
"Hmmm? Will you marry me?" tanya Raka lagi. Tatapan matanya yang begitu intens membuat wajah Rainy memerah.
"What marry? Aku masih muda! Aku belum mau menikah sekarang!" tolak Rainy dengan salah tingkah. Raka mengerutkan keningnya tidak setuju.
"23 tahun sih sudah tidak muda! Jaman dahulu orang menikah di usia 12 tahun." protes Raka, membuat mulut Rainy terbuka dan tertutup karena tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ekspresinya mengingatkan Raka pada ikan koki panda kesayangan Ace. Emm! Seimut apapun mahluk lain, tidak ada yang bisa menandingi keimutan Rainy! Dengan kesal Rainy mengulurkan tangan untuk mencubit kedua pipi Raka.
"Kau pikir kita hidup di jaman pertengahan? 23 tahun itu masih muda tauuuu!" ucapnya dengan gemas.
"Lalu kapan kau ingin menikah?" tanya Raka lagi dengan cemberut. Ia membiarkan pipinya dibully oleh tangan-tangan nakal Rainy.
"Siapa bilang aku mau menikah?" cetus Rainy, mengangkat dagunya dengan angkuh. Bibir Raka kembali membentuk senyum geli. Matanya berkilat penuh tawa.
"Sewaktu masih kecil dulu setiap kali kau ditanya ingin menikahi pria seperti apa, kau selalu bilang hmph hsjssjsph..." Raka belum sempat menyelesaikan kata-katanya ketika Rainy membekap mulut Raka dengan telapak tangannya. Walhasil, kata-kata Raka teredam dan tak bisa terdengar dengan jelas. Wajah Rainy merah padam. Matanya melotot kesal pada Raka.
"Itu cerita jaman kapan?! Aku sudah lupa!" sanggahnya kesal. Orang ini mengapa sejak tadi tidak berhenti membuatnya merasa malu? Bisa nggak kalau tidak merusak suasana romantis yang tadi terbangun karena ungkapan perasaannya?
Arka mengedipkan matanya pelan. Bibirnya yang masih tersembunyi dalam bekapan telapak tangan Rainy kembali mengembangkan senyum jahil. Raka membuka mulutnya dan mengulurkan lidahnya untuk menjilat telapak tangan Rainy. Membuat Rainy langsung menarik kembali tangannya sambil menjerit geli.
"Iiiih! Jorok!" pekiknya sambil mulai memukuli Raka, membuat pria itu tergelak geli. Raka menarik Rainy untuk duduk bersamanya di atas ranjang. Setelah ia memperoleh posisi yang nyaman, Raka mengangkat Rainy ke atas pangkuannya, melingkarkan lengannya di pinggang Rainy dan meletakkan dagunya di bahu Rainy.
"Rainy, kapan kau akan menikahiku?" tanya Raka lagi. Rainy sampai mengerutkan bibirnya karena gemas. Persistensi Raka sungguh sulit untuk ditandingi. Rainy memutar tubuhnya untuk bisa berhadapan dengan Raka. Ia memegang kedua rahang Raka dan mengangkat wajahnya sehingga Rainy bisa menatap lurus ke matanya.
"Apa kau yakin bahwa perjanjian leluhurku dengan iblis tidak berlaku untukku?" tanya Rainy dengan sungguh-sungguh.
"Emm. Itu tidak berlaku untukmu dan untuk semua anggota keluargamu yang tidak pernah bersekutu dengan iblis." Jawab Raka tegas dan yakin.
"Apa kau yakin bahwa menikahiku tidak akan mencelakakanmu dan membuatmu menjadi tumbal iblis?" tanya Rainy lagi.
"Aku yakin!" jawab Raka lagi. "Trust me, will you?"
Rainy melepaskan rahang Raka dan mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk kepala Raka. Ia meletakkan kepalanya di atas puncak kepala Raka dan berkata pelan,
"Aku akan menikahimu setelah aku menyelesaikan wisuda S2 ku."
