
Karena tak nyaman mengobrol di lorong Rumah Sakit, Raka membawa Rainy untuk duduk di sebuah bangku kayu di taman Rumah Sakit yang terletak di bawah sebuah pohon besar. Saat itu taman tersebut sedang lenggang. Hanya ada beberapa anggota keluarga pasien yang duduk di beberapa bangku yang tersedia di taman, tampak sedang melepas penat setelah menjaga anggota keluarganya selama beberapa waktu. Dalam perjalanan menuju taman, Raka mengulurkan kotak snack berlogo Éclair favorit Rainy. Segera saja mata gadis itu berkilat penuh kebahagiaan sehingga membuat Raka menyunggingkan senyum geli. Anehnya, begitu sampai di bangku taman yang di tuju, Rainy tidak langsung membuka kotak snacknya. Ia hanya meletakkannya di atas bangku tepat di sebelahnya, sementara perhatiannya tercurah kembali pada Raka.
“Oke, sekarang bilang padaku mengapa kamu tadi menangis!” Perintah Rainy dengan lagak berkuasa. Matanya yang menatap lurus ke arah mata Raka, menunjukan ketegasan yang enggan dibantah.
“Jadi kau belum menyerah juga ya?” Tanya Raka sambil tersenyum geli. Rainy mengangguk tegas.
“Ayo bilang!” Perintahnya lagi.
“Tidak mau sambil nyemil?” Tawar Raka dengan sengaja. Rainy langsung menyipitkan kedua matanya dan menatap Raka dengan tatapan kesal.
“Jangan menunda-nunda!” Tegurnya, membuat Raka tersenyum semakin lebar melihat ekspresinya yang di mata Raka terlihat sangat menggemaskan.
“Baiklah, tuan putri. Baiklah.” Raka kemudian menyandarkan tubuhnya ke atas bangku dan menatap ke lurus ke depan. Di depannya terlihat pemandangan pepohonan. Taman tersebut berada di bagian belakang Rumah Sakit dimana tepat di belakangnya terdapat kawasan Rumah Sakit yang masih belum dikembangkan sehingga sampai saat ini masih dibiarkan menjadi hutan kecil yang membatasi Rumah Sakit itu dengan kawasan pemukiman warga. Membuat taman tersebut seolah-olah tidak sedang berada di tengah area perkotaan yang padat, namun di tengah daerah terpencil yang tenang.
“Saat pulang tadi, karena lelah aku jadi ketiduran.” Mulai Raka. Sepenuhnya melewati kisah tentang pertemuannya dengan Guru Gilang dan Lara. “Lalu aku terbangun saat adzan Ashar bergema. Terbangun oleh lantunan adzan entah bagaimana membuatku larut dalam suaranya. Mungkin karena masih dalam keadaan setengah sadar. Entahlah… Tapi tiba-tiba hatiku terasa sangat terharu. Aku merasa seolah-olah suara adzan itu sedang memanggilku. Tanpa kusadari, aku sudah bangkit dari ranjang, masuk ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan berjalan menuju Mesjid. Aku bahkan ingat untuk mengganti pakaianku dengan pakaian yang bersih dan rapi.” Raka menoleh pada Rainy masih dengan senyum di bibirnya. “dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melakukan sholat karena keinginanku sendiri.”
Rainy menatapnya dengan terpana. Mulut mungilnya bahkan sedikit terbuka. Untuk beberapa saat tak ada satupun yang berbicara. Raka yang menunggu respon Rainy dengan sabar, sementara Rainy tiba-tiba tak tahu harus berkata apa.
“Memangnya kau tahu caranya?” Tanya Rainy kemudian, setelah beberapa waktu terdiam. Pertanyaannya ini disambut oleh senyum geli Raka.
“Kau juga tahu caranya kan, Rain? Kita diajari cara melakukannya saat masih sekolah dulu.” Jawab Raka.
“Apa kau masih ingat doa-doanya?” Tanya Rainy lagi.
“Aku pintar jadi tentu saja aku ingat. Aku jarang melupakan hal-hal yang sudah pernah aku hafalkan sebelumnya.” Seloroh Raka.
