
"Datuk, sebenarnya kita sedang berada dimana?" tanya Rainy ketika ia berhasil pulih dari keterpanaannya.
"Kau sedang berada di sebuah dunia yang tersembunyi dari pandangan iblis." Sahut Datuk Sanja.
"Tersembunyi dari pandangan iblis? Apakah itu mungkin?" tanya Rainy. Keningnya berkerut dan matanya yang menyipit menatap Datuk Sanja curiga.
"Mengapa tidak mungkin? Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin kecuali Allah yang berkehendak." sahut Datuk Sanja dengan serius. Datuk Sanja melemparkan pandangannya ke semua penjuru arah angin, lalu bertanya, "Bagaimana menurutmu?"
"Apanya?" tanya Rainy.
"Tentu saja pemandangannya!" sahut Datuk Sanja sambil menyipitkan matanya pada Rainy.
"Aneh." sahut Rainy dengan jujur. Jawaban ini tentu saja membuat Datuk Sanja tersentak kaget.
"Eh? Sebelah mananya yang aneh?" tanya Datuk Sanja lagi.
"Tempat ini, apabila diandaikan wajah seseorang... Klinik ini adalah mulutnya dan sungai adalah hidungnya. Pemukiman di sebelah kiri adalah wajah bagian kirinya, lalu taman dan apapun itu yang berada di sebelah kanan adalah wajah sebelah kanannya, apakah Datuk bisa melihat apa yang kulihat?" tanya Rainy.
"Asimetris?" tanya Datuk Sanja. Rainy mengangguk.
"Rumah sakit ini terlihat bagaikan bangunan dari abad pertengahan. Pemukiman di kiri terlihat seperti masyarakat di desa terpencil yang belum banyak tersentuh oleh peradaban modern. Tapi taman di sebelah kanan itu tampak seperti taman yang berasal dari planet lain." Komentar Rainy tanpa basa-basi. "Apakah waktu membangun tempat ini kalian tidak membuat perencanaan terlebih dahulu?" Tebak Rainy. Datuk Sanja mengangkat kedua bahunya. Itu adalah tebakan yang sangat tepat. Sejak sekelompok penghuni pertama menemaninya menempati dunia kecil ini, ia melemparkan semua tanggung jawab untuk membangun tempat ini kepada mereka. Karena terlalu girang bisa tinggal di dunia baru milik mereka sendiri, tanpa ancaman iblis, setiap orang mematok tempat miliknya sendiri dan membangunnya sesuai dengan visi mereka. Saat mereka telah selesai dengan proyeknya, barulah mereka sadar kesalahan apa yang telah mereka perbuat.
Beberapa waktu kemudian, beberapa orang baru bahkan pernah datang pada Datuk Sanja dan menyarankan untuk melakukan renovasi pada tata desa tersebut. Namun Datuk tidak mau repot dan menyuruh mereka untuk merundingkannya di antara mereka sendiri. Dengan pimpinan yang tidak mau terlibat seperti dirinya, bisa ditebak apa yang terjadi kemudian. Sang pencipta yang tak sudi hasil karyanya diobrak-abrik oleh penghuni baru, menentang dengan keras setiap usul yang mereka lontarkan. Pada akhirnya, tempat itu tetap seperti itu sampai saat ini.
Sebelumnya ia tidak pernah memperhatikan tempat itu sedetail cara Rainy memandangnya. Namun sekarang setelah Rainy mengungkapkan pandangannya, mau tidak mau, Datuk Sanja jadi bisa melihatnya juga.
"Apakah tempat ini terlihat buruk?" tanyanya dengan sedikit kecewa.
"Tidak buruk. Sebagai unit yang tak berhubungan, mereka sangat menarik. Namun bila bersama sebagai sebuah unit, mereka tampak seperti gigi tonggos yang harus diberi kawat." sahut Rainy dengan jujur. Kata-katanya kontan membuat Datuk Sanja tergelak.
"Bolehkah saya membawa serta kedua orangtua saya dan tunangan saya untuk tinggal disini?" Rainy balik bertanya.
"Kalau kau sudah menikah dengan tunanganmu yang itu... Siapa namanya?"
"Raka." sahut Rainy.
"Nah, benar. Kalau dia, apabila kalian sudah menikah, tentu saja boleh. Anak itu telah melewati sejumlah tes dan memperoleh nilai yang tidak buruk." Well, Raka lolos hasil tes yang diberikan oleh Guru Gilang dan Lara dengan gemilang, namun Datuk Sanju tidak akan sudi mengakuinya. Sementara itu, Rainy yang mendengarkan, hanya bisa melongo heran. Wait, what? Tes? Kapan itu terjadinya sih? Datuk Sanja yang tidak melihat perubahan ekspresi Rainy, melanjutkan perkataannya.
