My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Pil Sebesar 3 Cm



Saat Rainy membuka mata, Rainy merasa bahwa ia belum tidur sama sekali. Seluruh tubuhnya terasa sangat lelah, namun pikirannya sangat jernih. Rainy bangkit dari bean bag chair dan langsung merasakan lengan kanan yang ditindihnya selama tidur, begitu kaku dan kesemutan, sebuah bukti bahwa ia telah tertidur dalam waktu yang cukup lama. Rainy memutar-mutar lengannya, mencoba mempercepat aliran darah di daerah tersebut. Ia berharap agar rasa tak nyaman seperti digigit ribuan semut merah itu bisa segera berlalu. Salahnya juga, bukannya tidur di atas tanah gurun yang datar dengan beralaskan tikar dan matras, ia malah memilih untuk meringkuk di atas bean bag chair yang memiliki ruangan yang terbatas. Sama sekali tidak mengherankan bila ia sekarang menderita kesemutan yang hebat.


Rainy menoleh ke sekelilingnya dan menemukan Datuk Sanja sedang duduk di atas sebuah bale-bale yang pasti muncul dari dalam alat penyimpanan pribadinya, sambil menikmati secangkir minuman. Rainy bisa mencium wangi kopi menguar di udara. Mengikuti teladan Datuk, Rainy mengambil secangkir Moccachino panas dari dalam tas kosmos untuk dirinya sendiri, tak lupa juga mengeluarkan sebuah kotak snack dari Eclair. Dengan cangkir kopi di tangan kiri dan kotak eclair di tangan kanan, Rainy bangkit dari bean bag chair dan berjalan menuju ke arah Datuk Sanja. Ketika ia mendekat, Datuk Sanja menoleh ke arahnya dan tersenyum.


"Ah, kau sudah bangun." ucapnya. "Bagaimana perasaanmu?"


Tanpa suara, Rainy mengambil tempat duduk di atas bale-bale, tepat di sebelah Datuk Sanja. Ia lalu meletakkan cangkir kopinya di atas bale-bale, kemudian setelah itu, Rainy membuka kotak Eclair dan meletakkannya di antara dirinya dan Datuk Sanja, menawarkannya tanpa suara.


"Pikiran saya lebih jernih tapi tubuh saya sangat pegal." beritahu Rainy datar, tanpa nada mengeluh. Mendengar ini, Datuk Sanja mengangguk. Beliau mengulurkan tangan dan mengambil sepotong Eclair tiramisu dari dalam kotak Eclair, membawanya ke dalam mulutnya dan menggigitnya dalam potongan besar dengan nikmat. Lagi-lagi mengikuti teladan Datuk, Rainy mengulurkan tangan ke dalam kotak Eclair dan mengeluarkan sepotong sus buah.


"Aku adalah penggemar makanan asin dan gurih, tapi terkadang adalah ide bagus untuk makan sepotong kue manis ketika kau merasa down." ucap Datuk Sanja dengan ekspresi puas. "Harus aku akui bahwa chef Eclair sungguh sangat ahli." puji Datuk Sanja dengan tulus.


Rainy mengangguk pelan tanpa sikap antusias atas pujian yang diterima Eclair. Ia mengigit sus buahnya dalam gigitan kecil, namun ketika mengunyahnya, Rainy tidak bisa merasakan apapun di mulutnya kecuali kehambaran. Namun Rainy bahkan tidak menyadarinya. Ia terus makan sus buahnya tanpa sungguh-sungguh menikmatinya. Ia makan karena perlu dan bukan karena ingin. Itu sebabnya ketika ia hanya bisa merasakan rasa pahit saat menyesap Moccachinonya, Rainy tidak bergeming. Melihatnya begini membuat Datuk Sanja menarik nafas panjang dengan maklum. Datuk Sanja pun pernah berada di posisi Rainy sehingga ia sangat memahami keadaan gadis itu saat ini.


