My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Biro Konsultasi Paranormal



Hmm… Cousin, kau sudah dewasa! Sudah bisa tertarik pada seorang gadis. Tadinya aku malah berpikir bahwa kau agak autistik sehingga aku jadi mengkhawatirkan masa depanmu. Tapi ternyata kekhawatiranku sama sekali tidak beralasan! Pikir Rainy. Rainy memandangi Lara dengan tertarik. Gadis itu bukan hanya cantik. Ia anggun, lembut dan sangat feminin. Kepribadiannya tenang, bijak dan penuh kehati-hatian. Ia juga seorang clairvoyant, sebuah kemampuan yang langka dan sangat bermanfaat bagi Divisi VII. Tidak sia-sia Rainy menyukai Lara. Gadis itu terbukti memiliki selera yang bagus dalam hal pria. Arka memang dingin dan berwajah datar. Ia juga memiliki kecenderungan psikopat yang membuat ia cukup berbahaya di mata banyak orang. Namun jauh di dalam dirinya, Arka adalah seorang pria yang murni dan sangat setia. Apabila hidup tidak memberinya bencana, ia adalah spesimen pria yang luar biasa. Tsundere sih, tapi bukankah banyak wanita yang tergila-gila pada tipe seperti ini? Dan bila ia mencintaimu, bila ada yang berani mengganggumu, ia akan membalaskan dendammu berkali-kali lipat! Rainy sangat menyukai Arka yang seperti itu. Sekarang menyadari bahwa Lara menyukai Arka, rasa suka Rainy pada Lara menjadi berlipat ganda.


Berpikir begini membuat Rainy tanpa sadar tersenyum tipis Lara, membuat wanita itu untuk sesaat terpana. Dia sudah melihat dan mengakui kecantikan Rainy. Ia juga sudah melihat senyum Rainy dalam foto-foto pertunangannya yang beredar luas di website Jaya Enterprise. Namun melihat Rainy tersenyum secara langsung padanya, membuat hati Lara terpesona. Begitu cantik dan begitu menggemaskan! Sungguh membuat Lara merasa bangga. Di atas ranjang, Arka yang sempat menangkap senyum Rainy, mengerutkan keningnya. Mengapa Rainy tersenyum pada Lara? Jangan salah paham, Cousin, aku tidak tertarik padanya!


Rainy mendekati Raka dan bertanya,


“Bagaimana lukamu?”


“Baik-baik saja.” Jawab Arka datar. “Aku ingin kembali ke paviliun.” Ucapnya kemudian.


“Kita sudah tidak tinggal di paviliun lagi. Barang-barang kita sudah dipindahkan ke suite di sebelah kantor. Jadi disanalah sekarang kita akan tinggal.” Beritahu Rainy.


“Aku ingin kembali ke suite.” Ucap Arka lagi, meralat permintaannya sebelumnya.


“Tidak.” Batari muncul dari balik pintu dan menolak dengan tegas. “Kak Arka sudah berjanji, maka Kak Arka harus menepati janji tersebut. Luka kak Arka butuh penanganan serius setiap harinya dan menuntut kak Arka untuk tidak menyembarangkannya agar bisa sembuh dengan sempurna.” Beritahu Batari dengan tegas.


“Berapa lama?” Tanya Arka dengan suara dingin. Berapa lama? Ah, apakah maksudmu, berapa lama waktu yang diperlukan sampai kau bisa keluar dari sini?


“5 sampai 10 hari. Luka bakar yang kak Arka alami berada di grade 2. Tidak terlalu serius, namun karena cukup luas, memerlukan perawatan yang lebih dibandingkan luka bakar grade 1. Bila kak Arka berjanji untuk mengurus diri dengan baik, saya akan melepaskan kak Arka dalam 4 hari.” Jawab Batari.


“Terlalu lama. 1 hari.” Tawar Arka, masih dengan nada datar.


“6 hari.” Sahut Batari cepat.


“Mengapa malah bertambah?” Arka bertanya kaget.


“Kalau kak Arka mencoba untuk terus mendebat saya, Waktu tinggal Kak Arka akan terus saya tambah.” Beritahu Batari dengan manis. Mendengar ini Arka menatap Batari dengan tajam dan berkata dingin,


Batari menatap pria yang berwajah luar biasa tampan di hadapannya itu dengan perasaan kalah.


“3 hari.” Ucap Batari akhirnya.


“Deal!” Sahut Arka puas.


