
Beberapa kilometer dari hutan, sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh seorang pria, memasuki halaman Kantor Kepala desa Ampari. Motor tersebut berhenti di salah satu sudut halaman, dan setelah melepaskan helm yang dikenakannya, pengendaranya turun dari motor dan dengan tergesa memasuki kantor Kepala Desa Ampari. Wajahnya basah oleh keringat dan nafasnya agak tersengal-sengal. Ia terus berjalan melintasi beberapa meja pegawai tanpa mau repot-repot menyapa bahkan sekedar menoleh pada mereka. Tanpa mengetuk pintu, ia membuka pintu ke ruangan Kepala Desa dengan kasar, Membuat Arbain yang sedang duduk membaca sebuah dokumen, mengangkat kepala dengan kening berkerut. Mengabaikan ekspresi Arbain, pria itu berkata,
“Pak Kades, saya melihat orang-orang dari Cattleya Resort memasuki hutan!” Beritahu pria itu. Mendengar ini, kerut di kening Arbain semakin bertambah dalam.
“Aku tahu, Pak Anwar. Mereka sudah meminta ijin untuk berkeliling desa, termasuk memasuki hutan, untuk membantu mencari tempat persembunyian Kuyang.” Sahut Arbain dengan suara tenang. Anwar adalah salah seorang petani karet yang biasanya memasuki hutan untuk menyadap karet. Ia juga salah satu penduduk desa yang memiliki temperamen tinggi dan sangat mudah terpancing untuk membuat kericuhan. Menerobos masuk kantor Kepala Desa adalah hal yang biasa Anwar lakukan dari waktu ke waktu karena selalu saja ada yang membuatnya marah dan ingin berkelahi. Oleh sebab itu, Arbain tidak pernah menanggapi pengaduan pria tersebut dengan serius. Dalam pemikiran Arbain, Anwar tampaknya memandang bahwa tugas Arbain sebagai Kepala Desa adalah untuk menyelesaikan semua ketidak puasan yang dirasakannya pada orang-orang yang tidak beruntung bersinggungan dengannya. Anwar juga merupakan salah satu pemimpin rombongan yang berparade menuju ke rumah dinas Batari sambil membawa Mandau di tangan waktu itu. Bila dibiarkan, pria itu tidak segan untuk berperilaku layaknya seorang preman.
“Tapi ini berbeda, Pak!” Sahut Anwar dengan cepat. Ia berjalan mendekat dan duduk di kursi yang terletak di depan meja Arbain. “Saya juga tahu bahwa sejak beberapa hari yang lalu beberapa orang telah datang dan melakukan investigasi. Namun mereka pergi dalam kelompok-kelompok kecil berisikan 3 orang dan melakukan pencarian secara terpisah. Tapi tadi pagi, saya melihat 3 orang keluar dari hutan. Lalu siang ini, sebuah mobil berisikan 8 orang berhenti di pinggir hutan. Sekarang mereka semua sudah masuk ke dalam hutan.” Cerita Anwar dengan suara keras. Wajahnya tampak sangat serius dan kedua tangannya bergerak-gerak dengan ekspresif.
“Ah, bapak ingat perempuan yang waktu itu datang kemari bersama 3 anak buahnya, sore-sore, beberapa minggu yang lalu?” Kata-kata Anwar membawa ingatan Arbain pada wajah cantik namun dingin wanita yang mengaku sebagai pemilik Cattleya Resort. Alarm dengan segera bergema dengan nyaring di kepalanya. Ekspresi Arbain langsung berubah serius. Ia menegakkan tubuhnya dan bertanya pada Anwar.
“Apa dia juga ikut memasuki hutan?”
“Benar!” Anwar mengangguk kuat-kuat. “Aku melihatnya memasuki hutan bersama 6 laki-laki dan 1 perempuan! Kurasa pasti mereka menemukan sesuatu. Kalau tidak, untuk apa mereka pergi kesana beramai-ramai!” Tebak Anwar. Kata-kata Anwar membuat Arbain mengerutkan keningnya.
“Selain pak Anwar, siapa lagi yang mengetahui tentang hal ini?” Tanya Arbain.
“Pak Garan.” Sahut Anwar.
“Dimana pak Garan sekarang?” Tanya Arbain.
“Katanya ia mau mengawasi orang-orang itu, jadi ia mengikuti mereka memasuki hutan.” Beritahu Anwar.
