My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Memajukan Tanggal Pernikahan



Mendengar suara Lara dari ruang tamu, Rainy merapikan pakaiannya dan keluar dari kamar. Di luar, ia menemukan Raka sedang berdiri di depan pintu, berhadap-hadapan dengan Guru Gilang dan Lara. Rainy langsung berjalan mendekat. Melihat Rainy mendekat, Lara tersenyum dan melambaikan sebelah tangannya.


“Boss!” Sapa Lara.


“Guru Gilang, Lara?” Tanya Rainy. Melihat Raka yang berdiri di depan pintu dan menutupi jalan masuk dengan kening berkerut, Rainy langsung mengulurkan tangan dan menarik Raka ke samping agar tidak menghalangi Guru Gilang dan Lara untuk masuk. “Masuklah.” Ajak Rainy. Ia lalu mengajak keduanya memasuki suite dan membimbing mereka menuju sofa. Setelah menarik nafas panjang, Raka secara otomatis mengekor di belakang mereka. Melihat ekspresi Raka, bibir Guru Gilang membentuk senyum tipis.


“Duduklah, Guru, Lara.” Rainy mempersilahkan. Guru Gilang dan Lara duduk di sofa di hadapan Rainy, sedangkan Raka memilih duduk di samping Rainy. “Guru, ada apa ya?” Tanya Rainy pada Guru Gilang.


“Rainy, Raka, Maaf mengganggu waktu istirahat kalian, tapi Guru ingin memberikan sedikit pemikiran. Apakah kira-kira kalian mau mendengarkan?” Tanya Guru Gilang, sambil menatap keduanya, masih dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.


“Katakanlah, Guru. Kami akan mendengarkan.” Ucap Raka dengan nada datar.


“Baiklah.” Guru Gilang menganggukkan kepalanya. “Raka, kau pasti menyadari bahwa gadis berwajah tanpa ekspresi ini sangat disukai oleh masalah.” Ucap Guru Gilang sambil menunjuk ke arah Rainy dengan dagunya.” Rainy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia sungguh tidak tahu bagaimana harus merespon tuduhan Guru Gilang. Disukai masalah? Kadang memang terasa seperti itu sih.


“Saya menyadari itu, Guru.” Sahut Raka sambil mengangguk.


“Emm. Itu ada hubungannya dengan darah hangat yang dimilikinya, yang beraroma sangat manis bagi mahluk tak kasat mata. Untungnya karena Hellfire dalam tubuhnya, walau mereka menyukai wangi Rainy, tidak ada yang berani menyerangnya. Sementara itu, iblis-iblis dengan level tinggi harus menaruh hormat terhadap Lilith sehingga tidak berani mendekat, apalagi berusaha menguasainya. Tapi tetap saja, kadang-kadang mereka tidak bisa menahan diri dan mencoba mendekat baik secara langsung, maupun dengan mengirimkan budak mereka untuk mencari celah yang mungkin ada guna menguasai Rainy.” Ucap Guru Gilang lagi. Raka dan Rainy saling berpandangan.


“Guru, apakah Guru tahu mengenai Lilith?” Tanya Rainy dengan ekspresi tak yakin. Apakah Guru Gilang mengetahui perjanjian terkutuk yang mengikat keluarganya dengan Lilith atau Guru hanya sekedar tahu mengenai seorang iblis bernama Lilith saja?


“Em. Waktu Papamu merekrutku, ia sudah menceritakan semuanya padaku.” Sahut Guru Gilang dengan suara tenang.


“Papaku? Jadi bukan nenek yang menempatkan Guru Gilang di Divisi VII, tapi Papa?” Tanya Rainy lagi. Guru Gilang mengangguk.


“Aku tahu semuanya tentang kau. Aku juga tahu alasan mengapa engkau terus mencari cara memperkuat diri dan aku sangat mendukung cita-citamu itu.” Cita-cita? Apakah Guru Gilang sedang berbicara mengenai keinginannya untuk melepaskan diri dari cengkeraman Lilith?


“Aku tahu semuanya. Kau tidak perlu memaparkannya disini. Lebih baik tidak mengungkapkan beberapa hal secara terang-terangan atau masalah akan datang semakin sering kepadamu.” Ucap Guru Gilang ketika melihat Rainy hendak membuka mulut untuk bertanya. “Raka, sebaiknya Rainy tidak dibiarkan untuk tidur sendirian.” Ucap Guru Gilang lagi. Mendengar ini Raka mengangguk.


“Tapi kalian belum menikah. Sebaiknya kalian tidak tidur di kamar yang sama.” Sambung Guru Gilang, membuat bibir Rainy berkedut. Guru, apakah kau menebak atau kau memang mengetahuinya dengan menggunakan indra keenammu. Pikir Rainy.


“Aku tidak memerlukan indra keenam hanya untuk mengetahui hal ini. Hanya dengan memahami karakter Raka, tindakan yang akan ia ambil untuk mengatasi masalah ini cukup mudah diprediksi.” Ucapan Guru Gilang ini sontak membuat mata Rainy terbuka lebar.


