My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kemarahan Arka



“Rainy!” Arka mencoba menarik Rainy untuk mundur agar ia bisa melindungi gadis itu, nama Rainy tidak bergeming. Ia berdiri tegak dengan tubuh yang siap menerima serangan kapan saja.


“Rainy, mundur!”


Perintah Arka keras. Tapi Rainy bahkan tidak memandang wajahnya. Ia terus bertatapan dengan si Kuyang.


“Shush Arka, diamlah! Kau memecahkan konsentrasiku.” Suruh Rainy, membuat darah di tubuh Arka mendidih karena marah. Ia menoleh pada si Kuyang yang tiba-tiba di mata Arka terlihat sangat menggelikan.  Kuyang tersebut menyeringai jahat dan melotot hingga matanya nyaris keluar. Arka mengangkat pisau dapur ditangannya dan untuk sesaat mempertimbangkan beratnya. Pada saat yang sama, melihat Arka mengangkat pisau dapur, Kuyang tersebut menggeram marah. Ia membuka mulutnya yang ditumbuhi 2 taring panjang berlumuran darah itu lebar-lebar lalu melesat maju ke arah Arka, terang-terangan menunjukan ketidak tertarikannya pada Rainy. Tanpa pikir panjang Arka melemparkan pisau di tangganya sekuat tenaga ke arah si nenek Kuyang. Pisau bergerak secepat gerakan si Kuyang dan keduanya bertemu di tengah-tengah ruangan. Si nenek Kuyang menjerit keras ketika pisau dapur berukuran lebar yang biasanya digunakan untuk memotong daging itu menancap di antara kedua matanya.


Dari lantai dasar terdengar suara pintu dibuka dengan keras dan sekelompok orang berjalan mememasuki rumah dan langsung berlari ke lantai 2. Dugaan Rainy, mereka diarahkan oleh jeritan nyaring si Kuyang. Mendengar langkah kaki dan suara banyak orang menaiki tangga, si Kuyang berbalik dan melayang cepat ke sebuah jendela besar yang tertutup kaca. Kuyang tersebut terus melaju dan menabrak kaca hingga pecah dengan suara berderai-derai. Ketika orang-orang yang menaiki tangga sampai di lantai 2, si Kuyang sudah menghilang dalam kegelapan malam, membawa serta pisau dapur yang tertancap di wajahnya.


***


Rainy melemparkan tubuhnya ke atas ranjang empuk yang baru saja disiapkan oleh pegawai hotel. Karena keadaan jendela yang pecah dan ruangan yang kotor akibat dimasuki oleh banyak orang yang membawa kotoran dengan alas kaki mereka, Raka memutuskan untuk memindahkan paviliun mereka ke paviliun yang berada cukup jauh dari paviliun sebelumnya. Rainy memandang ke arah langit-langit dengan nanar. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan kuyang di resort ini. Rainy tak punya banyak pengetahuan soal kuyang karena memang tidak ada dokumentasi yang bisa dipercaya mengenai entitas ini. Kuyang terlalu misterius sehingga untuk bisa menghadapinya dibutuhkan pemikiran yang ekstra.


Suara langkah cepat menuruni tangga terdengar dari luar kamar. Hal ini membuat kening Rainy berkerut. Lantai atas adalah loft tempat Arka tinggal. Biasanya pria itu berjalan seperti kucing; tanpa suara. Apakah ia sedang marah? Pertanyaan ini kemudian dijawab dengan bantingan pada pintu depan. Ugh! Arka memang sedang marah. Rainy menggigit bibirnya, hatinya dihinggapi rasa bersalah. Semenjak Kuyang itu pergi, Arka menunjukan sikap yang dingin padanya. Ia masih tetap melakukan tugasnya dengan baik dan pembawaannya yang memang pendiam membuat mereka yang tidak mengenalnya, tidak menyadari perubahan sikap Arka. Tapi Rainy tahu. Rainy bisa merasakan dan itu membuat hatinya tidak nyaman.


Sebuah ketukan di pintu terdengar disertai suara Raka memanggil namanya.


"Rain, apa kau sudah tidur?" tanya Raka. Rainy langsung bangkit dari ranjang dan berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu dan bertatapan dengan Raka yang tersenyum penuh sayang padanya.


"Kemana dia pergi?" tanya Rainy tanpa basa-basi.


Rain, aku yang sedang berdiri di hadapanmu sambil tersenyum, namun begitu melihatku, kau langsung menanyakan pria lain. Diam-diam Raka menarik nafas panjang. Bukannya ia tidak memahami bahwa Rainy hanya memperlakukan Arka sebagai saudara sepupunya, namun entah mengapa, hatinya begitu sempit hingga tak suka bila Rainy menaruh perhatian pada laki-laki lain selain dirinya. Raka merasa bahwa sepertinya ia harus melakukan meditasi lebih banyak lagi untuk menyingkirkan iblis dari dalam hatinya.


"Mungkin dia pergi ke gym." tebak Raka. "Arka sedang sangat marah jadi dia perlu mengeluarkan emosi negatifnya tersebut lewat kegiatan fisik."


