My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
After Effect



Saat itu di ruang Kontrol, hanya tinggal Arka, Lula, Nora dan Arin yang tersisa. Yang lainnya telah pergi mengikuti Guru Gilang untuk menghadapi ‘tamu’ yang tidak diundang. Mereka berempat memandang ke layar monitor dengan hati waswas. Lula, Arin dan Nora gemetar ketakutan ketika melihat bagaimana Rainy membakar tubuh Herdianti. Mereka menjerit-jerit ngeri dan jijik, ketika melihat ular piton yang besar keluar dari tubuh Herdianti, dan ketika mereka melihat Rainy berdiri dalam api yang sedang berkobar-kobar, ketiga wanita yang sebelum hari ini memang tidak pernah tahu mengenai kemampuan yang dimiliki oleh atasan baru mereka itu, merasa bahwa mereka sedang berada di dalam mimpi. Tidak masuk akal! Sungguh tidak masuk akal! Bagaimana seseorang bisa terbakar begitu hebat, namun tidak terluka sama sekali? Apakah Boss masih bisa di kategorikan manusia? Pikir Nora. Apakah Boss akan baik-baik saja? Begitu kekhawatiran Lula dan Arin. Namun saat melihat Arka yang masih berdiri di tempat dan tidak langsung terbang ke sisi Rainy meskipun dengan wajah pias, memberi mereka keyakinan bahwa Rainy akan baik-baik saja. Karena bila tidak, Arka pasti sudah mendobrak pintu kamar 301, tidak perduli ia diijinkan masuk atau tidak. Sikap overprotektif Bodyguard Arka sudah melegenda di Divisi VII berkat mulut longgar Ace dan Natasha yang sangat suka menceritakan mengenai legenda-legenda tim pandawa dalam mengerjakan kasus-kasus sulit, yang lewat kemampuan story telling mereka, berubah menjadi kolosal.


Begitu api terakhir padam yang menandai berakhirnya pertarungan tersebut, Arka langsung melesat keluar menuju kamar 301. Ketika Arka membuka pintu kamar 301, ia menemukan Ace dan Sekar yang sudah terduduk di lantai, dan Musa yang terkapar di atas lantai yang dingin, tampak sudah tidak memiliki kemampuan untuk bergerak dari tempatnya berada guna mencari tempat yang nyaman untuk diduduki. Wajahnya ketiganya tampak pucat pasi. Sekar dan Musa malah berurai air mata. Di sisi lain kamar, Ivan juga terkapar, namun di atas ranjang. Sementara itu, di atas ranjang yang sama, Herdianti teronggok tak sadarkan diri. Rainy bersandar di atas sofa dalam posisi tubuh yang sama sekali tidak anggun, tidak jauh dari tempat Musa dan Sekar berada. Arka berjalan mendekati Rainy sambil mempelajari kondisinya dengan seksama. Wajah gadis itu, sama seperti wajah orang-orang lain di ruangan tersebut, tampak pucat pasi. Namun ekspresinya nampak sangat tenang. Ia tidak terlihat puas, namun juga tidak terlihat terpukul. Wajahnya datar khas ekspresi yang biasa ia tampilkan di depan umum.


“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Arka. Mendengar suara Arka, Rainy membuka matanya. Wajah tampan di hadapannya tampak penuh kekhawatiran. Jauh berbeda dari wajah Arka yang biasanya. Rupanya selama beberapa bulan ini mereka bekerja bersama di Divisi VII, bukan hanya dirinya yang berubah, namun Arka juga berubah bersama-sama dengannya.


“Aku hanya kelelahan.” Jawab Rainy pelan. “Dimana yang lain?” Tanya Rainy.


“Semua orang pergi membantu Guru Gilang mengatasi mahluk-mahluk yang tiba-tiba datang menyerang itu.” Sahut Arka.


“Emm. Mengapa kau tidak pergi bersama mereka?” Tanya Rainy lagi.


“Tugasku adalah menjagamu. Dan Raka juga setuju.” Sahut Arka lagi. Rainy menarik nafas panjang. Orang lain biasanya punya orangtua yang overprotektif. Tapi ketika orangtua Rainy sangat mempercayai kemampuannya, Rainy malah dianugerahi dua orang lain yang menggantikan orangtuanya untuk bersikap overprotektif. Yang satu adalah kekasihnya dan yang satu lagi adalah sepupunya.  Untung saja ayah dan ibunya tidak ikut-ikutan. Kalau tidak, Rainy tidak tahu lagi bagaimana cara agar ia bisa menjalani hidup. It’s a blessing to be love, but too much will suffocate you!


