
Bukan! Itu bukan sebuah villa mungil, tapi pondok mungil yang lebih terlihat mirip dengan rumah mainan. Bangunannya berwarna putih dan bagian atasnya ditutupi oleh atap yang terbuat dari dari bahan jerami berwarna hitam. Lebar bangunan tersebut bila terlihat dari depan mungkin hanya sekitar 6 meter, dengan halaman yang cukup luas dan dipenuhi oleh berbagai jenis bunga yang indah. Di teras pondok terdapat sepasang kursi ayun rotan berwarna putih yang berbentuk oval, mirip sebuah telur yang dibelah menjadi 2, yang mengundang untuk diduduki, dan mengapit sebuah meja kecil yang terbuat dari bahan yang sama.
"Rumahmu?" tanya Lilith. Rainy memandang Lilith dengan bosan. Mengapa iblis ini menanyakan hal yang sudah jelas? Pikirnya kesal.
"Dimana aku pernah melihat rumah ini sebelumnya ya?" tanya Lilith pada diri sendiri. Keningnya berkerut mencoba untuk mengingat. Lilith melangkah melewati pagar hidup yang mengurung halaman depan pondok dan melangkah menyusuri jalan setapak yang terbuat dari batu-batu kerikil berwarna putih, menuju ke teras. Di tengah jalan, Lilith tiba-tiba berhenti. "Ah! Aku ingat! Rumah ini adalah rumah dalam lukisan yang kau hadiahkan pada kakekmu pada perayaan ulang tahunnya yang terakhir!" cetus Lilith girang. Rainy yang mengikuti di belakangnya, hanya mengangkat bahu.
Lilith kembali melangkah maju. Sampai di depan pintu, ia langsung membuka pintu rumah dan melongok ke dalam. Lagaknya mirip gadis kecil yang penuh rasa ingin tahu. Saat Lilith membuka pintu, ia bukan menemukan sebuah ruang tamu, namun sebuah Cafe. Terdapat sebuah counter yang menghadap ke arah pintu keluar dan sebuah lemari display kue yang dipenuhi oleh sederet pastry dan cake. Sebuah mesin ice cream dan mesin pembuat kopi berderet di dinding di belakang counter. Di hadapannya, beberapa set sofa yang nyaman, yang dilengkapi dengan meja makan bundar yang muat bagi 4 orang, disebar dengan rapi mengisi seluruh ruang kosong di Kafe tersebut. Lampu-lampu mungil dibuat berjuntaian dari atas langit-langit, membuat ruangan tersebut terlihat sangat menawan. Melihat dekorasi ruangan di hadapannya, Lilith tertawa.
"Bukan toko pastry, tapi Kafe? seharusnya aku sudah menduganya." Goda Lilith geli. Terhadap godaan ini, Rainy hanya melengos tak perduli.
Lilith memasuki Kafe sementara Rainy memilih duduk di salah satu kursi ayun Rotan, di teras. Ia sibuk berpikir tentang asal-usul pondok mungil ini. Rainy ingat bahwa dalam meditasi, ia selalu mengimajinasikan Maya Bay sebagai zona amannya. Zona aman atau safe place adalah sebuah ruangan yang diciptakan dengan menggunakan imajinasi seseorang saat orang tersebut sedang bermeditasi. Zona aman biasanya merupakan sebuah trmpat yang paling disukai individu tersebut dan merupakan tempat kemana ia ingin pergi ketika ia sedang merasa sangat sangat stress, misalnya seperti pantai, pegunungan, atau kamar pribadi; yang bisa memberikan rasa nyaman dan aman dalam diri orang tersebut. Tempat yang paling cocok baginya untuk beristirahat ketika pikirannya sedang letih.
Menciptakan zona aman menggunakan imajinasi dalam meditasi atau bentuk rileksasi lainnya adalah hal yang biasa dilakukan untuk mempercepat orang yang melakukannya menjadi rileks. Bagi Rainy, Maya Bay adalah tempat yang dengan mudah akan memberinya rasa nyaman tersebut.
Selain itu, dalam salah satu imajinasi tersebut, Rainy ingat menciptakan perahu mungil di pantai. Ia juga ingat melemparkan banyak sekali peti kayu berisi emosi negatif ke dalam lautan dangkal, untuk membersihkan emosinya. Sehingga bila saat ini ia menyelam di sana, ia pasti bisa melihat tumpukan peti kayu yang tak terbilang banyaknya. Well, dia sudah melakukan hal itu jutaan kali sejak masih belia. Namun ia tidak ingat pernah menciptakan sebuah Kafe dalam bentuk pondok mungil di pinggir pantai Maya Bay ini. Mungkin rumah ini diambil dari mimpinya yang lain yang kemudian terkumpul disini? Entahlah. Alam ketidaksadaran manusia adalah ruang yang masih sangat misterius dan sulit dipahami, bahkan bagi pemiliknya sendiri.
