
Seluruh penghuni rumah Datuk saat ini berada dalam keadaan canggung. Penyebab kecanggungan tersebut adalah karena sepasang pengantin baru yang kamarnya berada di lantai 2 itu tampaknya tidak memiliki sedikitpun kemampuan untuk menahan diri sehingga mereka praktis tidak meninggalkan kamar sepanjang hari dan terus-menerus membuat suara-suara yang ambigu terdengar sampai keluar kamar. Ardi dan Ratna ingin menegur, memarahi dan bahkan memisahkan keduanya, setidaknya di saat matahari masih bersinar terang. Namun kalau mengingat bahwa Rainy dan Raka hanya punya waktu 4 hari untuk bersama, dan saat itu, 1 hari telah terlewati, Ardi dan Ratna merasa tak tega dan juga maklum akan perilaku keduanya yang seolah tak pernah terpuaskan tersebut. Ardi dan Ratna terutama merasa kasihan pada Rainy karena bila bagi Raka perpisahan itu hanya akan berlangsung selama 100 hari, bagi Rainy akan menjadi 100 tahun. Diam-diam Ardi dan Ratna merasa tak puas pada sikap Datuk Sanja yang tidak bersedia memberikan waktu sedikit lebih lama bagi Raka dan Rainy untuk menikmati bulan madu mereka. Di sisi lain, Datuk Sanja yang memiliki pendengaran super mau tidak mau memperoleh 'siaran langsung' setiap kali 'peperangan' dalam kamar Rainy dimulai. Membuatnya menjadi sangat merindukan istrinya tercinta.
Akhirnya setelah mempertimbangkan perasaan Datuk Sanja dan kedua orangtua Rainy, Ungu memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Rainy untuk memberitahukan bahwa kedua suami istri baru itu diharapkan untuk segera meninggalkan rumah itu dan pergi sejauh-jauhnya dari kawasan berpenghuni. Tentu saja Ungu yang diplomatis menggunakan alasan bahwa ia telah mempersiapkan sebuah tempat tinggal bagi keduanya yang akan membuat Raka dan Rainy merasa sedang berbulan madu, walaupun sebenarnya sama sekali tidak meninggalkan dunia kecil tersebut.
Dengan meminjam kekuatan Datuk Sanja sebagai dewa di dunia kecil tersebut yang bisa melakukan apapun yang ia inginkan, Ungu menggunakan imajinasinya untuk menciptakan sebuah rumah pohon di atas sungai yang terletak di kawasan yang tak berpenghuni. Dengan kekuatan Datuk Sanja sebagai dewa, menciptakan sesuatu di tempat itu hanyalah semudah membalikkan telapak tangan. Itu sebabnya tahu-tahu sebuah rumah pohon telah berdiri dengan kokoh hanya dalam hitungan menit. Ungu menggunakan semua pengetahuan yang diperoleh untuk mendisain sebuah kamar pengantin yang membuat penghuninya merasa betah. Setelah itu, tanpa banyak bicara, Ungu melemparkan Rainy dan Arka ke atas tempat tidur di rumah pohon tersebut dan langsung balik kanan sambil menulikan telinganya. Tindakan Ungu ini jelas membuat Rainy dan Raka merasa terkejut. Namun begitu melihat bahwa saat itu hanya ada mereka berdua di rumah pohon tersebut, Raka dan Rainy melonjak girang!
'Akhirnya kami bisa melakukan apapun yang kami inginkan tanpa takut dan sungkan! begitu pikir Rainy, tak menyadari bahwa ketika mereka pikir mereka telah bersikap hati-hati dan penuh rasa sungkan selama menghabiskan malam pengantin mereka, ternyata sikap tersebut sama sekali tidak dianggap ada oleh Datuk, Ardi dan Ratna.
Setelah keduanya diusir secara halus dari rumah itu, ketenangan kembali ke rumah besar Datuk Sanja. Ardi dan Ratna menghabiskan waktu untuk membantu para leluhur memanen beras dan Datuk Sanja menghabiskan waktu dengan menatap awan yang bertebaran di langit sambil menghitung kapan saatnya ia bisa memisahkan Rainy dari suaminya agar mereka tidak terus-menerus bersama. Penantian itu terasa begitu panjang bagi Datuk Sanja.
Raka dan Rainy sedang duduk bersandar di atas bantal besar di ranjang, seusai makan malam. Malam itu adalah malam honeymoon terakhir bagi Raka dan Rainy. Keesokan harinya, Rainy harus mengikuti Datuk Sanja memasuki Menara kultivasi untuk mengisolasi diri dan berkultivasi selama 100 tahun. Membayangkan bahwa ia tidak akan diijinkan untuk bertemu suaminya selama 100 tahun membuat Rainy menitikkan air mata. Raka yang mendapati istrinya tiba-tiba menangis tanpa sebab, langsung menjadi panik.
"Kenapa kau menangis, Rain? Apakah ada bagian tubuhmu yang sakit?" Raka mengkhawatirkan bahwa aksinya serigala jahatnya terakhir kali telah mencederai Rainy. Mendengar kekhawatiran dalam suara Raka malah membuat air mata Rainy menjadi mengalir lebih deras. Rainy menyembunyikan wajahnya ke dalam pelukan Raka dan mendekap suaminya itu erat-erat. Menyadari bahwa Rainy bukan menangis karena mengalami cedera, Raka menarik napas panjang. Ia menarik Rainy untuk masuk ke dalam pelukannya dengan lebih nyaman dan membiarkan gadis itu meluapkan emosinya.
