
"Apa yang paling aku takuti?" guman Rainy. Namun Datuk Sanja yang duduk tepat di hadapannya bisa mendengar gumanan tersebut dengan jelas.
"Pertanyaan itu, hanya kau sendirilah yang bisa menjawabnya." ucap Datuk Sanja. Rainy mengangkat wajahnya dan menatap Datuk Sanja dengan kening berkerut.
"Bagaimana bila setelah sekian lama, saya tetap tidak berhasil menemukan jawabannya, Datuk?" tanya Rainy dengan khawatir.
"Kalau begitu kita akan tunggu. Kita tunggu sampai kau memperoleh inspirasi dan menemukan jalanmu. Tak perduli seberapa lamapun, akan tetap kita tunggu. Toh, bila 100 tahun tak cukup, aku tidak keberatan untuk menambah waktunya sampai 100 tahun lagi." ucap Datuk Sanja ringan. Melihat mata Rainy yang membesar dan mulutnya yang terbuka lebar ketika mendengar kata-katanya, membuat Datuk Sanja diam-diam tersenyum geli.
Menambah 100 tahun lagi? Tentu saja Rainy tidak akan rela! Periode 100 tahun ini baru berlalu 1 bulan lebih beberapa hari saja. Bisa-bisanya Datuk Sanja sudah merencanakan untuk menambah masa kurungannya menjadi 200 tahun? Ini bukan tempat kultivasi tapi ini penjara! Keluh Rainy dalam hati. Tapi apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa ia, yang sejak kecil sudah diajari caranya bermeditasi, baik oleh guru di rumah maupun di kampus, tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk mengendalikan pikirannya? Rainy menutup matanya dan memutar otaknya untuj mencari jawaban atas pertanyaan tersebut. Sayangnya, ketika ia masih terus berpikir dan berpikir, tahu-tahu satu tahun telah berlalu dan Rainy tetap belum berhasil membuka cakra tanahnya. Penyebabnya belum berubah, tidak mampu mengosongkan pikiran. Rainy semakin lama semakin gelisah dan jadi sedikit frustasi. Rainy juga merasa aneh karena Datuk Sanja membiarkannya.
"Kemampuan pemahaman setiap orang terhadap kultivasi itu berbeda-beda. Ada yang dengan mudah memperoleh pemahaman dan bisa naik level tanpa hambatan, namun ada juga yang harus menunggu dan menunggu sampai waktunya tiba. Jangan dipaksakan." Ucap Datuk Sanja ketika Rainy menanyakan pendapatnya soal kesulitan yang Rainy alami. "Berhubung waktu adalah sesuatu yang mudah diatur dan dikendalikan di dunia kecil ini, kau bisa menggunakan waktu sebanyak yang kau butuhkan." ucap Datuk Sanja dengan senyum geli.
Rainy mengabaikan ejekan Datuk dan kembali menutup matanya. Cakra bodoh ini sungguh memberikan kesulitan! Rainy melemparkan tubuhnya ke lantai batu gua yang hangat dengan bibir cemberut. Sekarang hangatnya gua tidak lagi mengganggunya. Rainy sudah terbiasa tinggal di dalam gua tersebut dan memperlakukannya sebagai rumahnya. Matanya memandang lurus ke arah langit yang muncul di lubang, di atas kepala mereka dan berpikir keras. Kalau dibandingkan dengan 100 tahun, waktu 1 tahun itu sangatlah sedikit. Namun bila mengingat bahwa ia telah menghabiskan waktu 1 tahun itu untuk belajar ulang caranya mengendalikan pikirannya, Rainy merasa ingin menghancurkan sesuatu dengan tangan dan kakinya! Ini sangat menggelikan! Setiap kali ia mulai bermeditasi, setiap kali ia mencoba mengosongkan pikirannya, beberapa saat kemudian berbagai pikiran meledak di kepalanya tanpa bisa ia tahan.
Sebenarnya sejak kapan ini terjadi? Meditasi bukan hal yang baru bagi Rainy. Ia belajar meditasi dari guru-guru spiritual yang diundang Jaya Bataguh untuk mengajarinya. Kemudian ia juga belajar meditasi dan rileksasi dari para dosennya di kampus. Ia bahkan memiliki sertifikat yang membuktikan bahwa ia adalah seorang ahli di bidang hipnoterapi, yang prosesnya dilakukan dengan cara yg sama. Mengosongkan pikiran adalah sesuatu yang sudah biasa ia lakukan. Tapi mengapa tiba-tiba ia kehilangan kemampuan ini? Coba berpikir ulang, sejak kapan sebenarnya ia kehilangan kemampuan itu? Kepala Rainy berputar cepat, mencoba mencari petunjuk di antara berbagai hal yang telah terjadi setahun yang lalu. Semuanya dimulai saat Datuk Sanja bertanya pada Rainy mengenai apa yang Rainy takuti. Apa yang paling aku takuti.
