
"Kau tahu, sejak sebelum kau diciptakan, aku sudah menunggu-nunggu kedatanganmu." cerita Lilith. "Ketika kakekmu memintaku untuk menunjukan siapa yang kelak akan menduduki kursi Kepala Keluarga menggantikan dirinya, aku tahu bahwa tak ada satupun dari anak-anak Jaya Bataguh yang memiliki kemampuan itu. Diantara mereka berempat, hanya ayahmu yang memiliki sedikit bakat. Namun bakatnya sangat terbatas. Jadi aku harus mengintip lebih jauh lagi ke generasi yang selanjutnya." Lilith meletakkan cangkirnya ke sebelah cangkir berisi teh yang tidak disentuhnya, di atas meja. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dan mengikuti teladan Rainy, mulai berayun pelan sambil melanjutkan ceritanya.
"Pada waktu itu ayahmu sudah mengetahui mengenai keberadaanku dalam keluargamu dan walaupun tidak menyukainya, ia telah telah pasrah menerima bahwa dirinya harus menjadi kepala keluarga yang selanjutnya. Namun saat aku memberitahunya bahwa bukan dia, tapi putrinyalah yang akan menjadi kepala keluarga untuk menggantikan Jaya Bataguh, ayahmu memberontak. Ia bilang ia tidak bersedia menyerahkan warisannya pada putrinya. Ia memilih untuk tidak menikah daripada harus memiliki putri yang akan merampas haknya." mendengar ini, Rainy menaikkan alisnya. Cerita Lilith mengenai ayahnya sama sekali tidak menggambarkan kepribadian Ardi sebagaimana yang dikenal Rainy. Iblis ini menyunting ceritanya disana-sini.
"Ia tiba-tiba menolak perjodohan yang telah ditetapkan untuknya sejak ia masih remaja, padahal ia sangat mencintai tunangannya. Saat akhirnya ia setuju untuk menikah, ia menolak untuk menyentuh Ratna, dan membuat ibumu menangis setiap hari selama berminggu-minggu. Ia mengabaikanku. Berpura-pura tidak melihatku setiap kali aku menemuinya, dan tidak mau berbicara denganku. Persis seperti yang biasanya kau lakukan." Rainy mencibir mendengar ini. Hal ini sama sekali tidak mengherankan dirinya. Siapapun yang waras pasti ingin mengabaikan Lilith dan pura-pura tidak melihatnya bila mereka mengenalnya. Iblis bukanlah mahluk yang perlu diberikan sopan santun maupun keramahan.
"Aku sih tidak keberatan. Bagiku kalian adalah anak-anak yang masih belia. Sedikit tantrum tidak akan menyakiti siapapun. Namun aku tidak tega melihat Ratna yang menangis setiap malam karena suaminya meninggalkannya sendiri di ranjang pengantin mereka."
"Jadi pada suatu malam ketika ayahmu sedang tidur di ruang kerjanya, aku merasuki tubuh ayahmu dan membawanya kembali ke kamar pengantin mereka." ucap Lilith sambil tersenyum. Matanya berkilat jahat, namun senyum dan nada suaranya hanya terdengar seolah ia sedang menceritakan tentang bunga-bunga di taman yang sedang mekar.
Rainy yang sejak tadi hanya mendengarkan dengan setengah hati, untuk sesaat membelalakkan matanya dan mengerutkan keningnya karena terkejut. Rainy tahu bahwa ia tidak perlu terkejut dengan perilaku apapun yang Lilith tampilkan karena ia seharusnya berharap hanya yang terburuk dari mahluk bernama Iblis itu. Namun tetap saja pemahaman ini tidak mempersiapkannya untuk mendengar hal yang serupa ini. Rainy tak tahu apa yang harus ia rasakan atau ia pikirkan. Untuk sesaat kepalanya terasa kosong.
"Jadi malam itu, bukan ayahmu yang menyentuh ibumu. Tapi aku! Akulah yang memelukmu ibumu dan memastikan bahwa ia akan memilikimu dalam tubuhnya. Memastikan bahwa kau akan tercipta dan terlahir ke dunia ini sebagaimana yang sudah aku ramalkan." Lilith mengerling pada Rainy dan kemudian menatapnya dengan penuh kasih sayang, membuat seluruh bulu kuduk Rainy meremang.
" In this sense, aku adalah orangtuamu." untuk sesaat wajah Lilith tampak bersemu merah layaknya seorang gadis belia yang sedang malu, membuat Rainy yang melihatnya merasa ingin muntah.