***
Di depan pondok, di tengah hutan, Batari masih berdiri di depan pintu pondok yang belum juga terbuka. Batari memandang pintu tersebut dalam diam dan menunggu, namun masih tak ada suara yang terdengar dari dalam rumah. Ia kemudian menarik nafas panjang dan berkata,
“Ibu, aku tahu bahwa saat aku menghilang setelah kau menemuiku beberapa tahun yang lalu, kau pasti merasa terluka. Aku tahu aku salah, bu. Waktu itu aku masih terlalu muda untuk bisa berpikir dengan benar. Aku menyalahkanmu dan membencimu karena sudah meninggalkanku. Aku hanya memikirkan diriku sendiri dan merasa takut bahwa aku akan kehilangan kebahagiaanku apabila aku mengakui dirimu. Karena itu aku pergi tanpa meninggalkan pesan apapun untukmu.” Batari menggigit bibirnya yang mulai bergetar. Dadanya mulai terasa sesak dan matanya memanas. Ia berusaha menahan isak yang tiba-tiba memaksa untuk melompat keluar dari mulutnya. Keputusannya hari itu, bukan hanya membuatnya nyaris kehilangan kesempatan untuk mengetahui mengenai sejarah dirinya, namun menyebabkannya kehilangan pria yang sangat dicintainya dan harus merasakan kehampaan selama hampir 27 tahun yang panjang.
“Ibu, aku tahu aku salah dan aku sangat menyesalinya. Maukah kau memaafkan aku?” Batari menempelkan keningnya ke pintu dan mulai menangis. Semakin ia mengingat semua kehilangan yang dialaminya selama hidupnya, makan semakin deras air matanya mengalir, dan semakin keras isakannya terdengar. Batari mengangkat kedua tangannya dan kembali memukuli pintu dengan kepalannya. Pukulannya tidak keras, namun setiap kali kepalan tangannya menyentuh pintu tersebut yang menghasilkan suara ‘dug’ yang menggetarkan seluruh pintu tua tersebut, kepalan tangannya akan menempel dengan erat ke pintu selama beberapa waktu, sebelum terangkat pelan dan kembali dipukulkan ke pintu. Setiap jeda yang terjadi diantara suara ‘dug’, layaknya sebuah testamen atas kedukaan dan kehampaan yang menguasai Batari, dan juga cerminan dari keputus asaan yang mulai merambati hatinya. Apakah ia akan kehilangan kesempatan ini untuk selamanya? Apakah ia ditakdirkan untuk tidak mengenal sejarah kelahirannya sampai akhir hayatnya?
“Ibu, tolong buka pintunya…” Isak Batari dengan lirih. Siapa sangka, sebuah suara yang menyerupai suara kunci dibuka, terdengar pelan. Batari terpaku di tempatnya, nyaris tak percaya bahwa pada akhirnya pintu tersebut akan terbuka. Ia memandang dengan mata terbuka lebar, ketika pintu kayu tersebut bergerak terbuka dengan perlahan sambil mengeluarkan suara derit yang nyaring dan menyeramkan. Saat pintu itu telah terbuka setengahnya, seorang wanita tua muncul di hadapannya.
Wanita itu juga bertubuh mungil, sama seperti Batari yang hanya mencapai 155 cm. Kulitnya kecoklatan karena terbakar matahari dan wajahnya penuh kerut dan keriput. Rambutnya yang berwarna kelabu disatukan dalam sanggul mungil di belakang kepalanya. Ia mengenakan sebuah daster batik berwarna hitam yang tua dan lusuh. Meskipun penampilannya sangat berbeda dengan wanita yang ditemuinya 27 tahun yang lalu, Batari tahu bahwa ia sedang berhadapan dengan orang yang sama.
Mereka saling bertatap-tatapan dalam diam. Wajah Batari yang sejak tadi telah basah oleh air mata, tampak pucat dan lelah, namun masih terlihat begitu muda dan cantik. Sementara wanita tua itu, yang matanya sama berkaca-kacanya, tampak begitu tua dan penuh kegetiran. Itu adalah wajah seseorang yang hidup dalam penderitaan dan kekerasan. Wajah yang dimakan oleh kebencian dan kemarahan. Namun tetap saja, bahasa tubuhnya adalah merupakan cerminan dari bahasa tubuh Batari sendiri; penuh perasaan ketidak berdayaan.
“Ibu?” Tanya Batari dalam bisikan yang serak. Wanita itu perlahan melangkah keluar dari dalam pondok, membuat Batari secara otomatis melangkah mundur untuk memberinya jalan. Wanita tersebut memandang Batari dan menarik nafas panjang.
“Gadis bodoh. Apabila ada yang harus meminta maaf, itu adalah aku..” Ucap Wanita tua tersebut. “ Maafkan aku, nak. Selain melahirkanmu, yang bisa aku berikan padamu hanyalah masalah dan luka.”