My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Raka Yang Pilih Kasih



Rainy tertidur selama 2 jam. Ketika terbangun, ia sudah tinggal sendirian dalam ruang perawatan sementara Ratna dan Rini sedang menikmati makan siang di salah satu ruang VIP. Ketika melihat Rainy keluar dari ruang perawatan, Ratna memanggil Rainy dan menepuk sebuah kotak makanan berukuran besar yang terletak di atas meja. Di atas kotak tersebut terdapat sebuat note bertuliskan ‘Selamat makan, Sayang!’, membuat Rainy tersenyum senang.


Rainy berjalan mendekat dan langsung duduk di depan kotak makannya. Begitu membuka tutupnya, mata Rainy langsung terbuka lebar.


“Sushi!” Serunya dengan bahagia.  Rainy kemudian mengeluarkan telepon genggamnya dari dalam kantong dan menekan nomor 3 yang langsung menyambungkannya ke telepon genggam Raka. Nada panggil hanya sempat berdering sekali karena langsung diangkat oleh Raka.


“Rain?” Suara bariton Raka membelai telinga Rainy.


“Lagi dimana?” Tanyanya tanpa basa-basi.


“Aku? Emm… aku sedang bertemu dengan Tante Meyliana di kantornya.” Jawab Raka.


“Ah, apa kau sedang sibuk?”


“Tidak juga. Kami sudah selesai kok. Apakah kau membutuhkan aku?”


Rainy hampir mengatakan bahwa ia hanya sedang ingin melihat kekasihnya, namun ketika menoleh ke arah Ratna dan Rini, Rainy memaksa diri untuk menelan kata-katanya kembali. Ia sudah berjanji untuk menemani kedua ibu mereka hari ini jadi ia tidak bisa ingkar janji. Lagipula sepertinya beberapa hari ini Raka sangat sibuk sementara ia tidak memiliki kemampuan untuk membantu. Sebagai kekasih yang baik, Rainy memutuskan untuk tidak menambah beban Raka.


“Tidak. Aku cuma mau berterimakasih untuk Sushinya. Terimakasih ya.” Ucap Rainy manis.


“Sama-sama, sayang.” Jawab Raka. “Apakah kau bersenang-senang dengan tante Ratna dan mama?” Tanya Raka.


Bersenang-senang? Rainy tidak bisa mengatakan bahwa nyaris telanjang di depan orang lain, lalu digosok, ditekan dan di lap oleh orang asing bisa dikategorikan sebagai bersenang-senang. Walaupun kegiatan tersebut membuat tubuhnya terasa nyaman, namun Rainy terlalu malu untuk bisa sepenuhnya menikmati Spa.


“It’s okay.” Jawabnya dalam nada datar. “Tapi aku sempat ketiduran sih.”


“Oh ya? Berarti enak dong!” Komentar Raka. “Apa Sushinya sudah kau makan?” Reflek Rainy menggeleng, namun sadar bahwa Raka tak bisa melihatnya, Rainy berkata,


“Belum karena aku langsung menelponmu saat melihatnya.”


“Kalau begitu makanlah, mumpung masih segar.” Suruh Raka.


“Sama-sama, sayang.”


Rainy menutup teleponnya dan langsung meraih sumpit untuk makan. Matanya berbinar melihat kotak makanannya mayoritas terisi dengan Unagi Sushi. Rainy mengambil sepotong Sushi dengan hati-hati dan langsung memasukkan ke dalam mulutnya. Rasa Unagi yang gurih dan sedikit manis langsung memenuhi rongga mulutnya. Rainy mengunyah dengan bahagia. Saat Sushi dalam mulutnya hampir habis, tangan Rainy yang memegang sumpit langsung bergerak untuk mengambil sepotong Unagi Sushi lagi, namun tangannya terhenti di udara ketika merasakan dua pasang mata yang sedang memandanginya dengan sangat intens. Rainy menoleh dan menemukan bahwa Mama dan tantenya sedang menatapnya dengan wajah cemberut.


“Kenapa memandang Rainy begitu?” Tanya Rainy bingung.


“Rakamu sungguh keterlaluan!” Keluh Rini.


“Eh?” Raka keterlaluan? Memang apa yang telah Raka lakukan?


“Emm! Sangat pilih kasih! Sungguh menyebalkan.” Keluh Ratna.


“Memangnya apa yang sudah Raka lakukan?” Tanya Rainy.