"Mengapa dia marah?" tanya Rainy lagi.


Raka kemudian menarik Rainy keluar dan mendudukannya di atas sofa.


"Rain, apakah kau tahu apa yang sudah kau lakukan kali ini?" tanya Raka. Memangnya apa yang sudah kulakukan? Tanya Rainy pada diri sendiri. Keningnya sampai berkerut-kerut karena mencoba mencari jawabannya. Tak lama kemudian, Rainy menggeleng.


"Aku tidak tahu." jawab Rainy dengan jujur. "Apa yang sudah aku lakukan?"


"Dia adalah bodyguardku." sahut Rainy. Melihat Rainy belum memahami arah pertanyaannya, Raka bertanya lagi,


"Apa tugas bodyguard?"


"Tentu saja tugasnya adalah melindungiku dari mara bahaya...." kalimat Rainy terhenti ketika pemahaman terurai dalam pikirannya.


"Dia marah karena aku mencoba melindunginya?" tanya Rainy. Raka mengangguk.


"Dia adalah bodyguardmu. Tapi bukannya melindungimu, kau malah memutuskan untuk melindunginya. Hal ini sungguh menjatuhkan harga dirinya." ucap Raka.


"Harga diri?" Rainy mencibir kesal. "Bisakah harga diri membuatmu bertahan hidup?"


"Rain, kata-katamu itu jahat." tegur Raka dengan kening berkerut. Dari dulu ini adalah sikap buruk dan kekanakan Rainy yang bertahan. Ketika malu pada tingkahnya sendiri, ia bukannya minta maaf, tapi malah membela diri. Terkadang malah tak segan untuk menyerang secara verbal dan membuat yang menerimanya tambah terluka hatinya. Mendengar teguran Raka, Rainy menundukkan kepalanya.


"Maaf." ucapnya pelan. Namun tak lama kemudian Rainy kembali mengangkat kepala dan mencoba menjelaskan dengan berapi-api. "Tapi yang kami hadapi tadi bukan sesuatu yang bisa dilawan dengan ilmu bela diri manusia! Bahkan akupun tidak tahu bagaimana cara yang efektif untuk menghadapinya! Diantara kami berdua, sudah jelas darahnyalah yang lebih menggiurkan bagi mahluk terkutuk tersebut. Coba beritahu aku, kalau kau yang jadi aku, begitu melihat temanmu dalam bahaya sementara kau mungkin memiliki kesempatan yang lebih baik untuk melindungi diri, masa kau akan melemparkan temanmu yang lebih lemah tersebut untuk jadi umpan?"


"Darimana kau bisa yakin bahwa Arka tidak akan mampu menghadapinya? Itu kan baru dugaanmu saja!" bantah Raka. "Kau kan tahu betapa tekunnya Arka berlatih dan betapa protektifnya ia padamu. Tapi coba kau ingat-ingat, sudah beberapa kali, kau menghentikan Arka melakukan tugasnya karena kau berpikir bahwa dia lebih lemah darimu?" tegur Raka. Rainy menggeleng kuat-kuat. Tidak terima dituduh memiliki pemikiran yang merendahkan Arka seperti itu.


"Arka tidak lemah dan aku sangat percaya padanya. Kalau hanya untuk berhadapan dengan manusia biasa, dia pasti menang. Tapi yang kita hadapi kuyang! Dia tidak bisa dibasmi sesederhana cara membunuh manusia lain!" bantah Rainy dengan emosi.


"Jangan lupa, Rain, kau melakukan hal yang sama saat kalian berhadapan dengan Bram. Bukannya berlindung padanya, kau malah menjadikan tubuhmu tameng untuk melindungnya. Apa kau ingat?" ucap Raka mengingatkan. Kata-katanya mengagetkan Rainy. Matanya mengerjap-ngerjap karena mencoba mengingat-ingat.


"Ummm..." samar-samar ia ingat telah mendorong Arka ke belakang tubuhnya saat mereka sedang berhadapan dengan Bram. Eh, sepertinya hal itu memang terjadi...


Raka mengamati perubahan wajah Rainy dengan seksama. Sebenarnya ia tahu bahwa perilaku Rainy lebih di dasari oleh sikap protektif yang dimilikinya pada semua orang yang disayanginya. Lagipula ia tidak terbiasa diam di belakang orang lain dan tidak melakukan apapun saat bahaya datang, tak menyadari bahwa sikapnya tersebut dapat menghambat pertumbuhan orang-orang yang berada di sekitarnya. Sepertinya Raka harus mengajarinya lebih jauh lagi mengenai caranya memberikan kepercayaan.


"Rain, kau telah menyewanya sebagai bodyguardmu. Jadi tolong ijinkan ia mengerjakan tugasnya." Ucap Raka pelan, mencoba memasukkan pemahaman ke kepala Rainy yang indah itu, tapi Rainy hanya memandang Raka dengan wajah cemberut.


Copyright @FreyaCesare