"Hah? Wisuda S2? Kau mau kembali ke kampus?" tanya Raka.
"Emm. Semalam dosen pembimbingku meneleponku. Beliau mengancam bila semester depan aku tidak kembali kesana, beliau yang akan kemari dan menyeretku untuk kembali ke kota Y dengan cara menjewerku sepanjang perjalanan." Ucap Rainy sambil tersenyum geli. Dosen pembimbing Rainy adalah seorang wanita yang berpenampilan lemah lembut, khas wanita bangsawan Jawa. Namun tak ada seorangpun yang berani meragukan tiraninya ketika keinginannya tidak dipenuhi, terutama oleh mahasiswa kesayangannya. Beliau bisa berubah menjadi macam betina kapan saja diperlukan.
"Menarik. Pasti sangat memalukan. Aku tidak sabar ingin melihatnya." gurau Raka, yang dihadiahi oleh jeweran di kupingnya. Membuat pria itu mengaduh sambil tertawa geli. "Kami akan ikut bersamamu." ucap Raka kemudian. Rainy langsung mengangkat kepalanya dengan kaget.
"Eh? Ngapain sih?" protes Rainy.
"Kok ngapain? Tentu saja aku dan seluruh anggota timmu harus ikut kemanapun kamu pergi. Kami dibentuk bukan cuma untuk membantumu, tapi juga melindungimu. Kau tidak boleh berada jauh dari kami. Terutama sekali, kau tidak diijinkan untuk berada jauh dariku!" tegas Raka. Rainy menyipitkan matanya dan menunduk menatap Raka dengan tatapan yang penuh penolakan. Namun Raka tidak mau kalah. Ia mendongak dan balik menatap Rainy dengan tatapan yang menantang Rainy untuk membantahnya.
"You are being irrational." cela Rainy.
"So be it. I don't care!" balas Raka tanpa perduli.
"Kita baru saja memindahkan Divisi VII kemari. Sekarang kau mau memindahkannya lagi?" protes Rainy.
"So what? Sejak terpisah dari Jaya Enterprise, Divisi VII tidak punya keharusan untuk berlokasi di satu tempat secara khusus. Pekerjaan Divisi VII tidak terikat pada tempat, tapi terikat pada dirimu. Divisi VII bisa berkantor di manapun selama di situ ada dirimu. Karena itu adalah wajar bila kami ikut kemanapun kamu pergi." jelas Raka, berargumentasi.
"Tutup aja. Kalau kamu merasa tak rela menutupnya, kita bisa membentuk tim kedua lebih awal dan menempatkan mereka disini, untuk menggantikan kita. Dan jangan lupa, kau juga punya resort di kota Y. Kita bisa membuat kantor sementara disana." sahut Raka santai.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu yang lain? Jangan lupa, kau punya banyak properti di bawah kekuasaanmu." ujar Rainy mengingatkan. Rainy mengacu pada beberapa properti milik gadis itu yang pengelolaannya diserahkan dibawah pengawasan Raka.
"Princess, that is your kingdom! I'm just a helper. Kalau kau menggunakan properti-properti itu untuk mengancamku, aku akan mengembalikan semua tanggung jawab itu ke atas tanganmu!" ancam Raka. "Lagipula setiap properti itu berada dibawah management profesional. Aku hanya perlu mengumpulkan laporan mereka setiap bulannya untuk diperiksa. Hal sesederhana itu bisa dilakukan dari mana saja."
"Raka!"
"Rainy!"
"Don't be irrational!"
"Don't be so hard-headed!"
"Aku kesana buat menyelesaikan kuliah! Bukan buat main! Aku mungkin nggak bakal punya waktu untuk hal lain selain kuliahku. Jadi buat apa memindahkan Divisi VII kesana?"
"Emm. Divisi VII tidak perlu pindah. Mereka semua bisa berada disini untuk melatih tim kedua. Cukup aku saja yang ikut denganmu." Raka tersenyum senang membayangkan bahwa ia tidak perlu melihat Arka seliweran di sekitar Rainy selama beberapa bulan Rainy menyelesaikan kuliahnya. "Emm! I like that idea a lot!"
