My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kisah Laura



Laura Hanna adalah cucu perempuan satu-satuya seorang pengusaha kaya raya bernama Hasmi Hamid. Ibunya, Sinta, merupakan anak bungsu Hasmi. Hasmi memiliki seorang anak lelaki, namun putranya ini meninggal dunia di usia 23 tahun, akibat kecelakaan motor.


Saat Sinta berusia 16 tahun dan masih duduk di bangku SMA, Sinta dihamili teman sekelasnya sehingga melahirkan Laura yang saat ini sudah berusia 18 tahun. Sinta menikahi Brata, ayah Laura secara sembunyi-sembunyi agar tetap dapat melanjutkan sekolahnya. Karena kedua orangtuanya masih sangat belia, pengasuhan Laura kemudian diserahkan kepada neneknya, sampai Sinta dan Brata lulus SMA dan membawa Laura pindah ke rumah yang dihadiahkan Hasmi untuk putrinya, sebagai hadiah kelulusan. Saat itu Laura masih berusia 3 tahun. Ia seorang gadis kecil yang lincah, ceria, cerewet dan punya rasa ingin tahu yang sangat besar.


Sinta dan Brata melanjutkan pendidikan mereka ke universitas dan menitipkan Laura kepada bi Muri, ibu pengasuh yang sudah berusia lanjut. Sinta tidak mengalami banyak hambatan yang berarti dalam menyelesaikan studynya, namun tidak begitu yang terjadi dengan Brata.


Brata yang dibesarkan sebagai anak manja tidak mampu menyesuaikan diri dengan budaya kampus dan kehilangan minat untuk belajar. Ia jadi lebih sering menghabiskan waktunya di rumah saja untuk bermain game, bermalas-malasan, bahkan mulai menggunakan narkoba. Hal ini mengakibatkan pertengkaran kerap terjadi yang menyebabkan Brata terusir dari kamar dan memilih untuk tidur di kamar putrinya.


Saat Laura berusia 7 tahun, Sinta dan Brata bercerai. Sinta kemudian menikah kembali dan pindah ke swedia untuk mengikuti suami barunya, meninggalkan Laura yang masih sangat belia dalam pengasuhan neneknya, Aminah Hamid. Saat itu kepribadian Laura sudah sangat berbeda. Hilang sudah keceriaan, kelincahan dan kecerewetannya yang dulu, berganti dengan perilaku yang terlalu tenang, pendiam dan menutup diri. Laura juga enggan bergaul dengan orang lain, termasuk teman sebayanya. Ia lebih suka duduk sendirian dalam kamarnya untuk membaca. Walaupun merasa khawatir, Hasmi dan istrinya tidak terlalu menganggap serius perubahan perilaku Laura dan membiarkannya saja. Mereka mencurahkan waktu mereka untuk membesarkan dan merawat Laura dengan penuh kasih sayang dan memberikan kebebasan bagi Laura untuk tumbuh sesuai keinginannya sendiri.


Beberapa tahun berlalu, pelan-pelan Laura berubah kembali menjadi gadis yang berperilaku lebih normal. Ia masih tertutup dan lebih tenang dibandingkan anak-anak lainnya, namun ia mulai suka berbicara dan bercerita ini dan itu, serta mulai menunjukan ketertarikan pada bidang seni tari. Hal ini disambut dengan antusias oleh neneknya yang kemudian mendaftarkan Laura ke sanggar tari modern. Laura kemudian mencurahkan seluruh perhatiannya untuk menggembleng diri sendiri agar bisa menjadi penari yang besar. Namanya pernah tercatat di berbagai kejuaraan modern dance tingkat nasional sebagai juara. Semua orang yang mengenalnya mengira bahwa kelak Laura akan menjadi penari besar yang mengharumkan nama bangsa ini. Jalan setapak menuju masa depannya dihiasi oleh bunga-bunga yang luar biasa indah.


Ketika Laura berusia 16 tahun, Neneknya, setelah pertarungan yang panjang melawan kanker payudara, menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sinta yang jarang sekali pulang ke Indonesia, kali ini pulang untuk memberikan penghormatan terakhirnya. Saat itu Sinta memberi kabar bahwa dirinya baru saja bercerai dengan suami keduanya dan karena Ibunya sudah tiada, memutuskan untuk membawa Laura kembali ke Swedia. Laura menolak. Ia tak mau meninggalkan Kakeknya yang sudah tua untuk hidup sendiri, hanya ditemani oleh para pegawainya, tanpa satupun anggota keluarganya berada di sisinya.