“Guru, apakah Guru bisa membaca pikiran?” Tanya Rainy dengan penuh rasa ingin tahu, membuat Guru Gilang tersenyum geli. Ekspresi rasa ingin tahu di wajah Rainy yang biasanya selalu datar tanpa emosi, membuat wajah tersebut terlihat lebih hidup.


“Aku hanya perlu melihat pada tingkah laku dan ekspresi wajah yang kau tampilan untuk bisa membaca pikiranmu. Sama sekali tidak sulit.” Beritahu Guru Gilang.


“Maukah Guru mengajari saya?” Pinta Rainy. Lagi-lagi ini membuat Guru Gilang tertawa.


“Kamu harus belajar untuk menghilangkan ekspresi datar di wajahmu itu terlebih dahulu sebelum kau bisa mempelajari caranya membaca pikiran lewat bahasa tubuh.” Ucap Guru Gilang setengah mengejek. Rainy mengatupkan bibirnya sehingga tinggal segaris sebelum berkata,


“It will take forever.” Membuat Guru Gilang dan Lara tertawa, sementara Raka tersenyum.


“Raka,” Lanjut Guru Gilang lagi. “Maukah kau mempertimbang untuk mempercepat pernikahan kalian?” Rainy dan Raka saling berpandangan.


“Guru, waktu pernikahan kami sudah ditetapkan oleh orangtua. Apabila terserah pada saya, saya sudah menikah sekarang.” Ucap Raka.


“Bagaimana denganmu, gadis kecil?” Tanya Guru Gilang pada Rainy, yang membuat kening Rainy berkerut. Apakah 23 tahun masih layak dipanggil gadis kecil, Guru? Dan sadarkah engkau bahwa engkau sedang menyuruh seorang gadis kecil menikah, Guru? “Ya ya! Apabila ditinjau daru usiaku tentu saja kau seorang gadis kecil. Gadis kecil yang sudah pantas untuk menikah!” Lanjut Guru Gilang, membuat Rainy membuka mulutnya dengan kaget.


“Guru, kau betul-betul bisa membaca pikiran saya!” Ucap Rainy penuh kekaguman. Mengabaikan kata-kata Rainy, Guru Gilang bertanya lagi.


“Saya tidak keberatan, Guru. Tapi orangtua kami pasti memiliki pandangannya sendiri.” Sahut Rainy. Karena masalah beberapa waktu ini membuat Raka tak pernah merasa tenang sehingga memaksa untuk mereka tidur di kamar yang sama setiap malam, membuat baik Raka maupun Rainy berpikir untuk meminta orangtua mereka memajukan waktu pernikahan tersebut. Namun mereka belum menemukan kesempatan untuk melakukannya.


“Selama kalian bersedia, itu tidak akan jadi masalah. Aku yang akan bicara pada ayahmu.” Ucap Guru Gilang. Rainy dan Raka kembali saling berpandangan. Membicarakannya pada Papa?


“Guru, tidak perlu sampai begitu. Saya akan membicarakannya pada keluarga kami begitu kami punya kesempatan.” Ucap Raka. Guru Gilang mengangguk.


“Pernikahan itu hal yang baik. Jadi sebaiknya jangan ditunda. Lagipula pernikahan akan memberikan lebih banyak keuntungan kepada kalian dari pada hanya sebuah hubungan percintaan.” Beritahu Guru Gilang.


“Keuntungan? Keuntungan bagaimana ya, Guru?” Tanya Raka lagi.


“Apakah kalian pernah mendengar tentang kultivasi ganda?” Tanya Guru Gilang. Rainy dan Raka menggelengkan kepalanya. Guru Gilang mengusap dagunya yang tak berjenggot sambil mengerutkan kening.


“Em, wajar kalau kalian belum pernah mendengarnya. Kultivasi ganda adalah latihan spiritual yang dilakukan secara berpasangan untuk meningkatkan kemampuan spiritual seseorang. Itu akan sangat berguna bagi kalian.” Beritahu Guru Gilang.  Teknik untuk meningkatkan kemampuan spiritual secara berpasangan? Entah mengapa kalimat tersebut memunculkan ingatan Rainy tentang ciuman Raka, membuat wajah gadis itu memerah. Melihat ini membuat Guru Gilang tertawa.


“Benar, gadis kecil. Kegiatan pasangan di malam hari tidak hanya bertujuan untuk menghibur. Selalu ada keuntungan spiritual yang bisa diperoleh dari pertemuan antara pria dan wanita. Tapi hanya bila dilakukan dengan cara khusus.” Goda Guru Gilang, membuat wajah Rainy terasa bagai terbakar.