Tiba-tiba sebuah ingatan melintas dalam pikiran Rainy.
'Kapan rasa takut berubah menjadi fobia? Yaitu saat individu yang mengalaminya menjadi begitu takut bila berpikir bahwa ia harus mengalami rasa takut itu kembali. Jadi fobia adalah gangguan kecemasan yang membuat orang takut untuk mengalami rasa takut itu sendiri.'
Alam bawah sadar manusia memiliki kemampuan yang sangat luar dalam mengontrol perilaku sadar. Kontrol ini dilakukan untuk melindungi individu tersebut dari bahaya psikologis yang dianggap bisa memberikan rasa sakit yang tidak diperlukan dan terlalu sulit untuk dihadapi. Namun karena sekarang Rainy memahami sebabnya, ini sama dengan ia telah menyelesaikan 50 % dari masalah tersebut. Sisanya tinggal bergantung dari sejauh mana tekad Rainy mampu memaksa dirinya untuk berhadapan dengan masalah utamanya, yaitu menghadapi ketakutan terbesarnya.
Rainy menarik nafas lega. Ia merasa ketegangan pada otak dan tubuhnya mulai mengendur. Alam bawah sadarnya telah melepaskan cengkeramannya pada alam sadar Rainy dan mengijinkan alam sadarnya untuk mengambil komando atas mentalnya kembali. Rainy bangkit dari berbaringnya dan kembali mengambil posisi bersila dengan satu kaki berada di atas kaki yang lain. Kedua tangannya kembali diletakkan dalam keadaan terbuka, di atas lutut. Rainy menegakkan tulang punggungnya dan memejamkan mata.
'Tidak apa-apa. Pikiranku tenang. Aku bahagia
Aku kuat dan aku sempurna. Semuanya baik-baik saja.' begitu sugesti Rainy pada dirinya sendiri berulang-ulang. Ia lalu mengosongkan pikirannya dan mulai mengikuti irama nafasnya yang perlahan. Tarik... Tahan... Buang... Tarik... Tahan... Buang... Rainy merasa tubuhnya semakin lama menjadi semakin tenang. Tubuhnya menjadi terasa ringan dan melayang-layang, petunjuk bahwa ia telah memasuki gelombang Theta. Rainy kemudian mengarahkan perhatiannya pada kawasan yang berada di dasar tulang belakangnya, untuk menemukan cakra tanahnya. Setelah beberapa saat sebuah kolam energi yang berputar-putar, muncul dalam benak Rainy. Kolam tersebut cukup besar dan dipenuhi dengan energi yang sewarna dengan api yang menyala. Sistem akar kekuatannya adalah elemen api. Tidak ada keraguan mengenai hal itu. Rainy memandang ke seluruh kolam, mencoba menemukan area sumbatan yang menghalangi pergerakan Energinya menuju ke cakra di atasnya, namun setelah mencari untuk sekian lama, Rainy belum juga berhasil menemukannya. Dimana ia bersembunyi? Menguatkan konsentrasinya, Rainy mencari kembali. Tak terasa, pencariannya memakan waktu 2 hari yang panjang.
Datuk Sanja yang sedang bersemedi di depan Rainy, membuka mata dan memandang gadis itu dengan tatapan yang lembut dan penuh dengan rasa sayang. Ia bisa merasakan perubahan pada Aura Rainy yang menandai kemajuannya. Walau hanya selangkah setiap kali, namun tetap saja sebuah gerakan maju kan?! Datuk Sanja tidak ingin Rainy melakukannya dengan terburu-buru, lalu kemudian naik level dengan fondasi yang lemah. Itu akan sangat berbahaya bagi kultivasinya dan kekuatan bela dirinya.
'Berhati-hatilah, gadis kecil. Jangan membakar jembatan yang kau perlukan tanpa menyiapkan rencana pengganti!' Pikir Datuk Sanja.
'Jadi, apa yang paling aku takuti dalam hidup ini?' pertanyaan ini muncul dalam huruf-huruf kapital di dalam benak Rainy. Rainy membuka pintu emosinya dan membiarkan rasa takut mengalir keluar.
"Tunjukan padaku!" perintahnya. Tiba-tiba kesadaran Rainy tertarik masuk ke dalam kolam energi cakra tanah. Rainy membiarkannya. Ia tidak melawan. Ia melepaskan semua kendali dirinya dan membiarkan cakra tanah menunjukan kepadanya apa yang paling ditakutinya.