
Di belahan dunia yang lain, seorang wanita setengah baya yang cantik dengan berambut panjang yang digulung dalam sanggul berantakan di atas kepala dan mengenakan legging berwarna hitam serta sweater berwarna dusty pink, sedang duduk menonton adegan yang sedang terjadi di kasino di Makau itu secara realtime sambil memeluk mangkok besar yang penuh berisi popcorn caramel. Wajahnya yang cantik terlihat girang ketika Hendrik tampak semakin panik dan semakin panik. Namun saat kemudian Hendrik terjatuh di lantai dan tidak sadarkan diri, Wajah wanita tersebut membeku dengan mulut terbuka sementara popcorn caramel yang sudah hampir memasuki mulutnya, mengambang di tengah jalan.
“What the F**k! Begitu saja sudah TKO? Aku memberimu masalah besar\, dan bukannya mencoba mencari cara untuk menyelesaikan masalah tersebut\, kau memutuskan untuk kehilangan kesadaranmu? Memangnya kamu perempuan? Kamu menunggu siapa buat menyelamatkan pa***tmu? Adikmu yang lebih addict judi daripada dirimu itu? Atau ibumu yang sepanjang hari kerjanya hanya bisa menghabiskan uang dan bersenang-senang itu? Dasar pria tidak berguna! Maki si wanita.
Wanita itu kemudian meletakkan mangkuk popcornnya ke atas meja. Ia mengangkat kedua tangannya dan mulai mengerak-gerakan kedua pergelangan tangan, telapak tangan dan jari-jari tangannya untuk mempersiapkan diri. Setelah tangannya terasa nyaman barulah ia mulai menarikan jarinya di atas keyboard. Ia memotong video rekaman CCTV yang baru ditontonnya tadi hingga hanya tinggal bagian yang paling menariknya saja, mengeditnya dan memberikannya sedikit meme, lalu dengan sebuah sentuhan lembut pada ‘enter’, mengirimkannya dengan diiringi senyum girang.
***
Saat itu operasi terhadap Ardi belum juga selesai walaupun sudah berlangsung selama 4 jam lamanya. Ratna sudah berubah menjadi seonggok tubuh tanpa tulang yang bersandar dalam pelukan Rainy. Mereka sangat khawatir bahwa bila operasi belum selesai juga dalam waktu dekat, Ratna akan jatuh pingsan. Saat itulah suara notifikasi berbunyi nyaring dari handphone Raka. Raka memeriksa display teleponnya dan begitu melihat bahwa Charles mengirimkan sebuah video untuknya, ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari ruang tunggu. Tak lama kemudian ia kembali menelepon Charles. Kali ini menggunakan telepon genggam yang baru saja menerima video kiriman dari Charles.
“Hallo.” Suara serak seorang pria kembali terdengar di telinga Raka.
“Aku sudah melihat videomu.” Beritahu Raka.
“Bagaimana? Apa kau suka?” Tanya Charles dengan nada jumawa.
“Luar biasa!” Sahut Raka tanpa perubahan nada.
“Bisa tidak kalau berakting sedikit? Aku juga memerlukan pujian untuk memanjakan egoku!” Protes Charles.
“Apakah kau menghabiskan semuanya?” Tanya Raka.
“Benar. Semuanya!” tegas Charles.
“Tak ada yang tersisa?” Tanya Raka lagi.
“Apabila rekening atau saham itu terdaftar atas namanya, maka tidak akan ada yang tersisa! He he… Siapa suruh dia membuat kesal boss kecil kesayanganku! Sekarang ini ia pasti sangat membenci angka nol.” Charles tertawa mengingat ekspresi Hendrik ketika ia menemukan bahwa semua tabungan dan sahamnya telah ludes tanpa sisa dan entah kemana serta bagaimana terjadinya.
“Hebat, Charles. Tapi jangan lupa, ini belum selesai. Dan ingat untuk membersihkan jejakmu sampai betul-betul bersih.” Ucap Raka.
“Aku tahu.” Sahut Charles. “Hei, apa yang akan kau lakukan dengan uangnya?”
“Itu adalah milikmu, Charles.” Sahut Raka dengan ringan.
“Apa kau yakin?” Tanya Charles, nyaris tak percaya. “Itu adalah jumlah yang besar lho!”