"Wajar kalau kau bangun dalam keadaan tubuh kaku dan kesemutan." ucap Datuk Sanja kemudian. "Kau tidur tanpa bergerak selama 16 jam. Aku mencoba membangunkanmu beberapa kali, namun kau sama sekali tidak bergeming."


Kali ini, Rainy terperangah. Tangannya yang hendak menghantarkan cangkir kopi ke bibirnya, langsung terhenti di tengah jalan. 16 jam? Dirinya tidur selama itu? Tapi mengapa Rainy merasa bahwa ia belum tidur sama sekali? Melihat ekspresi terkejut di wajah Rainy, Datuk Sanja tersenyum.


"Kau kelelahan secara mental jadi wajar bila tubuhmu memutuskan untuk tidur lebih panjang guna memulihkan diri." komentar Datuk Sanja.


"Tapi mengapa saya merasa bahwa saya belum tidur sama sekali? Tubuh saya masih terasa sangat lelah." keluh Rainy.


"Kau baru saja mengalami stress yang sangat besar, jadi wajar saja kalau diperlukannya waktu yang panjang untuk tubuhmu memulihkan diri." sahut Datuk Sanja.


"Kalau begitu, apa saya harus tidur kembali?" tanya Rainy dengan skeptis.


"Apakah kau selemah itu?" tanya Datuk Sanja dengan kesal.


"Emm!" Rainy mengangguk kuat dan mencebikkan bibirnya. Matanya terlihat penuh kemurungan, namun ekspresinya sangat menggemaskan. Membuat Datuk Sanja otomatis mendengus geli.


Gadis kecil ini, bahkan di saat down begini, ia masih bisa mengeluarkan kalimat-kalimat yang membuat Datuk Sanja ingin memukul kepalanya dan menjewer telinganya. Begitu renung Datuk Sanja, tiba-tiba merasa sangat merindukan cucu perempuan kecilnya yang jahil dan nakal. Rainy kecil juga acap kali bertingkah sama seperti Rainy sekarang. Sepertinya, walaupun tidak memiliki ingatan mengenai kehidupan sebelumnya, sifat dasarnya tidak berubah dan hal ini membuat Datuk Sanja merasa semakin nyaman bersama Rainy karena ia bisa melihat kemiripan Rainy dengan cucu kesayangannya. Meskipun merasa senang, Datuk Sanja memasang ekspresi kesal di wajahnya.


"Apa kau mau aku menambah masa latihanmu menjadi 110 tahun?" tanya Datuk Sanja, membuat Rainy membuka matanya lebar-lebar karena terkejut.


"No!!!" protesnya keras.


"Kalau begitu jangan coba bermalas-malasan ya!" sahut Datuk Sanja tegas.


"Tapi saya sangat lelah!" protes Rainy dengan suara manja. Membuat Datuk Sanja harus menahan diri untuk tidak tersenyum. Gadis kecil ini biasanya memasang wajah dingin di depan semua orang, namun sangat manja pada keluarganya. Sikap Rainy yang seperti sekarang terhadap dirinya, membuat Datuk Sanja memahami bahwa Rainy telah menerima dirinya sebagai keluarganya yang sesungguhnya. Datuk Sanja kemudian mengeluarkan sebuah kotak mungil berwarna hijau muda yang tahu-tahu telah berada di atas telapak tangannya.


"Kalau begitu, komsumsilah ini." suruhnya.


Rainy memandang kotak mungil di atas telapak tangan Datuk Sanja. Melihat warna dan bentuknya membuat Rainy tertarik. Apakah ini sejenis dengan botol giok legendaris yang selalu digunakan para kultivator untuk menyimpan obat-obatan spesial mereka seperti yang diceritakan di film-film? Rainy meraih kotak tersebut dan mengamatinya dengan seksama. Ia memutar-mutar kotak tersebut untuk memeriksa seluruh permukaannya. Datuk Sanja membiarkannya, namun dalam hati merasa geli. Itu hanya sebuah kotak obat, apa sangat perlu untuk memeriksanya dengan begitu serius?


