My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Permintaan Rosa



Ketika Rainy dan Ratna kembali ke ruang tunggu di depan ICCU, mereka menemukan Rini dan Aditya sudah berada disana bersama Raka dan Arka. Rini memeluk Ratna erat dan menangis bersamanya. Rainy yang melihat mamanya lagi-lagi menangis, hanya bisa mengawasinya dengan lelah. Melihat raut wajah Rainy yang suram, Raka langsung bisa menduga bahwa Rainy sama sekali belum tidur. Tanpa perlu bertanya, Raka langsung bisa menebak mengapa Rainy menolak untuk tidur. Raka kemudian menarik lengan Rainy dan membawanya duduk di salah satu kursi ruang tunggu yang bersandar di dinding.


"Kemarilah!" suruh Raka, menarik Rainy untuk di sebelahnya. Dengan patuh Rainy mengambil tempat di samping Raka. Raka mengulurkan tangannya dan mengarahkan kepala Rainy untuk bersandar di atas bahunya. Walau tidak memahami mengapa ia harus bersandar, Rainy melakukannya dengan patuh.


"Tidurlah! Kau terlihat akan pingsan kapan saja." suruh Raka. Mendengar ini, Rainy langsung mengangkat kepalanya dan menegakkan tubuhnya. Gadis itu lalu menggeleng.


"Tidak. Aku tidak boleh tidur!" tolak Rainy.


"Tapi baby, kau tidak bisa terus memaksa dirimu untuk bangun. Kalau begitu kau bisa ambruk!" bujuk Raka. Tapi Rainy kembali menggeleng kuat-kuat.


"Kau tahu mengapa aku tidak mau tidur kan? Aku takut aku akan mengalami penyiksaan dari Lilian lagi. Kalau pemyiksaan itu hanya untukku sendiri, itu tidak akan jadi masalah. Namun bila Lilian kembali membuat papa melihat semua penyiksaan yang dilakukannya padaku, papa bisa terkena serangan jantung lagi!" beritahu Rainy dengan wajah mau menangis. Melihat tunangannya yang biasanya begitu tegar, menunjukan ekspresi ketidak berdayaannya membuat hati Raka begitu sakit. Setelah menarik nafas panjang, Raka menarik Rainy mendekat dan memeluknya erat.


"Baby, apa yang harus kulakukan untuk menolongmu?" tanya Raka dengan sendu. Namun Rainy hanya menggeleng. Sesungguhnya ia sama tidak tahunya seperti Raka, mengenai apa yang harus mereka lakukan untuk menghadapi semua ini. Untuk saat ini tujuan utamanya hanya satu, untuk tidak membiarkan ayahnya melihat mimpinya kembali. Namun walaupun bersikeras untuk tidak tidur, Rainy tahu bahwa tak lama lagi ia akan kalah. Tidak ada manusia yang bisa bertahan tanpa tidur begitu lama. Namun ia akan bertahan sampai batas terakhir yang mampu dilewati tubuhnya. 2 hari tidak tidur seharusnya tidak terlalu sulit baginya.


Rainy mendorong tubuh Raka menjauh untuk melepaskan diri. Tepat di saat yang sama, Arka muncul membawa sekantong besar sarapan pagi yang diantarkan oleh driver Gosend untuk mereka.


"Ah! Sarapan! Arka, kau adalah penyelamat!" puji Rainy sambil tersenyum. "Kamu beli apa?" tanyanya pada Arka.


"Nasi uduk." jawab Arka.


"Lauknya apa?" tanya Rainy lagi.


"Rendang daging favoritmu." sahut Arka.


"Indeed, kau memang kakakku paling keren!" puji Rainy.


"Kau cuma punya 1 kakak saja, yaitu aku, Rain." ucap Arka mengingatkan.


"Emm. Itu sebabnya kau jadi yang paling hebat!" ucap Rainy sambil mengedip-ngedipkan matanya. Terhadap pujian yang tidak ihklas model begini, Arka hanya menjulurkan tangan dan mencubit hidup Rainy gemas.


"Ah! Dilarang domestic abuse!" protes Rainy dengan kening berkerut. Ia berusaha menarik tangan Arka lepas dari hidungnya, tapi Arka malah menjepit hidungnya semakin kencang. Rainy melotot pada Arka dan mencoba menggigit jari-jari nakal yang telah menganiaya hidungnya. Namun Arka berkelit dengan gesit. Melihat 2 orang berwajah datar bercanda sungguh merupakan pemandangan yang aneh. Keduaya lebih terlihat seperti sedang berkelahi sungguhan ketimbang bermain-main. Di samping Rainy, Raka hanya memandang tingkah keduanya sambil tersenyum. Ia sangat tahu bahwa Arka sedang membantu Rainy memasang tingkah ceria untuk mengelabui para orangtua. Karena itu ia hanya membiarkannya saja. Padahal walaupun saat ini posisi Arka adalah kakak angkat Rainy, Raka selalu kesal bila melihat pria itu bersikap sangat akrab pada Rainy.


