
Musa merasa sangat kesal. Tidak ada angin dan tidak ada hujan, seseorang dengan kasar menendangnya hingga ia jatuh terlempar ke atas lantai marmer yang keras. Kedua bantalan empuk di bagian belakang tubuhnya terasa sangat sakit. Musa ingin memaki pelakunya keras-keras, tapi melihat sorot mata Arka yang dingin dan tubuhnya yang penuh aura membunuh membuat Musa memendekan lehernya layaknya seekor kura-kura. Orang ini seraaaaam! Bahkan suara dalam hatinya terdengar gemetar karena takut. Ketika kemudian ia melihat kepala Rainy muncul dari balik lengan pria kejam itu, Musa langsung diliputi oleh kelegaan yang membuatnya merasa ingin menangis.
"Mbak Rainyyyyy!" rengeknya tak tahu malu. "Tolong aku!"
Masih bersembunyi di balik punggung Arka, Rainy bertanya,
"Apa kau bakal mencoba menerjangku lagi?" Musa menggeleng dengan wajah mencebik menyedihkan. Ia tidak bermaksud menerjang Rainy. Ia hanya merasa sangat gembira melihat gadis itu sehingga tanpa sadar ia mencoba memeluknya.
"Janji?" tanya Rainy lagi. Masih mencebik menyedihkan, Musa mengangguk kuat-kuat.
"Baiklah." Rainy keluar dari persembunyiannya di balik punggung Arka dan berkata dengan nada mengancam, "Jaga jarak dariku sejauh 1 meter! Jangan menerjang, jangan menyentuh dan jangan coba-coba membohongiku dengan tangisan tanpa air matamu itu!"
Kata-kata Rainy lagi-lagi membuat ekspresi Musa bertambah menyedihkan.
"Aku sungguh-sungguh ingin menangis! Hanya saja entah mengapa air mataku tidak mau keluar." bantah Musa. Rainy duduk di sebuah sofa tunggal, menyilangkan kedua kakinya dan memandang Musa dengan tatapan mengejek. Sementara itu Raka duduk di sebelahnya dan Arka memilih berdiri di samping kursi yang Rainy duduki.
"Kau mau duduk disitu sampai kapan?" tanyanya pada Musa. Musa tersadar bahwa sejak tadi ia masih duduk di lantai dengan tanpa wibawa sama sekali. Sungguh memalukan. Dengan susah payah, Musa bangkit dan sambil memegangi punggungnya, duduk di sebuah Sofa tunggal di seberang Rainy. Mahluk tak kasat mata yang datang bersamanya segera berpindah untuk berdiri di belakang Musa. Rainy melirik kearah mereka dengan tatapan bosan.
"Pengawalmu setia sekali."
"Mereka bukan pengawalku!" protes Musa.
"Oh ya? Kalau begitu, apakah mereka istrimu?" seloroh Rainy dengan mata yang berbinar geli.
"Bukan!" protes Musa keras. Perempuan ini lagi-lagi memperlakukannya layaknya anak kecil yang nakal, persis seperti saat ia masih menjadi pasien RSJ.
"Musa, kau sudah keluar dari RSJ. Mengapa kau masih belum bisa mengendalikan emosimu?" tegur Rainy sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Setiap hari aku diteror oleh mereka," Musa menunjuk ke arah wanita-wanita tak kasat mata yang berdiri di belakangnya. "Hingga tak bisa mempunyai kehidupan normal. Bagaimana aku tidak jadi emosian." keluhnya.
"Kau sudah melihat mereka setiap hari seumur hidupmu. Bukankah seharusnya kau sudah terbiasa?" tanya Rainy lagi.
"Tidak terbiasa! Aku sungguh gak mampu untuk terbiasa! Setiap hari mereka bergantian menerorku. Malam-malam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak karena mereka naik keatas tubuhku, menarik selimutku, bahkan mencoba memperkosaku!" cerita Musa. Kata-katanya membuat Rainy menaikan kedua alisnya.
"Memperkosa? Sepertinya kau terlalu banyak berpikir."
"Ini sungguhan!" seru Musa dengan kesal karena Rainy meragukannya.
Rainy merasa kepalanya mulai berdenyut akibat mendengar suara keras yang dikeluarkan Musa. This brat! Terakhir kali mereka bertemu, Musa tampak sangat stabil dan tangguh. Seolah-olah begitu mengetahui bahwa selama ini, ia tidak berhalusinasi, ia merasa memiliki alasan untuk hidup dan siap untuk melawan seluruh dunia. Tapi mengapa saat ini kondisinya kembali menurun?
"Bagaimana kau bisa menemukanku?" tanya Rainy.