“Jangan mengintip ke dalam pikiran saya, Guru! Itu curang!” Protes Rainy keras. Namun Guru Gilang hanya tertawa dengan berderai-derai, sementara di sebelah mereka, Raka dan Lara tersenyum. Kau terlihat seperti sebuah buku terbuka, Rain! Bahkan akupun bisa membaca pikiranmu. Pikir Raka dalam hati, tak urung merasa senang karena ternyata kemesraan mereka selalu membekas dalam ingatan Rainy.


“Baiklah! Aku tidak akan menggodamu lagi. Aku dan Lara akan tidur disini menemani kalian selama Arka masih di poliklinik.” Beritahu Guru Gilang. Rainy menaikkan kedua alisnya sedangkan Raka kembali mengerutkan keningnya. Guru Gilang memandang keduanya dengan senyum geli mengembang di bibirnya.


“Ah? Guru akan tidur disini? Tapi kami cuma punya 1 kamar ekstra lagi saja, Guru. Yaitu kamar Arka.” Beritahu Rainy.


“Emm. Aku akan tidur disana.” Sahut Guru Gilang, sambil mengangguk.


“Lalu bagaimana dengan Lara?” Tanya Rainy.


“Lara tentu saja akan tidur denganmu.” Sahut Guru Gilang lagi.


“Eh?”


“Boss, saya datang menawarkan diri untuk menemani Boss tidur malam  ini, sampai saat Boss tidak perlu ditemani lagi, atau sampai Boss dan Pak Arka menikah.”  Ucap Lara. Itu adalah pemberitahuan dan bukannya permintaan ijin. Raka menyipitkan matanya dan memberikan tatapan dingin pada Lara. Darimana pegawai yang satu ini memiliki keberanian untuk mencoba berebut tempat tidur dengannya?


“Itu sama sekali tidak perlu.” Tolak Raka dingin.


“Tentu saja perlu! Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Boss, ketika semua orang sedang tidur? Kalau ada yang menemaninya tidur kan jadi lebih mudah.” Ucap Lara berargumentasi.


“Kau tidak perlu khawatir. Rainy tidak sendirian. Dia punya aku. Aku yang akan menemaninya.” ucap Raka dengan nada dan ekspresi datar. Mendengar ini, kening Lara berkerut. Sementara Rainy nyaris tersedak. WTF, Bro! Aku tahu kita memang tidur di atas ranjang yang sama. Tapi tak perlu sampai mengatakannya pada orang lain juga!


“Menemani Boss tidur?” Tanya Lara dengan mata terbelalak dan suara meninggi. “Tidak boleh begitu! Pak Arka dan Boss kan belum menikah, kalian seharusnya tidak boleh tidur di kamar yang sama. Terlalu berbahaya!” Protes Lara. “Lebih baik bila saya yang melakukannya!” Raka dan Rainy menatap Lara dengan seksama, masing-masing dengan sebab yang berbeda. Raka karena ia merasa kesal pada Lara yang yang mencoba merebut tempat tidurnya beberapa malam ini, dan Rainy karena ada gadis yang ingin berbagi ranjang dengannya. Rainy pikir ia terlihat cukup dingin dan mengintimidasi. Apabila yang menawarkan diri adalah Natasha, Rainy masih bisa memahaminya. Natasha sudah cukup mengenalnya dengan baik sehingga gadis itu mungkin sudah terbiasa dengan ekspresinya yang beku. Namun gadis-gadis dari tim Baladewa baru mengenalnya dan jarang berkomunikasi dengannya secara langsung. Walaupun ia memiliki perasaan yang positif mengenai Lara, namun Rainy tidak pernah menunjukannya. Lalu apa yang membuat Lara bersedia untuk menawarkan diri?


“Kebiasaan tidurnya sangat buruk. Dia suka menendang dalam tidur dan daripada guling, dia lebih suka memeluk manusia. Di tengah malam, kau bisa terbangun karena ia memanjati tubuhmu dan mencoba tidur di atas wajahmu. Apakah itu tidak apa-apa?” beritahu Raka. Mendengar ini Rainy meletakkan tangannya di dahi karena malu. Apakah itu yang dirinya lakukan beberapa malam ini?


“Tidak keberatan!” sahut Lara sambil tersenyum.


“Kalau begitu kita bisa meminta extra bed dari room service untuk Lara, agar Lara bisa tidur dengan nyaman!.” Ucap Rainy segera, menghentikan Raka yang sudah siap membantah Lara. Mendengar itu Raka langsung menoleh dan memelototi Rainy. Rainy mengabaikannya dan berkata kembali, “Lara, aku sangat berterimakasih kalau kau bersedia menemaniku tidur.” Kata-katanya ini langsung disambut oleh senyum lebar Lara, sementara Raka mengatupkan giginya dan menarik nafas panjang sambil menutup matanya sesaat. Saat ia mengangkat wajah dan bertatapan dengan Rainy, Rainy menjulurkan ujung lidahnya pada Raka dengan mata berkilat jahil. Membuat Raka menyipitkan mata dan dilanda keinginan untuk mencubit kedua pipi gadis itu kuat-kuat.