My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Mimpi Buruk II



“Sayang sekali bila kau tidak suka. Tapi adikku sayang, sebaiknya kau lihat lagi baik-baik, karena tempat ini adalah tempat yang akan kau tinggali, bila kau mati nanti.” Beritahu Lilian sambil memberi Rainy senyum terindahnya.


Rainy memandang Lilian dengan kening berkerut, mencoba memahami kata-katanya. Tempat ini adalah tempat yang akan Rainy tinggali setelah mati? Rainy memandang ke seluruh penjuru arah angin. Kemanapun ia memandang, yang terlihat hanyalah api menyala yang berkobar-kobar. Tidak ada daratan, tidak ada bangunan, tidak ada kapal atau yang sejenisnya, dan juga tidak ada satupun manusia. Satu-satunya mahluk lain yang terlihat adalah burung-burung kecil yang berterbangan di langit malam yang gelap tak berbintang, sambil membawa ranting-ranting hitam di dalam cengkeraman cakar-cakarnya, atau terjepit di antara paruhnya.


“Neraka?” Tanya Rainy dengan suara bergetar.


“Betul sekali! Ah, bukan juga sih. Ini hanya sebuah replika dari Neraka yang dibuat berdasarkan ingatanku. Bagaimana? Apa kau suka?” Tanya Lilian dengan suara riang yang menjijikan.


“Ini tidak terlalu panas…” Guman Rainy tanpa sadar. Mendengar ini, Lilian mendengus geli.


“Hei bodoh, kau manusia hidup dengan kulit dan daging. Kalau aku membiarkanmu merasakan panasnya neraka yang sesungguhnya, jangan harap kau masih bisa mempertahankan tubuhmu yang lemah dan tidak berguna itu!” Ejek Lilian. Matanya memandangi tubuh Rainy dengan ekspresi jijik. Menyadari makna kata-kata Lilian, Rainy terdiam. Ia kembali memandang berkeliling. Sungai api ini jelas menyerupai magma gunung berapi. Dan api ini pasti jutaan kali lebih panas dari hellfire miliknya. Bagaimana mungkin ia akan bisa tinggal di tempat ini? Tidak! Tentu saja ia tidak akan sekadar tinggal disini, tapi ia akan disiksa disini dalam waktu yang tiada batasnya. Hati Rainy langsung mengerut dan menggigil ketakutan. Namun wajahnya beku tanpa ekspresi.


“Bagaimana? Apa kau suka?” Tanya Lilian lagi. “Melihat bagaimana rajinnya kau menggunakan hellfire dalam tubuhmu, kau pasti sangat menyukainya kan? Itulah sebabnya kubawa kau kemari,” Iblis itu lalu membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Rainy sambil berkata dengan suara pelan, namun dipenuhi intonasi kejam. “Agar kau bisa melihat langsung tempat dimana anak-anak penyembah setan akan dikumpulkan setelah kalian mati!”


Mendengar kata-kata Lilian, dalam dirinya,  Rainy semakin gemetar oleh rasa takut yang sangat menekan. Namun lagi-lagi hal itu tidak tampak dari luar. Respon yang ditampilkannya hanyalah wajah tanpa ekspresinya yang telah terstandarisasi, lengkap dengan tatapan mata yang menunjukkan seolah-olah ia sedang sangat bosan.


“Kau membicarakan tentang aku? Kapan aku pernah bilang bahwa aku menyembahmu?” Rainy mendengus jijik. Mendengar ini, Lilian tertawa geli.


“Adikku sayang, apa kau lupa? Hakmu untuk memilih telah dirampas oleh leluhurmu ketika ia memutuskan untuk membuat perjanjian dengan Lilith.” Beritahu Lilian dengan nada geli. Namun Rainy menggelengkan kepalanya sambil tetap mempertahankan ekspresi bosannya.


“Lucu! Kalau itu benar, mengapa kau memaksaku untuk melakukan ritual penanda tanganan buku perjanjian?” Bantah Rainy.


“That’s only for a show! You know? Pertunjukan!” Sahut Lilian dengan santai. “Siapa suruh Lilith sangat suka drama karena itu ia ingin semua peristiwa dicatat dengan sempurna. Pada saat itu, biografimu akan dimasukkan ke dalam daftar penyembah Lilith, lengkap dengan semua potensi dan juga prestasimu.”


“Prestasiku? Sejauh yang kuingat, prestasi terbaikku justru adalah membunuhi pasukanmu satu demi satu.” Ucap Rainy mengingatkan.


“Benar! Aku tidak lupa. Tapi kau hanya membunuh prajurit-prajurit kelas rendah yang tidak berguna. Menurutku menggunakan mereka untuk menjadi teman bermainmu, sama sekali tidak ada ruginya.”  Balas Lilian santai.


Tiba-tiba Rakit yang dinaiki Rainy melebar. Lalu sebuah sofa tunggal berwarna merah darah muncul begitu saja di atas rakit tersebut. Lilian kemudian duduk dengan santai di atas sofa tersebut sambil terus berbicara dengan nada riang yang menyebalkan.


“Aku tidak percaya!” Sahut Rainy datar.


‘Hah? Lalu siapa yang mau kau percaya?” Tanya Lilian. Iblis itu menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa dan tersenyum geli. Wajahnya yang luar biasa cantik sungguh terlihat bagai pemandangan yang menyakitkan mata dalam penglihatan Rainy. Mengapa iblis terkutuk ini memasang wajah wanita yang tidak berdosa sebagai topengnya? Sungguh menjijikan.


