My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Melawan Arus



Pemandangan di hadapan Rainy berubah kembali. Tiba-tiba ia telah duduk di ujung sebuah Jukung yang sedang mengapung di tengah sungai yang berair tenang. Rainy menoleh dan menemukan Datuk Sanja sedang duduk di ujung lain jukung tersebut, tepat di belakangnya. Sementara itu tepat di sebelah Jukung mereka, terdapat sebuah Jukung lain, dimana di atas Jukung tersebut, Lauri sedang mengayuh dengan sekuat tenaga. Di bawah kerja kerasnya, jukungnya melaju dengan kencang menyusuri sungai. Namun di sebelahnya, Jukung Rainy yang bahkan tidak di lengkapi oleh satupun dayung, meluncur sama kencangnya dengan Jukung Lauri, tanpa ada yang mendorongnya.


Rainy menoleh pada Datuk Sanja dan bertanya,


"Apakah Datuk yang mendayung Jukung ini?"


Mendengar pertanyaannya, Datuk Sanja mengangkat kedua tangannya yang kosong, membuat kedua alis Rainy terangkat.


"Jukung ini hanyalah sebuah refleksi dari Jukung yang Lauri kendarai. Kecepatan Jukung ini akan mengikuti kecepatan Jukungnya secara otomatis. Jadi sebaiknya tak perlu terlalu kau pikirkan. Toh fungsinya hanya untuk memberi kita tempat yang nyaman untuk menonton apa yang terjadi." ucap Datuk Sanja memberitahu.


Rainy mengangguk. Namun ketika ia kembali menoleh ke arah Lauri, mau tak mau ia merasa iba sekaligus ingin tertawa. Remaja itu mendayung dengan sekuat tenaga sampai wajahnya mengerut penuh tekad dan urat nadinya bermunculan di permukaan kulitnya. Sayangnya, tak perduli seberapa kuatpun ia mendayung, apabila di kayuh dengan tenaga manusia, apalagi hanya terdiri dari satu orang saja, kecepatan yang dihasilkannya masih terlalu rendah bila dibandingkan dengan kapal bertenaga motor. Sementara Jukung yang Rainy naiki, walau tidak dikayuh, meluncur dengan kecepatan yang sama persis dengan Jukung Lauri. Seandainya Lauri mengetahui ini, ia pasti sudah mengemeretakkan giginya dengan kesal.


Remaja yang tengah terbakar oleh kecemasan akan keselamatan kedua saudarinya dan tekad untuk menyelamatkan mereka itu membuatnya tak juga berhenti mendayung sejak semalam. Bulir-bulir keringat memenuhi bagian-bagian tubuhnya yang terbuka, yang sesekali menetes dari dagunya yang kokoh. Seluruh tubuhnya telah basah oleh keringat hingga tidak ada lagi bagian yang kering dari pakaian yang di kenakannya. Keteguhan remaja ini harusnya membuat para remaja di dunia modern merasa malu.


"Tsk... Bukankah kecepatan ini terlalu menyedihkan?" tanya sebuah suara dari belakang Lauri. Rainy langsung menoleh dan menemukan Lilith telah duduk di ujung Jukung Lauri, persis bersebelahan dengan tempat Datuk Sanja duduk. Rainy bisa melihat bagaimana Datuk Sanja menyipitkan matanya ke arah Lilith dengan penuh rasa jijik. Lauri nampaknya tidak perlu repot-repot menoleh untuk mengetahui siapa yang sedang berbicara padanya.


"Pergilah kau, Iblis!" geramnya dengan terus mengayuh dayungnya. Memperoleh perlakuan dingin tentu saja tidak mempengaruhi Lilith sama sekali. Ia hanya tersenyum dan berkata lagi,


"Tapi aku merasa sangat kasihan padamu. Bagaimana kalau aku bantu..."


"Diam! Aku tidak butuh bantuanmu!" geram Lauri lagi, memotong kata-kata Lilith.


"Emm. Tidak butuh bantuanku. Apa kau yakin?" tanya Lilith lagi. "Kau telah terlambat 1 hari. Bila kau hanya bisa mengayuh dalam kecepatan ini, takutnyaaaa...."


"Lihatlah ke depan!" Suruh Lilith sambil menujuk ke depan. "Lihat ke depan, Lauri! Kau mau menabrak batu!" beritahu Lilith lagi. Katanya-katanya langsung membuat Lauri berpaling kembali dan betul saja, sebuah jeram muncul tiba-tiba dan hampir membuat jukungnya terseret arus deras. Lengah sedikit, ia bisa kehilangan nyawa disini.