Rainy memejamkan matanya dan menarik nafas panjang. Ia tahu bahwa sudah tidak ada gunanya berusaha merubah keputusan Raka, sehingga ia memutuskan untuk menurutinya. Anggap saja sebagai caranya menebus kesalahannya pada Raka karena meninggalkan dan mengabaikan pria itu selama 5 tahun lamanya. Rainy mengulurkan tangannya dan membelai wajah Raka dengan penuh perasaan. Ia bersyukur bahwa pada akhirnya ia bisa mencintai pria itu secara terbuka seperti dulu lagi.
"Raka, maafkan aku karena sudah memaksamu menjauh dariku. Aku melakukannya karena aku terlalu mencintaimu. Aku tidak sanggup membayangkan bahwa kau akan terluka karena aku." bisiknya pelan. Raka tersenyum. Pria itu mengulurkan tangan untuk memegang belakang kepala Rainy dan menariknya mendekat. Wajah mereka berada begitu dekat hingga Rainy bisa merasakan nafas hangat Raka menerpa wajahnya, membuat jantung Rainy berdetak sangat kencang.
"Aku tak mau memaafkanmu." jawab Raka, balas berbisik. "Kau harus membayar semua kesalahanmu padaku dengan berada disisiku seumur hidupku." Rainy tersenyum dan mengangguk.
"I will." bisik Rainy.
Raka menempelkan bibirnya di bibir Rainy dan menarik tubuh gadis itu dalam dekapannya yang hangat. Menumpahkan semua kerinduan yang tertimbun sekian lama dalam hatinya. Mereka berpagut mesra dalam cinta yang kembali membara.
***
Beberapa KM dari tempat Rainy dan Raka berada, di rumah besar milik Jaya Bataguh, dalam kamar yang khusus diperuntukan bagi Lilith, Lilian dan Lilith sedang duduk di sofa sambil menutup kedua matanya. Beberapa saat kemudian, mata Lilian terbuka. Ia menoleh pada Lilith dengan wajah waspada.
"Ibu, pria itu..."
Lilith perlahan membuka matanya. Tidak ada senyum yang biasanya ia tampilkan di hadapan Rainy pada wajah cantik itu. Yang ada hanya wajah tanpa ekspresi dan sorot mata yang dingin penuh kemarahan yang terpendam.
"Aku dengar." jawab Lilith pelan.
"Haruskah aku..." Lilian menggerakkan tangannya untuk melakukan gerakan memotong pada lehernya. Matanya berkilat dengan niat membunuh. Namun Lilith menggelengkan kepala. Ia meraih gelas wine yang berada di atas meja mungil, di sebelah sofa tunggal yang didudukinya dan menyesapnya pelan.
"Jangan dulu." Ucap Lilith kemudian. Suaranya yang indah namun menyeramkan menggema ke seluruh penjuru kamar yang besar tersebut dan menyebarkan aura kelam.
"Saat ini, biarkan saja dulu mereka berdua bahagia. Biarkan mereka menikmati buaian cinta sedikit lebih lama lagi." Lilith mengangkat gelasnya dan memutar-mutarnya di depan wajahnya. Dengan penuh perhatian Lilith mengamati gerakan anggur merah yang berputar-putar di dalam gelas tersebut, seolah-olah itu adalah benda yang sangat menarik untuk diamati. "Saat mereka percaya bahwa mereka tidak lagi mampu untuk hidup tanpa satu sama lain, saat itulah kita bertindak." lanjutnya.
"Ah, aku mengerti." Lilian mengangguk. Senyum kejam mengembang di bibirnya, membuat wajahnya yang cantik menjadi terlihat sangat kejam. "Adik kecilku yang malang. Siapa suruh kau berani membuat Ibu kesal. Tunggu saja saat ketika kau menerima hukumanmu. Mari kita lihat nanti, apakah kau masih akan punya nyali untuk melawan Ibu lagi."
Copyright @FreyaCesare