My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Bayi Mawinei



Ketika Mamut membuka matanya, hal pertama yang dilihatnya adalah wajah wanita yang paling cantik dari semua wanita yang pernah dilihatnya, yang sayangnya, memiliki sepasang mata paling dingin yang pernah ia tahu. Mamut merasa tubuhnya nyaman. Ia merasa segar dan baru bangun dari tidur panjang yang sangat nyenyak, yang merupakan dampak dari kekuatan cahaya yang digunakan Maharati untuk menyembuhkannya dengan sempurna. Masih setengah sadar akibat baru bangun tidur dan masih dalam keadaan terintoksitosi, saat melihat Maharati, Mamut menyebut namanya dengan penuh rasa suka cita. Mendengar namanya disebut oleh Mamut, anehnya tidak tampak membuat Maharati merasa jijik. Di bawah pandangan mata setiap orang, Maharati berjalan mendekati Mamut dan berjongkok di sisinya.


"Apa kau sudah bangun?" tanya Maharati dengan wajah tanpa ekspresi.


Selama mengenal Maharati, Mamut tidak pernah mendengar Maharati menanyakan keadaannya seperti itu. Biasanya wanita itu bahkan tidak perduli apakah Mamut sedang memandangnya atau tidak. Intinya Mamut pun sangat menyadari bahwa dalam hati Maharati ia hanya sebuah batu kerikil kecil tak berharga yang mudah ditemukan di pinggir sungai. Tapi kali ini Maharati menanyakan keadaannya! Bukankah itu berarti terdapat sedikit perubahan dalam hati Maharati? Mungkinkah pada akhirnya Maharati menaruh keperdulian padanya? Mungkinkah?


Pada dasarnya, selain kemampuan berperang, Mamut adalah orang bodoh. Ia pikir karena ia seorang pemenang di medan laga, maka ia akan jadi pemenang di segala hal, termasuk dalam hal memikat hati wanita. Pendapatnya itu juga diperkuat oleh penyerahan diri total para budak-budak wanitanya yang selalu memenuhi keinginan Mamut tanpa membantah. Itu sebabnya, di area ini kepercayaan dirinya dibangun diatas sebuah delusi yang menggelikan. Itulah sebabnya ketika berpikir bahwa Maharati akhirnya tunduk kepadanya, Mamut mencoba mengulurkan tangannya untuk meraih Maharati. Namun betapa herannya ia ketika melihat bahwa tidak ada tangan yang bergerak mengikuti perintahnya. Mamut menoleh ke arah tangannya dan langsung menjerit histeris ketika mengetahui bahwa bukan hanya kedua tangannya telah terpisah dari tubuhnya, namun kedua kakinya pun tak lagi bisa di rasakannya.


Maharati yang sedang berjongkok di sampingnya, nyaris terduduk karena terkejut ketika mendengar jeritan Mamut. Siapa yang menduga bahwa sang prajurit yang dianggap paling perkasa di sukunya itu, saat menjerit ketakutan, terdengar lebih histeris daripada wanita. Maharati menoleh ke kiri dan ke kanan, sebelum akhirnya bangkit dan mendatangi tubuh seorang prajurit iban yang telah kehilangan kepalanya, hasil karya dari adik laki-lakinya tercinta. Bagian atas tubuh pria itu telah menghitam karena terbakar, namun celana yang dikenakannya masih utuh. Maharati meraih bagian pinggang celana pria itu dan tanpa ekspresi, menariknya turun dari pinggulnya. Untungnya tubuh tersebut berada dalam keadaan tengkurap sehingga ketika celananya lepas dari tubuhnya, yang tampak adalah tubuh bagian belakangnya, dan bukan sesuatu yang tidak sudi dilihat oleh para wanita yang kebetulan berdiri menonton tingkah Maharati. Maharati kemudian membawa celana tersebut ke sisi Mamut. Ia kembali berjongkok di sisi Mamut, mengulurkan tangan untuk menjambak rambutnya, lalu menjejalkan celana di tangannya ke dalam mulut Mamut hingga Mamut tidak lagi bisa mengeluarkan suara.