“Tentu saja aku yakin! Anggap saja sebagai kompensasi atas perlakuan yang kau terima dari mereka selama ini.” Jawab Raka.
“Perlakuan apa? Tak ada satupun dari mereka yang bisa melakukan apapun padaku!” Charles mendengus jijik
“Itu karena mereka tidak tahu dimana tempat persembunyianmu.”
“How fun!” Sahut Raka dengan nada datar. Membuat Charles mencibir kesal ke arah telepon genggamnya. You are not fun at all! Gerutu Charles dalam hati.
“By the way, little boss, apa sih yang Hendrik lakukan hingga membuatmu murka sampai seperti ini?” Tanya Charles.
“Dia mencoba mengirimkan preman untuk membunuh Rainy.” Sahut Raka dengan gigi bergemeretak.
Charles mendengus jijik.
“Dia sungguh masterpiece ciptaan Adnan. Busuk sampai ke akar-akarnya.”
“Bukan hanya itu…” lanjut Raka.
“Oh, apa lagi?”
“Dia juga mengirimkan preman untuk membunuh Oom Ardi. Saat ini kami sedang menunggu operasi Oom Ardi selesai.”
“Ah? Separah itu?”
“Benar. Separah itu. Hei, Charles?”
“Ya?”
“Kapan kau pulang?”
“Dream on! I’m out!” Sambungan telepon langsung diputus begitu saja, membuat Raka menggelengkan kepalanya dengan maklum. Tak perduli berapapun umurnya, Charles tetap saja Charles. Brilliant namun eksentrik dan kekanak-kanakan.
Raka menelepon Natasha untuk menanyakan kabar yang ia ketahui mengenai Hendrik. Berdasarkan kabar yang Natasha kumpulkan diketahui bahwa pengacara Hendrik telah melaporkan terjadinya pencurian besar-besaran pada semua rekening milik Hendrik hingga tidak tersisa. Selain itu saham-saham yang dimilikinya, termasuk 20 % saham Jaya Enterprise telah berpindah tangan. Nama pemilik yang sekarang adalah Charlita Andriana. Mendengar ini Raka tersenyum. Tadinya karena khawatir, Raka bermaksud membeli saham-saham Jaya enterprise yang baru saja dicuri dari tangan Hendrik. Siapa sangka Charles masih memiliki hati untuk menyelamatkannya sebelum saham tersebut jatuh ke tangan orang lain. Namun tidakkah berbahaya untuk mempromosikan namanya sendiri ke tengah-tengah kasus pencurian yang ia lakukan tersebut? Raka berharap Charles tahu apa yang ia lakukan.
Raka kembali ke ruang tunggu tepat ketika lampu tanda selesai operasi telah dipadamkan. Semua orang telah berdiri di depan pintu, menunggu kemunculan Ardi. Arka menyangga tubuh Ratna yang lemah, sedangkan Rainy berada dalam rangkulan tangan Rini. Raka mendekat dan mengambil alih gadis itu dari ibunya. Seluruh tubuh Rainy terasa dingin walaupun ia telah memakai jaket fleece tebal yang diambilkan oleh Ace dari bagasi mobil. Raka mengusap-usap kedua tangannya untuk memberikan kehangatan.
“Apakah sudah ada Dokter yang datang untuk membicarakan mengenai hasil operasi?” Tanya Raka. Rainy dan Rini mengangguk.
“Apa kata mereka?” Tanya Raka lagi.
“Ardi mengalami luka tusuk yang menyebabkan salah satu ginjalnya robek. Selain itu ia sempat kehilangan banyak darah sehingga tubuhnya mengalami shock. Mereka hampir saja kehilangan dia di meja operasi, namun untunglah sekarang kondisinya sudah stabil dan operasinya berhasil.” Beritahu Rini.
“Syukurlah.” Raka menatap gadis dalam pelukannya yang terlihat sangat rapuh itu dan berkata, “Oom Ardi akan baik-baik saja. Beliau sangat kuat. Percayalah padaku!” Rainy balas menatap Raka dengan mata berkaca-kaca. Mendengar kata-kata Raka, ia hanya bisa mengangguk. Rainy menyadari bahwa saat ini tidak ada yang bisa ia lakukan, kecuali berdoa bahwa Tuhan tidak akan mengambil ayahnya hari ini.