Walau Rainy tidak mengatakan apapun, Raka bisa memahami apa yang sedang berkecamuk dalam pikiran gadis itu. Bagi Raka perpisahan ini hanya akan berlangsung selama 100 hari. Namun bagi Rainy, setelah menikah selama 4 hari, mereka langsung dipaksa untuk berpisah selama 100 tahun. 100 tahun! Bagi orang biasa seperti dirinya, 100 tahun sama dengan seumur hidup. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya bila ia harus berpisah dengan Rainy selama 100 tahun. Ia pasti akan sangat menderita. Andai bisa, Raka tidak ingin Rainy harus mengalami penderitaan semenyakitkan itu.
Raka malah telah mencoba merayu Datuk Sanja untuk mengijinkannya ikut memasuki menara kultivasi. Bila misalnya tak mungkin baginya untuk berkultivasi bersama Rainy, setidaknya ia bisa berjaga di sekitar Rainy, menyiapkan makan untuknya dan melakukan apapun yang Rainy butuhkan saat berkultivasi. Namun Datuk Sanja menolak permintaan Raka dengan tegas dengan alasan bahwa keberadaan Raka di menara kultivasi hanya akan menyebabkan konsentrasi Rainy menjadi tidak sempurna karena saat berkultivasi, Rainy harus belajar untuk melepaskan diri dari emosi duniawi, termasuk di dalamnya emosi negatif dan emosi birahi yang dibawa oleh cinta. Datuk Sanja sangat tegas mengenai hal ini dan menutup pintu bagi Raka untuk membantah, karena itu Raka juga merasa tidak berdaya.
Raka membelai rambut Rainy dengan lembut dan berusaha sedapat mungkin untuk mengungkapkan rasa cintanya pada gadis itu dengan seluruh tubuhnya. Ia ingin moment ini dan moment-moment yang mereka lewati bersama selama 4 hari ini akan dapat menjadi penghiburan bagi Rainy saat hatinya sedang sangat merindukan suaminya.
Rainy menangis selama lebih dari 15 menit. Ketika akhirnya ia mengangkat kepalanya, matanya sembab, hidungnya memerah dan ekspresinya tampak sangat menggelikan sehingga membuat Raka tertawa pelan.
Kesal karena di tertawakan, Rainy menyipitkan matanya dan memberi Raka tatapan kesal. Namun mata yang bengkak, ketika disipitkan membuat mata Rainy nyaris menghilang sehingga memicu Raka untuk kembali tertawa.
"Kau terlihat seperti samurai Jepang yang matanya hanya segaris saja." goda Raka dengan geli.
Rainy mengerutkan wajahnya dan menjadi bertambah kesal. Ia mengulurkan sebelah tangannya dan menarik kaus putih yang sedang dikenakan Raka, lalu menggunakannya untuk menghapus air mata dan ingusnya dengan penuh dendam. Membuat Raka kembali tertawa.
"Oh, jadi gitu ya?" tanya Raka dengan sorot mata penuh ancaman.
Raka kemudian menarik lepas baju kausnya yang telah kotor tersebut dari tubuhnya. Melihat ini bola mata Rainy langsung membesar. Merasa terancam, Rainy langsung mencoba bergerak menjauh namun dengan gesit Raka yang telah bertelanjang dada, menangkap kedua bahu Rainy dan mendorong gadis itu hingga terlentang di atas ranjang.
"Mau lari kemana?" tanya Raka dalam suara berbisik yang serak. Tubuhnya menindih tubuh Rainy dan wajahnya berada begitu dekat dengan wajah gadis itu. Nafasnya yang hangat membelai telinga Rainy yang sensitif ketika Raka menempelkan sebuah kecupan basah pada kulit yang berada di belakang telinganya. Rainy memejamkan mata dan memerintahkan kepada seluruh inderanya yang lain untuk merekam semua rasa yang dihadirkan Raka pada tubuhnya saat ini. Hawa hangat nafas Raka yang menggelitiki telinganya, rasa hangat bibir Raka di atas kulitnya, suara serak Raka yang membelai pendengarannya; Rainy ingin agar seluruh tubuhnya merekam semua itu sehingga ketika ia merindukan Raka dalam masa 100 tahun itu, ia hanya perlu menutup mata dan memutar kembali rekamannya. Berharap bahwa semua rasa yang Raka bangkitkan malam ini akan kembali padanya dalam kualitas yang sama kuatnya.
"Rainy..." panggil Raka pelan. Rainy membuka matanya dan langsung bertatapan dengan mata indah Raka yang hitam pekat. Rainy bisa melihat refleksi wajahnya sendiri dalam bola mata Raka.
"Apapun yang terjadi kelak selama kau berada di menara kultivasi, hanya satu hal yang tak boleh kau lupakan." Raka mengulurkan tangannya dan mengusap sejumput rambut Rainy yang jatuh menutupi sebagian keningnya. "Bahwa aku akan selalu... dan tidak akan pernah berhenti menunggumu untuk kembali padaku. Jadi karena itu, tak perduli seberapapun beratnya latihanmu nanti, kau tidak boleh menyerah. Kau harus memaksa diri untuk terus bertahan sampai kau berhasil. Apa kau mengerti?"
Rainy mengangguk pelan. Raka tersenyum manis dan berbisik dengan suara serak.
"Aku akan selalu mencintaimu. Jangan pernah lupakan itu."