"Kenapa tidak memotong lidahnya saja? Itu akan lebih efektif." tanya Lauri yang sedang berjalan perlahan ke arahnya. Nyala api di tubuh Lauri mulai mengecil dan semakin mengecil. Lalu ketika ia sampai di sebelah Maharati, api tersebut telah menghilang sama sekali.


"Aku masih ingin mendengar rengekannya." ucap Maharati sambil bangkit berdiri. Ia memandang ke arah adiknya yang tiba-tiba terlihat jauh lebih dewasa dari sebelumnya. Pengalaman yang dialaminya beberapa hari ini telah membuat Lauri kehilangan kemurnian masa mudanya dan berubah menjadi seorang prajurit dalam sekejap mata. Meskipun begitu, Maharati bersyukur karena Allah tidak mengambil Lauri darinya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Maharati.


"Aku masih hidup." Sahut Lauri tenang.


Maharati mengangguk. Ia lalu menarik Lauri ke dalam rengkuhan tangan-tangannya dan memeluknya dengan sangat erat. Lauri membalasnya dengan sama eratnya.


"Itu bagus bahwa kau masih hidup. Itu akan membuat Apa bahagia." bisik Maharati di telinga Lauri. Lauri mengangguk pelan dan menguatkan pelukannya di tubuh kakaknya. Tak ada tangis, tak jua keluh kesah. Mereka berdua rasanya sudah terlalu mati rasa untuk bisa mengeluarkan air mata lagi.


Suara derap langkah berlari mengejutkan semua orang yang ada di tempat itu. Para wanita dan anak-anak secara otomatis langsung berlari ke belakang Lauri, takut bahwa musuh baru datang untuk menyerang. Lauri melepaskan Maharati dan dengan segera menempatkan kakaknya tersebut di belakang tubuhnya, sambil siap siaga untuk menghadapi ancaman apapun yang akan datang. Dari kejauhan mereka bisa melihat beberapa pria berlari menuruni bukit dan memasuki desa. Saat mereka mencapai desa, suara tangis langsung terdengar di mana-mana. Para penduduk desa yang tadinya bersembunyi di belakang Lauri dan Maharati, saat itu juga, segera berhamburan melewati keduanya, untuk menyambut para pria yang datang. Sepertinya orang-orang ini adalah penduduk desa Isui yang baru pulang berdagang. Penduduk desa yang sejak tadi telah kehilangan kemampuan untuk bersuara karena kelelahan, seolah-olah mendapatkan suntikan semangat baru dan mulai menangis keras sambil menyambut dan memeluk anggota keluarganya.


Lauri dan Maharati saling berpandangan dan menarik nafas panjang. Dengan kepulangan warganya, Lauri dan Maharati tidak perlu lagi mengkhawatirkan keadaan warga desa Isui dan bisa pulang ke desa mereka sendiri. Mereka kemudian berbalik untuk menuju ke tempat dimana Mawinei dan bayinya berbaring.


"Lauri! Maharati!" panggil sebuah suara yang datang dari belakang mereka. Keduanya berbalik kembali dan melihat 2 orang saudara laki-laki ayah mereka dan ke empat putranya sedang berlari kecil ke arah mereka. Melihat wajah-wajah yang mereka kenal dengan baik tak urung membuat Maharati dan Lauri akhirnya kembali berkaca-kaca juga. Maharati berlari masuk ke dalam pelukan salah satu pamannya, sedangkan Lauri berjalan menyusul dengan lebih tenang.


"Angah!" isak Maharati dalam pelukan pamannya. Pria itu memeluknya erat dan menepuk-nepuk punggung Maharati untuk memberikan penghiburan dengan mata basah. Sementara di sebelah mereka, Lauri ditarik masuk ke dalam pelukan pamannya yang satu lagi.


