My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
You Are Mine!



Waktu menunjukan pukul 5 kurang 10 menit ketika Rainy sampai di Gym. Hari ini adalah hari pertama timnya akan melakukan latihan bela diri bersama. Namun saat ia memasuki ruangan, ia hanya melihat Raka yang sedang memasang sarung tangannya, tak jauh dari pintu masuk.


"Selamat pagi, Rain." Sapa pria itu, memamerkan senyum sejuta wattnya. Langkah Rainy langsung terhenti. Ia memandang pria itu dengan curiga.


"Dimana yang lain?" tanya Rainy.


"Ivan dan Natasha kelelahan karena harus mengatur para pekerja mengosongkan ruangan Divisi VII dan memindahkan barang-barang dari Jaya Enterprise sampai malam. Jadi aku memundurkan jam training mereka menjadi jam 7 pagi." jelas Raka.


"Mengapa aku tidak diberitahu?" tanya Rainy lagi.


"Kau terbiasa melakukan training jam segini. Tidak baik untuk merubah waktunya begitu saja. Tidak tepat waktu dalam melakukan latihan akan mempengaruhi ritme sirkadianmu." jelas Raka lagi membuat Rainy mengerutkan keningnya. Alasan ini, walaupun masuk akal, tapi tetap saja tak bisa menutupi niat Raka yang sesungguhnya. Siapa suruh Rainy mengenal Raka seperti layaknya ia mengenal punggung tangannya sendiri.


"Yang kelelahan kan Ivan dan Natasha, mengapa jadwal Arka kau undur juga? Aku kan sudah meminta dia menjadi sparring partnerku." Protes Rainy.


"Tak ada yang lebih memahamimu dari pada aku. Itu sebabnya hanya aku yang paling cocok untuk menjadi sparring partnermu." jawab Raka dengan yakin, membuat Rainy kembali menyipitkan matanya. Manusia satu ini lagi-lagi berusaha untuk memaksakan kehendaknya.


"New partner will make the training more exciting." Sahut Rainy asal, membuat sebelah alis Raka terangkat. Ia berjalan mendekat dan berdiri di hadapan Rainy dalam jarak yang sangat dekat. Membuat Rainy harus mendongak untuk bisa menatap lurus pada matanya.


"I can make it more exciting." Ucapnya Raka pelan, dengan nada merayu. Rainy menyipitkan matanya.


"With hugs and kisses?" tebaknya. Senyum menggoda langsung mengembang di wajah tampan Raka. Ia memiringkan kepala untuk bisa mengamati wajah indah Rainy dengan lebih jelas. Mata Rainy yang bulat dengan ujung yang terangkat naik mirip mata kucing kesayangan Cleopatra itu sedang melotot ke arahnya. Hidungnya yang ramping dengan ujung yang sedikit mencuat menggemaskan itu terangkat tinggi, dan bibir mungilnya yang tanpa polesan, berkerut dengan kesal. Mungkin Rainy bermaksud menunjukan ekspresi sedang marah, namun di mata Raka, bahkan ekspresi marah gadis itu terlihat sangat menawan. Kalau saja bukan karena disiplin yang kuat, Raka mungkin sudah menarik Rainy ke dalam pelukannya dan menciumnya sampai kehabisan nafas.


"You know me well." Bisik Raka di telinga Rainy. Hawa hangat nafasnya membelai telinga gadis itu, membuat nafas Rainy tercekat di tenggorokan. Rainy menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Tak lama kemudian Rainy berkata dingin,


"I told you already, it was over between us." mendengar kata-katanya, kemarahan langsung menguasai Raka. Ia melangkah maju dengan cepat, membuat tubuh Rainy nyaris menempel dengan tubuhnya. Memaksa gadis itu melangkah mundur.


"And I told you already, I never agree to that!" geram Raka penuh amarah.


Raka dan Rainy saling melotot terhadap satu sama lain, tak ada satupun yang bersedia mengalah. Rainy ingin Raka berhenti mengejarnya dan Raka ingin Rainy melupakan niatnya untuk menyingkirkan kata cinta dalam hubungan mereka berdua. Pertengkaran yang sempat teredam selama 5 tahun, sekarang kembali ke permukaan dengan kekuatan penuh.


