
“Hmmm… Baumu wangi sekali.” Bisik si Kuntilanak. “Wangi kejahatan dan hati yang busuk. Aku sangat menyukainya.” Bisik si Kuntilanak lagi. Suaranya yang lembut mendayu-dayu, terdengar begitu menyeramkan dan mendirikan bulu roma siapapun yang bisa mendengarnya. Arif memberontak sekuat yang ia mampu. Ia terus memukul-mukul tubuh si Kuntilanak, namun Kuntilanak tersebut tidak bergeming.
Lepaskan aku! Lepaskan aku! Jerit Arif tanpa suara.
“Kau ingin aku melepaskanmu?” Tanya si Kuntilanak. “Tapi Aku sangat menyukaimu. Jadi mengapa kau harus melepaskanmu?”
Kau sudah mati tapi aku manusia hidup! Aku tidak bisa bersama hantu jadi tolonglah lepaskan aku! Pinta Arif, masih tanpa suara. Tubuhnya terasa semakin dingin. Bahkan sepihan salju mulai muncul pada alis dan ujung-ujung rambutnya. Si kuntilanak terdiam sesaat. Kemudian perlahan-lahan ia melonggarkan pelukannya. Arif kembali mencoba melepaskan diri darinya, namun tangan-tangan tanpa tubuh itu lagi-lagi bermunculan dan menghentikan gerakannya. 2 tangan memegang pergelangan tangannya. 2 lagi memegang pergelangan kakinya. 2 tangan lain memeluk pinggangnya, lalu ada 2 tangan lagi yang menahan lututnya. Sementara kedua telapak tangan si Kuntilanak menahan bahunya dalam cengkeraman yang sekuat besi.
“Apakah kau tahu apa yang membuat baumu begitu enak?“ Tanya si Kuntilanak lagi. “Itu adalah karena kau memiliki hati yang jahat! Kau selalu berbuat jahat. Kau tidak segan menyakiti orang lain, bahkan menyakiti ibumu sendiri, dan kau bisa melakukan apapun untuk memperoleh apa yang kau inginkan. Kau memeras, menipu dan menusuk orang lain dari belakang. Hati yang jahat dan dengki dalam dirimu ini menjadi semakin busuk dan busuk, membuat baumu menjadi sangat menggoda bagi mahluk-mahluk seperti aku.”
Arif menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Tidak! Kau sudah mati dan aku masih hidup! Aku tidak mau! Kita hidup di alam yang berbeda, jadi kau tidak bisa menyukaiku! Si Kuntilanak yang bisa membaca pikiran Arif, memberinya senyum yang lebih mirip sebuah seringai yang menyeramkan. Membuat Arif bergidik ngeri.
“Seumur hidupmu, kau adalah orang yang selalu melanggar hukum. Dilarang mencuri, kau mencuri. Dilarang menipu, kau menipu. Dilarang berzina, hah! Kau melakukannya ratusan kali. Dilarang mabuk, kau mengganti air putih dengan arak. Dan yang paling buruk, dilarang untuk durhaka pada orangtua, kau malah menganiaya, mencuri dan mencaci maki ibumu! Setelah semua hal buruk yang kau lakukan, mengapa kau harus takut pada hal sepele seperti dilarang menikah dengan mahluk dari alam yang berbeda? Lagipula dimana pernah tertulis larangan seperti itu? Kami yang tidak kasat mata bukanlah mahluk-mahluk yang terdaftar dalam buku hukum manusia. Tidak ada larangan yang berlaku untuk kami. Jadi, bila kau bersamaku, pernikahan kita akan jadi satu-satunya hal yang tidak melanggar hukum, yang pernah kau lakukan.” Seloroh si Kuntilanak.
Tidak! Aku tidak mau! Tidak mau! Arif menggelengkan kepalanya kuat-kuat, membuat si Kuntilanak melotot kesal. Bola matanya yang semerah darah tampak menjadi sangat menakutkan. Ia mendekatkan wajahnya pada Arif dan melepaskan sebelah bahunya untuk membelai pipi Arif. Arif bergidik ngeri ketika kuku-kuku si Kuntilanak yang berwarna hitam, panjang dan runcing itu menggores pipinya, meninggalkan luka tipis yang mengeluarkan darah.
