My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Berharap Hati Berubah Menjadi Batu



Hujan sedang turun membasahi bumi. Rainy mendongak dan menutup matanya,  membiarkan hujan membasahi wajahnya. Langit yang berawan gelap menjanjikan hari yang basah dan dingin. Seolah rasa dingin dalam hati Rainy belum cukup untuk menyuramkan dunianya. Apabila hujan tidak juga berhenti, maka pemakaman terpaksa harus dilakukan di bawah hujan tanpa bisa ditunda lagi.


Rainy menarik nafas panjang dan membuka matanya kembali. Ia sedang duduk di sebuah kursi di taman yang terletak tak jauh dari rumah dan ia sudah duduk di sana selama 4 jam tanpa menyadarinya. Sejak hari masih cerah, kemudian mendung, lalu kemudian hujan mulai turun membasahi bumi dan juga membasahi tubuh Rainy yang hanya dibalut dress rajut berwarna putih yang panjangnya mencapai betisnya dan jaket utilities bertudung berwarna Khaki yang walau mampu menahan hujan, namun tidak bisa menghalau dingin. Sekarang hujan pelan-pelan mulai mereda menjadi gerimis yang tercurah bersama angin dingin yang menyerang sampai ke tulang.


Kematian Adnan kemarin sore telah membuat Rainy seolah sedang mengambang dalam balon yang melindunginya dari dunia. Di dalam balon itu tidak ada suara dan tidak ada kelebat pikiran. Hanya keheningan dan rasa dingin yang membuatnya nyaris mati rasa. Ia masih bisa merasakan sentuhan hujan dan dinginnya angin di kulitnya, namun emosinya membeku dan tidak bergerak. Tanpa emosi; mungkin ini adalah cara terbaik baginya untuk melindungi diri dan hatinya di saat seperti ini, yaitu saat tragedi mengguncang sementara dirinya sama sekali tidak siap.


"Ini bukan salahmu." Berulangkali Rainy mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Namun ingatan tentang kondisi mayat Adnan yang tergeletak tak berdaya di atas lantai keramik yang bersimbah darah selalu berhasil membuyarkan keyakinannya.


"Andai aku sedikit lebih tegas lagi dan sedikit lebih keras lagi, mungkin sekarang paman Adnan masih akan berdiri dengan ekspresi wajah angkuh di hadapanku!" pikir Rainy mengutuk dirinya sendiri. Namun Rainy membiarkannya. Rainy membiarkan ayahnya mengambil alih tanggung jawabnya terhadap keluarganya karena tidak tahan dengan semua emosi negatif yang terpancar dari semua orang. Ternyata keputusan ini yang memberi peluang bagi iblis untuk mengambil alih kewenangannya. Pembunuhan terhadap Adnan sangat efektif untuk mengancam keluarga besarnya sekaligus menciutkan hati Rainy hingga ia tak tahu lagi bagaimana caranya berpikir sambil tetap mempertahankan kewarasannya.


"Hei, apakah kau sedang menangis?" Sebuah suara terdengar di belakangnya.


Rainy menoleh dan bertatapan dengan seorang pemuda. Pemuda itu tampan, dengan rambut ikal yang panjangnya melebihi krah dan kulit berwarna terang. Tubuhnya yang tinggi dan ramping mengenakan jeans lurus dan kaus berwarna putih sederhana, namun dengan kualitas terbaik. Sebuah sandal kulit berwarna coklat menghiasi kakinya dan sebuah jaket parasut tersampir di tangannya. Si pemuda membawa sebuah payung hitam untuk melindungi diri dari hujan. Karena saat itu ia berdiri tepat di belakang Rainy, salah satu sisi payungnya turut menaungi Rainy. Si pemuda memandang Rainy dengan seksama sebelum bertanya kembali.


"Apa kau sedang menangis?"


Rainy menggeleng pelan.


Si pemuda menoleh ke langit. Ia kemudian menutup payungnya yang sudah tidak diperlukan lagi lalu memutari kursi yang diduduki Rainy.


