
Perjalanan yang ditempuh melalui sungai tersebut seharusnya memakan waktu setidaknya 4 hari. Namun Lauri yang memutuskan untuk menikmati waktu menuju pembalasan dendamnya, berjukung dengan santai hingga mereka baru mencapai tempat tujuan setelah 6 hari berlalu, dan bau potongan kepala-kepala tersebut mulai tidak tertahankan lagi. Mereka memasukan kepala-kepala tersebut dalam setumpuk peti, menyiraminya dengan sebuah ramuan tradisional yang biasa digunakan untuk mengawetkan makanan untuk memperlambat pembusukannya. Peti-peti tersebut lalu di ikat bersama Mamut dalam sebuah Jukung, yang kemudian mereka hubungkan dengan Jukung mereka sendiri menggunakan sebuah tali besar yang dianyam dari kulit kayu yang sangat kuat. Dengan cara ini mereka bisa berjukung dengan tenang tanpa terganggu oleh bau busuk. Hanya ketika mereka harus melalui jeram, Lauri akan pindah ke jukung tersebut, melepaskan penghubung antara kedua Jukung dan mengendalikannya sendirian.
Desa yang mereka tuju bernama Long Isang. Terletak jauh di sebelah barat, Long Isang adalah salah satu tempat tinggal suku Dayak Iban yang sangat ditakuti pada masa itu. Kebudayaan mereka yang mengkultuskan Ngayau sebagai bagian dari perayaan untuk memuja dewa mereka, membuat suku ini seringkali menjadi ancaman besar bagi desa-desa di sekitarnya. Pada akhirnya banyak desa yang memilih untuk pindah sejauh-jauhnya dari Long Isang, membuat wilayah kekuasaan Long Isang menjadi sangat luas. Ukuran desanya sendiri adalah 5 kali lebih besar daripada Desa Isau. Pemimpinnya yang berdaulat dipanggil dengan nama Datuk Ekot, adalah ayah kandung Mamut. Sebelum ia ditasbihkan sebagai kepala suku desa Long Isang, Datuk Ekot sendiri memiliki sejarah kebrutalan yang jauh lebih seram daripada putranya. Hanya karena dukungannyalah, Mamut bisa bertumbuh menjadi manusia sebengis sekarang. Memang buat tidak jatuh jauh dari pohonnya.
Sebagai desa yang besar, Long Isang memiliki banyak sekali prajurit yang perkasa dan berani mati. Namun karena selama ini tidak ada yang berani melawan Datuk Ekot dan pasukannya, desa Isang tidak pernah mengalami bencana peperangan. Itu sebabnya patroli keamanan desa, walaupun dilakukan, namun bukanlah sesuatu yang dianggap penting oleh mereka. Ketika orang-orang yang diperintahkan oleh Lauri untuk mengantarkan potongan tangan dan kaki Mamut, serta kemudian, potongan kepala 10 orang prajurit yang mencoba menyelamatkan Mamut, mereka hanya meletakkannya di dalam jukung, lalu meninggalkannya di tepi sungai, yang berfungsi layaknya dermaga bagi penduduk Long Isang. Itulah sebabnya, walaupun murka pada ejekan yang dikirimkan oleh Lauri ini, mereka masih percaya bahwa itu hanyalah sebuah ancaman semu belaka, sehingga tetap tak merasa perlu untuk meningkatkan kewaspadaannya.
Itulah sebabnya, dengan memanggul peti-peti berisi kepala di punggungnya; Lauri menyelinap memasuki desa Long Isang dengan sangat leluasa. Semenjak menerima Lilith, Lauri bukannya hanya memiliki kekuatan api yang luar biasa. Ia juga diberikan kekuatan fisik yang sangat hebat dan kemampuan untuk mengendalikan jin-jin berbentuk hewan yang hidup berdampingan dengan manusia di tengah alam pulau Kalimantan yang masih perawan. Mengangkat berpeti-peti kepala manusia bukanlah sesuatu yang sulit baginya. Tanpa hambatan Lauri memasuki desa, lalu meninggalkan peti-peti tersebut tepat di depan Betang sang Kepala Suku, yang mudah ditemukan karena merupakan Betang termewah di desa tersebut. Setelah itu Lauri dengan santai menyelinap keluar kembali untuk kemudian bersembunyi di dalam sebuah gua, dimana sepupu-sepupunya menunggu.
Bau kepala yang menyengat dengan cepat menyadarkan penduduk desa bahwa ada sesuatu yang salah sedang terjadi. Ketika kemudian mereka menemukan peti-peti berisi kepala tersebut, Datuk Ekot segera memerintahkan agar para prajurit menyisir seluruh wilayah desa untuk menangkap pelakunya. Namun tentu saja, mereka tidak bisa menemukan apapun. Saat itu juga patroli keamanan di desa Long Isang ditingkatkan menjadi 2 kali lipat.