“Hmm! Sombong!” Cela Rainy pelan, membuat Raka tertawa. Rainy menatap Raka dengan seksama. Ada sesuatu… sesuatu yang terlihat berbeda pada Raka. Namun Rainy tidak bisa menemukan apa tepatnya hal itu. Namun perbedaan itu membuat matanya tidak bisa beralih dari wajah Raka, dari senyumnya dan dari gerak-laku tubuhnya. Membuatnya terpesona. Namun bukan terpesona yang hanya memberinya perasaan bahagia, namun juga memberinya sebuah kegelisahan yang mengganggu.
“Jadi kau sholat?” Tanya Rainy. Raka mengangguk. Ia menoleh pada Rainy, masih dengan senyum yang sejak tadi tidak juga luntur dari wajahnya.
“Bagaimana rasanya?” Tanya Rainy ingin tahu. Mendengar pertanyaan ini, kedua alis Raka terangkat naik.
“Bagaimana rasanya?” Senyum Raka kembali melebar. Sesaat kemudian pandangan matanya bergerak menjauh menuju ingatannya beberapa saat yang lalu. “Aku tidak tahu bagaimana menggambarkan apa yang kurasakan saat itu. Aku ada disana, berdiri bersama banyak orang, dengan bahu yang saling menempel satu sama lainnya, dan bergerak mengikuti tuntunan Imam. Namun aku tidak pernah merasa sangat kesepian, sangat kosong dan sangat terisolasi dari dunia. Rasanya saat itu disana hanya ada aku dan semua perasaan negatif tersebut, yang bahkan aku tidak pernah menyadari kalau aku memilikinya. Membuat air mataku mulai menetes satu-persatu. Lalu kemudian aku merasa bahwa ada sesuatu yang menjawab semua rasa tersebut. Ada sesuatu yang mengisi diriku dengan perlahan, hingga semua rasa itu sedikit demi sedikit tidak lagi menjadi begitu menyakitkan. Seperti memperoleh sebuah pelukan yang hangat dan tiba-tiba hatimu yang terluka terasa terobati. Apabila sesuatu itu adalah Allah, mungkin yang kurasakan saat itu adalah efek dari kehadiranNya dihadapanku. Atau mungkin dalam hatiku… entahlah. Aku tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menggambarkannya.” Raka kembali menatap Rainy dan memberitahunya dengan senyum malu-malu, “Dan sepanjang sholat itu, aku terus menangis. Bukan tangisan keras yang membuat wajah berkerut-kerut sehingga menjadi tidak menarik untuk dipandang. Tangisan
tersebut hanya berupa air mata yang terus menetes dari sudut-sudut mataku dan tidak mau berhenti, sampai saat aku menyelesaikan sholatku dan lalu duduk untuk berdoa.”
“Kau berdoa?” Tanya Rainy. Raka mengangguk.
“Apa yang kau pinta?” Tanya Rainy lagi penuh rasa ingin tahu. Raka meraih tangan Rainy dan membawanya masuk ke dalam genggaman kedua tangannya.
“Aku berdoa agar Allah akan selalu melindungimu.” Ucap Raka dengan manis. Rainy yang sejak tadi tampak berada dalam keadaan setengah linglung, hanya bisa menatap Raka dengan perasaan campur aduk.
Allah, SWT. Itu adalah sebuah nama yang tersimpan dalam lemari besi yang terkunci rapat dalam hati Rainy. Ia mempercayai Allah, SWT dan semua ajaran yang diturunkannya lewat Nabi Muhammad, SAW, namun ia tidak merasa memiliki dorongan untuk mengenal, apalagi mendekatkan diri padaNya. Bayangkan bila kau seperti Rainy, dibesarkan dibawah dogma yang menyatakan bahwa keluargamu adalah pemuja setan dan kau termasuk di dalamnya, bahkan ketika kau sama sekali tidak menginginkannya. Kalau begitu, apa yang akan kau pikirkan? Tidak ada yang pernah memberitahu Rainy bahwa pemuja setan akan dicintai oleh Allah. Tapi ia sering mendengar dan membaca dari banyak sumber bahwa selamanya tempat pemuja setan adalah di dalam neraka jahanam. Konon katanya neraka Jahanam adalah neraka yang paling menakutkan, yang menjadi tempat bagi orang-orang yang bersekutu dengan setan. Bahkan mendengar namanya saja sudah bisa membuat Rainy menggigil ketakutan, sehingga Rainy sangat enggan mengingatnya.
