
“Aku ingin jadi kuat! Aku muak dipermainkan oleh iblis!” Ucap Rainy sambil menggertakkan giginya.
“Emm. aku setuju. Tapi bagaimana caranya?” Tanya Raka. ia mengulurkan tangan dan membelai pipi Rainy. Rainy mengedip-ngedipkan matanya sambil berpikir, sepenuhnya mengabaikan jemari Raka yang membelai pipinya. Gadis ini sangat buruk dan melakukan multitasking. Dia tidak bisa merasakan apapun saat sedang sibuk berpikir. Menyadari ini membuat Raka sedikit kesal. Rainy berada di atas pangkuannya dan tangannya sedang membelai wajah gadis itu, tapi Rainy tampak tidak terpengaruh sedikitpun dan malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Apakah daya tarikku sudah menghilang? Tanya Raka dalam hati. Karena kesal, dengan sengaja mencubit pipi Rainy sedikitmlebih kuat dari seharusnya.
“Ah!” Pekik Rainy tertahan. “Mengapa kau mencubitku?”
“Eh?” Raka memasang wajah terkejut. “Apa kau bisa merasakannya?”
“Kau mencubit pipiku! Bagaimana mungkin aku tidak merasakannya?” Beritahu Rainy dengan kesal.
“Hmm? sejak tadi aku mengelus pipimu, tapi kau bersikap seolah-olah kau tidak merasakannya.” bantah Raka.
“Raka, mengelus dan mencubit itu berbeda. Kalau hanya mengelus tentu saja tidak akan terasa. Tapi kalau mencubit itu kan menyakitkan! Kalau sakit tentu saja aku akan protes!” Rainy mengerutkan keningnya dengan heran. Logika sederhana begini, mana mungkin seorang Raka tidak tahu sih?
“Sepertinya baru beberapa waktu yang lalu kau mengatakan bahwa setiap kali aku memelukmu, kau menginginkan ciumanku. Sekarang kau sedang ada di atas pangkuanku, tapi kau malah sibuk memikirkan hal lain.” Protes Raka dengan wajah cemberut. mendengar kata-katanya Rainy langsung tergelak. Rainy melepaskan pelukannya pada leher Raka dan mengulurkan kedua tangannya untuk mencubit kedua pipi Raka.
“Ooooh, What a cute guy!” Goda Rainy.
“Cute? Memangnya kau pikir aku masih 16 tahun?”
“Cute ya cute aja! Mau 100 tahun pun, apabila itu kau, pasti akan tetap terlihat cute di mataku!” Rayu Rainy. Mendengarnya membuat Raka bergidik.
“Kalau usiaku mencapai 100 tahun, aku akan terlihat kempot dan peyot. Di sebelah mana cutenya? Kalau ada yang mengatakan pria berusia 100 tahun cute, berarti matanya sudah rusak!” Protes Raka. Rainy mengangguk.
“Emm. Tidak salah! Saat kau sudah kempot dan peyot, aku juga pasti sama kempot dan peyotnya. Saat itu mataku pasti sudah rusak sehingga semuanya terlihat buram. Itu sebabnya di mataku kau akan tetap terlihat cute.” Ucap Rainy berargumentasi.
“Aku ingin melihat Rainy versi kempot dan peyot.” Ucap Raka dengan mata berbinar. Kata-katanya membuat bibir Rainy langsung mencebik kesal.
“Kurang kerjaan!” Rainy mendengus geli.
“Kupikir kau pasti akan tetap terlihat menggemaskan sebagai seorang nenek-nenek.” seloroh Raka.
“Tentu saja! Saat itu matamu juga sudah rusak makanya aku akan terlihat begitu!” Balas Rainy. Mereka tertawa berderai-derai membayangkan penampilan satu sama lain saat sudah menua dan lelah pada dunia, namun masih bersikap layaknya orang yang dimabuk cinta.
“Apakah kita akan bisa hidup berdua sampai tua?” Tanya Rainy, ketika rasa gelinya mereda.
“Kenapa tidak? Apakah kau bermaksud meninggalkanku sebelum kita menua?” Tanya Raka dengan curiga.
“Apaan sih? Kapan aku bilang mau meninggalkanmu?” Tanya Rainy agak kesal.
“Lalu mengapa kau bertanya seperti itu?” Tanya Raka, masih curiga.
