
Rainy mengulurkan tangan dan mencubit sebelah pipi Nayla pelan.
“Kau sangat imut sekali!” Pujinya dengan wajah tanpa ekspresi. Nayla mengulurkan sebelah tangannya dan ganti menyentuh pipi Rainy. Ia menepuk lembut pipi Rainy dan dengan lagak seperti orangtua, ia berkata,
“Kakak, jangan lupa, jangan tidur pada saat adzan maghrib, jangan lupa berdoa dan banyak-banyak tersenyum. Lalu minum susu yang banyak biar sehat!”
Mendengar kata-kata penuh nasihat yang keluar dari mulut anak berusia sekitar 4 tahun tentu saja membuat yang mendengarnya dengan spontan tertawa geli. Bahkan Rainy tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Jadi ia tersenyum tipis dengan mata yang entah kenapa menjadi terasa panas oleh air mata yang mengancam untuk keluar.
“Terimakasih, adik kecil. Kakak akan mengingatnya.” Ucap Rainy. Raka dan Rainy kemudian berpamitan pada Nayla dan ibunya. Mereka berdua berjalan pelan untuk kembali ke kamar Ardi, sambil bergandengan tangan.
“Nayla sangat menggemaskan.” Ucap Rainy sambil merenung. Raka mengangguk.
“Emm. Dia masih sangat kecil, namun sudah mengerti untuk perduli pada orang lain. Orangtuanya mendidiknya dengan sangat baik.” Komentar Raka.
“Dan dia memanggilmu Oom.” Ejek Rainy.
“Sungguh tidak adil!” Raka kembali tersenyum kecut. “Memangnya aku terlihat setua itu ya?” Tanyanya pada Rainy.
“Ibunya sepertinya seusia diriku jadi seharusnya ia juga memanggilku tante. Tapi mungkin aku terlihat terlalu menggemaskan untuk dipanggil tante.” Ucap Rainy memuji diri sendiri. Raka mendengus geli namun kemudian mengangguk.
“Nayla tidak salah. Kau memang terlihat masih berusia 13 tahun.” Seloroh Raka.
“Apa?” Rainy memasang ekspresi cemberut dan membelalakkan matanya, membuat Raka tertawa.
“Baby, bibirmu naik begitu tinggi. Sepertinya bisa digunakan untuk menggantung tas ini!” goda Raka sambil menunjukkan tas kertas berisi kotak snack Éclair yang ada di tangannya. Dengan kesal Rainy mengangkat tangan dan memukul tangan Raka pelan, membuat pria itu tertawa berderai-derai. Melihat Raka tertawa, Rainy merasa hatinya begitu hangat. Namun tak lama kemudian ia teringat pada mimpinya dan perasaan melankolis langsung memudarkan kebahagiaan Rainy. Melihat perubahan pada ekspresi Rainy, Raka menghentikan langkahnya dan bertanya dengan perasaan khawatir,
“Ada apa?”
Rainy mengangkat wajahnya dan memandang Raka dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak ingin menangis, namun entah mengapa, begitu ada yang menanyakannya, air mata langsung mengancam untuk tumpah dari matanya. Sungguh memalukan!
“Baby, tolong beritahu aku.” Raka tiba-tiba teringat pada kata-kata Nayla yang membuatnya bertanya, “Kau bermimpi buruk?”
Rainy sudah membuka mulut untuk menjawab, namun suara dering telepon genggam mengalihkan perhatiannya. Rainy mengambil telepon genggam dari kantong celana jeansnya dan setelah melihat sekilas pada display, ia langsung menerimanya.
“Papa?” sapanya.
“Rainy, apa kau baik-baik saja?” Suara khawatir Ardi terdengar dari seberang. Lagi-lagi pertanyaan ini membuat mata Rainy kembali berkaca-kaca.
“Emm. Rainy baik-baik saja, Pa.” jawab Rainy dengan suara sedikit serak.
“Kau ada dimana?”
“Di lantai dasar. Rainy baru mau masuk lift untuk menuju ke ruangan Papa.”
“Cepatlah kemari. Papa ingin melihatmu.” Desak Ardi.
“Emm. Sebentar ya, Pa.” Sahut Rainy mengiyakan. Setelah mematikan teleponnya, ia menarik tangan Raka dan membawanya memasuki Lift. Setelah sampai di dalam lift, Raka bertanya,
“Oom Ardi kenapa?”
Rainy mengangkat kepalanya dan menatap kearah Raka.
“Papa bilang ia ingin melihatku.”
Rainy hanya mengangkat bahunya dan memasang ekspresi tak mengerti.
Sebentar saja mereka telah sampai di depan kamar Ardi. Rainy membuka pintu dan langsung disambut oleh suara Papanya.
“Rainy…”
Rainy mengangkat wajah dan memandang ke arah Ardi, dengan terkejut ia mendapati bahwa ekspresi Ardi tampak seperti ingin menangis. Dengan cepat Rainy berjalan mendekati ranjang tempat Ardi terbaring. Saat semakin dekat, ia bisa melihat bahwa mata Ardi berkaca-kaca.
“Papa?” Tanya Rainy heran ketika ia sampai di sisi tempat tidur. Di belakangnya, Raka yang berjalan mengikutinya, dihalangi oleh Ratna untuk mendekati ranjang Ardi dan kemudian dibawa untuk duduk di sofa besar yang berada tidak jauh dari ranjang.
Rainy memandang Ayahnya dengan ekspresi bertanya-tanya. Ia menyambut tangan Ardi yang terulur dan menggenggamnya dengan erat. Wajah ayahnya yang berkerut murung membuat hati Rainy menjadi waspada.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Ardi lagi. Rainy mengangguk.
