My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Elsa



 “Rainy!” sapa Gio dengan suara melengking tinggi. “Aduh sayang, mengapa kau bertambah cantik saja?! Tuhan sungguh tidak adil! Kalau dia memberikan semua keindahan padamu, bagaimana kami yang biasa-biasa saja ini bisa bertahan hidup?” Keluhnya dengan berlebihan, membuat bibir  Rainy berkedut. Entah mengapa belakangan ini ia jadi sangat mudah merasa ingin tersenyum. Sungguh sangat menyulitkan. Rainy menyukai persona wanita berdarah dinginnya yang membuat tak sembarang orang berani mendekatinya. Ia tidak berniat kehilangan persona itu sekarang karena pekerjaan di Divisi VII menuntutnya untuk bersikap tegas dan menjaga jarak di hadapan orang lain demi mempertahankan aura misteriusnya. Namun suasana hatinya yang selalu baik belakangan ini membuat bibir Rainy lebih mudah bergerak dengan sendirinya untuk membentuk seulas senyum.


Gio mendekat dan langsung melakukan inspeksi pada rambut Rainy. Ia memegang disana, memegang disini sambil tak lupa memberikan komentar, membuat Rainy merasa bagaikan seikat sayuran yang sedang dinilai oleh pembeli.


“Kau mewarnai rambutmu dengan warna hitam kebiruan? Oh Wow! Ini terlihat begitu alami, tidak seperti hasil pewarnaan! Bagus sekali! Rambutmu juga sangat sehat dan berkilauan. Sepertinya kita tidak perlu menatanya dengan berlebihan. Cukup dengan memberikan gelombang-gelombang besar dan membiarkannya jatuh terurai sebagian. Emm… bagaimana kalau memberikan sedikit kepang di atas seperti rambut Juliet? Tapi aku perlu melihat gaunmu dulu untuk menentukan. Apakah gaunmu sudah tiba?” Tanyanya kemudian. Kening Rainy berkerut. Gaun? Mengapa ia butuh gaun? Mengapa ia perlu menata rambut? Rainy menoleh pada Ratna yang telah duduk di depan meja rias.


“Ma, memangnya kita ada acara apa hari ini?” Tanyanya.


Ratna memandangnya dari balik cermin meja rias.


“Lho, mama belum bilang ya, Rain? Kau ingat kan kalau akan ada acara event pernikahan malam ini? Kita diundang lho!” Jawab Ratna.


“Benarkah? Mengapa aku tidak tahu?” Tanya Rainy.


“Undangannya ditujukan ke Papa untuk seluruh anggota keluarga, makanya kamu tidak tahu. Mama lupa saja memberitahukannya padamu.” Sahut Ratna lagi.


“Siapa sih yang menikah?” Tanya Rainy lagi saat Gio menyeretnya menuju hair washing station.


“Anak teman mama.” Jawab Ratna tanpa memberikan keterangan lebih jauh. Rainy mengangguk dan tidak bertanya lebih jauh. Ia memasrahkan diri sepenuhnya pada tangan-tangan ahli Gio dan asistennya. Gio bukan hanya sekedar menata rambutnya, namun juga memberikannya hair spa terlebih dahulu. Memanjakan Rainy dengan pijatan-pijatan kuat di bagian kepala yang sangat disukai Rainy. 1,5 jam kemudian baru Gio menepuk bahu Rainy dan memberitahunya bahwa tugasnya sudah selesai. Setelah Gio mundur, seorang make up artis muncul menggantikannya. Wanita ini adalah make up artis langganan Rini yang baru pertama kali ini bekerja dengan Rainy. Saat diperkenalkan, ia hanya tersenyum ramah dan langsung menanyakan riasan seperti  apa yang Rainy inginkan. Mendengar ini Ratna langsung menyela dengan mengatakan bahwa kalau diserahkan pada Rainy, maka ia pasti lebih memilih tidak mengenakan make-up sama sekali jadi tidak perlu bertanya padanya. Ratna meminta sang Make-up Artist untuk memberikan tampilan Make-up yang alami, yang bisa menonjolkan kecantikannya, dan bukannya malah merubah wajahnya menjadi tidak bisa dikenali. Mendengar ini sang make-up artist hanya menganggukkan kepala dengan sopan dan mulai bekerja. Saat ia selesai, jam di dinding sudah menunjukan pukul 4 sore.


Rainy kemudian di seret memasuki ruang ganti, dimana ia menemukan seorang wanita sedang berdiri menunggunya di gantungan baju dorong yang terisi dengan sederet pakaian pesta.