“Bukan kita, tapi kamu!” Ralat Raka.
“Ah, sama aja!” Sahut Rainy tak bersedia diralat. “Aku jadi berpikir, kalau begini terus apa bisa aku hidup sampai tua?” Mendengar kata-kata Rainy membuat Raka tiba-tiba dilanda kegeraman yang sangat. Ia juga bertanya-tanya mengapa Rainy selalu terancam bahaya? Mengapa kasus yang datang silih berganti jarang ada yang benar-benar normal? Well, memang sih semua yang berhubungan dengan mahluk tak kasat mata pasti tidak normal. Namun bisa tidak kalau Divisi VII hanya menerima kasus-kasus yang tidak membahayakan nyawa?
“Apa sebaiknya kita membubarkan Divisi VII?” Sahut Raka sambil termenung. Kata-katanya disambut dengan cubitan keras di sebelah pipinya. “Aww! Sakit, Rain!” Protes Raka.
“Apa kau pikir dengan membubarkan Divisi VII akan membuat hidupku tidak penuh bahaya?” Tanya Rainy. “Mengapa kau begitu pelupa? Bukankah Kuyang tidak termasuk dalam kasus yang kita kerjakan? Tetap saja ia muncul di depanku dengan mulut berlumuran darah.” Rainy bergidik ngeri mengingat wajah sang Kuyang saat pertama kali mereka bertemu. Sungguh pengalaman yang tidak menyenangkan! “Lalu Lilian dan juga Lilith; ada Divisi VII atau tidak, aku tetap harus berurusan dengan keduanya!”
“Ah, kau benar.” Raka mengangguk mengakui. “Kalau begitu yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan keamananmu. Mulai sekarang kami akan menjagamu dengan lebih baik lagi!”
“Bagaimana caranya? Tak ada satupun dari kita yang bisa mengalahkan Lilith dan Lilian.”
“Bagaimana kalau kita bertanya pada Guru Gilang?” Saran Raka. Mendengar ini mata Rainy langsung berkilauan.
“Kau benar!” Rainy langsung bergerak untuk bangkit dari atas pangkuan Raka, tapi tangan-tangan Raka menahan tubuhnya.
“Mau kemana?” Tanya Raka.
“Menemui Guru Gilang.” Sahut Rainy dengan penuh semangat.
“Tidak harus sekarang juga perginya kan, Rain? Aku masih ingin memelukmu.” Raka menarik Rainy ke dalam pelukannya. Mendengar kata-katanya membuat Rainy tersenyum. Raka yang malang. Ia pasti sangat ketakutan. Rainy mengulurkan tangan dan mengusap punggung Raka dengan telapak tangannya.
“Semuanya akan baik-baik saja, Raka. Kita berdua akan berumur panjang dan hidup dengan merdeka.” Ucap Rainy dengan suara yakin, mencoba menenangkan hati Raka yang berkecamuk.
“Emm. Aku tahu. Mari kita selalu hidup berdua sampai jadi kakek dan nenek.” Sahut Raka pelan. Mendengar ini, Rainy mengangkat kepalanya dari bahu Raka.
“Eh? Berdua saja? Apa kau tidak mau memiliki anak dan cucu?” Tanya Rainy.
“Apa kau ingin memiliki anak denganku? Bukankah kau pernah bilang bahwa kau tidak mau memiliki anak?” Raka balas bertanya. Rainy menghela nafas panjang. Ia menyandarkan dagunya kembali ke atas bahu Raka dan berkata.
“Wanita mana yang tidak mau memiliki anak dari pria yang dicintainya. Kalau bukan karena Lilith, aku pasti ingin punya beberapa anak. Aku ingin punya 2 anak lelaki yang setampan dirimu. Hanya saja aku tidak mau anak-anakku menjalani hidup seperti aku, selalu berada di bawah bayang-bayang Lilith.”
“Kita akan menemukan cara untuk membebaskanmu dari Lilith!” Ucap Raka sambil membelai kepala Rainy.
“Emm.” sahut Rainy. Bibirnya menyunggingkan senyum yang sangat indah.
“Dan aku mau 1 orang anak perempuan yang mirip denganmu.” Seloroh Raka kemudian.
“Emm.” Sahut Rainy lagi. Bila suatu saat kita memang bisa bebas dari Lilith, aku akan memenuhi apapun yang kau inginkan, Raka.