“Emm. Rainy baik-baik saja, Pa.”
“Sungguh?” Tanya Ardi dengan suara yang dipenuhi kekhawatiran.
“Sungguh! Rainy baik-baik saja. Memangnya kenapa Papa bertanya begitu?”
“Apakah kau baru bermimpi buruk?” Tanya Ardi lagi. Pertanyaan ini membuat Rainy terpana.
“Bagaimana Papa bisa tahu kalau Rainy baru bermimpi buruk?” Tanyanya pelan.
“Karena Papa baru saja melihatmu dalam mimpi. Papa melihat apa yang dilakukan Lilian padamu.” Beritahu Ardi. Kali ini air mata benar-benar mengalir dari matanya namun apa yang Ardi ungkapkan membuat Rainy terlalu terkejut untuk merespon kesedihan Ardi.
“Melihatku… dalam mimpi?.. memangnya…apa yang Papa lihat?” Tanya Rainy dengan terbata.
“Papa melihat Lilian melemparkanmu ke dalam sungai yang terbuat dari api yang membara.” Sahut Ardi dengan wajah yang semakin berkerut karena menahan tangisnya. Lagi-lagi Rainy hanya bisa terpana. Mengetahui bahwa Papanya melihat isi mimpinya adalah hal yang sangat mengejutkan bagi Rainy. Tak lama kemudian Rainy tersadar bahwa ini pasti perbuatan Lilian.
“Kemarilah, nak. Biarkan Papa memelukmu.” Ucap Ardi sambil mengulurkan tangannya.
Untuk Sesaat Rainy masih tampak tertegun. Namun dengan patuh ia melepaskan sepatunya dan beranjak naik ke ranjang Ardi dan berbaring dalam pelukan ayahnya. Untungnya ranjang rumah sakit itu cukup besar sehingga ruang ekstra yang tersisa cukup untuk ditempati oleh tubuh Rainy yang ramping. Ardi memeluk erat putrinya sambil menangis. Hatinya terasa sangat sakit dan merasa sangat kasihan pada putri tunggalnya yang saat ini sedang menjadi objek teror iblis.
Rainy bersandar tenang dalam pelukan Ayahnya. Ia menepuk-nepuk dada ayahnya lembut dengan sebelah tangannya, berhati-hati agar tubuhnya tidak menyentuh bagian tubuh Ardi yang terluka. Dalam hatinya Rainy terus mengutuki Lilian yang telah dengan begitu kurang ajar, membuat ayahnya melihat saat iblis tersebut menyiksa Rainy. Walaupun itu hanya mimpi, seperti juga Rainy yang bisa merasakan rasa sakit yang begitu nyata, yang masih bisa diingatnya dengan jelas, Ardi juga pasti menyadari bahwa putrinya benar-benar sedang disiksa oleh Lilian, dan bukan hanya sekedar mimpi yang bunga tidur semata. Ayah mana yang sanggup melihat anak gadis kesayangannya mengalami itu semua? Yang jelas sudah pasti bukan Ardi karena Ayahnya itu selalu memperlakukan Rainy layaknya seorang putri. Gara-gara perbuatan Lilian, ayahnya yang penyayang itu sekarang menangis dengan begitu sedihnya.
Ardi adalah pribadi yang sentimental dan mudah menangis. Rainy sangat mengetahui itu. Ia sangat baik hati dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain, ketimbang oleh kepentingannya sendiri. Ia juga jarang bersedia terlibat dalam konfrontasi dengan orang lain. Ardi cenderung bersikap mengalah dan selalu memilih untuk berada di latar belakang. Pertengkarannya dengan ketiga saudaranya saat mereka sedang menunggui Marleena yang sedang sakit waktu itu adalah satu-satunya saat Rainy melihatnya melawan saudara-saudaranya secara terbuka. Tapi itu disebabkan karena mereka bersatu untuk memojokkan Rainy. Ardi sangat tidak mau melihat istri dan putrinya menderita dan diperlakukan dengan buruk oleh orang lain. Ia sangat protektif. Pasti itu juga yang menyebabkan ia menangis; karena ia hanya bisa melihat dan tak mampu melakukan apapun ketika Lilian menganiayanya.
Setelah beberapa saat, Rainy merasakan bahwa nafas ayahnya menjadi lebih teratur, pertanda bahwa ia telah berhenti menangis dan menjadi lebih tenang. Rainy mengangkat kepalanya dan memandang ke arah ayahnya. Ia lalu mengulurkan ujung lengan panjang bajunya untuk mengusap wajah ayahnya yang basah.
“Apa Papa sudah lebih tenang?” Tanya Rainy pelan. Ardi mengangguk.
“Apakah terasa sakit sekali?” Tanya Ardi kemudian. Rainy mengedipkan matanya. Wajahnya yang tanpa ekspresi, terlihat kembali tertegun.
“Sakit? Apakah Papa menanyakan tentang apa yang kurasakan dalam mimpi itu?” Tanya Rainy kemudian. Ardi mengangguk pelan. Rainy mengangkat tubuhnya yang masih bersandar di tubuh Ardi dan berbaring miring dengan meletakkan sikunya untuk menopang kepala agar tidak berada di atas bantal Ardi. Dengan cara itu ia bisa melihat wajah ayahnya dengan lebih jelas.
“Itu hanya mimpi, Pa.” Ucap Rainy mengingatkan.
“Tak usah berbohong. Apa kau pikir hanya kau yang mengalami mimpi seperti itu?” Sahut Ardi.
“Apa? Jadi Papa mengalaminya juga?” Tanya Rainy dengan terkejut.