Rainy menonton perdebatan keduanya dengan tertarik, sementara Raka menggeleng-gelengkan kepalanya, bertanya-tanya apakah meletakkan Arka yang antisosial di sisi Rainy adalah ide yang bagus. Jangan sampai Rainy belajar caranya menjadi antisosial seperti Arka. Muka datarnya sudah cukup buruk, lidah tajamnya juga sudah cukup menggigit. Tolong Tuhan, jangan ditambah lagi! Pinta Raka dalam hati.


Rainy memandang Batari dan bertanya,


“Dimana paman Jack?” Baru saja ia berhenti berbicara, seseorang membuka pintu ke ruang perawatan dan wajah Paman Jack muncul di sela-sela pintu.


“Aku disini.” Seloroh Mr. Jack, membuat senyum langsung terkembang di wajah Batari.


“Emm. Paman, masuklah. Ada yang harus kita bicarakan.” Ucap Rainy. Dengan patuh Mr. Jack memasuki ruangan. Ruang perawatan itu cukup luas. Di dalamnya terdapat 3 buah tempat tidur dan satu set sofa yang disiapkan untuk penunggu pasien. Poliklinik itu tidak direncanakan untuk menerima pasien inap, namun menurut Rainy perlu untuk memastikan bahwa mereka memiliki tempat untuk pasien dirawat dengan nyaman setidaknya 1 malam, karena apapun mungkin saja terjadi padahal mereka berada di tempat yang jauh dari rumah sakit. Itulah sebabnya, walaupun saat ini terdapat 6 orang di dalam ruangan itu, tidak membuat ruangan menjadi terasa penuh sesak. Rainy mengajak Mr. Jack dan Batari untuk duduk di sofa. Ia juga memanggil Lara untuk duduk bersamanya, sementara Raka mengambil tempat di sebelah kirinya. Arka yang malang hanya bisa memandang dari ranjangnya, namun itu tidak tampak mengganggunya. Ia sudah terbiasa berada di latar belakang jadi keadaan saat itu sama sekali tidak banyak bedanya.


Setelah mereka semua duduk, Rainy memandang ke arah Raka dan tanpa suara, menyuruh Raka mengambil alih percakapan. Memahami bahwa tunangannya itu sudah lelah berbicara, Raka memulai pembicaraan.


“Kak Tari, kita perlu membicarakan mengenai Ibu Kandung kak Tari.”  Ucap Raka.


Kata-kata Raka ini membuat Batari mengangkat wajahnya dan memandang Raka dengan ekspresi enggan. Setelah kejadian semalam, Batari masih belum memikirkan soal Ibu Kandungnya. Tepatnya, ia takut untuk memikirkannya. Fakta yang terpampang di depan matanya begitu menakutkan sehingga membuat Batari tak tahu bagaimana harus menghadapinya. Ia ingin lari! Ia ingin menyangkal. Ia tidak ingin tahu. Sungguh tidak ingin tahu! Melihat perubahan wajah Batari, Mr. Jack mengulurkan tangan dan mengambil sebelah tangan Batari dan membawa tangannya yang mungil masuk ke dalam genggaman tangan Mr. Jack yang besar. Saat Batari menoleh padanya, Mr. Jack memberikan senyumnya dan menganggukkan kepalanya. Batari sangat mengenal Mr. Jack sehingga ia langsung memahami apa yang ingin disampaikan oleh pria itu.  Mr. Jack berusaha memberitahu Batari bahwa ia ada disini untuk mendukungnya, sehingga Batari tak perlu merasa takut dan ragu. Batari mengerutkan bibirnya dengan gundah. Ia tahu bahwa apapun yang terjadi, Mr. Jack akan selalu berada di sampingnya. Tapi jujur saja, jaminan dukungan dari pria itu tetap tidak mampu mengurangi ketakutannya.


“Kak Tari, jangan khawatir. Divisi VII adalah sebuah biro Konsultasi Paranormal. Kami; aku, Rainy, Lara dan bahkan Arka,” Raka menoleh ke arah Arka. “juga mayoritas pegawai Divisi VII adalah orang-orang yang bekerja untuk membantu mereka yang menghadapi masalah sejenis yang kak Tari alami. Dan kami sangat ahli dalam hal ini.” Beritahu Raka.


Mendengar ini, bukan hanya Batari, bahkan Mr. Jack terpana. Tunggu dulu, apa? Aku memang dengar bahwa perusahaan kalian bernama Divisi VII. Tapi aku berpikir kalian mendirikan sebuah perusahaan yang menyediakan pelayanan keamanan. Tapi Biro Konsultasi Paranormal? Kalian bercanda kan?