
Mengikuti permintaan polisi, Rainy dan Arka, didampingi oleh Raka dan Natasha, pergi ke kantor polisi untuk memberikan kesaksian. Sementara itu Ivan, Ace dan Musa kembali ke Resort. Rainy menggerutu betapa Polisi sungguh tidak bisa diandalkan. Dia dan Arka sudah melakukan sandiwara dan berlagak menjadi umpan yang malang untuk membuat Bram dan Kartini mengakui perbuatannya, namun Polisi menunggu sampai keadaan menjadi sangat mendesak, barulah mereka datang untuk menyelamatkan Rainy dan Arka. Andai saja Lilian tidak muncul untuk menakuti Bram, Rainy yakin dirinya dan Arka pasti sudah memiliki 1 atau 2 peluru bersarang di tubuh mereka. Sudah seperti ini, Polisi masih dengan seenak jidatnya menyuruh Rainy dan Arka melaporkan kesaksian mereka malam itu juga, padahal Rainy dan Arka sangat kelelahan akibat siksaan mental yang mereka terima.
Mendengar omelan Rainy, Rangga mengulurkan tangan dan mencubit pipinya dengan gemas, tak perduli pada hawa membunuh yang langsung memancar dari Arka dan Raka yang duduk tepat di sebelah Rainy. Rainy menarik wajahnya hingga cubitan di pipinya terlepas, lalu membuka mulutnya untuk menggigit jari-jari kurang ajar milik Rangga. Dengan gesit Rangga berkelit.
"Sebentar lagi kau berusia 24 tahun, namun mengapa kau tidak juga berubah?" tanya Rangga geli. Rasa sayang terdengar dari nada suaranya.
"Dia tidak perlu untuk berubah! Aku menyukainya apa adanya." tukas Raka. Matanya menatap dingin pada Rangga, membuat pria itu tertawa melihatnya.
"Eh? Sejak kapan kau berani menunjukan klaim atas Rainy?" tanya Rangga geli. "Dan kau," tunjuknya pada Rainy. "Berani-beraninya mengerutui kerja Polisi. Apa kau sudah lupa siapa aku?" tanya Rangga, berpura-pura marah pada Rainy.
"Siapa kau? Kau cuma Polisi bodoh yang menyebalkan." ejek Rainy. Rangga kembali dihinggapi keinginan untuk mencubit pipi Rainy keras-keras, namun mata Raka dan Arka yang menyorot marah membuatnya merasa bahwa bila ia berani mengulurkan tangan sedikit saja, ia akan kehilangan tangannya. Sungguh murid-murid tak berbakti! Gerutu Rangga dalam hati.
Sesungguhnya Rangga bukanlah orang yang asing bagi Rainy dan Raka. Rangga yang usianya 3 tahun lebih tua daripada Raka sejak remaja telah bekerja sebagai asisten pelatih Kiev Maga bagi Rainy dan Raka. Ia melihat keduanya tumbuh besar dan memperlakukan keduanya layaknya adik-adiknya sendiri. Rangga baru berhenti bekerja sebagai asisten pelatih Kiev Maga Rainy setelah ia diterima menjadi perwira polisi. Sekarang Rangga merupakan salah satu koneksi yang dimiliki oleh Rainy di kepolisian.
"Mana berkas-berkasnya? Biar ku tandatangani sekarang." ucap Rainy.
"Berkas? Berkas apa?" tanya Rangga berlagak bodoh. Rainy menyipitkan matanya.
"Rangga, apa aku harus pingsan disini sebelum kau menyadari bahwa aku sudah sangat kelelahan?" tegur Rainy kesal. "Semua kejadian di dalam gudang tersebut sudah direkam dengan jelas. Kau bahkan melihatnya secara live. Mengapa kau masih memerlukan kesaksianku?" protes Rainy lagi.
"Hanya sedikit pertanyaan saja, jadi tolong bersabarlah sebentar lagi. Lagipula salahmu sendiri. Kenapa aktingmu jelek sekali?" tegur Rangga. "Yang namanya korban penculikan itu harusnya ketakutan. Kau boleh marah, boleh protes, tapi harus akting ketakutan seolah-olah kau adalah wanita lemah yang tidak bisa apa-apa. Membuat mereka jumawa, lalu menjadi lengah. Kalau sudah begitu, sedikit pertanyaan saja bisa membuat mereka membongkar semuanya. Eh, ini kau malah menantang dan membuat Kartini marah dan merasa dipermalukan. Akibatnya jadi berlarut-larut kan!" omel Rangga lagi, membuat Rainy tercengang. Waaaah, mengapa manusia yang satu ini cerewet sekali sih? Rainy ingin sekali mengulurkan tangan dan menarik mulutnya kuat-kuat, lalu mengikatnya dengan karet pembungkus nasi padang!