"Apa sebegitu menariknya?" tanya Datuk Sanja.


"Apakah ini giok?" tanya Rainy.


"Benar." Datuk Sanja mengangguk.


"Datuk, mengapa kultivator menggunakan batu giok sebagai tempat penyimpanan obat-obatan?" tanya Rainy lagi.


"Apabila digunakan sebagai tempat penyimpanan, giok memiliki kemampuan untuk mempertahankan kualitas dan khasiat obat yang ada di dalamnya. Bahkan walaupun 10.000 tahun telah berlalu, khasiat obat yang tersimpan dalam batu giok masih akan sama persis seperti saat ia baru pertama kali dibuat." jawab Datuk Sanja.


"Apakah obat-obatan kultivator tidak memiliki tanggal kadaluarsa?" tanya Rainy kemudian.


"Tentu saja ada. Setelah 10.000 tahun tersimpan dalam kotak giok, efikasi obat akan berkurang 1% setiap 10 tahun." ucap Datuk Sanja.


1% setiap 10 tahun. Itu berarti 100% kerusakan pada efikasi obat baru akan tercapai setelah 1000 tahun. Jadi masa kadaluarsa obat para kultivator adalah 11.000 ribu tahun. Sungguh angka yang tak masuk akal!


Melihat ekspresi tak percaya di wajah Rainy, Datuk Sanja tersenyum geli.


"Kau harus berhenti menggunakan perhitungan manusia fanamu saat menilai produk ciptaan kultivator, karena keduanya sama sekali tidak bisa dibandingkan." beritahu Datuk Sanja.


"Emm." Rainy mengangguk pelan.


Kotak Giok tersebut terdiri dari 2 bagian yang disatukan oleh sesuatu yang mirip karet sehingga menempel rapat satu sama lain untuk menjaga agar kotak tersebut kedap udara. Rainy lalu menarik bagian atas kotak tersebut hingga terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah pil sebesar kelerengnya berukuran 3 cm, berwarna hitam pekat yang tidak ada bedanya dengan pil obat cina, namun lebih besar. Mengapa begitu besar? Bagaimana cara menelannya? Pikir Rainy bertanya-tanya.


"Itu bukan untuk ditelan." beritahu Datuk Sanja yang langsung bisa menebak apa yang sedang Rainy pikirkan.


"Bukan untuk ditelan? Lalu bagaimana cara mengkonsumsinya?" tanya Rainy dengan heran.


"Kultivator akan meletakkannya di bawah lidah, dan kemudian bermeditasi. Obat tersebut akan diserap secara perlahan-lahan sambil dialirkan ke bagian tubuh yang membutuhkan dengan menggunakan qi sebagai pendorongnya. Tapi kau belum bisa melakukan itu. Jadi kau harus menggunakan cara lain." beritahu Datuk Sanja.


"Bagaimana caranya, Datuk?" tanya Rainy lagi.


"Kau bisa mengunyahnya secara perlahan, atau kau bisa melarutkan dalam air hangat dan meminumnya." sahut Datuk Sanja.


"Pahit nggak?" tanya Rainy dengan ekspresi curiga.


"Nggaaaak. Enak! Manis banget." Sahut Datuk sambil memasang wajah tanpa ekspresi.


"Pembohong." cela Rainy tak percaya. Menurut Rainy, wajah tanpa ekspresi Datuk justru menjelaskan semuanya. "Apa manfaat obat ini?" tanya Rainy lagi.


"Banyak. Tapi terutama, itu akan membuatmu menjadi sangat pemberani selama beberapa saat." jawab Datuk Sanja, membuat mulut Rainy terbuka lebar.