Tak lama kemudian Lilith keluar dengan membawa sepotong cake di atas piring keramik mungil dan segelas teh dalam cangkir keramik yang unik, di atas sebuah nampan yang cantik. Ia meletakkan nampan tersebut di atas meja, lalu duduk di kursi yang kosong. Setelah merapikan duduknya, dengan anggun, Lilith mengambil piring cakenya dan sendok kecil yang mendampinginya, lalu menyuapkan sesendok kecil cake ke dalam mulutnya dengan wajah berseri-seri. Rainy mengamatinya dengan tertarik. Tak lama kemudian, wajah Lilith meredup. Ia meletakkan kembali piring kecilnya ke atas nampan dan memunculkan sehelai sapu tangan begitu saja dari ketiadaan, lalu menutupi mulutnya dengan sapu tangan tersebut dan meludahkan kue dalam mulut ke atas sapu tangan dengan sopan. Lilith kemudian melipat sapu tangan tersebut dan meletakkannya ke atas nampan. Setelah itu ia menggerakan jari-jari dan sebuah cangkir teh yang masih mengepulkan uap hangat, muncul dengan bergantung pada jari-jarinya. Lilith menghirupnya dengan nikmat. Melihat ini, Rainy mengangkat kedua alisnya. Lilith tersenyum pada Rainy dan berkata,
"Bagaimana bisa pecinta pastry sepertimu menghasilkan pastry yang tidak ada rasanya?" tanyanya mencela. "Rasanya seperti makan gabus. Aneh banget."
"Sejak kapan makanan dan minuman dalam mimpi memiliki rasa? Lagipula tidak ada yang menyuruhmu untuk memakannya." sahut Rainy.
"Hmm? Kau tidak pernah menemukan makanan dan minuman yang memiliki rasa dalam mimpimu?" tanya Lilith terkejut. "Kukira kekuatan jiwamu sudah tinggi, ternyata masih rata-rata saja."
"Adalah mungkin untuk memberikan rasa pada makanan dan minuman dalam dunia mimpi." jelas Lilith. "Kau hanya perlu untuk membuat kekuatan jiwamu mencapai level yang lebih tinggi lagi." jelas Lilith. Rainy belum pernah mendengar siapapun mengatakan tentang ini sebelumnya.
"Kekuatan jiwa? Bagaimana caranya?" tanya Rainy dengan tertarik.
"Kau mau aku mengajarimu?" tanya Lilith. "Mintalah, maka akan kuberi." Rayu Lilith, membuat Rainy mengerutkan keningnya.
"I'm fine with what I have. Aku tidak membutuhkan apapun darimu!" tolak Rainy.
"Penakut." ejek Lilith lagi. Rainy tidak menjawab. Ia menyandarkan tubuh ke sandaran kursi dan memutuskan untuk menikmati pemandangan di sekitarnya dengan santai. Kursinya berayun-ayun pelan, mengikuti dorongan dari tumitnya. Lilith memandangnya sesaat, kemudian tersenyum.
"Kau tahu, dulu ayahmu mengabaikanku dengan cara yang sama." ucap Lilith mengenang. "Ia akan duduk diam tanpa tanpa suara dan tanpa memberi respon sedikitpun, bersikap seolah-olah ia tidak melihatku. Sungguh pria yang keras kepala."
Rainy tidak menjawab. Ekspresi wajahnya tampak dingin dan tak perduli, Namun telinganya mendengarkan dengan seksama. Kadang-kadang saat sedang merasa diserang oleh nostalgia, Lilith tanpa sadar mengungkapkan rahasia-rahasia kecil yang seringkali sangat berguna dan Rainy selalu menunggu Lilith melakukan hal tersebut; menbocorkan satu atau dua rahasia kecil yang bisa membantu Rainy untuk menjadi lebih kuat, atau membantunya untuk melawan Lilith lebih jauh lagi.
"Aku ingat protes terbesar yang pernah ditunjukkannya padaku adalah tentang dirimu." cerita Rainy.
"Aku?" tanya Rainy. Lilith mengangguk.
Copyright @FreyaCesare