"Sudah begitu sampai akhir, kau tidak berhasil membuat Kartini atau Bram memberitahu lokasi dimana Nayla berada. Rainy, apakah kau memiliki cara untuk menemukan Nayla? Bukankah kau sudah bertemu dengan Nayla? Apakah ia tidak memberitahumu dimana mereka menyembunyikan tubuhnya?" tanya Rangga.
"Tidak." Rwiny menggelengkan kepalanya. Sejujurnya ia juga sangat mengkhawatirkan Nayla. Rainy khawatir bahwa tampilan sosoknya yang meredup menandakan bahwa kondisi Nayla sedang memburuk. "Nayla juga tidak tahu dimana tubuhnya berada. Namun berdasarkan ingatannya, tempat itu tampaknya adalah sebuah rumah sakit. Jadi seharusnya Nayla berada di tempat yang aman." sahut Rainy dengan lagak bosan. Ia menguap lebar. "Kalian para polisi memiliki akses pada teknologi. Gunakanlah untuk mencarinya." Suruhnya kemudian.
"Terlalu lama dan menghabiskan terlalu banyak resources. Lebih murah kalau menggunakan miss Rainy." Rangga tersenyum jahil, membuat Rainy menyipitkan matanya dengan kesal.
"Kalau ingin menggunakan tenagaku, Polisi harus membayar honorku." cetus Rainy kemudian dengan dingin.
"Eeeeh, kau sudah memperoleh uang sebesar 6,5 m dari Jenderal Bram. Apa itu kurang?" protes Rangga.
"Bagaimana dengan honor 750 juta yang dikirimkan oleh Kartini?" tanya Rangga lagi.
"Itu adalah honor bagi Divisi VII untuk menyelesaikan kasus poltergeist yang menimpa Ananda! Kasus itu sudah selesai dan tidak ada hubungannya dengan kasus-kasus yang lain!" Kali ini Raka yang menjawab dengan nada tinggi. "Rangga, jangan bertingkah melewati batas!" tegurnya kemudian, membuat Rangga mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah.
"Oke, oke. Salahku, ok!" ucapnya dengan nada meminta maaf. "Tapi Nayla sudah menghilang terlalu lama, sementara pelakunya sudah meninggal dunia. Kalau ada cara yang lebih cepat untuk menemukan Nayla, aku akan mencobanya walaupun itu menyebabkan aku menyinggungmu. Aku berharap kita bisa menemukannya hidup-hidup." ucap Rangga lagi.
"Seharusnya anak buah Bram memiliki informasi tersebut." ucap Rainy.
"Semoga saja." Rangga mengangguk. Mau tidak mau sekarang ia hanya bisa mengandalkan kemampuan interogasi timnya. Semoga tidak makan waktu terlalu banyak.
"Bagaimana dengan Ananda? Apakah Polisi akan menangkapnya juga?" tanya Raka.
"Sementara ini ia akan ditanyai sebagai saksi. Surat panggilan sudah dikirimkan ke rumahnya saat ini." sahut Rangga.
"Jangan perlakukan dia dengan buruk. Dia juga merupakan salah satu korban Kartini." pinta Rainy.
"Emm. Aku tahu." Jawab Rangga.
"Apakah masih ada yang ingin kau tanyakan?" tanya Raka.
"Untuk sementara tidak. Kalau ada lagi, nanti aku yang akan mampir ke kantormu." sahut Rangga. Mendengar ini, Rainy, Raka, Arka dan Natasha bangkit dari duduk mereka dan setelah mengucapkan salam pada Rangga, meninggalkan kantor Polisi.
Sepanjang perjalanan pulang, Rainy jatuh tertidur. Rasa lelah menerpanya dengan kekuatan penuh, membuatnya tidak lagi mampu untuk tetap bangun. Sayangnya, bahkan dalam mimpipun, para mahluk kasat mata itu tak berhenti mengganggunya.
Saat membuka mata, Rainy telah berada di sebuah pantai berpasir putih dan berair laut yang sangat jernih. Di hadapannya adalah lautan luas yang berombak tenang, sedangkan di belakangnya adalah hutan hijau yang tampak lebat. Tak terlihat jejak manusia di sekitar Rainy. Rainy menyadari bahwa ini adalah mimpi. Ia sedang berada dalam lucid dream. Rainy berharap ini adalah salah satu Lucid Dream yang indah dan bukan yang menyerupai sebuah mimpi buruk. Namun harapannya hancur berantakan ketika ia melihat sosok Lilith berjalan mendekat.
Copyright @FreyaCesare