Ia pernah mendengar tentang jamu anti ansietas yang umum digunakan oleh orang cina dan korea ketika mereka merasa butuh mengatasi perasaan gugup yang berlebihan saat hendak melakukan sesuatu. Apakah ini sesuatu yang menyerupai itu? Atau Datuk Sanja memberinya obat dengan kandungan yang bisa dikategorikan sebagai obat terlarang? Sungguh mencurigakan. Tapi bila mengingat bahwa ia masih belum menyelesaikan aktivasi cakra tanahnya yang berarti ia masih akan kembali dipaksa berhadapan dengan rasa takutnya, Rainy tahu bahwa tambahan keberanian adalah sesuatu yang sangat diperlukannya saat ini. Karena itulah, tanpa pikir panjang, Rainy mengeluarkan obat tersebut dari tempatnya dan tanpa ragu melemparkannya ke dalam mulutnya, membuat Datuk Sanja memekik pelan.


"Hei, tunggu sebentar!"


Namun terlambat, benda bulat berdiameter 3 cm tersebut telah tersimpan dengan aman dalam mulut Rainy. Begitu obat tersebut menyentuh lidahnya, rasa pahit yang luar biasa langsung meledak dalam mulut Rainy, membuatnya refleks muntahnya langsung bereaksi. Namun Rainy menahannya sekuat tenaga.


"Mengapa kau tidak sabaran sekali sih?" keluh Datuk Sanja. "Langsung meditasi sekarang juga! Kunyah perlahan dan telan sedikit demi sedikit! Jangan berani-beraninya kau muntahkan!" instruksi Datuk Sanja dengan tegas.


Dengan patuh Rainy langsung duduk bersila dengan sebelah kaki di atas kaki yang lainnya. Ia kemudian menegakkan punggungnya, meletakkan kedua tangan di atas paha dengan telapak tangan yang terbuka ke atas dan memejamkan matanya. Obatnya terasa sangat pahit, namun kepahitan dalam hati Rainy jauh lebih besar sehingga rasa di lidahnya hanya mengganggunya selama 10 detik saja. Pelan-pelan Rainy mengunyah obat tersebut sambil menggiring kesadarannya untuk larut ke dalam meditasi. Tak lama kemudian rasa hangat menyebar dari lambungnya menuju ke seluruh tubuh. Rasa hangat tersebut lalu diikuti oleh rasa nyaman yang membuat seluruh otot tubuhnya yang kaku dan pegal menjadi kendur dan nyaman. 'Sudah jelas!' Pikir Rainy. 'Obat pemberian Datuk Sanja bisa dipastikan memiliki efek anti-depressant!'


Tiba-tiba Rainy mendengar suara Datuk Sanja memberikan instruksi.


"Rainy, fokuskan perhatianmu pada cakra tanahmu. Niatkan untuk membuka sumbatannya. Kali ini, kau harus menghadapinya dengan berani. Ingatlah, apapun yang terjadi, jangan biarkan emosimu lepas kendali. Lepaskan dan relakan. Pasrahkan dirimu sepenuhnya kepada Allah dan kuatkan keyakinanmu bahwa apapun yang terjadi, semuanya akan baik-baik saja."


Semuanya akan baik-baik saja. Rainy sangat berharap bahwa ia bisa berpikir seoptimis itu bila berada di hadapan ilusi yang menyakitkan seperti kemarin lagi. Ia sungguh sangat tidak percaya diri. Namun sekarang sudah terlambat untuk membatalkan meditasi ini. Siapa suruh ia menelan obat pemberian Datuk tanpa bertanya terlebih dahulu apa yang harus ia lakukan setelahnya. Rupanya obat tersebut diberikan Datuk Sanja sebagai suplemen untuk mengaktifkan cakra tanah. Sekarang karena Rainy sudah menelannya, mau tidak mau, Rainy harus langsung berhadapan dengan ujian untuk membuka cakra tanah tersebut. Dan benar saja! Tak sampai 5 tarikan nafas, Rainy telah berdiri kembali di atas rakit tau, yang mengapung di atas sungai, yang terbuat dari api membara.


"Rainy sayang, selamat datang kembali di neraka." sambut Lilian dengan suara manis. Membuat Rainy menggertakkan gigi-geliginya dengan muram.