
“Kudengar semalam ada tamu yang tidak diundang?” Tanya Guru Gilang.
“Emm. Kami datang kemari untuk menanyakan mengenai hal itu.” Beritahu Raka.
“Katakanlah.” Suruh Guru gilang.
“Guru, bagaimana cara membunuh Kuyang?” Tanya Rainy.
“Bagaimana dengan apimu? Seberapa kuat kemampuannya?” Tanya Guru Gilang.
“Haaah! Lemah.” Keluh Rainy sambil menarik nafas. “Api saya hanya mampu digunakan untuk membunuh jin dan iblis level rendah, Guru.”
“Walaupun apimu lemah, tapi masih bermanfaat untuk membasmi jin dan iblis, itu sudah melebihi yang mampu dilakukan oleh orang lain.” Hibur Guru Gilang.
“Tapi Guru, saya ingin agar api saya menjadi lebih kuat dan mampu menghancurkan iblis level atas juga.” Bantah Rainy.
“Di dunia ini masih mungkin untuk meningkatkan level apimu.” Ucap Guru Gilang.
“Benarkah, Guru? Bagaimana caranya?” Tanya Rainy dengan mata berbinar-binar. Hatinya mengembang penuh harap.
“Tapi diperlukan waktu yang sangat panjang untuk melakukannya. Mungkin kepalamu sempat botak terlebih dahulu sebelum level apimu bisa ditingkatkan.” Tambah Guru Gilang lagi.
“Eh? Sebegitu lamanya? Itu sama saja dengan tidak mungkin kan, Guru.” Ucap Rainy sambil cemberut. Hatinya kembali mengempis layaknya balon yang tertusuk jarum. Guru, you are a tease! Protes Rainy dalam hati. Guru Gilang tersenyum.
“Siapa bilang? Tidak begitu. Berlatih untuk meningkatkan kemampuan itu tidak memandang usia. Bahkan walau kau sudah berusia 1000 tahun sekalupun, selalu ada kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri.” Jawab Guru Gilang.
“Guru bercanda. Siapa di dunia ini yang mampu mencapai usia 1000 tahun? 1000 tahun lagi, saya sudah berubah jadi debu.” Ucap Rainy. Mendengar ini, lagi-lagi Guru Gilang hanya tersenyum.
“Kau bisa melumpuhkan Kuyang dengan menggunakan apimu.” Ucap Guru Gilang kemudian.
“Benarkah? Tapi Kuyang adalah manusia hidup, sementara api yang saya miliki hanya bisa membunuh mahluk yang berasal dari neraka. Bukannya berarti api saya tidak akan bisa melukai Kuyang?” Sanggah Rainy.
“Benar, memang tidak bisa kalau untuk membunuh. Tapi apa kau lupa darimana asalnya ilmu yang dimiliki oleh Kuyang?” Tanya Guru Gilang lagi.
Darimana asal ilmu yang dimiliki oleh Kuyang? Eh, Rainy tak pernah berpikir mengenai hal itu. Memangnya dari mana?
“Kuyang adalah ilmu hitam. Mereka memperolehnya dengan menyembah berhala.” Ucap Raka angkat suara.
“Berhala? Bukankah itu hanya sebutan lain dari jin dan iblis?” Tanya Rainy.
“Emm.” Raka mengangguk.
“Emm.” Raka mengangguk lagi.
“Kalau begitu saya bisa menghancurkan ilmunya menggunakan api dan menyisakan sang Kuyang layaknya sebuah rumah keong tanpa penghuni?” Tanya Rainy.
“Benar. Memang Raka yang paling pintar.” Puji Guru Gilang sambil tersenyum. Rainy berani bersumpah bahwa tatapan Guru Gilang menunjukan bahwa ia sedang menertawakan Rainy dalam hati.
“Seperti juga wanita di kamar nomor 301. Santet dalam perutnya dapat kau hancurkan dengan apimu.” Ucap Guru Gilang. Menghancurkan santet dalam perut dengan api neraka? Rainy tidak keberatan membakar Kuyang karena walaupun ia adalah manusia, ia sudah mencelakakan banyak orang. Namun Rainy tak yakin ia cukup punya nyali untuk membakar manusia yang tidak berdosa. Walaupun Rainy tahu bahwa api dalam tubuhnya tidak akan merusak benda dunia fana ataupun membunuh manusia, namun sekedar tahu dan mencoba secara langsung adalah dua hal yang sangat berbeda.
“Apakah dia tidak akan apa-apa bila saya membakarnya, Guru?” Tanya Rainy dengan khawatir. “Apakah tidak akan menyakitkan?”
“Pasti menyakitkan. Tapi bukan karena terbakar, tapi karena setan dalam perutnya meronta-ronta kesakitan sebelum ia dihancurkan. Dan mungkin tidak akan sebentar.” Ucap Guru Gilang, meramalkan.
“Saya takut, Guru.” Ucap Rainy jujur.