"Dingin sekali! Pamanmu baru saja meninggal dengan tragis. Mengapa kau tidak menangis?" cela si pemuda. Setelah meletakkan jaket parasutnya ke atas kursi yang basah untuk menjadi alasnya, ia duduk di sisi Rainy.


"Sepertinya kalau tidak salah ingat, dia juga pamanmu tapi aku tidak melihat kau menangis, Ivan." Sahut Rainy.


"Paman angkat. Aku hanya anak adopsi, kau ingat kan? Paman Adnan tidak pernah menganggapku sebagai anggota dari keluarga kita. Untuk apa aku menangisi orang seperti dia."


"Heartless." Cela Rainy sambil mengembalikan pandangannya kembali ke depannya. Ivan hanya mengangkat bahunya.


"Well, that's make the two of us! Tapi setidaknya aku lebih pintar karena tidak membiarkan diriku berhujan-hujanan di tengah hari yang dingin seperti seseorang. Kalau orang lain melihatmu, mereka akan berpikir bahwa kau sedang diterpa kesedihan yang hebat hingga depresi." Sindirnya yang sepenuhnya diabaikan oleh Rainy. Maklum pada perilaku sepupunya yang memang selalu miskin kata itu, Ivan membiarkan kalimatnya mengambang begitu saja tanpa respon.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanyanya lagi. Rainy menoleh pada Ivan sambil menyipitkan mata.


"Apa kau khawatir akan keadaanku?" Tanya Rainy dengan nada penuh keheranan.


"Tentu saja! Aku mungkin tidak menyukai banyak orang dalam keluarga kita, tapi kau berbeda! Kau selalu menjadi sepupu favoritku!" seloroh Ivan.


"Itu sebelum atau sesudah kau meletakkan ular di atas tempat tidurku?" Selidik Rainy ingin tahu.


"Hei, come on! Aku melakukannya bukan karena berniat menjahatimu! Itu terjadi karena aku masih kecil dan belum memahami banyak hal. Kau kan tahu aku sangat menyukai ular. Karena aku menyukaimu, aku jadi ingin agar kau menyukai ular juga. Itu sebabnya aku membawanya ke kamarmu agar kalian bisa berkenalan. Mana kutahu kalau kau akan begitu ketakutan hingga jatuh pingsan seperti itu." Ucap Ivan mencoba membela diri.


"Lalu setelahnya aku jadi heran mengapa kau bisa begitu membenci ular padahal mereka adalah mahluk paling menggemaskan di dunia! Apalagi Achiles! Ia tidak akan pernah menyakitimu! Karena itu aku membawa Achiles kembali ke kamarmu untuk mendamaikan kalian. Siapa sangka bahkan baru melihat kepala Achiles saja kau langsung pingsan. Gara-gara itu aku diusir kakek dari rumah dan dimarahi habis-habisan oleh orangtuaku." Keluh Ivan lagi.


Rainy menggelengkan kepala dan meletakkan tangan ke dahinya ketika mendengar penjelasan yang datang sangat terlambat ini. Andai ia tidak mengenal sepupu angkatnya ini dengan baik di masa kecil mereka, ia pasti tak akan ragu-ragu menuduh  Ivan berbohong. Namun tumbuh besar bersamanya, Rainy sangat tahu bahwa kadang-kadang Ivan memang luar biasa eksentrik dalam berpikir dan bertindak.


"Bagaimana dengan ular-ular lain yang dikirimkan ke kamarku setelahnya?" Tanya Rainy lagi.


"Aku tak pernah mengirimkan Achiles ke kamarmu lagi setelah itu! Aku berani bersumpah!" Ivan mengangkat dua jarinya hingga membentuk huruf 'V' sambil memandang Rainy dengan serius, membuat Rainy mendengus geli.


Melihat Rainy tertawa, Ivan pun tersenyum.


"Akhirnya aku bisa melihat tawamu." Ucapnya sambil memandang Rainy lekat-lekat.


"Apakah kau tau, sejak Niwe meninggal, aku tidak pernah lagi melihatmu tersenyum, apalagi tertawa." Senyum Rainy perlahan memudar kembali.


