
Rainy sedang duduk bersandar di sofa sambil mengisap juice sirsak dari sedotan aluminium, sementara kepala Raka bersandar dibahunya dengan mata tertutup rapat, ketika seorang anak kecil berwajah pucat pasi tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Sudah beres.” Kata anak tersebut dengan suara datar tanpa emosi. “Mulai sekarang, jangankan memeras kalian, ia mungkin sudah tidak akan berani berbuat kejahatan apapun.” Mendengar ini, mata Rainy berkilat penuh rasa kagum.
“Sampai begitu?” Tanyanya. “Memangnya apa yang sudah kau lakukan padanya, Tama?” Tanya Rainy ingin tahu. Raka membuka mata dan mengangkat kepalanya dari bahu Rainy. Ia memandang Tama yang mengangkat dagunya dengan angkuh.
“Tentu saja! Gampang sekali! Aku hanya mengirim beberapa jin untuk menakutinya dan mengancam akan membawanya pindah ke alam kami untuk dinikahi bila ia masih melakukan kejahatan. Jin yang melakukannya berdandan menjadi kuntilanak yang sangat jelek dan berbau sangat busuk. Ia sampai terkencing-kencing di celana dan jatuh pingsan. Hahaha!” Tama tertawa jumawa. “Lihat saja kalau ia berani melakukan kejahatan lagi, aku akan menerornya sampai ia lupa yang mana kaki dan yang mana kepala. Hahaha!”
“Tama, kau memang hebat!” Rainy memegang kedua pipi Tama dan meremas-remasnya dengan telapak tangannya.
“Gadis bego, lepaskan!” Protes Tama kesal. Namun ia tidak melarikan diri dan membiarkan Rainy bermain dengan pipinya sampai gadis itu puas. Sebagai yang termuda dalam keluarganya, Rainy tidak memiliki banyak kesempatan bermain dengan anak yang lebih muda. Lagipula dalam pandangan matanya, Tama yang masih seukuran anak berusia 9 tahun namun berperilaku layaknya orang dewasa itu sungguh menggemaskan. Seandainya tidak ada Lilith yang selalu membayang-bayangi langkahnya, mungkin Rainy sudah mengadopsi Tama untuk dijadikan peri rumahnya.
Memandang tingkah Rainy, Raka hanya menggelengkan kepala. Raka memandang pada Tama dan berkata,
“Tama, terimakasih.”
Tama menggelengkan kepalanya.
“Tidak perlu berterimakasih. Itu hanya hal kecil. Rainy dan kau sudah banyak membantuku. Karena itu, aku sama sekali tidak keberatan untuk balas membantu kalian. Lagipula kalau hal kecil begini sih tidak akan menggunakan banyak tenaga.” Tolak Tama. “Oh iya, gadis bego, aku akan kembali ke rumah Laura. Aku datang kemari hanya untuk berpamitan.” Beritahu Tama pada Rainy.
“Ah, baiklah. Bagaimana keadaan Laura?” Tanya Rainy.
“Keadaannya Laura sangat baik. Depresinya berkurang banyak dan ia menjadi lebih aktif.” Sahut Tama.
Syukurlah.” Angguk Rainy.
“Dan kau,” Tama menoleh pada Raka. “Terimakasih sudah memberiku tempat untuk tinggal selama beberapa waktu ini.” Ucapnya. Raka mengangguk.
“Tidak apa-apa. Aku tahu kau membutuhkannya.” Sahut Raka. Tama mengangguk.
“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Rainy.
“Aku berpikir, pada 2 kasus belakangan ini, kita memperoleh bantuan dari tempat yang tidak disangka-sangka.” Ucap Raka. “Pertama karena Lilian yang muncul untuk menakuti Bram, kita bisa keluar dari gudang itu tanpa luka sedikitpun. Sekarang, karena Tama, kita bisa menyelesaikan masalah dengan anaknya tamu yang meninggal
tersebut tanpa perlu menunjukan diri.” Raka menoleh pada Rainy dan menatap gadis itu dengan penuh rasa sayang. “Jin dan Iblis takut padamu, tapi manusia takut pada jin dan iblis. Aku hanya berpikir, tidakkan akan lebih bila kita memasukkan 1 atau 2 jin sebagai anggota tim?” Tanya Raka. Mendengar ini, Rainy menggeleng.