“Kau tidak boleh takut. Takutlah kalau tidak ada yang akan menolongnya. Ia bisa kehilangan nyawanya. Pasti akan terasa sakit tapi tidak akan mati. Setelah penderitaan itu, ia akan selamat. Mungkin ia membutuhkan perawatan untuk memulihkan kondisi tubuhnya yang telah dirusak oleh santet selama beberapa lama, namun karena kerusakannya masih sedikit sebab waktu terjangkitnya yang belum lama, kesembuhan hanya soal waktu.” Ucap Guru Gilang lagi.
“Maukah Guru mendampingi saya melakukan ini?” Pinta Rainy.
“Baiklah.” Guru Gilang mengangguk.
“Terimakasih, Guru. Kalau begitu saya akan bersiap-siap terlebih dahulu.” Ucap Rainy dengan hati yang terasa lebih ringan.
***
Waktu menunjukan pukul 12 kurang 5 menit, dan semua orang, termasuk Guru Gilang, telah berkumpul di ruang kontrol yang terletak berseberangan dengan kamar 301. Ruang kontrol adalah ruangan dimana monitor berisikan video dari CCTV di seluruh kamar yang dikhususkan untuk klien, bisa dilihat. Terdapat 5 buah monitor yang menunjukan isi kamar dari 5 sudut yang berbeda. Di depan monitor-monitor tersebut terdapat sederet kursi yang ditata untuk digunakan saat sejumlah orang berniat menonton siaran dari CCTV secara bersama-sama. Saat itu semua kursi sudah dipenuhi oleh kedua tim dan ditambah oleh Guru Gilang dan Guru Danar, sang pelatih Kiev Maga yang tidak mau ketinggalan keramaian. Bahkan Nora, sang Hostmaster, dengan alasan mengantarkan snack dan minuman bagi mereka, ikut duduk di salah satu kursi sambil mengunyah kacang goreng dengan wajah serius. Ia tanpa sengaja mendengar Lula dan Arin membahas kasus tersebut di ruang makan yang membuatnya merasa iba sekaligus penasaran. Untungnya ruangan tersebut sangat besar dan mampu menampung sekitar 50 orang sekaligus, sehingga keberadaan Nora tidak akan mengganggu jalannya pekerjaan ini.
“Ace dan Sekar, kalian akan ikut masuk. Ingat, tugas kalian adalah tetap berada di dalam ruangan sampai aku mengijinkan kalian untuk keluar. Jangan membuat suara dan kalau kalian tidak tahan, tutup saja mata dan kuping kalian.” Perintah Rainy. Rainy bermaksud menggunakan Ace dan Sekar yang memiliki aura yang ditakuti mereka yang tidak kasat mata, untuk berjaga di sekitar ruangan, memastikan bahwa dalam pengobatan nanti, mereka tidak akan memperoleh tamu yang tidak diundang. Ace dan Sekar mengangguk. Ini adalah pertama kalinya bagi keduanya untuk terlibat langsung dalam pekerjaan ini. Biasanya tugas Ace hanyalah untuk memastikan bahwa anggota tim lainnya tetap aman selama perjalanan pulang dan pergi dari mengerjakan kasus, sementara Sekar hanya pernah terlibat dalam tugas-tugas sederhana selama masa pendidikan. Walaupun keduanya bersemangat untuk melakukannya, namun mereka juga gugup dan cemas. Melihat ekspresi keduanya, Rainy menepuk bahu mereka.
“Jangan khawatir.” Ucap Rainy. “Aku akan melindungi kalian sebaik-baiknya.”
Mendengar ini, Ace dan Sekar menjadi sangat terharu. Terutama Ace yang matanya langsung berkaca-kaca. Ah Boss, kau memang boss paling hebat sedunia! Puji Ace dalam hati. Tepat di belakang Rainy, Ivan mendengus geli dan bibir Raka berkedut menahan senyum. Entah apakah akting Rainy yang hebat, ataukah kedua orang ini terlalu mudah dibohongi? Dalam kasus ini, bukan Rainy yang akan melindungi mereka, namun sebaliknya, merekalah yang akan melindungi Rainy. Sungguh polos sekali!
Rainy memandang pada Guru Gilang yang sedang memasang earpiece di telinganya. Guru Gilang dan Rainy akan berkomunikasi lewat earpiece dan mikrofon yang mereka selipkan di baju dan telinga mereka, sehingga walaupun Guru Gilang tidak ikut masuk ke dalam kama 301, Guru Gilang tetap bisa memberikan instruksi-instruksi yang Rainy perlukan. Rainy mengangguk pada Guru Gilang, dan Guru Gilang membalas anggukannya. Rainy lalu berjalan ke arah pintu. Saat ia sampai di depan pintu, Rainy menghentikan langkahnya. Ia meletakkan tangannya ke gagang pintu dan berkata,
“Musa, Miranda, Ace, Sekar, ayo!”
Rainy menarik pintu hingga terbuka. Lalu ia melangkah keluar dan kemudian menghilang ke balik dinding, di ikuti oleh Musa, Ace, Sekar dan Miranda tepat di belakangnya.
Copyright @FreyaCesare