"Pasti sangat berat  jadi dirimu yang dalam usia semuda itu harus menghadapi kemarahan semua orang. Maafkan aku karena selama ini tak bisa memberikan bantuan apapun." Ucap Ivan lagi. Rainy termangu mendengarnya. Setelah bertahun-tahun, ini pertama kalinya ia mendengar kata-kata serupa ini keluar dari mulut anggota keluarga besarnya. Mendengarnya membuat tenggorokan Rainy terasa tercekat oleh tangis yang tiba-tiba mengancam untuk keluar. Namun Rainy menahannya. Ia bukan seseorang yang suka menunjukkan emosinya di depan orang lain, jadi ia memilih untuk menutup mulutnya dan kembali memandangi taman yang basah dihadapannya.


"Papamu sungguh luar biasa." ucap Ivan sesaat kemudian. "Dalam semalam saja ia berhasil membuat pembunuhan berubah menjadi serangan jantung dalam laporan koroner. Entah koneksi macam apa yang digunakannya." Komentarnya.


"Tidak ada gunanya mengumumkan pada dunia bagaimana cara Paman meninggal." Sahut Rainy.


"Benar. Toh tidak akan ada yang mampu menangkap pelakunya. Tapi that the hell of connection your father has. Tak banyak orang di negeri ini yang mampu melakukannya."


"Koneksi adalah salah satu warisan yang paling berharga dalam keluarga kita." Sahut Rainy.


"But it come with a hell of price too?" Tanya Ivan. Rainy hanya tersenyum muram sebagai jawabannya, membuat Ivan menarik nafas panjang. Benar, segala sesuatu yang hebat yang dimiliki oleh keluarga mereka diperoleh lewat mengabdi pada Iblis. Harga yang terlalu berlebihan untuk ditanggung oleh manusia.


"Setidaknya semenjak hari ini tidak akan ada yang berani menentangmu." Renung Ivan.


"Benarkah?" tanya Rainy pelan.


"Tentu saja! Tak akan ada yang berani menentangmu apabila taruhannya adalah nyawa. Kalau ada yang berani berarti ia sudah tidak ingin hidup lagi!" Ivan termangu sesaat sebelum ia kembali bertanya,


'It's the real reason, isn't it?"


"What reason?" Tanya Rainy.


"Alasan mengapa paman Adnan dibunuh; yaitu untuk membungkam semua mulut yang tidak puas."


"Apakah kau pikir begitu?"


"Bukankah memang begitu?" Debat Ivan lagi.


"Lilith... dia melakukan ini untuk membantumu." renung Ivan.


"Tak ada orang waras yang akan senang memperoleh bantuan dengan cara itu, Ivan. Apalagi apabila bantuan itu datang dari Iblis." Sanggah Rainy.


"Well, itu sudah terjadi dan tidak mungkin diubah lagi. Menyesalinya tidak akan menghidupkan paman Adnan kembali." Komentar Ivan. Rainy tahu bahwa yang dikatakan oleh Ivan adalah kebenaran. Namun tetap saja ia tidak bisa berhenti menyesalinya. Hatinya belum berubah sedingin yang diperlukan untuk menjadi kepala keluarga itu. Rainy berharap hatinya segera membatu sehingga rasa sakit yang selalu menekan dadanya setiap kali sesuatu yang buruk terjadi bisa segera menghilang dan tak perlu dirasakannya kembali.


Ivan bangkit dari kursinya, mengambil jaket yang tadi didudukinya dan mengibaskannya untuk membersihkannya dari air, sambil berkata,


"Sebaiknya kita pulang sekarang. Penguburan akan dilakukan segera selagi hujan mereda." Ucapnya pada Rainy. Rainy mendongak ke langit dan menyadari bahwa gerimis telah mereda walaupun langit masih dinaungi oleh awan gelap. Menyetujui perkataan Ivan, Rainy bangkit berdiri. Mereka kemudian berjalan berdampingan pulang kembali ke rumah besar, kembali ke tempat semua kengerian dan kekejaman berada.


Copyright @FreyaCesare