"Kalau soal ayah dan ibumu, sejak sebelum ayahmu menikah, aku telah menawarkan kepadanya untuk pindah kemari. Namun ia mengatakan padaku, karena ia sudah berjanji untuk menjalani kehidupan yang normal dengan wanita yang dicintainya, ia akan berusaha agar mereka tidak memiliki anak sama sekali sehingga mahluk terkutuk itu tidak bisa mengganggu kebahagiaan mereka. Ayahmu pasti sama sekali tidak menyangka bahwa ia tidak pernah diciptakan untuk menjalani kehidupan normal karena mereka telah ditakdirkan menjadi orangtuamu." cerita Datuk Sanja. "Kalau bertemu dengannya aku ingin bilang; 'kan sudah kuberitahu!' Coba lihat apakah ia masih punya keberanian untuk membantahku seperti waktu itu." Datuk Sanja berdecak gemas karena mengingat kenangannya bersama Ardi saat Ardi masih muda.
"Jadi Papa sudah mengenal Datuk?" tanya Rainy dengan terkejut.
"Bukan hanya ayahmu. Niwemu juga mengenalku." sahut Datuk Sanja.
"Waaaah, mengapa setiap orang dalam keluargaku sangat pandai menyimpan rahasia?" gerutu Rainy pelan.
"Sudah seharusnya kan?! Sebagai keluarga cenayang yang hidup dari membongkar rahasia gelap keluarga lain, sepertinya kemampuan menyimpan rahasia itu adalah sesuatu yang bersifat genetik." sahut Datuk Sanja, membuat Rainy termenung mendengarnya. Kalau dipikir-pikir, benar juga. Profesi yang keluarga mereka tekuni memberi mereka kesempatan untuk mengintip ke dalam kehidupan rahasia orang lain. Namun bahkan setelah beberapa generasi, seperti belum ada sejarah yanh menceritakan bahwa salah satu anggota keluarga mereka menggunakan rahasia tersebut untuk memeras orang lain. Ketika Rainy mengungkapkan pikirannya tersebut, lagi-lagi Datuk Sanja berdecak tak setuju.
"Bukan tidak pernah, tapi tidak ada yang mengetahuinya saja! Dengan iblis sebagai backing, apa kau pikir orang-orang sesat dalam keluarga kita akan terus bersikap terhormat? Kau memang masih anak-anak!" ejek Datuk Sanja. Rainy mengerutkan bibirnya dan mengarahkan pandangannya ke bawah sambil merenungi kata-kata Datuk. Tak lama kemudian ia mengangguk-angguk, membenarkan. Ekspresinya rupanya membuat Datuk Sanja gemas sehingga pria tua itu mengulurkan tangan untuk mencubit sebelah pipinya.
"Ah!" protes Rainy keras sambil menatap ke arah Datuk dengan kesal. Bibir mencibir, menghasilkan ekspresi yang semakin menggemaskan. Datuk Sanja terkekeh.
"Kenapa? Tidak terima?" ejeknya. Kali ini Datuk Sanja mengulurkan kedua tangannya untuk mencubit kedua pipi Rainy, namun dengan sigap Rainy berkelit. Ia menempelkan kedua telapak tangannya ke pipinya untuk melindungi pipinya yang berharga dari jari-jari jahil Datuk Sanja, membuat Datuk Sanja tambah terkekeh geli. Ia nyaris lupa bagaimana menggemaskannya cucunya yang satu ini. Sayang sekali Rainy sudah lama lupa caranya tersenyum dengan bebas, membuat hati Datuk Sanja menjadi sakit bila mengingatnya.
"Baiklah." ucap Datuk Sanja, mencoba menepis ingatannya yang menimbulkan emosi negatif dalam dirinya. "Sebelum kau kuperkenalkan pada yang lain, sebaiknya aku Menceritakan padamu terlebih dahulu mengenai sejarah tempat ini."
Datuk Sanja kemudian kembali mengambil pergelangan tangan Rainy dan dalam sekejap, dunia di sekitar Rainy bergerak sehingga membentuk vignette yang tak nyata dan memusingkan. Sambil menutup matanya erst-erat, Rainy langsung menyumpah dalam hati. Jangan ini lagi!