Walaupun bila dilogika, Rainy tahu bahwa ia bukan pemuja setan, dan bahwa ia malah merupakan salah satu yang sangat membenci setan seperti Lilith dan Lilian, namun bisikan dan kebohongan yang diucapkan Lilith selama bertahun-tahun membuat Rainy lama-kelamaan tidak bisa menolak untuk percaya; bahwa bahkan ketika ia menolak Lilith sekalipun, nasibnya telah dikutuk untuk menempati neraka jahanam, dan itu sangat mematahkan hatinya. Karena merasa neraka jahanam tidak bisa ia hindari, maka Rainy memutuskan untuk melupakannya. Untuk bisa melupakan keberadaan neraka jahanam membuat Rainy, secara tanpa sadar berusaha untuk melupakan keberadaan Allah, SWT. Dalam hatinya, Rainy menyimpan keyakinan bahwa dirinya tidak berhak untuk mendekatkan diri pada Allah, SWT. Itulah sebabnya, walaupun selalu berusaha keras melawan Lilith dan kroni-kroninya, Rainy tidak pernah sekalipun terpikir untuk minta tolong pada Allah. Namun sekarang, pria yang sedang duduk disampingnya ini, yang merupakan satu-satunya pria yang dicintainya sepanjang kehidupannya ini, menceritakan kisah perjumpaannya dengan Allah, SWT.
Rainy tidak tahu bagaimana ia harus menyikapi cerita Raka, maupun sikap antusias pria tersebut. Apakah ia harus mengabaikannya? Namun Raka menganggap pengalamannya itu begitu penting, sehingga mengabaikannya rasanya bukanlah sikap yang pantas untuk Rainy tunjukan. Namun mendengarkan Raka bercerita, memberi Rainy perasaan aneh yang tidak bisa Rainy jelaskan. Perasaan yang membuatnya gelisah dan tidak tahu harus bagaimana.
“Apakah kau bahagia?” Tanya Rainy pada Raka tiba-tiba. Mendengar pertanyaan ini, Raka mengerutkan keningnya.
“Kau adalah kebahagiaanku. Jadi tentu saja bersamamu aku selalu merasa bahagia.” Jawab Raka, lagi-lagi dengan senyum manis yang mengembang indah dan membuat hati Rainy terasa hangat.
“That’s sweet, tapi bukan itu yang kutanyakan.” Ucap Rainy dengan ekspresi malu-malu.
“Lalu apa yang ingin kau tanyakan, Baby?” Tanya Raka.
“Setelah melakukan sholat tadi… apakah itu membuatmu merasa bahagia?” Tanya Rainy. Untuk sesaat Raka terdiam, tampak mencoba merajut jawabannya dengan hati-hati.
“Daripada bahagia, lebih tepat kalau dikatakan bahwa Sholat memberiku perasaan tenang dan damai.” Sahut Raka kemudian. “Pantas saja orang-orang bilang bahwa sholat adalah sebuah terapi. Dengan sholat, kita bisa menemukan ketenangan batin yang secara otomatis memberi kita lebih banyak kesempatan untuk berbahagia.”
“Good for you.” Ucap Rainy akhirnya.
“It can be good for you too. Apakah kau tidak mau mencobanya?” Tanya Raka. Rainy memandang wajah Raka sesaat sebelum kemudian ia menggeleng. Melihat ini Raka hanya mengangguk.
Tiba-tiba suara adzan Maghrib terdengar mengalun dari pengeras suara masjid. Raka mengangkat kepalanya dan menoleh pada Masjid yang berada tidak jauh dari tempat mereka duduk.
“Sudah datang waktu Maghrib. Aku mau sholat dahulu ya. Walau kau tidak sholat, tapi mau kah kau menungguku sampai selesai di dalam Masjid?” Tanya Raka. Namun Rainy menggeleng keras-keras.
“Aku kembali ke kamar Papa saja!” Tolak Rainy.
“Tapi aku hanya sebentar saja lho.” Rayu Raka. “Kalau kau tidak mau menunggu di dalam, kau bisa menunggu di teras. Disana biasanya ada wanita yang duduk menunggu pasangannya sholat. Jadi kau tidak akan sendirian. Mau ya?” Ucap Raka lagi sambil kembali memamerkan senyum terindahnya. Setelah menarik nafas panjang, Rainy akhirnya mengangguk pelan.