Namun peningkatan patroli ini bukan suatu masalah bagi Lauri. Keesokan malamnya, layaknya hantu, ia memanggul Mamut yang mulutnya terlebih dahulu disumpal kembali dengan kain agar tidak bersuara, memasuki desa. Kali ini Lauri meletakkan Mamut di dalam kuil, tepat di atas altar pemujaan kepada dewa yang biasanya di isi dengan kepala manusia. Setelah ia selesai, Lauri melepaskan sumpalan Mulut Mamut dan mempersilahkan Mamut untuk bersuara, sementara ia sendiri menyelinap keluar kembali dari desa tersebut.
Kemunculan Mamut disambut oleh isak tangis keluarganya, terutama karena melihat keadaannya yang terlihat sangat tragis. Bagaimana bisa seorang panglima besar seperti Mamut berakhir menjadi sesosok tubuh yang tidak lagi menyerupai manusia? Membunuhnya adalah jauh lebih terhormat ketimbang mengirimnya pulang dalam keadaan yang begitu hina dina. Kemurkaan Datuk Ekot memuncak. Ia tidak dapat menahan emosinya lagi dan segera memerintahkan pencarian besar-besaran terhadap orang yang telah meletakkan Mamut di atas altar pemujaan. Namun bahkan setelah hari berganti sekalipun, tak ada satu pentunjuk yang bisa ditemukan. Mamut tentu saja tidak bisa membantu karena ia telah kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi. Menatap ke arah putra kebanggaannya yang telah berubah menjadi monster yang tidak berguna, Datuk Ekot mengambil keputusan drastis. Ia akan meminta bantuan dari dewa untuk mengalahkan musuh yang tidak terlihat kali ini dengan menggunakan tubuh putranya sendiri sebagai pengorbanannya.
Saat ia mengungkapkan niat dihadapan keluarganya dan tentu saja, di depan Mamut, tentu saja membuat semua orang merasa sangat shock. Dan dari mereka semua, tidak ada yang bisa lebih shock lagi dari Mamut sendiri. Ayahnya! Ayah yang selalu dipuja dan dipatuhinya, rela mengorbankan dirinya kepada dewa hanya untuk menangkap Lauri? Bagaimana mungkin? Bukankah ayahnya seharusnya membalaskan dendamnya pada Lauri dan Maharati yang telah membuatnya jadi begitu? Mengapa ketika musuh-musuh membiarkannya untuk tetap hidup, ayahnya malah ingin membunuhnya? Yang benar saja! Namun protes yang hanya bisa diungkapkan di kepalanya itu sungguh tidak berguna. Di bawah perintah Datuk Ekot, saat letak matahari hendak mencapai atas kepala, Mamut diangkat menuju kuil dan kembali diletakkan di atas altar pengorbanan dibawah isak tangis anggota keluarganya yang lain.
Datuk Ekot memimpin pemujaan terhadap sang dewi. Ia menawarkan putranya yang paling berharga sebagai persembahan. Ketika matahari tepat berada di atas puncak kepala, Ekot berjalan mendekati meja Altar sambil membawa sebuah belati di tangannya. Mamut yang melihat ayahnya mendekat, menggelepar-gelepar seperti seekor kecoak yang posisinya tubuhnya terbalik dan kesulitan untuk memperbaiki tubuh. Begitu sampai di sisi tubuh putranya, Datuk Ekot menatap wajah Mamut dengan tatapan yang penuh welas asih.
"Putraku, kupersembahkan engkau kepada para dewa sebagai persembahan terbaikku. Lindungilah suku kita dari musuh yang tidak terkalahkan ini." setelah mengucapkan kata-katanya, Datuk Ekot mengangkat belatinya tinggi-tinggi dan siap untuk menusukkan pisau tersebut ke dada Mamut. Mata Mamut terbelalak lebar. Adegan itu mengingatkannya pada saat ketika ia yang berada di posisi ayahnya, dan menusukkan belatinya langsung ke tempat dimana Jantung Mawinei berada. Seolah kejadian itu baru terjadi kemarin. Kini dalam waktu singkat, dari seorang pemburu, ia telah jatuh menjadi binatang buruan. Sungguh hidup yang memalukan! Mamut lalu menutup matanya. Ia sudah pasrah. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan sekarang.
Tiba-tiba belati yang mulai meluncur turun dan siap menusuk jantung Mamut ditendang menjauh dari tangan Datuk Ekot.