
“Kakak, aku tidak apa-apa. Aku hanya perlu menunggu hasil pemeriksaan dan setelah itu aku bisa langsung pulang. Tapi, Arka…” Rainy menoleh pada Arka yang saat itu baru saja terbangun dan sedang memandang langit-langit dengan kening berkerut.
“Aku tidak apa-apa. Aku juga tidak perlu menginap di Rumah Sakit.” Sahut Arka dengan suara tenang.
“Coba dengar itu. Dia pikir tubuhnya terbuat dari besi apa? Kalau sakit ya harus dirawat! Mengapa begitu keras kepala dan menolak untuk dirawat?” Tanya Rainy dengan kesal. Sejak tadi ia terus saja membujuk Arka untuk mengikuti keinginan Dokter dan dirawat selama beberapa hari karena luka bakar yang dideritanya. Namun dengan keras kepala Arka terus saja menolaknya.
“Aku disuruh tinggal disini sedangkan kau akan pulang. Sungguh tidak setia kawan.” Cela Arka dengan nada datar. Kata-katanya membuat yang mendengarnya terpana. Jenderal Arka, bagaimana bisa bicara begitu kekanakan dengan ekspresi dan nada suara yang begitu datar? Apa kau sedang membaca scenario? Rainy mendengus tak percaya.
“Ah! Argumentasi macam apa itu? Coba dengarkan kata-katamu? memangnya kau anak SD hingga menggunakan logika ini untuk menolak perintah Dokter?”
“Jelas-jelas aku sedang menolak perintahmu.” Sahut Arka tenang.
“Memangnya aku yang mau kau tinggal disini? Kau…” Jangan marah, Rainy, jangan marah! Dia terluka karena menolongmu. Jadi bersabarlah! Bujuk Rainy dalam hati. Tapi pria satu ini entah mengapa jadi begitu menyebalkan? Biasanya ia akan melakukan apapun yang Rainy perintahkan. Tapi mengapa kali ini ia begitu keras menolak? Padahal Dokter hanya ingin membantu menyembuhkan luka-lukanya. Bisa tidak kalau ia bersikap lebih masuk akal?
“Mengapa kau bersikeras tidak mau dirawat? Lukamu cukup parah. Harus dirawat dan diawasi dengan hati-hati. Tapi mengapa kau tidak bersedia? Arka, coba beritahu aku, Apakah takut tinggal sendiri di rumah sakit?” Tanya Rainy dengan heran. Mendengar ini, Arka hanya membalikkan tubuhnya dan memberi Rainy pandangan langsung ke punggungnya. Melihat ini, Rainy sampai menggeram kesal.
“Anak ini….” Geram Rainy kesal. Mr. Jack, Batari dan Raka yang melihat perdebatan ini memandang mereka berdua dengan terpana. Terutama Mr. Jack dan Batari. walaupun Batari baru bergabung dengan Divisi VII dalam hitungan hari, ia cukup memahami watak orang-orang terdekat Rainy. Siapa yang tidak tahu bahwa Arka nyaris menyerupai kulkas berjalan; dingin dan menjaga jarak dengan orang lain. Selain itu ia jarang berbicara dan sangat pandai membuat keberadaannya tidak disadari oleh orang lain, sehingga mereka cenderung mengabaikannya. Sungguh sia-sia Tuhan memberinya wajah yang luar biasa tampan karena ia menyia-nyiakannya begitu saja dengan memasang wajah besi sepanjang hari. Dalam hal ini Arka dan Rainy memiliki cukup banyak kemiripan. Untungnya Rainy masih memandang keberadaan orang lain dan bersikap sesuai dengan perasaan dan pemikirannya terhadap orang tersebut, sedangkan Arka memperlakukan orang yang bukan Rainy sebagai tidak
ada. Mengesalkan kan? Nah, ketika Arka yang seperti itu menunjukan sikap merajuk yang kekanak-kanakan di hadapan Rainy, bukan hanya Batari, Mr. Jack dan Raka pun tidak tahu harus merespon dengan cara bagaimana. Mungkin hanya Rainy yang tidak merasakan keanehan sikap Arka sehingga ia bisa merespon dengan lancar, bahkan mempertanyakan sikap Arka ini pada pemiliknya. Interaksi mereka sungguh sangat menggemaskan!
