
"Rainy!" hardik Ivan dengan kesal. Yang disebut namanya menoleh dan memandangnya dengan ekspresi wajah tanpa dosa. Matanya yang besar berkedip-kedip, membuat ekspresinya terlihat sangat menggemaskan. Damn! Sehari-hari memasang wajah dingin, mengapa gadis ini tiba-tiba memasang wajah polos? Rainy, kau sungguh licin! Tuduh Ivan dalam hati.
"Emm?" sahut Rainy manis, terdengar sedikit terkejut oleh suara Ivan yang meninggi dengan tiba-tiba.
"Bisakah kau tidak menyandera rumahku?" pinta Ivan, melembutkan suaranya.
"Tidak bisa!" Rainy menggeleng kuat-kuat dengan mata terbuka lebar.
"Jangan menjawab setegas itu dengan ekspresi tidak berdosa seperti itu dong! Sama sekali gak cocok!" beritahu Ivan dengan kesal.
"Eh?" alis Rainy terangkat naik sesaat sebelum kemudian ia merapikan ekspresi wajahnya dan memasang kembali wajah dinginnya.
"Tidak bisa." ucap Rainy dengan dingin dan tanpa ekspresi, mengulang jawabannya tadi. Melihat tingkahnya membuat Ace dan Natasha terpaksa menahan tawa, sementara Raka tersenyum geli. Bahkan wajah Arka yang biasanya tanpa ekspresi tampak menghangat oleh senyum yang tampak di matanya. Ivan memegang dahinya dan menarik nafas panjang. Ia kemudian memandang Raka untuk meminta pertolongan.
"Raka, tolong beritahu dia alasan mengapa rumah ini tidak bisa dijadikan kantor sementara!" pintanya. Raka mengangguk pelan.
"Emm. Ivan benar. Ini rumah, bukan kantor." ucap Raka, membuat Ivan mengangguk-anggukan kepalanya saat mendengarnya. Bibirnya terkatup rapat dengan kedua ujungnya menurun, mengekspresikan persetujuannya pada kata-kata Raka. Namun kalimat Raka selanjutnya membuat Ivan langsung mengangkat kepala dan memandang Raka dengan mulut terbuka lebar karena terkejut.
"Tapi sebenarnya Divisi VII tidak terlalu memerlukan ruang formal untuk kantor, jadi tidak ada masalah sih kalau mau berkantor disini." Tiba-tiba Ivan kehilangan kemampuan untuk berbicara.
"Karena tempat ini berada di atas Cafe, apabila tak ingin orang lain tahu bahwa mereka datang untuk bertemu dengan Divisi VII, klien bisa berdalih bahwa mereka datang untuk membeli kopi dan pastry." sambung Raka. Ivan merasa isi kepalanya memanas sehingga asap mungkin sebentar lagi akan keluar dari kedua telinganya.
"It's also convenience for us that kopi dan pastry hanya beberapa langkah jauhnya." tambah Raka lagi.
"Emm! My favorite!" Rainy mengangguk kuat-kuat dengan mata berbinar.
"Lagipula bila kita berkantor disini, kau bisa tetap mengerjakan tugasmu sebagai manajer Eclair dengan lebih leluasa." lanjut Raka tanpa ampun. "Dan kursi itu," Raka menunjuk ke arah kursi pijat yang paling dicintai Ace dengan dagunya, "akan jadi item paling membantu setelah lelah bekerja."
Ivan menutup mata dan menggertakkan giginya sambil menarik nafas panjang. Raka, dasar penjahat! Maki Ivan dalam hati. Di sebelahnya, Natasha menutup mulutnya dengan telapak tangan untuk menahan suara tawanya, namun Ace tidak sebegitu terampilnya untuk menahan diri. Ia sudah jatuh terguling ke lantai dan tertawa terbahak-bahak. Ivan meminta bantuan Raka untuk membebaskan rumahnya dari rencana jahat Rainy, tapi siapa yang akan menduga bahwa Raka akan berbalik arah dan malah membantu mewujudkan keinginan Rainy. Rainy memandang Ace dan Natasha tanpa ekspresi, namun matanya berbinar oleh tawa. Disebelah kirinya, Arka dengan tenang mengunyah potongan buah tanpa suara. Tampak sama sekali tidak terpengaruh oleh kericuhan di sekitarnya.