“Tidak, kita tidak boleh melakukannya. Aku tak mau kita bergantung pada bantuan dari jin, apalagi dari iblis.” Ucap Rainy. “Pada kasus Bram, bantuan dari Lilian terjadi karena keinginannya sendiri. Aku tidak pernah memintanya untuk ikut campur. Pada kasus ini, setelah melihat kita pusing karena masalah ini, Tama memutuskan untuk membantu demi untuk membalas pertolongan yang kita berikan padanya. Pada kedua kasus ini, kita tidak meminta mereka melakukan apapun, mereka sendirilah yang menawarkan diri. Tapi ini akan berbeda bila kita meminta, Tama misalnya, untuk bekerja pada kita.” Rainy mengambil tangan Raka dan menggenggamnya. “Raka, aku sudah
berjanji bahwa aku tidak bersedia untuk bersekutu dengan iblis. Karena itu aku tidak akan pernah meminta bantuan mereka, walaupun aku berada dalam keadaan terjepit sekalipun, dan walaupun mahluk yang kumintai pertolongan adalah jin sebaik Tama. Karena dengan mahluk tidak kasat mata, kau tidak akan pernah menduga kapan kau akan dikhianati dan dihancurkan.” Ucap Rainy lagi. Mendengar ini Raka mengangguk.
“Aku mengerti.” Sahut Raka. Rainy kemudian bangkit dari sofa sambil masih memegang tangan Raka.
“Ayo pulang.” Ajak Rainy. “Aku sudah mengantuk.” Raka membiarkan dirinya ditarik oleh Rainy dan dituntun menuju pintu keluar. Mereka kemudian berjalan santai menyusuri jalan setapak resort yang akan membawa mereka menuju ke paviliun yang mereka tempati, sambil memandangi indahnya rembulan yang bersinar di atas lautan.
***
Keesokan paginya Meyliana mengabari bahwa Arif Januar telah pergi pagi-pagi sekali dengan wajah ketakutan. Ia mengatakan bahwa ia tidak akan pernah kembali ke Cattleya Resort dan tidak akan menuntut uang santunan sama sekali. Setelah itu pria itu buru-buru pergi begitu saja tanpa menoleh lagi. Setelahnya, dari petugas room service, Meyliana mengetahui bahwa Arif Januar rupanya mengompol dalam tidurnya dan membuat seisi kamar berbau air seni. Namun selain hal tersebut, tidak ditemukan kerusakan apapun di dalam paviliun. Pria itu bahkan tidak menyentuh snack yang tersedia di dalam kulkas. Sebagai orang yang dikenal sebagai penjahat kambuhan, tampaknya Meyliana berharap akan menemukan satu atau lima barang yang rusak dibawah maintenance pria tersebut sehingga ia merasa terkejut ketika prediksinya meleset. Apapun itu, Rainy bersyukur bahwa satu masalah
telah berhasil diselesaikan tanpa banyak usaha. Rainy sangat berharap bahwa sejak saat ini, Resort akan terus berada dalam kedamaian.
Hari itu resort tampak sedikit lebih ramai dari biasanya. Menurut Raka, seseorang telah membooking kolam renang di tepi pantai sebagai tempat pernikahan yang akan berlangsung nanti malam. Mereka bahkan menyewa Mr. Jack untuk menjadi pastry chefnya. Menyadari bahwa Resort akan dipenuhi banyak tamu dari luar nanti malam, Rainy
memutuskan untuk menghabiskan hari dengan bermalas-malasan di paviliun. Ia punya beberapa novel yang sudah dibeli, namun tidak pernah sempat untuk dibaca. Namun keinginannya ini harus pupus ketika Ratna dan Rini menariknya keluar dari paviliun dan membawanya untuk perawatan di Spa. Walaupun awalnya protes, namun akhirnya Rainy menikmati dimanjakan oleh para beautician dan bahkan sempat tertidur ketika sedang di massage. Melihat ini, Ratna dan Rini tersenyum geli. Mereka sudah merencanakan beberapa kegiatan yang akan melelahkan sehingga mereka memutuskan untuk membiarkan Rainy untuk bisa tidur lebih lama.
Copyright @FreyaCesare