“Bagaimana kalau begini… Poliklinik sudah hampir selesai dibenahi. Hanya tinggal mempersiapkan beberapa barang saja, namun kamar yang disiapkan untuk tempat istirahat pasien sudah selesai ditata dan perlengkapan di dalamnya tidak kalah dengan perlengkapan di rumah sakit kecil seperti ini. Kalau Raka tidak mau tinggal di rumah sakit ini, bagaimana kalau tinggal di poliklinik Cattleya Resort saja? Toh luka Raka tidak parah sehingga aku bisa merawatnya sendiri.” Ucap Batari memberikan saran. Mendengar ini, Arka langsung berbalik kembali. Namun belum sempat ia mengatakan apapun, seseorang bertanya,
“Hmm? Kak Arka tidak bersedia untuk di rawat disini?” Sebuah suara indah seorang wanita terdengar lembut ke seluruh penjuru ruangan. Mereka menoleh ke pintu masuk ruang ICU dan menemukan Lara yang sedang memasuki ruangan sambil membawa sebuah keranjang besar berisi makanan. Di sudut ruangan, seorang perawat mengerutkan keningnya. Mengapa hari ini orang-orang yang tidak memiliki keperluan berkerumun di dalam ruangan IGD? Ia merasa gatal ingin mengusir mereka, namun atasannya sudah memperingatinya untuk tidak mengganggu apalagi menyebabkan rombongan pasien ini marah. Untung IGD sedang sepi. Bila tidak perawat itu tidak tahu bagaimana jadinya.
“Nora menitipkan makanan ini untuk Boss, Pak Raka dan Kak Arka. Nora tahu bahwa boss biasanya tidak terlalu suka makan nasi, namun karena boss sepertinya menyukai bubur seafood buatan Nora, ia memutuskan untuk membuatkannya.” Lara mengeluarkan 3 buah termos berisi bubur dan 3 buah sendok, lalu meletakkannya di atas meja. “Boss, kau pasti masih belum makan sampai sekarang. Ayo makanlah.” Suruh Lara. Rainy menerimanya sambil mengangguk. Ia menyukai gadis yang berdiri di hadapannya tersebut dan melihat sikapnya lembut dan penuh perhatian sungguh membuat hati Rainy terasa senang. Raka mengambil termos tersebut dari tangan Rainy.
Saat Raka membuka termos tersebut, wangi makanan yang lezat langsung menyebar ke seluruh penjuru ruangan, membuat si perawat yang masih bertengger di pojok ruangan merasa sangat tergoda. Mengapa membawa makanan seharum ini ke ruang IGD? Er, salah! Apa kalian tidak tahu bahwa kalian dilarang untuk makan dan minum di ruangan IGD? Apa kalian tidak memiliki rasa hormat pada pasien-pasien gawat darurat yang biasanya berada dalam kondisi serius dan para dokter dan perawat IGD yang biasanya terlalu sibuk sampai tak punya waktu untuk makan? Er, tapi hari ini IGD sedang tidak berpenghuni. Mau mengomelpun, sang perawat merasa tidak mampu. Orang-orang itu tidak tampak seperti orang biasa. Bagaimana kalau menegur mereka justru membuatnya memperoleh masalah? Tidak! Lebih baik pura-pura tidak melihat saja!
Raka mengambil sesendok bubur panas, meniupnya sebentar, kemudian membawanya ke dekat mulut Rainy. Melihat ini, Rainy mengangkat matanya dan memandang Raka dengan tatapan tak setuju.
“Kau mau apa?” Tanyanya.
“Menyuapimu.” sahut Raka tenang.
“Tanganku masih berfungsi dengan baik, mengapa harus disuapi?” Tanya Rainy lagi.
“Bisakah kau membiarkanku memanjakanmu selagi aku punya kesempatan?” Protes Raka.
“Apa maksudmu selagi punya kesempatan? Suatu saat nanti akan ada saat aku perlu disuapi, tapi sekarang bukan saat itu!” Tolak Rainy. Mendengar ini, Raka menyipitkan matanya. Perasaan terluka tampak jelas di wajahnya.
“Rainy.” Panggil Raka pelan.
“Apa?” Tanya Rainy. Ekspresi terluka di wajah Raka cukup membuatnya terkejut. Kenapa Raka harus merasa terluka karena dilarang menyuapiku? Kenapa reaksinya aneh sekali? Bro, apa kau baik-baik saja?
“Buka mulutmu.” Suruh Raka. Secara otomatis Rainy membuka mulutnya. Melihat ini, dengan segera Raka menyuapkan buburnya ke mulut Rainy. Raka memandangi Rainy yang sedang mengunyah dengan patuh, dengan ekspresi puas. Sementara itu keempat orang yang disuguhi pemandangan ini hanya menggelengkan kepalanya. Boss, biasanya kau selalu terlihat tangguh dan tidak terkalahkan. Mengapa di hadapan tunanganmu, kau berubah jadi begitu penurut?