
“Raka, kau belum melamarku secara resmi!” Protes Rainy keras, membuat Ardi yang sedang menyeruput teh panasnya nyaris tersedak. Nak, bukan begitu caranya seorang gadis meminta untuk dimanjakan. Tegur Ardi dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
Semua orang memuji bahwa anak gadisnya adalah seorang gadis yang anggun, berkelas dan rupawan. Namun tak ada yang tahu bahwa Rainy hanya terlihat anggun karena ia sedikit angkuh dan tidak banyak berbicara. Rainy terlihat berkelas karena ia selalu memasang wajah tanpa ekspresi dan menjaga jarak dari orang lain. Rainy terlihat rupawan, well, anak gadisnya memang rupawan! This is true! Tapi coba lihat gadis ini ketika berada di antara orang-orang terdekatnya; ia manja, tidak tahu malu, keras kepala dan seringkali tanpa filter! Untung saja hatinya baik sehingga Rainy tidak tumbuh menjadi pohon berakar busuk. Padahal dulu Ardi seringkali sampai keringat dingin
melihat cara ayahnya memanjakan Rainy. Untuk itu, Ardi sangat berterimakasih pada Rainy. Terimakasih karena kau tumbuh dewasa menjadi gadis yang menggunakan hati dalam setiap langkahmu, nak. Hanya saja bisa tidak kalau mempertebal sedikit topengmu di hadapan orang lain? Ardi sampai ingin menutupi wajahnya karena malu.
Namun berbeda dari pemikiran Ardi yang menginginkan anak gadis yang bertingkah laku feminin dan berbudaya, Raka justru sangat menyukai Rainy yang apa adanya seperti saat ini, karena itu adalah Rainy yang paling dikenalnya. Rainy yang tumbuh bersamanya dan menjadi sebuah pohon besar dalam hatinya. Karena itu begitu mendengar protes Rainy, Raka tertawa lebar.
“Aku sudah melakukannya!” bantah Raka geli, membuat Rainy mencebik dan menggeleng keras.
“Kau belum melakukannya!” Bantah Rainy.
“Sudah!” sahut Raka lagi.
“Belum!” Jawab Rainy semakin kesal.
“Aku melakukannya malam itu kan?! Apa kau lupa? Beberapa hari yang lalu aku sudah memintamu untuk menikahiku.” Ucap Raka, mengingatkan.
“Itu kan bukan lamaran resmi!” Tolak Rainy tidak terima.
“Aku mau lamaran dengan bunga, cincin and get on one knee!” Sahut Rainy tegas yang disambut oleh senyum lebar Raka.
“Ah! Siap Boss!” Seloroh Raka sambil memberi hormat. Hatinya dipenuhi kebahagiaan. Selama Rainy tumbuh dewasa, Rainy tidak pernah meminta apapun secara pribadi darinya. Ia malah berusaha untuk menjauhkan dirinya dari Raka. Namun hari ini Rainy menuntut sesuatu darinya dengan suara keras. Ini adalah Rainy yang Raka kenal. Rainy yang penuntut dan suka mendominasi, namun dengan cara yang di mata Raka sangat menggemaskan. Well, apabila itu tentang cinta, apa sih yang tidak terlihat indah dalam pandangan pemiliknya? Apabila ada yang bisa mendengar pikiran Raka, mereka pasti akan tercengang dan bertanya, ‘Bro, apa kau baik-baik saja? Biasanya kedua sifat itu justru menyebabkan pria menghindari wanita tersebut layaknya nyamuk menghindari obat nyamuk bakar. Mengapa pada dirimu efeknya malah berbeda? Apakah kau masokis?’ Untungnya tidak ada yang mampu mengintip ke dalam pikiran Raka.
Jadi begitulah, kedua keluarga ini sepakat untuk menjodohkan Rainy dan Raka dan pernikahan mereka akan
dilaksanakan paling cepat Sembilan bulan lagi dan paling lambat dua belas bulan lagi. Tak boleh lebih dari itu! Oh no! Mengingat calon pengantin wanitanya memiliki sejarah gelap berusaha memutuskan hubungan secara sepihak dengan calon pengantin pria, maka pihak keluarga berpendapat bahwa semakin cepat mereka menikah akan semakin baik. Ratna dan Rini bertindak cepat dan menghubungi semua pihak yang harus dihubungi untuk memastikan bahwa pernikahan anak-anak mereka akan berlangsung dengan sempurna tanpa kendala apapun.