“Kau datang kemari, bermaksud memeras dan mengambil keuntungan dari pemilik tempat ini, dan mengancam akan menyebarluaskan masalah kematian ibumu disini. Setelah melakukan semua hal yang bisa mengancam keberlangsungan Resort yang menjadi rumahku ini, apa kau pikir aku akan rela untuk melepaskanmu begitu saja?” Tanya si Kuntilanak sambil menyeringai menyeramkan.
“Tak usah melawanku karena itu tidak ada gunanya. Biarkan aku membuka semua pakaianmu dan kita bisa meneruskan apa yang tadi kita lakukan dalam mimpimu. Bukankah tadi kau sangat suka bila aku menyentuh seluruh tubuhmu?” Rayu si Kuntilanak dengan suaranya yang menyeramkan. Ia mengusap bibir Arif dengan ujung jarinya yang berkuku panjang, hitam dan kotor. Arif mencoba mengelak dengan menoleh ke samping, namun si Kuntilanak menangkap dagunya dan memaksanya untuk bertatapan dengan si Kuntilanak.
“Mengapa berpaling dariku? Apa kau tidak suka bila aku memaksa untuk menyentuhmu? Tapi bukankah
kau selalu melakukan ini pada orang lain? Kau menyentuh tubuh wanita-wanita itu tanpa seijin mereka, lalu menyalahkan mereka dengan mengatakan bahwa merekalah yang mengundangmu untuk melakukannya. Sekarang kukatakan ini padamu, aku ingin menyentuhmu, menciummu, menelanjangimu dan menjadikan kau milikku walaupun kau tidak bersedia. Tapi ini bukan salahku. Ini adalah salahmu sendiri. Salah sendiri mengapa kau memiliki bau kejahatan yang begitu kuat dan hati busuk yang sangat kusukai, yang kau pamerkan kemana-mana dengan cara berbuat kejahatan pada banyak orang. Aku jadi tidak bisa menahan diri!”
Kuntilanak itu membuka mulutnya dan sebuah lidah berwarna merah yang sangat panjang, dengan ujung yang terbelah dua, layaknya lidah ular, keluar dari sela-sela bibirnya yang hitam. Lidah itu menjulur mendekati wajah Arif dan membelai wajahnya dengan gerakan pelan, meninggalkan jejak basah berbau busuk yang merupakan saliva dari si kuntilanak. Arif merasa mau pingsan. Seluruh tubuhnya menjadi semakin tegang. Hatinya menciut sehingga hanya tinggal sebesar biji kacang. Ia tidak mau diperkosa oleh Kuntilanak! Tidak!
Jangan! Lepaskan aku! Jeritnya tanpa suara. Ampun! Ampun! Aku janji tidak akan berbuat jahat lagi! Aku janji tidak akan menyakiti orang lain lagi! Aku janji tidak akan menipu, memeras atau melecehkan siapapun lagi! Tolong lepaskan aku! Tolong lepaskan aku! Raungnya tanpa suara. Air mata dan ingus mengalir deras dari wajahnya. Namun si Kuntilanak tidak merasa puas. Lidahnya menjulur dan membelai bibir Arif, kemudian bergerak pelan memasuki mulutnya. Lidah itu kemudian menjelajahi bagian dalam mulutnya layaknya lidah seorang kekasih, memenuhi mulut Arif dengan bau busuk yang menyengat, membuatnya ingin muntah.
Tidaaaak!!! Jerit Arif. Celana yang dikenakannya menjadi basah oleh air seninya sendiri. Arif kemudian terkulai lemas dan jatuh pingsan. Sebelum ia kehilangan kesadarannya, ia masih sempat mendengar suara si Kuntilanak berkata,
“Bila kau berani memeras resort ini atau menyebarluaskan berita yang bisa merusak nama baik resort ini, ingat saja, aku akan menjemputmu dan membawamu ke alam lain untuk jadi suamiku. Begitu juga bila kau masih berani melakukan kejahatan lainnya, pastikan aku akan datang untuk menjemputmu. Ini adalah janjiku padamu.”
Copyright @FreyaCesare