"Aku melihat wajahmu dalam sebuah artikel yang membahas tentang keluargamu. Setelah tahu dari keluarga mana kau berasal, menemukanmu bukan hal yang sulit." sahut Musa. Rainy mengutuk dalam hati. Surely, artikel-artikel itu memang sangat berbahaya! Rainy menoleh pada Raka.
"Take those articles down!" perintah Rainy. Raka mengangguk.
"I will." Setelah memperoleh jawaban yang diinginkannya dari Raka, Rainy kembali memusatkan perhatiannya pada Musa.
Musa menunjuk pada dua wanita tak kasat mata di belakangnya.
"Ajari aku cara mengusir mereka pergi!"
Rainy memandang ke arah kedua wanita tersebut.
"Kenapa? Apa mereka tidak cukup cantik?" selorohnya. Mendengar kata-katanya Musa kembali menjadi sangat kesal.
"Walaupun mereka terlihat secantik bidadari, aku tidak tertarik!" ucapnya keras.
"Kenapa? Apa kau gay?" goda Rainy lagi.
"Aku manusia! Aku gak doyan sama jin dan sejenisnya!" Musa meledak dengan keras, membuat Rainy menganggukkan kepalanya sambil mengerutkan bibirnya.
"Selama ini bagaimana kau melakukannya? Terakhir kali bertemu denganmu, kau punya 3 jin yang mengikutimu. Sekarang kau punya 2 dan satu diantaranya bukan jin yang kulihat waktu itu. Kemana yang lain?"
"Yang kau lihat di RSJ waktu itu adalah penghuni RSJ. Mereka tidak mengikutiku saat aku keluar dari sana. Setelahnya aku diganggu oleh banyak sekali mahluk tak kasat mata. Aku berhasil menyingkirkan sebagian besar dari mereka. Tapi yang dua ini sangat mengganggu dan keras kepala. Tolong bantu aku mengusir mereka!" pinta Musa dengan memelas.
"Siapa yang memberi tahumu kalau aku bisa mengusir mereka?" tanya Rainy.
"Mereka yang ada di RSJ waktu itu yang mengatakannya padaku. Mereka bilang ada sesuatu dalam tubuhmu yang berbau begitu enak dan mengundang, namun sebenarnya berbahaya bagi mereka, sehingga mereka tidak berani mengganggumu." cerita Musa.
"Tolonglah, mbak Rainy! Aku tak mau lagi ditakut-takuti sepanjang waktu begini." pinta Musa menghiba. Rainy menarik nafas panjang melihat tingkah Musa. Ia kemudian menoleh ke arah Arka dan berkata,
"Cousin, tolong panggilkan Ace." pintanya. Arka mengangguk dan langsung berbalik pergi. Di depannya, Musa memandang punggung Arka yang bergerak menjauh dan berkata dalam suara bisik-bisik yang ribut.
"Itu sepupumu? Mengapa dia seram sekali? Setiap kali ia memandangku dengan tatapannya yang dingin itu, aku merasa jantungku berdetak dengan kencang!"
"Jantungmu berdetak dengan kencang? Apa kau jatuh cinta pada sepupuku?" seloroh Rainy dengan ekspresi datar. Kata-katanya tentu saja langsung membuat Musa meradang.
"Aku masih suka perempuan!" protesnya keras.
"Ah, kalau begitu aku yang sudah salah paham. Melihat kau menolak keras 2 wanita cantik di belakangmu, kukira kau lebih suka pada pria." Rainy meminta maaf.
"Sebelah mananya yang cantik? Mbak Rainy, matamu rusak ya?" serang Musa kesal.
"Semua wanita itu cantik."
"Mereka bukan wanita! Bahkan biarpun mereka wanita, aku tak berminat pada makhluk-makhluk jelek seperti mereka!" kata-kata Musa rupanya membuat kesal 2 mahluk tak kasat mata di belakangnya karena mereka langsung bergerak mendekati Musa dan menyeringai dengan sangat menyeramkan kepadanya. Dengan terkejut Musa segera bangkit dari duduknya dan berlari ke arah Rainy. Sayangnya lagi-lagi upayanya untuk mendekati Rainy dihentikan oleh sebuah tendangan yang kali ini bersarang di pinggulnya.
Musa menjerit kaget, namun jeritannya segera terhenti ketika ia mendengar kedua mahluk tak kasat mata di belakangnya menjerit lebih keras. Ekspresi di wajah keduanya menunjukan bahwa mereka tampak kesakitan. Lalu tak lama kemudian mereka melesat keluar dengan menembus dinding, meninggalkan suara jeritan mereka yang menggenaskan menggema di belakang mereka. Dari arah pintu, sebuah suara bertanya dengan riang,
"Boss, anda memanggil saya?"
Copyright @FreyaCesare