Di Jukung yang disebelahnya, Rainy memperoleh pengalaman aneh ketika Jukung yang membawanya terus meluncur tenang menembus segala halang rintang di hadapannya, termasuk menembus batu-batu karang besar. Rainy hampir menjerit ketika Jukung mereka pertama kali meluncur ke arah batu besar tanpa merubah arah. Ia berpikir bahwa kali ini bila tidak mati, ia akan gegar otak! Batu karang itu kelihatan sangat mengintimidasi! Namun kemudian ia menabrak batu karang tersebut dan tidak merasakan apapun. Tubuhnya justru masuk ke dalam batu dan untuk sesaat pandangannya menjadi gelap. Ketika kemudian kegelapan menghilang berganti kembali dengan pemandangan sungai, terdengar suara tawa dari belakangnya.


"Kau harus melihat ekspresimu. Kau sangat percaya bahwa sebentar lagi kau akan menabrak batu-batu besar tadi. Apakah kau membayangkan tubuhmu kemudian berubah menjadi rata seperti tripleks lalu jatuh ke bawah seperti di film looney tunes? Hmmm?" ejek Datuk Sanja. Mendengar ini, Rainy menoleh ke arah Datuk Sanja dan memberinya tatapan marah yang justru membuat Datuk Sanja tertawa semakin keras karena tatapan itu adalah tatapan yang biasa diberikan cucunya padanya setiap kali Datuk Sanja menggodanya. Bukan tatapan murka yang menjanjikan balas dendam, tapi tatapan kesal seorang anak kecil yang merasa dipermainkan oleh seniornya. Sungguh menggemaskan!


"Datuk tertawa begitu bahagianya. Apakah itu karena Datuk duduk bersebelahan dengan wanita cantik?" ejek Rainy dengan penuh dendam.


"Wanita cantik?" Datuk Sanja mengerutkan keningnya. "Dimana ada wanita..." tiba-tiba ia menyadari maksud Rainy dan itu membuat mata langsung membelalak dengan murka. "Anak kurang ajar! Kau pikir Datukmu ini siapa? Itu bukan wanita, tapi iblis!" protesnya. Namun sambil mencibir, Rainy membalikkan kepalanya kembali ke depan dan hanya memberikan Datuk pemandangan ke arah belakang kepalanya. "Gadis jahat beraninya kau mengejek datukmu ya! Awas saja...." Datuk Sanja terus saja mengomel panjang pendek namun kalimatnya hanya dianggap angin lalu oleh Rainy. Untungnya sebagian besar suaranya tenggelam di telan suara keras arus deras setiap kali mereka melewati jeram.


Sementara itu Lauri masih berjuang keras untuk mengendalikan Jukung agar dapat meluncur secepat mungkin di antara jeram-jeram mematikan yang harus ia lewati. Setiap kali ia selesai melewati 1 jeram, suara indah Lilith akan memberinya pujian sekaligus kalimat yang menakutinya.


"Sigh! Kuakui keahlianmu untuk melawan sungai sungguh sangat hebat." ucap Lilith untuk kesekian kalinya dengan nada dramatis yang membuat Datuk Sanja menatapnya dengan berapi-api dan beberapa kali meludah ke arahnya. "Tapi sayang sekali kan, kalau karena kekeras kepalaanmu ini, saat kau sampai di sana, kedua saudarimu sudah berubah menjadi mayat?" ucap Lilith lagi, dengan sengaja mengorek-ngorek rasa takut Lauri dengan sistematis.


Rainy tahu bahwa dari bahasa tubuhnya, Lauri sudah hampir gila karena ketakutan. Bila Lilith terus membujuknya sedikit lagi, mungkin Lauri tidak akan mampu mengendalikan dirinya dan menerima bantuan Lilith. Rainy merasa kasihan pada Lauri. Sebagai pria dari dunia yang kacau namun masih dipenuhi kemurnian, Lauri adalah contoh ideal pria dari masanya. Ia lurus, polos dan kaku. Wajahnya seperti buku yang terbuka, sangat mudah dibaca. Lilith tidak perlu repot-repot membuat berbagai trik licik hanya untuk menangkap Lauri sehingga masuk ke dalam perangkapnya. Bahkan Lauri sendiri bisa menebaknya dengan mudah. Lilith hanya perlu menyamar sebagai 'tuhan' di depan masyarakat yang pola pikirnya masih sederhana itu dan hanya perlu memberikan sedikit 'dorongan' pada Mamut untuk menghancurkan 'umatnya' yang menyimpang dari dewa-dewa mereka. Menyisakan Lauri sebagai sasaran terakhir karena ia adalah seseorang yang menarik bagi Lilith. Hanya saja, sampai sejauh ini, Rainy belum bisa menilai bagian mana dari Lauri yang menarik untuk Lilith.


Terhadap bujuk rayu iblis itu, pada akhirnya Rainy hanya bisa mendengar kalimat,


"Diam! Pergilah kau, iblis!" dari mulut Lauri yang wajahnya telah dibasahi oleh air mata yang bercampur dengan percikan air sungai.


"Ya sudah. Aku akan datang lagi saat kau memerlukanku ya, sayang! Daaah!" Setelah melemparkan kalimat genit tersebut, Lilith kembali menghilang tanpa jejak. Bersama menghilangnya Lilith, Rainy kembali melihat pemandangan di depannya berubah.