Ivan kembali memegang dahinya dengan tangan dan menarik nafas panjang.
"Terserahlah." ucapnya kemudian dengan pasrah. Memang ada gunanya melawan kedua orang ini? Lebih baik ia duduk manis dan menerima nasibnya dengan pasrah sambil memikirkan cara mengambil keuntungan dari ketidak nyamanan yang Rainy dan Raka timpakan pada dirinya. Begitu tekad Ivan dalam hati.
"Karena Ivan sudah menawarkan untuk menjadikan rumah ini sebagai kantor baru kita, aku akan menghubungi klien kita untuk merubah lokasi pertemuan nanti." ucap Raka pada Rainy, yang dijawab Rainy dengan anggukan. Disebelahnya, Ivan kembali mengangkat kepala dan menaikan kedua alisnya. Hey! Apa gak salah? Kapan ia pernah menawarkan rumah ini untuk dijadikan kantor? Bukannya mereka berdua yang mendesaknya hingga terpojok dan akhirnya menyetujui keinginan mereka untuk menjadikan apartemen ini sebagai kantor? Dasar bajak laut tidak berperasaan! Maki Ivan dalam hati.
Kalau saja Ivan bisa melihat senyum jahil yang menghiasi wajah Raka, mungkin Ivan sudah menarik kembali keputusannya untuk memasrahkan rumah tersebut. Namun Natasha yang duduk tepat di hadapan Ivan bisa melihat dengan sangat jelas dan itu membuat ia tak mampu lagi menahan tawanya. Natasha menyandarkan dahinya ke atas meja. Suara tawanya yang renyah membuat 2 garis hitam muncul di dahi Ivan. Rainy menopangkan dahinya di atas kepalan tangan kirinya sementara tangan kanannya menyuapkan anggur yang disodorkan Arka padanya ke dalam mulutnya sambil memandang tingkah Ivan, Natasha dan Ace. Ia tampak sangat terhibur.
"Cousin, bukankah tim kita sangat harmonis? Bagaimana? Apakah kau suka bekerja dengan kami?" tanyanya pada Arka. Arka mengamati semua orang yang ada di ruangan tersebut dengan seksama. Setelah bekerja bersama seluruh anggota tim kecuali Rainy, selama beberapa tahun ini, Arka sudah mengenal karakter kepribadian mereka. Lalu dari berbagai kisah yang didengarnya tentang Rainy, dan juga dari apa yang dialaminya hari ini, Arka pikir ia cukup bisa membaca karakter Rainy. The savage girl who rarely smile, the brainiac evildoer, the silly playboy, the bratty girl who can't forget, the rattle-headed muscle barbie who sometimes quite innocent, and dirinya sendiri, the psychopath: sungguh tim yang luar biasa indeed.
"Emm. It's fine." sahutnya tanpa ekspresi. Rainy mengangkat wajahnya dan mengamati Arka dengan seksama.
"Apakah kau tidak takut padaku?" tanya Arka pelan.
"Kenapa aku harus takut?" tanya Rainy, menaikkan kedua alisnya.
"Aku seorang Psikopat." Jawab Arka mengingatkan. Rainy menatap Arka sesaat, tampak berpikir, sebelum kemudian mengalihkan pandang ke arah piring berisi buah-buahan dihadapannya dan memetik sebutir anggur merah yang paling besar dan terlihat paling segar.
"Cousin, apa kau tahu... saat di kampus aku pernah melakukan beberapa tes kepribadian untuk menetapkan kecenderungan kepribadianku." Ucap Rainy sambil menyuapkan anggur ke dalam mulutnya. Arka tidak menjawab. Ia hanya diam mendengarkan.
"Beberapa di antaranya adalah tes yang bisa menentukan apakah aku memiliki kecenderungan psikopat. And you know what... I've passed it with flying color!" Rainy kembali memandang Arka. Ia tidak tersenyum, namun sorot matanya yang hangat menunjukan penerimaan tanpa syarat yang tulus pada Arka.