Selama setahun semenjak kepergian istrinya, kondisi kesehatan Hasmi terus menurun. Ia kemudian menyerahkan perusahaan untuk dikelola oleh profesional dan memasrahkan property lainnya untuk diurus oleh Sutrisno. Sutrisno sendiri merupakan sahabat Hasmi sejak kecil yang kemudian bekerja sebagai asistennya sejak awal ia memulai karir sebagai businessman. Sutrisno yang telah kehilangan istri di usia muda dan tidak memiliki anak, begitu memasuki usia 50 tahun, menyetujui permintaan Hasmi untuk pindah dari rumahnya sendiri dan tinggal bersama Hasmi dan Laura. Hal ini membuat Sutrisno memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Laura yang telah dianggapnya sebagai cucunya sendiri.


Tepat setahun setelah kematian ibunya, Sinta memberi kabar bahwa dirinya telah menikah kembali dengan Brata. Ia bertemu kembali dengan pria cinta pertamanya tersebut saat Brata sedang liburan ke Swedia. Brata yang baru saja bercerai dengan seorang wanita yang telah memberinya 3 orang anak laki-laki, sekarang sudah menjadi salah satu pimpinan di perusahaan milik ayahnya. Pertemuan mereka rupanya menumbuhkan kembali cinta yang pernah ada dan membuat mereka memutuskan untuk kembali bersama. Namun karena mengetahui bahwa Hasmi tidak pernah menyukai ayah dari cucu kesayangannya tersebut, Sinta memutuskan untuk melakukan pernikahannya secara sembunyi-sembunyi. Saat mendengar kabar ini, Hasmi mengalami serangan jantung karena sangat marah. Hasmi menghembuskan nafas terakhirnya setelah seminggu berada dalam keadaan koma.


Kepergian kakeknya yang tiba-tiba tersebut tentu saja sangat menghancurkan perasaan Laura. Belum lagi ia sembuh dari luka akibat kepergian neneknya, sekarang ia dipaksa untuk kehilangan kakeknya juga. Saat itu, walaupun air mata terus mengalir di wajahnya yang pucat pasi, Laura masih berdiri dengan tegar dan dapat menghadiri pemakaman kakeknya serta menerima ucapan belasungkawa dari para tamu dengan baik. Namun 4 hari kemudian, saat ia melihat ibu dan ayahnya memasuki pintu rumah, Laura gemetar hebat dan langsung berlari memasuki kamarnya. Laura mengunci diri dalam kamar dan tidak membiarkan siapapun untuk masuk. Ayah ibunya berusaha membujuknya dari luar kamar, tapi hal itu malah membuatnya menjerit-jerit histeris. Ketika mereka mencoba untuk mendobrak pintunya, Laura mengamuk dan mengancam akan bunuh diri bila ada yg nekat mencoba membuka pintunya. Akhirnya mereka membiarkannya.


Setiap hari orangtuanya mencoba berbicara padanya dari luar, berharap dapat membujuk Laura untuk membuka pintu. Namun setiap upaya mereka tidak menimbulkan reaksi apapun. Lalu setiap kali mereka berupaya mendobrak pintu, Laura berteriak-teriak dengan histeris. Suara bantingan keras dan lemparan terdengar dari dalam kamar membuat semua orang yang mendengarnya merasa takut bahwa Laura akan berakhir dengan menyakiti dirinya sendiri.


Keadaan ini berlangsung selama 5 hari. Laura bukan saja tidak bersedia keluar kamar, ia tidak mau membuka pintu dan tidak menyentuh makanan dan minuman yang di tinggalkan di depan pintunya setiap malam. Pada hari ke 5, Sutrisno tak tahan lagi. Ia memanggil juru kunci dan membuka paksa pintu kamar Laura. Anehnya kali ini tak ada perlawanan apapun yang terdengar dari dalam kamar. Saat kamar berhasil dibuka, mereka menemukan kamar dalam keadaan gelap karena gordyn tebal yang menutupi seluruh jendela dalam keadaan terbuka. Seluruh isi kamar dalam keadaan berantakan. Cermin meja rias dan cermin lemari pecah berantakan. Barang-barang milik Laura berserakan di lantai, sebagian besar dalam keadaan rusak berat.


Mereka menemukan Laura bersembunyi di dalam lemari. Gadis itu sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Air seni dan tinja mengotori tubuhnya, sehingga mengeluarkan bau yang sangat tidak sedap. Tubuhnya juga mengalami dehidrasi hebat dan kelaparan akibat tidak menyentuh makanan dan minuman selama berhari-hari. Keluarganya langsung melarikan Laura ke Rumah Sakit.


Laura di diagnosa menderita psikotik akut dan dirawat di Rumah Sakit selama 3 bulan. Selama itu ia menolak untuk dijenguk oleh orangtuanya dan hanya bersedia bertemu dengan Sutrisno. Saat akhirnya diijinkan pulang, keadaannya sudah sangat membaik. Ia masih mengurung diri dalam kamar dan lebih banyak melamun, namun mengijinkan sinta dan sutrisno menemuinya di dalam kamar. Melihat keadaan putrinya, Sinta kembali menyampaikan niatnya untuk membawa Laura ke swedia namun Laura menentang keras. Akhirnya Sinta mengijinkan Laura untuk tetap tinggal di Indonesia dan meminta Sutrisno untuk menjadi walinya.