Sementara itu, aktivitas Divisi VII kembali berlangsung seperti biasa. Rainy, Arka dan Raka melakukan beberapa kali kunjungan ke Kantor Polisi untuk menjadi saksi dalam kasus tindak kejahatan yang dilakukan oleh Kartini dan Bram. Dari laporan polisi, mereka mengetahui bahwa telah di temukan 20 jenazah yang terkubur dalam gudang tersebut, jumlah ini jauh lebih besar daripada jumlah yang mereka ketahui yang seharusnya cuma 12 jenazah. Berdasarkan kesaksian dari beberapa anak buah Bram, diketahui bahwa 12 wanita yang diculik dan dianiaya oleh Kartini, semuanya dikubur, saat masih dalam keadaan hidup, di dalam gudang tersebut. Sedangkan 8 jenazah yang tersisa adalah orang-orang yang pernah menyinggung Bram dan membuatnya membunuh mereka demi melampiaskan kemarahannya. Bram kemudian di diagnosa oleh Psikolog sebagai Sosiopat. Ia lalu dituntut dan diadili lewat pengadilan militer, dengan tuduhan telah melakukan pembunuhan berencana pada 8 orang dan menjadi kaki tangan kejahatan istrinya yang telah menculik dan menganiaya 14 orang wanita, serta melakukan pembunuhan pada 12 orang diantaranya. Pada akhirnya Hakim pengadilan militer menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup di lembaga pemasyarakat dengan berpenjagaan maksimum. Selama proses pengadilan berlangsung, sampai akhirnya ia dipaksa untuk masuk ke dalam penjara dibawah kokangan senapan, tak sekalipun Bram pernah dihubungi, apalagi dijenguk oleh putranya, Ananda.
Setelah persidangan terhadap Bram selesai, Divisi VII mengantarkan uang kompensasi yang diberikan oleh Bram kepada keluarga dari korban-korban kejahatan Kartini. Rainy memutuskan untuk tidak menjelaskan alasan mengapa Kartini menculik dan membunuh anggota keluarga mereka dan hanya menyampaikan bahwa uang itu adalah ungkapan permohonan maaf dari pelaku yang sangat menyesali perbuatannya. Rainy tidak mengatakan apapun, namun Raka bisa membaca bahwa keputusan itu diambil Rainy karena ia ingin melindungi Ananda dari kemarahan orang banyak.
Mereka juga beberapa kali menerima kunjungan dari Ananda yang masih terus berusaha keras untuk menemukan Nayla setelah kasus Kartini terungkap. Seminggu setelah peristiwa penculikan yang dialami Rainy dan Arka, Ananda akhirnya berhasil menemukan Nayla, setelah pihak rumah sakit yang merawat Nayla mencoba menghubungi Kartini untuk menyelesaikan masalah Adminstrasi bagi Nayla. Walaupun Nayla masih dalam keadaan koma, bertemu kembali dengan Nayla setelah semua yang terjadi memberikan Ananda sebuah energi baru yang membuat ia berhasil keluar dari trauma psikologisnya. Ia dan keluarga Nayla kemudian menghabiskan waktu untuk menjaga dan merawat Nayla secara bergantian. Ananda masih harus menunggu selama 6 bulan untuk bisa melihat kembali warna bola mata Nayla dan mendengar kembali suaranya yang serak akibat lama tidak dipakai berbicara. Ananda kemudian menjual rumah orangtuanya dan pindah ke rumah lain yang letaknya tepat bersebelahan dengan rumah Nayla. 4 bulan kemudian, setelah berkali-kali berlutut dan memohon pengampunan dari orangtua Nayla, mereka akhirnya mengijinkan Ananda dan Nayla menikah. Mereka secara khusus datang ke resort untuk mengundang Divisi VII ke pernikahan mereka. Rainy dan timnya datang untuk memberikan selamat dan meninggalkan sebuah tongkat baseball yang dihias dengan manik-manik tempel yang cantik pada bagian
pegangannya dan disertai dengan pesan bahwa Nayla bisa menggunakan tongkat tersebut untuk mengingatkan suaminya kelak, setiap kali ia lupa, tentang mengapa ia harus selalu memperlakukan istrinya sebagai harta yang paling tak ternilai harganya. Tapi tentu saja itu baru akan terjadi 10 bulan lagi. Saat ini Divisi VII sedang memasuki masa tenang setelah mengerjakan sebuah kasus berat.
Copyright @FreyaCesare