“Apakah tunangan yang tampan itu? Mungkin aku harus merobek mulutnya yang seksi itu agar ia tidak bisa membisikan kata-kata manis padamu dan membuatmu memimpikan untuk bisa bertemu dengan Allah. Hah! Jangan mimpi!” Pelan-pelan Lilian bangkit dari duduknya. Ia kemudian berdiri berhadap-hadapan dengan Rainy dalam jarak yang begitu dekat. Lilian mendekatkan wajahnya ke wajah Rainy dan berbisik,


“Sejak leluhurmu memutuskan untuk menyembah kami, sejak itu pula, kau dan seluruh anggota keluargamu, serta semua keturunan kalian, tidak lagi punya hak untuk memanggil nama Allah. Bahkan walau menangis atau membunuh dirimu sendiri sekalipun hanya untuk meminta perhatianNya, Allah tidak akan pernah mendengarmu! Karena kontakmu dengan diriNya telah terputus sejak saat kau dilahirkan sebagai anak Ardi. Kalau kau mau menyalahkan seseorang, salahkan saja dirimu sendiri! Siapa suruh kau lahir dalam keluarga yang memuja kami!” Lilian kembali menegakkan tubuhnya. Ia kemudian tersenyum menatap Rainy.


“Tak perlu pergi ke Masjid. Jangan repot-repot beribadah. Tidak ada gunanya, karena malaikat tidak sudi mencatatnya sebagai perbuatan baik darimu. Berhentilah bermimpi terlalu tinggi, karena selamanya, kau... akan tinggal bersamaku di tempat ini!” Lilian kemudian mengangkat kedua tangannya dan mendorong bahu Rainy dengan kuat. Rainy yang tidak menduga akan diperlakukan seperti itu oleh Lilian, tidak mampu melakukan apapun. Tubuhnya terdorong keluar dari Rakit dan terlempar masuk ke dalam api yang membara.


Ketika tercebur ke dalam api, tubuh Rainy langsung diliputi oleh rasa panas yang sangat tinggi. Ia merasa tubuhnya terbakar hebat dalam panas yang jauh lebih panas daripada sekedar air yang mendidih. Api memasuki seluruh lubang di tubuhnya. Api tersebut memasuki hidungnya, telinganya dan memenuhi mulutnya, membuatnya tidak bisa mengeluarkan suara. Rainy merasa pelan-pelan seluruh tubuhnya meleleh dalam rasa panas yang sangat menyakitkan. Begitu menyakitnya sampai ia berharap ia akan kehilangan kesadarannya agar rasa sakit tersebut menghilang. Namun tidak, kesadarannya tetap utuh! Pikirannya tetap jernih, padahal rasa sakitnya terus meningkat berkali-kali lipat!


“Oops! Maaf, adikku sayang. Aku tidak sengaja!” Terdengar suara Lilian dengan sangat jelas di telinganya. “Apakah sangat sakit? Hmm? Sakit ya? Sungguh kasihan. Aku hanya ingin memberimu contoh mengenai siksaaan macam apa yang akan kau terima bila kau memutuskan untuk mendengarkan Allah. Ini adalah hukuman yang Allah desain untuk para pemujaNya.” Ucap Lilian lagi dengan nada penuh rasa iba.


“Tapi sebenarnya kalau kau mau, kami bisa membuatmu terbebas dari rasa sakit ini untuk selama-lamanya? Kami bisa membuatmu, walau tinggal disini bersama kami, tapi tidak akan merasakan sakitnya. Apakah kau mau tahu caranya? Hmm? Kalau kau mau tahu caranya, aku akan memberitahumu. Bukankah aku kakak baik?” Ucap Lilian lagi.  “Hmm? Mengapa tidak menjawab? Rainy????”


Iblis terkutuk! Memangnya dia tidak tahu bahwa di dalam sungai yang airnya terbuat dari api yang membara itu Rainy tidak bisa berbicara sama sekali? Bagaimana mungkin ia bisa berbicara bila lidahnya meleleh terbakar api dan pita suaranya lenyap akibat mencair saat api memasuki kerongkongannya. Rainy terbakar dan terus terbakar sampai bagian-bagian tubuhnya meleleh dan terus meleleh secara perlahan-lahan. Rasa sakitnya yang tidak tertahankan membuatnya tidak mampu melakukan apapun. Ia hanya bisa pasrah dan membiarkan seluruh indranya merasakan semuanya sekaligus.


Tiba-tiba, sebuah tangan muncul dan menarik kerah bajunya. Tubuh Rainy terangkat naik dan kembali berdiri di atas rakit tersebut dalam keadaan utuh dan sempurna seperti sebelumnya. Seolah-olah penderitaan Rainy saat tercebur ke dalam sungai api tersebut tidak pernah terjadi. Untuk pertama kalinya Rainy menunjukan ekspresi terguncang di depan Lilith. Ia memeluk tubuhnya sendiri dan duduk tersungkur di atas rakit tersebut. Air matanya menganak sungai menuruni wajahnya yang memerah, sementara tubuhnya gemetar dengan sangat hebat.


“Ooooh… mengapa kau terlihat begitu menyedihkan? Apakah menyakitkan?” Tanya Lilian sambil tersenyum mengejek. “Sekarang kau tahu rasanya. Bagaimana? Apakah kau mau aku memastikan bahwa kau tidak akan pernah mengalami hal seperti ini selama-lamanya?” Tanya Lilian lagi. “Kalau kau mau, caranya mudah saja. Saat ini juga kau tinggal bilang padaku bahwa kau akan selalu menyembah dan mencintaiku.” Ucap Lilian dengan nada yang lembut dan penuh rayuan.


Perlahan-lahan Rainy mengangkat kepalanya. Ia lalu menatap lurus ke arah mata Lilian dengan sorot mata yang dipenuhi oleh kebencian yang dalam. Lalu dengan suara tegas yang penuh tekanan kemarahan, Rainy berkata,


“Sampai matipun, aku tidak akan pernah menyembah, selain kepada Allah!”