Saat memandang wajah marah Raka, tanpa bisa ditahan, otak Rainy berpikir, 'Damn, he is hot!' Sehari-harinya, Raka adalah eksekutif muda yang dingin dan penuh kontrol diri. Namun hanya Rainy yang tahu bahwa dibalik semua itu, tersembunyi pribadi yang layaknya magma gunung berapi; panas dan mengancam. Di masa lalu Rainy sangat suka bertingkah hanya untuk melihat Raka meledak karena marah padanya. Rainy menilai wajah marah Raka sangat seksi dan menggoda. Tapi tentu saja Rainy bisa berpikir begitu karena ia tahu, seburuk apapun kemarahan Raka padanya, Raka tidak akan pernah menyakiti Rainy. Pria itu mungkin lebih suka membunuh dirinya sendiri daripada harus menyakiti walau hanya sehelai rambut Rainy. Tapi karena hal ini pulalah, Rainy bersikeras untuk meninggalkan Raka.


Rainy menarik nafas panjang. Ia bukannya tidak memahami dari mana kegigihan Raka berasal. Ia bukannya tidak tersentuh oleh ketetapan hati pria itu yang telah menjadi pilar pelindung hatinya semenjak mereka masih sama-sama belia. Namun Rainy tak mau bermain dengan api. Bahkan ketika memadamkan api tersebut sama artinya dengan mematikan seluruh hatinya, Rainy rela.


Rainy melangkah mundur, namun tiba-tiba lengan Raka telah memeluk pinggangnya, menahannya untuk bergerak menjauh.


"Kau sudah meninggalkanku 5 tahun lamanya. Selama itu aku telah menunggumu dengan sabar dan patuh. Tidakkah kau sedikitpun merasa kasihan padaku?" bisik Raka. Suaranya bergetar oleh kesedihan yang dalam, membuat hati Rainy terasa teriris-iris. Rainy mendongak dan menatap Raka. Bola mata coklat bening pria itu dipenuhi oleh gambar dirinya, membuat Rainy tak mampu berkata-kata.


"Ehem! Ehem!" tiba-tiba suara batuk terdengar dari arah pintu gym, mengejutkan mereka berdua. Semburat merah langsung mewarnai wajah Rainy ketika ia melihat Arka sudah berdiri di depan pintu masuk dengan wajah tanpa ekspresi. Raka menyipitkan matanya dan memandang pria itu dengan kesal, namun yang dipandang hanya menaikkan sebelah alisnya. Rainy mencoba melangkah mundur untuk menjauhkan dirinya dari Raka, namun Raka malah mengetatkan pelukannya, masih dengan mata yang menyipit dan melontarkan gelombang kemarahan pada Arka.


"Kenapa kau disini? Bukankah semalam aku telah memberitahumu bahwa latihan diundur jam 7 nanti?" tanya Raka kesal, masih bersikeras mengurung Rainy dalam pelukannya.


"Aku sudah membuat janji dengan Rainy untuk datang jam 5 pagi. Janji ini tidak akan batal kecuali Rainy sendiri yang membatalkannya." sahut Arka datar.


"Kau tidak dibutuhkan. Pergilah!" usir Raka. Tiba-tiba rasa sakit menyerang kakinya yang tidak mengenakan alas kaki. Raka mengaduh dan menyadari bahwa gadis dalam pelukannya itu sedang menginjak kakinya menggunakan sepatu olahraganya dengan sekuat tenaga. Gadis brutal ini sungguh tak punya batasan dalam melakukan kekerasan sampai tega menginjak kaki pria yang seharusnya paling dicintainya, tanpa sedikitpun rasa kasihan! Begitu keluh Raka. Mereka berdua kembali saling melotot pada satu sama lain. Namun karena menyadari bahwa dirinya telah bersikap layaknya preman, Raka melepaskan pelukannya pada pinggang Rainy. Rainy segera menjauhkan diri dari Raka dengan senyum puas. Ia berjalan menuju Arka penuh rasa syukur dan menarik tangan pria itu untuk memasuki sasana tarung, dibawah tatapan iri Raka.


Ketika Raka berbalik dengan langkah-langkah penuh amarah, keluar dari gym, Rainy memandang punggungnya yang menjauh dengan termangu. Arka yang melihat kesedihan di wajah gadis itu bertanya dengan lembut.


"Apakah kau tidak apa-apa?"


Mendengar pertanyaan Arka, Rainy mengalihkan tatapannya ke arah Arka sambil mengedip-ngedipkan matanya, tak mengerti mengapa Arka bertanya seperti itu padanya.


"Emm. Aku baik-baik saja." jawab Rainy. Arka memandang ke arah pintu dan menunjuk ke sana dengan dagunya.


"Bagaimana dengan dia?" tanya Arka.


"Dia akan baik-baik saja." ucap Rainy. Arka memandang Rainy sesaat, kemudian mengangguk. Meskipun Arka tidak sedikitpun percaya pada jawaban Rainy, tapi bila itu yang Rainy ingin Arka percaya, maka Arka akan mematuhinya.


Copyright @FreyaCesare