"Saya pernah bertanya pada Laura mengapa ia ingin membunuh dirinya." Cerita Sutrisno. "Namun Laura bilang ia tidak pernah berpikir untuk bunuh diri. Hari itu tiba-tiba ia merasa sangat merindukan kakeknya dan tahu-tahu kakinya sudah membawanya ke tebing tersebut. Tebing itu adalah tebing yang selalu di datangi oleh Hasmi dan Laura bila mereka ingin menikmati pemandangan laut. Sayangnya yang tertinggal di tebing tersebut hanyalah kenangan belaka. Ketika Laura berdiri di pinggir tebing dan memandang ombak besar yang pecah di bebatuan tiba-tiba ia terpikir, 'Sepertinya apabila melemparkan diri ke dalam laut pasti terasa nyaman.' lalu tahu-tahu ia sudah melemparkan diri sendiri dari tebing. Untungnya sebelum Laura terjatuh, seseorang sempat menangkap tangannya dan menariknya menjauhi tebing. Orang itu jugalah yang mengantarkan Laura pulang." Cerita Sutrisno. Mata tuanya tampak menerawang jauh, mengenang kejadian waktu itu.


"Dokter kemudian mengganti diagnosanya sebagai Skizoafektif episode depresi." Lanjut Sutrisno.


"1 minggu yang lalu, Santi dan Brata kembali dari Swedia. Pada hari itu juga, Laura kambuh kembali. Setiap malam, beberapa menit setelah orangtuanya sampai di rumah, Laura berteriak-teriak dengan histeris sampai jatuh pingsan."


"Apakah Laura sudah diperiksakan kembali ke RSJ?" tanya Rainy. Pak Sutrisno menggeleng.


"Sinta dan Brata menentang keras untuk memasukkan putri mereka ke RSJ dan saya setuju. Namun apabila keadaan Laura tidak membaik juga, saya harus membujuk mereka untuk bersedia membawanya kembali ke RSJ." Sutrisno menarik nafas panjang dan menggelengkan kepalanya dengan ekspresi tak berdaya.


"Laura masih sangat muda dan sangat berbakat. Saya tak tahu apakah masih mungkin untuk menyelamatkan masa depannya." keluh Sutrisno.


"Pak Sutrisno, saya sangat bersimpati atas apa yang terjadi pada Laura. Namun mendengar cerita bapak, tampak jelas bahwa apa yang dialami Laura adalah murni gangguan mental. Saya bukan psikiater atau psikolog, sehingga saya tidak melihat di segi apa saya bisa membantu." ucap Rainy.


"Tadinya saya juga berpendapat begitu, bahwa penyakit Laura benar-benar hanyalah gangguan kejiwaan. Namun beberapa hari yang lalu ada sesuatu yang terjadi yang membuat saya meragukannya." jawab Sutrisno.


"Di malam kedua kambuhnya Laura, saya menyadari bahwa serangan kambuhnya selalu terjadi tepat ketika orangtuanya sampai di rumah, yaitu sekitar jam 9 malam." Cerita Sutrisno.


Untuk membuktikan ini, keesokan harinya, ketika waktu menunjukan pukul 20.45, Sutrisno berdiri di lantai 3, dimana dari tempatnya berdiri, Sutrisno bisa melihat langsung ke arah pintu kamar Laura. Selama 15 menit tidak ada yang terjadi. Laura yang berada di dalam kamar tampak tidak mengeluarkan suara-suara yang tidak biasa. Namun beberapa menit setelah Santi dan Brata memasuki rumah, Sutrisno melihat sebuah bayangan hitam dalam wujud manusia, memasuki kamar Laura dengan menembus pintu kamar yang langsung diikuti oleh terdengarnya suara jeritan histeris gadis itu. Sutrisno langsung berlari memasuki kamar. Betapa terkejutnya ia ketika menemukan bahwa sosok hitam yang tadi dilihatnya sedang membungkuk di atas Laura yang sedang terbaring di lantai.


"Sosoknya terlihat seperti seorang laki-laki bertubuh tinggi dan hitam seperti arang, dengan 2 tanduk di kepalanya. Ia memegang kedua pergelangan tangan Laura seakan hendak menyerangnya. Laura menjerit-jerit dan berusaha untuk melepaskan diri. Saat saya memasuki kamar, mahluk itu menoleh pada saya, lalu kemudian langsung menghilang. Saya cepat-cepat mendekati Laura dan mencoba menolongnya. Wajahnya pucat pasi dan tampak sangat ketakutan. Saat melihat saya, Laura sempat berkata 'kakek, tolong aku.', dan setelah itu langsung jatuh pingsan."


Copyright @FreyaCesare