"Doing that was a joke I did with my classmates back then but... the result was still the same. Aku yakin bahwa apabila aku yang mengalami apa yang kau alami, cousin, aku mungkin bisa melakukan hal yang jauh lebih buruk dari yang telah kau lakukan."
"Tapi itu hanya perkiraanmu saja. Faktanya, kau tidak mengalaminya." sanggah Arka.
"Emm. Dalam hal itu aku memang sangat beruntung." sahut Rainy. Makna kalimatnya adalah bahwa perbedaan antara dirinya dan Arka hanyalah sebuah permainan takdir belaka dan Arka tak perlu terlalu menjadikannya sebagai alasan untuk menarik diri dalam hubungan mereka.
"Apa kau tidak khawatir bahwa suatu saat nanti aku akan menyakitimu?" tanya Arka lagi.
"Apakah kau tega menyakitiku, cousin?" tanya Rainy. Memandang wajah Rainy yang tanpa polesan dan matanya yang penuh rasa percaya membuat Arka merasa ia sedang berhadapan dengan adik kandungnya yang telah tiada. Rainy dan Erika, adiknya, sangat berbeda dalam banyak hal. Bila Rainy memiliki kemiripan dengan dirinya yang dingin dan penuh kontrol diri, Erika adalah pribadi yang terbuka dan ceria. Namun cara Rainy memandang Arka sama persis seperti cara Erika memandangnya. Memberikan rasa kedekatan yang hangat dalam hati Arka yang dingin dan gelap.
"Mungkin tidak." sahut Arka. Lalu Arka memandang ke arah anggota tim lainnya yang sedang ramai bersenda gurau.
"Tapi aku tidak memiliki keyakinan bahwa aku tidak akan melakukan hal yang buruk pada orang-orang di sekitarmu." tambahnya.
"Aku percaya kau tidak akan melakukan apapun yang akan membuatku menangis." ucap Rainy dengan penuh percaya diri. "Benar kan, Cousin?" Itu adalah sebuah pertanyaan, namun bagi Arka itu terdengar sebagai sebuah peringatan. Kalau kau ingin aku bahagia, jangan melakukan apapun yang bisa membuatku menangis, begitu tuntutan yang disampaikan Rainy tanpa suara.
"Emm." Arka mengangguk dengan patuh. "Aku tidak akan pernah membuat kau menangis." janjinya. Rainy menegakkan tubuhnya dan mengulurkan sebelah tangannya untuk menyentuh tangan Arka. Telapak tangannya menempel pada punggung tangan Arka dan menyebarkan kehangatan yang mengalir masuk sampai ke dalam hati Arka yang dingin dan hampa.
"Aku percaya." jawab Rainy sambil tersenyum hangat.
Duduk tepat di sebelah kiri Rainy, Raka menyipitkan matanya. This cousin! Mereka baru beberapa jam bertemu, namun bukan saja Rainy memberikan senyum yang jarang diperlihatkannya itu, Rainy bahkan bersikap sangat intim padanya. Hanya dalam beberapa jam saja, Rainy sudah memberikan kepada Arka apa yang biasanya hanya diberikannya pada Raka di masa yang lalu. Padahal sejak kepulangannya kembali, Rainy tak pernah sekalipun tersenyum padanya.
'Aku akan memastikan bahwa dia tidak akan bisa lagi berdekatan dengan Rainy!' Geram Raka dalam hati.
Merasakan lonjakan emosi Raka ini membuat Ivan akhirnya bisa kembali tersenyum. Well, kalau disuruh memilih, ia lebih rela menerima mereka sebagai penumpang gratis di rumahnya selama beberapa waktu daripada merasakan kecemburuan yang menyakitkan dan membakar diri seperti yang sedang dirasakan Raka saat ini. Good luck, Cousin! Semoga kau selalu mampu mengendalikan kedua pria berbahaya yang duduk di sebelah kiri dan kananmu itu. Ucap Ivan dalam hati.
Copyright @FreyaCesare