus geli.
"Benarkah? Perbuatan siapa itu?" tanya Raka dengan memasang wajah berpura-pura galak.
"Perbuatanku." ucap Rainy, mengakui tanpa perasaan bersalah sedikitpun. Membuat Raka tak tahan untuk tidak mengulurkan tangannya dan mencubit pipi gadis itu.
"Sana ganti bajumu." Suruh Rainy dengan nada datar.
"Bisa-bisanya setelah membuat bajuku kotor, kau merasa jijik sendiri! Dasar tidak berperasaan!" protes Raka dengan gemas sambil mengetuk kepala Rainy pelan.
"Ah!" pekik Rainy, tak terima. Matanya yang bengkak menatap ke arah Raka dengan galak. Namun bukannya terlihat seram, ia malah terlihat menggemaskan. Raka tersenyum geli. Ia lalu bangkit dari ranjang dan berjalan menuju ke lemari. Rainy memiliki sejumlah koleksi kaus tangan panjang dan sweater yang oversize dan unisex sehingga bisa Raka kenakan. Biasanya bila ia harus mengganti pakaian bila sedang berada di rumah itu, Raka terbiasa mengenakan kaus atau sweater tersebut. Saat ini ia mengambil sebuah sweater berwarna hitam bermotif konstelasi bintang yang trendi dan langsung mengulurkan tangan untuk menarik lepas sweater yang telah dikotori Rainy.
Suara dering telepon tiba-tiba terdengar nyaring, memecahkan keheningan. Berdasarkan deringnya, mereka tahu bahwa yang berbunyi adalah telepon genggam milik Rainy. Saat itu Rainy sedang bersandar di atas tumpukan bantal sambil memandangi Raka yang sedang melepas sweater kotornya, berniat menikmati pemandangan indah tubuh Raka dibawa balutan crew neck putih yang ketat membalut tubuhnya. Karena itulah ia sebenarnya malas untuk mengangkat telepon genggamnya. Namun teringat bahwa ini sudah lewat tengah malam dan mungkin itu adalah telepon emergency, Rainy langsung merenggangkan tubuhnya untuk meraih telepon yang berada di bedside table.
Benar saja, teleponnya datang dari Arka, membuat jantung Rainy langsung berdegup kencang.
"Arka?" sapa Rainy dengan suara yang masih serak akibat terlalu banyak menangis.
"Rain, Papa terkena serangan jantung. Sebaiknya kau segera kemari!"
***
Rainy dan Raka membutuhkan waktu satu jam untuk mencapai Rumah Sakit. Mereka tiba di depan ICCU, tepat ketika Dokter mengumumkan bahwa kondisi Ardi telah stabil dan saat itu sedang tidur di bawah pengaruh obat-obatan dan masih akan terus berada di bawah observasi yang intensif selama beberapa hari di ICCU. Rainy yang sudah kembali bersimbah air mata, langsung berlari ke sisi Ratna agar ia dapat mendengarkan kata-kata Dokter dengan lebih jelas. Setelah Dokter tersebut pergi, Rainy langsung membombardir Ratna dengan berbagai pertanyaan disebabkan oleh panik yang tak terkontrol. Ratna yang sendirinya belum mampu mengendalikan emosinya, menjadi kewalahan dengan tingkah putrinya tersebut. Pada akhirnya, Ratna menarik tubuh putrinya mendekat dan memberi Rainy pelukan yang erat.
Melihat wajah Rainy yang sembab, Ratna meyakini bahwa Rainy telah menempuh perjalanan ke Rumah Sakit sambil menangis, sama sekali tidak menduga bahwa Rainy telah mulai menangis jauh sebelum ia menerima telepon dari Arka. Wajah Ratna sendiri juga cukup sembab namun tidak separah Rainy.
"Apa yang terjadi, ma? Bukankah Papa sudah membaik? Kenapa jadi terkena serangan jantung? Sejak kapan Papa menderita penyakit jantung?" Lagi-lagi Rainy tidak bisa menahan diri untuk tidak membombardir ibunya dengan 1001 pertanyaan. Membuat Ratna menarik nafas panjang, di antara merasa geli, tapi sekaligus juga kesal.
"Satu persatu bertanyanya! Beri mama kesempatan untuk menjawab sebelum kamu melontarkan pertanyaan baru." protes Ratna lembut. Mendengar ini, Rainy mengerutkan bibirnya dan siap untuk menangis kembali. Ia membutuhkan jawaban secepatnya untuk menenangkan hatinya yang panik, mengapa mamanya malah membicarakan hal lain terlebih dahulu? Pikirnya dengan emosi. Melihat ekspresi putrinya, Ratna mendesah. Ia menepuk-nepuk lengan Rainy, berusaha menenangkannya.