Rainy mengulurkan tangannya pada Arka.


“Bantu aku berdiri.” Pintanya.


“Kau terlalu lelah. Biar aku menggendongmu.” Ucap Arka. Ia sudah membungkuk dan siap membawa Rainy ke dalam pelukannya, namun Rainy memelototinya.


“Aku tidak selemah itu!” Bantah Rainy keras. Arka, jangan permalukan aku di depan pegawaiku ya! Ucap Rainy pada Arka dalam hatinya. Untungnya Arka tampaknya bisa membaca pikiran Rainy sehingga ia mengganti posisi dari hendak mengangkat, menjadi menarik kedua tangan Rainy hingga tegak berdiri. Dituntun oleh tangan-tangan Arka, Rainy berjalan pelan menuju ke tempat tidur. Ia memandang pada Herdianti yang masih teronggok tak sadarkan diri.


“Bagaimana keadaannya?” Tanya Rainy pada Ivan.


“Ia bisa bernafas dengan lancar dan detak jantungnya juga kuat. Kurasa dia akan baik-baik saja.” Jawab Ivan.


“Baiklah.” Jawab pria itu.


“Good job, Ivan. Tanpa kau, aku tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan.” Puji Rainy. Ivan hanya tersenyum. Tampak sama letihnya dengan Rainy.


“Sekar.” Panggil Rainy kemudian. “Sekar, tak usah bangun dulu. Istirahatlah.” Tahan Rainy ketika melihat Sekar hendak bangkit dari duduknya untuk merespon panggilan Rainy. “Sekar, untuk sementara tugasmu adalah untuk berjaga di sisi Herdianti sampai kita yakin sudah tidak akan ada bahaya lain lagi.” Perintah Rainy.


“Baik, Boss.” Jawab Sekar sambil mengangguk.


Pandangan Rainy berpindah pada Musa yang sudah bangkit dari posisi berbaringnya dan sekarang sedang duduk di sebelah Sekar.


“Musa, bantu Nora membersihkan tempat ini. Jangan sampai ada residu yang tertinggal walau hanya sedikit saja.” Perintah Rainy. Residu yang dimaksud oleh Rainy adalah jejak yang ditinggalkan oleh mahluk tak kasat mata di gedung itu yang apabila dibiarkan, dapat mengundang kemunculan mahluk lainnya.


“Siap, Boss.” Sahut Musa sambil mengangguk.


“Ace,” Mendengar namanya disebut, Ace bangkit dari lantai. “Kau dan Arka ikut aku untuk melihat situasi di luar.” Ucap Rainy.


“Rainy, kau tidak boleh pergi keluar! Kau butuh istirahat!” Tolak Arka. “Sudah ada Guru Gilang dan Raka disana, beserta semua anggota tim lainnya. Mereka akan baik-baik saja!” Bujuk Arka. “Benar, Boss! Bahkan cuma berdiri tegak saja sudah susah, bagaimana kau mau pergi kesana?” Ace turut membujuknya. Rainy kembali menarik nafas panjang. Arka dan Ace benar. Saat ini, berjalan saja sudah sangat sulit baginya. Sebaiknya ia harus mempercayakan semuanya pada Guru Gilang dan anak buahnya saja. Semoga saja Guru Gilang tidak mengalami masalah yang berarti.


“Baiklah. Tapi Ace, kau pergilah ke tempat Guru Gilang dan yang lainnya berada. Siapa tahu mereka butuh exorcist.” Suruh Rainy lagi. Ace mengangguk dan segera berjalan keluar kamar, sementara Rainy dan Arka berjalan dengan perlahan di belakangnya.  Ketika akhirnya Rainy dan Arka keluar dari kamar tersebut, Rainy tiba-tiba didera oleh rasa sakit kepala yang hebat dan tidak tertahankan. Rainy mengulurkan tangan dan memegang kepala sambil mengerang kesakitan. Tak lama kemudian dunia di sekitarnya berubah menjadi gelap gulita dalam seketika.


Copyright @FreyaCesare