“Yang mana yang disiapkan untukku?” Tanya Rainy. Wanita tersebut tersenyum sopan, lalu memberikan gestur dengan tangannya.


“Yang berada di gantungan ini semuanya adalah dress yang disiapkan untuk mbak Rainy.” Jawabnya. Rainy terdiam. Tadinya ia berpikir bahwa gaun-gaun  tersebut sebagian adalah untuk dikenakan oleh Ratna dan Rini, namun kenyataan berkata lain.


“Kau mau aku memilih satu dari deretan ini?” Tanya Rainy. Namun belum sempat wanita tersebut menjawab, Rini dan Ratna yang sudah berdandan rapi memasuki ruangan.


“Ah? Yang benar? Kita kan hanya undangan. Mengapa berlebihan sekali sih?” Protes Rainy. Ia memandang pada Rini dan Ratna yang sama-sama mengenakan Kebaya berwarna navi dengan desain yang berbeda dan sarung ulos dengan warna senada. Kebayanya terlihat layaknya langit malam yang dihiasi oleh jutaan bintang, berkilauan setiap kali terkena cahaya. Rainy menoleh pada si wanita dan berkata,


“Berikan padaku yang sama seperti yang dikenakan mama dan tanteku.” perintah Rainy. Tapi wanita tersebut menggelengkan kepalanya.


“Maaf mbak Rainy, tapi kami tidak punya.”


“Eh?”


“Sesuai pesanan ibu Ratna, kami hanya membawa gaun-gaun ini dan tidak membawa kebaya. Kami juga tidak membawa gaun dalam warna Navi.” Jawab si wanita.


“Kenapa begitu?” Tanya Rainy mulai merasa kesal. Melihat kening anak gadisnya mulai berkerut, Ratna menepuk bahunya pelan.


“Semua gaun yang ada disini adalah pilihan mama dan tante Rini. Kami yang tidak memilihkan kebaya untukmu dan juga tidak memilihkan warna navi untuk kau pakai. Jadi ini bukan salahnya.” Ucap Ratna.


“Gadis muda jangan menggunakan warna navi! Pakailah warna yang terang.” Rini berjalan menuju ke tempat gaun-gaun tersebut bergantung dan menarik keluar sebuah gaun. “Bagaimana dengan ini?” Tanya Rini pada Rainy. Gaun yang dipilih Rini adalah sebuah gaun yang bentuknya pas di tubuh, berwarna ice blue. Nyaris seluruh gaunnya dihiasi dengan manik-manik berwarna ice blue dan light gold yang disulam membentuk cabang-cabang sehingga terlihat seperti ranting yang saling menumpuk antara warna ice blue dengan warna light gold, terlihat seolah-olah lukisan sebuah hutan di tengah musim dingin yang membekukan diatas sehelai gaun. Ketika Rainy mengintip brandnya, tertera tulisan Zuhair Murad disana. Rainy berdecak maklum.


Tanpa suara Rainy menerima gaunnya dan membiarkan dirinya dibantu untuk mengenakannya. Saat gaunnya sudah terpasang dengan sempurna, Rainy dibawa ke hadapan sebuah cermin besar untuk memeriksa penampilannya. Di belakangnya, Ratna dan Rini sedang mendesah ah dan oh, menyuarakan kekagumannya, namun Rainy justru mengerutkan keningnya.


“Aku terlihat seperti Elsa.” Protes Rainy. Mendengar ini, Ratna dan Rini langsung bergegas memilih dress lain dari gantungan. Kali ini Ratna membawakannya sebuah gaun berwarna rosegold yang bertabur permata berkilauan. Gaunnya berkerah bundar, tanpa tidak berlengan dan roknya terdiri dari 2 tumpuk. Rok dasarnya adalah sebuah span panjang yang terbelah dibagian kaki kanannya, sampai ke pangkal paha, yang sudah pasti akan memamerkan kaki Rainy yang putih dan jenjang. Tumpukan kedua adalah sebuah rok lebar yang menjuntai ke lantai yang hanya menutup dari pinggul sebelah kiri, terus ke belakang, lalu terus sampai ke bagian depan sebelah kanan, tepat diatas belahan rok bawahnya, membentuk sebuah draperi yang menutupi sebagian kecil belahan tersebut. Gaun itu bisa dipastikan adalah salah satu rancangan Zuhair Murad juga. Bibir Rainy langsung berkedut melihatnya. Ia bahkan tak mau repot-repot mencobanya.


“Terlalu terbuka!” Komentar Rainy.


Copyright @FreyaCesare