"Aku mau bilang aku adalah ayahmu, tapi karena aku wanita, jadi kau bisa menganggap aku sebagai salah satu dari 2 ibumu." ucap Lilith. Rainy hanya menatapnya dalam diam. Ekspresinya tetap datar. Namun ia tidak menutupi rasa jijik yang terlihat di matanya.
Iblis ini, permainan apalagi sih yang sedang dia rencanakan?
"Jadi, karena aku diciptakan saat ayahku sedang kerasukan dirimu, kau ingin menjatuhkan klaim atas diriku sebagai putrimu?" tanya Rainy dengan sinis. "Apa kau pikir aku bodoh?"
"Walaupun jiwamu yang saat itu merasuki ayahku dan membuatnya melakukan apapun yang pasangan suami dan istri lakukan untuk menghasilkan anak, tapi tetap saja alat yang secara fisik digunakan saat itu adalah milik ayahku. So in that sense, I still my father's daughter, dan tidak ada hubungannya sedikitpun dengan dirimu!" ucap Rainy geram. "Karena itu, jangan pernah sekalipun menghinaku dengan mengatakan bahwa aku adalah anak iblis!"
"Hei, apa kau tidak apa-apa?" tanyanya lembut. Rainy menatap Raka dengan nanar. Ia tak menyangka akan langsung terbangun setelah melemparkan kemarahannya kepada Lilith seperti itu. Rainy mencoba mengatur nafasnya untuk menenangkan diri. Ia menyandarkan tubuhnya ke dada Raka, memejamkan matanya dan memenuhi indra penciumannya dengan wangi pria itu. Raka langsung mengulurkan kedua tangannya untuk memeluk Rainy. Ketika merasakan ketegangan tubuh gadis itu, telapak tangan Raka secara otomatis langsung menepuk-nepuk punggung Rainy untuk membantunya menenangkan diri.
"Mimpi buruk?" tanya Raka.
"Emm." Rainy mengangguk.
"Kau pasti sangat kelelahan secara fisik dan mental makanya sampai bermimpi buruk." komentar Raka. Ia membiarkan Rainy bersandar dalam pelukannya sampai tubuh gadis itu menjadi tenang. Setelah merasa lebih tenang, Rainy kembali menegakkan tubuhnya. Ia mengangkat wajahnya dan menatap Raka sambil tersenyum manis, membuat hati Raka mengembang penuh kebahagiaan. Senyum itu, senyum tulus tanpa penjagaan, senyum yang begitu dirindukan Raka, akhirnya bisa dilihatnya kembali. Raka mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala gadis itu, namun sesuatu pada kepala Rainy menarik perhatiannya.
"Rain," panggil Raka sambil memandangi Rainy dengan lebih seksama. "Apakah kau mengecat rambutmu?" tanyanya. Tapi seingat Raka, Rainy tidak pernah pergi kemanapun tanpa dirinya. Jadi tidak mungkin bila ia tidak mengetahui kapan Rainy pergi ke salon dan mengecat rambutnya.
"Mengecat rambut? Tidak." Sahut Rainy bingung. "Kenapa?"
"Rambutmu berkilau dalam warna biru." jawab Raka ragu-ragu. Apakah matanya sedang membohonginya? Ia ingat bahwa rambut Rainy selalu berwarna hitam pekat. Kapan warna biru itu muncul?
"Biru?" Rainy mengerutkan keningnya. Ia lalu menurunkan kaki dari ranjang dan bangun untuk melihat dirinya sendiri di cermin yang ada di pintu lemari. Namun saat selimutnya tersingkap ketika ia bangkit dari ranjang, hal lain mengejutkan Raka.
"Rain, bajumu..." ucap Raka terbata, menghentikan gerakan Rainy.
"Baju?" ulang Rainy. Ia kemudian menunduk untuk memeriksa sumber keterkejutan Raka. Matanya membesar saat memandang pakaian yang sedang dikenakannya. Namun tak lama kemudian matanya kembali menyipit. Ia sedang mengenakan midi dress yang dikenakannya dalam mimpinya tadi. Bagaimana caranya dress yang dikenakannya dalam mimpi bisa terbawa ke dunia fana? Sesaat kemudian matanya kembali membesar ketika teringat pertanyaan Raka mengenai rambutnya tadi. Rainy bergegas menuju ke depan cermin. Saat berdiri di depan cermin, ia melihat bahwa bukan hanya ia membawa dress yang dikenakannya dalam mimpi, keluar ke dunia fana, ia juga membawa serta rambut hitam kebiruan yang diberikan Lilith untuknya.
Copyright @FreyaCesare