Setelah bertukar salam mereka kemudian bercerita bahwa saat mereka tiba di rumah setelah pulang berdagang, mereka bertemu dengan istri-istri mereka dan warga desa lainnya yang telah sampai kembali ke desa setelah di tinggalkan oleh Lauri untuk menyelamatkan Maharati dan Mawinei. Mendengar ini, sebagian dari mereka langsung berangkat ke desa Isui untuk memberikan bantuan. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan warga desa Isui yang juga baru pulang berdagang. Setelah membagikan kabar buruk tentang penyerangan ke desa Isui, mereka lalu berangkat bersama-sama menuju ke desa tersebut. Siapa sangka saat mereka sampai di desa Isui, semuanya telah berakhir.


"Kakak," panggil salah satu sepupu Maharati. "Dimana kak Mawinei?"


Bibir Maharati bergetar oleh tangis ketika mendengar pertanyaan ini. Ia lalu membalikkan tubuhnya ke arah tempat dimana Mawinei dan bayinya terbaring. Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat bahwa Lilith sedang membungkukkan tubuhnya di atas tubuh Mawinei dan meraih bayi yang ada dalam lekuk lengan ibunya.


Tampak tidak terganggu oleh sikap kasar Maharati sama sekali, Lilith menegakkan tubuhnya dan menggendong bayi itu dalam tangan-tangannya. Ujung jarinya mengusap pipi bayi itu dengan penuh kasih sayang.


Begitu cantik, begitu sempurna." pujinya dengan suaranya yang mendayu-dayu indah. "Sungguh sayang bahwa ia telah kehilangan nyawanya bahkan sebelum ia bisa menghirup udara terbuka. Kasihan sekali."


Maharati bergerak maju, namun Lauri menahan tubuhnya dengan memegang pinggangnya dari belakang.


"Kembalikan bayi adikku!" perintah Maharati.


Namun Lilith hanya menatapnya sambil tersenyum.


"Bayi adikmu sudah mati." ucap Lilith dengan manis. "Nyawanya sudah tidak ada lagi dalam tubuh ini." sambung Lilith sambil mengusap pelan dada bayi tersebut.


"Tapi tahukah kau, bahwa pada setiap bayi yang terlahir ke dunia, ada bangsaku yang terlahir bersamanya." Lilith kemudian menyentuhkan ujung jarinya ke antara kedua alis bayi tersebut dan cahaya kemerahan meluncur dari tangannya, memasuki kening bayi tersebut.


"Karena pemiliknya sudah tidak ada lagi dalam tubuh ini, apa salahnya kalau qorinnya yang mengambil alih tempatnya kan?!" ucap Lilith sambil mengangkat tangannya dari dahi bayi itu. Tak lama kemudian bayi itu mulai bergerak, membuka mata, lalu menangis dengan keras, membuat mata mereka yang melihatnya membesar.


Dia hidup! Pikir Maharati. Dia hidup! Bayi Mawinei masih hidup! Tak dapat menahan diri, Maharati meronta dari kungkungan tangan-tangan Lauri, berusaha untuk merampas bayi Mawinei dari tangan Lilith.


"Kembalikan! Kembalikan bayi adikku, kau iblis! Kembalikan!" jerit Maharati dengan panik.


"Berhenti, kak! Itu sudah bukan bayi Kak Mawinei lagi!" ucap Lauri, bersikeras menahan Maharati dalam pelukannya.


Melihat ini, Lilith hanya tersenyum.


"Lauri, jangan pernah lupa akan janjimu padaku." ucap Lilith pada Lauri, mengingatkannya. Dengan tatapan getir, Lauri hanya bisa mengangguk.


Lilith kemudian berbalik dan melenggang santai menuju ke arah hutan dengan mata yang terus mengagumi kecantikan bayi dalam tangan-tangannya. Ketika ia melewati Rainy, Rainy mendengarnya berkata,


"Ayo Lilian sayang, mari kita pulang."


Kalimat ini membuat mata Rainy terbelalak lebar. Ia berbalik dan memandang dengan shock pada punggung Lilith yang menjauh, sebelum akhirnya tubuh itu menghilang begitu saja tanpa jejak.