“Dia memberimu banyak Unagi Sushi, tapi hanya memberikan assorted Sushi pada kami.” Keluh Rini. Assorted Sushi buatan restoran tempat Raka memesan Sushi ini sangatlah enak. Namun seluruh anggota keluarga tahu bahwa Unagi Sushi adalah menu dengan cita rasa yang terbaik dan paling mahal di restoran ini. Beraninya anak itu hanya memberikan Assorted Sushi pada mereka, namun memberikan Unagi Sushi pada Rainy. Sungguh tidak bisa dimaafkan!


Rainy berkedip pelan, sesuatu yang kerap terjadi ketika dia merasa agak terkejut dan memerlukan waktu untuk memproses informasi yang baru ia peroleh. Ketika akhirnya otaknya berhasil memproses informasi kali ini, Rainy berkata,


“Ah!” dengan mulut yang terbuka lebar. Matanya menatap kedua wanita setengah baya itu dengan waspada. Oh tidak! Mama dan tante Rini sedang mengincar Unagi Sushinya! Pikir Rainy. Tangannya pelan-pelan menarik kotak makanannya menjauh dari Ratna dan Rini. Melihat ini, Ratna dan Rini saling berpandangan. Anak ini, dan juga anak yang satunya lagi, mengapa keduanya sama saja? Yang satu lebih menyayangi kekasihnya daripada ibunya, terbukti dengan hanya memberikan yang terbaik untuk kekasihnya, sementara ia hanya memberikan yang nomor 2 terbaik pada Ibu dan tantenya. Yang satu lagi menolak untuk berbagi dan berusaha menyembunyikan makanannya, walaupun ibu dan tantenya sudah terang-terangan menyatakan ketertarikan mereka pada makanannya. Sungguh tidak bisa dimaafkan! Dengan sigap Ratna dan Rini langsung bangkit dari duduknya dan mencoba untuk mengepung Rainy, tapi dengan lincah Rainy berkelit dan berlari keluar ruangan sambil membawa kotak makanannya dengan aman di dalam pelukannya. Rini dan Ratna memang gesit, namun sebagai seseorang yang berusia 25 tahun lebih muda, akan sangat memalukan bila Rainy kalah gesit dari mereka. Melihat sasaran mereka melarikan diri, Ratna dan Rini tersenyum geli. Putra dan putri mereka sudah dewasa dan akan segera menikah. Permainan kekanakan seperti ini, entah sampai kapan masih bisa mereka lakukan bersama, Ratna dan Rini enggan memikirkan jawabannya. Apabila mungkin, mereka berharap selamanya Raka dan Rainy, terutama Rainy, tidak akan kehilangan sikap polosnya yang menggemaskan itu walaupun ia sudah melahirkan anak-anaknya sendiri.


***


Setelah berhasil menghabiskan makan siangnya dengan selamat, Rainy kembali ke ruangan tempat ia meninggalkan Ratna dan Rini dan menemukan bahwa ruangan itu sudah disulap menjadi sebuah salon. Kedua ibu dan calon ibu mertuanya itu sedang berada di atas washing hair station yang pasti dibawa oleh petugas salon ke resort, khusus untuk melayani mereka hari ini. Melihat Rainy memasuki ruangan, Ratna memanggilnya untuk mendekat.


“Gio, Rainy sudah datang!” Panggilnya pada seseorang yang sedang mempersiapkan peralatan salon di depan sepasang meja rias yang tiba-tiba telah menutupi sebagian dinding ruangan VIP spa tersebut. Seorang pria berusia sekitar 35 tahunan yang memakai kemeja batik sutra dengan motif Sasirangan berwarna dasar ungu tua yang mewah, menoleh ke arah Rainy sambil tersenyum lebar. Secara fisik, Gio terlihat seperti pria sejati. Rambut gondrongnya diikat di belakang kepala dan wajahnya yang cukup menarik dihiasi dengan kumis dan janggut yang tebal, namun hanya dari caranya bergerak semua bisa tahu bahwa pria ini memiliki lebih banyak progesteron dibandingkan pria lainnya.


Gio adalah salah satu penata rambut selebritis di negeri ini yang berasal dari Ibukota. Ia melayani banyak pembesar dan kaum elit di Negara ini dengan honor yang sangat mahal. Rainy mengenal Gio sejak ia berusia 10 tahun karena Gio adalah penata rambut favorit nenek dan ibunya, yang paling sering diundang untuk menata rambut seluruh anggota keluarga secara privat saat sedang ada acara khusus. Mengapa Gio disini? Rasa-rasanya hari ini mereka tidak memiliki jadwal khusus sehingga membutuhkan penata rambut sekelas Gio.