Setelah puas menggoda adiknya, Arka meletakkan kantong makanan yang dibawanya ke kursi di sebelah Rainy. yang langsung dibongkar oleh gadis itu dengan riang. Rainy kemudian mengambil 2 box, menyerahkannya 1 pada Raka, lalu mengambil satu untuk dirinya sendiri. Sementara Arka mengambil sisanya dan membagikannya pada Ratna, Rini dan Aditya. Setelah itu mereka sarapan pagi bersama dengan tenang.


Jam delapan lewat sedikit, perawat menyampaikan bahwa keadaan Ardi telah membaik. Ia bahkan sudah bisa diajak mengobrol lewat Video Call, membuat Ratna lagi-lagi menangis begitu melihat senyum suaminya.


"Aih, mama sudah mirip keran bocor hari ini. Menangis tidak ada habisnya." goda Rainy pada ibunya, yang disambut oleh senyum malu Ratna. Ratna dan Ardi mengobrol selama 30 menit sebelum perawat menghentikan mereka dan memerintahkan pada Ardi untuk tidur. Namun waktu 30 menit itu cukuplah untuk membuat hati Ratna dan Rainy menjadi lebih lega.


"Papa pasti akan segera sembuh, ma." ucap Rainy dengan yakin. Ratna mengangguk mengiyakan. Benar, Ardi alan segera sembuh dan mereka semua tidak akan lagi terkurung dalam rumah sakit ini.


"Aku dan Rudi perlu bicara denganmu."


Rainy menatap keduanya dengan wajah tanpa ekspresi. Hanya matanya yang berkedip-kedip pelan saat otaknya memberitahunya bahwa kedua kakak ayahnya ini datang bukan karena mengkhawatirkan Ardi, namun untuk membicarakan sesuatu dengannya. Rainy menoleh pada Raka. Tapi pria itu hanya bisa balas memandangnya dan berjalan mendekat. Rainy kembali menatap kedua orang yang sedang berdiri di hadapannya tersebut.


"Ada apa?" tanyanya dengan nada ringan yang datar.


"Bisakah kita pergi ke tempat lain yang lebih pribadi?" tanya Rosa lagi.


"Ini rumah sakit, Gulu. Tidak ada ruang pribadi disini." jawab Rainy.


"Mari bicara di mobilku." ajak Rosa.


"Kenapa?" tanya Rainy.


"Karena ada sesuatu yang sangat penting yang harus kubicarakan denganmu tapi tak boleh didengar oleh orang lain." sahut Gulu.


"Bisakah kita membicarakannya setelah papa keluar rumah sakit saja? Saat ini aku malas mengurus masalah lainnya." tolak Rainy.


"Tidak bisa!" tegas Rudi. Wajah Rudi dan Rosa terlihat sangat tegang. Rosa terlihat sangat lelah dan tampak lebih tua dari saat terakhir Rainy bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu.


Rainy kembali menoleh pada Raka. Raka mengangguk mengiyakan. Lalu Raka menoleh pada Arka yang dengan cepat melangkah mendekat. Rainy menatap kedua kakak ayahnya tersebut dan mengangguk.


"Lead the way." suruhnya dingin. Melihat sikap Rainy yang begitu dingin membuat hati Rosa terasa sangat suram. Terhadap keponakannya ini, apakah sudah tidak ada cara untuk memperbaiki hubungan di antara mereka? Pikirnya dengan getir. Namun menyimpan pemikirannya hanya dalam hati, Rosa berbalik dan memimpin Rudi, Rainy, Raka dan Arka berjalan menuju tempat parkir.


SesampAinya di tempat parkir, Rosa dan Rainy memasuki kursi belakang mobil Rosa, sementara Raka, Arka dan Rudi hanya menunggu di luar mobil. Setelah duduk di dalam mobil, Rosa berkata pada Rainy,


"Sesuatu terjadi di rumah. Pagi ini, pembantu menemukan mayat di depan kamar Lilith." beritahu Rosa. Mendengar ini, mata Rainy berkedip. Namun ekspresi terkejut yang diharapkan oleh Rosa akan muncul di wajahnya, tidak juga tampak.


"Dan ini bukanlah yang pertama kalinya. Dalam bulan ini sudah ada 3 mayat yang di temukan di depan kamar Lilith." lanjut Rosa. Melihat ekspresi Rainy yang masih datar seperti biasanya, Rosa bertanya, "Apakah kau sama sekali tidak merasa terkejut?"


Rainy menarik nafas panjang.


"Untuk apa terkejut?" tanyanya, membuat mata Rosa membelalak tak percaya.


"Apa kau psikopat? Mengapa mendengar bahwa ada mayat-mayat ditemukan di rumah, kau tetap tenang-tenang saja?" tanya Rosa.