"Baiklah! Baiklah! Jangan menangis lagi!" bujuknya dengan sedikit panik. Anak gadisnya ini memiliki ketegaran hati seorang seorang prajurit, dan telah bersikap seperti itu bahkan sejak ia masih sangat kecil. Ia nyaris tidak pernah menangis dan sangat keras kepala. Siapa sangka, saat ini, semua kontrol diri Rainy langsung luruh dan berganti dengan hujan air mata yang seperti belum akan berhenti dalam waktu dekat. Mungkin Rainy bermaksud menghabiskan simpanan air mata dari tahun-tahun sebelumnya yang belum pernah ia keluarkan. Pikir Ratna dengan tidak berdaya. Mengenai penyebab serangan jantung ini, Ratna tak ingin mengatakannya. Namun Ratna tahu, bahkan walau ia menyembunyikannya, Rainy pasti akan mengetahuinya juga. Gadis itu malah mungkin sudah bisa menebaknya.
"Tadi papamu sudah tidur. Tapi kemudian mama dengar beliau mengigau. Ketika igauannya terlihat terlalu intens, Mama dan Arka mencoba membangunkan Papa, tapi tidak bisa. Lalu tiba-tiba ritme detak jantungnya menjadi terlalu cepat dan ia kelihatan kesakitan. Arka langsung menekan bel untuk memanggil suster. Setelah itu Dokter datang dan mereka langsung melakukan tindakan saat itu juga, sambil mendorong ranjang Papa menuju ICCU." Cerita Ratna, tidak lupa menghilangkan sejumlah kejadian dalam ceritanya, terutama tentang isi igauan Ardi. Ratna menyadari bahwa lagi-lagi Ardi bermimpi melihat Rainy sedang disiksa. Teringat hal ini, Ratna menatap putrinya dengan ekspresi terkejut. Bagaimana ia bisa lupa?! Apabila Ardi melihat Rainy sedang disiksa dalam mimpinya, itu berarti di saat yang sama, Rainy benar-benar sedang berada dibawah siksaan iblis! Ratna langsung merasakan matanya kembali memanas karena ingin menangis.
"Sayang, apa kau tidak apa-apa?" tanya Ratna.
Awalnya ketika mendengar pertanyaan Ratna, kedua alisnya Rainy terangkat naik. Mengapa ibunya menanyakan keadaannya? Bukan Rainy yang sedang diobservasi di ICCU, tapi Papa. Mengapa mama bertanya.... Selintas pemikiran langsung menyadarkan Rainy. Menyebabkan tubuhnya langsung menegang.
"Mama, apakah Papa menyebut namaku saat beliau mengigau?" tanya Rainy. Namun Ratna langsung menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Papa tampaknya sedang memimpikan soal penyerangan yang dialaminya. Mungkin itu sangat menakutkan sehingga jantungnya tidak dapat lagi melawan rasa takut itu dan menyerah." Ratna berbohong dengan luwes.
"Benarkah?" Tanya Rainy tak yakin.
"Benar. Untuk apa Mama membohongimu? Memangnya Mama kurang kerjaan?" bantah Ratna. Matanya melirik ke arah Arka yang sedang berdiri di sebelah Raka, tidak jauh dari belakang Rainy. Ketika menerima tatapan ibu angkatnya, Arka yang cerdas langsung memahaminya dengan baik.
"Mama benar, Rain. Aku malah sempat mendengar Papa berkata; 'Kau mau apa? Mengapa menusukku? Kupikir Papa benar-benar sedang memimpikan tentang peristiwa di jalan tol itu." ucap Arka dengan nada datar.
Mendengar ini, Rainy menarik nafas panjang. Syukurlah apabila ayahnya tidak melihat mimpi dimana Rainy disiksa dengan cara dihancurkan berulang kali. Jangankan ayahnya yang hanya menjadi spektator, bahkan Rainy yang mengalaminya saja tidak dapat menghilangkan kalimat, 'ini terlalu menyakitkan. Lebih baik aku mati.' yang sempat menggoda dalam pikirannya. Andai saja Rainy tidak mengetahui bahwa mati bukanlah penyelesaian... Mungkin Rainy sudah mencari C4 dan mencari Lilith dan Lilian untuk membawa mereka mati bersamanya. Siapa tahu sebenarnya iblis tidak sebegitu hebatnya dan tetap bisa dibunuh dengan bom. Kalau itu benar, Rainy akan merasa sangat puas! Sayangnya, itu sama sekali tidak ada gunanya.