My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Pertanyaan Sang Iblis



"Menghadapi atasan seperti engkau, Angah, yang bahkan tega mencoba menyakiti keponakan kandungnya sendiri, aku harus memberikan jalan bagi pegawai untuk melindungi diri sebelum aku menyerahkan nasib mereka semua ke atas tanganmu." balas Rainy dingin. Kata-katanya membuat Rudi dan juga Rosa, tertegun tak percaya.


"Rainy... Kau... Apakah kau tahu...?" tanpa sadar Rosa hampir menyuarakan pertanyaan di kepalanya. Apakah Rainy mengetahui bahwa mereka pernah berkali-kali mencoba mencelakai dirinya? Mendengarnya kalimatnya yang tidak selesai, Rainy tersenyum sinis. Tentu saja ia tahu apa yang ingin Rosa tanyakan.


Rainy menatap kedua kakak kandung ayahnya itu dengan dingin. Dari tempat mereka berada, Rudi dan Rosa bisa merasakan kemarahan pelan-pelan bergelora di dalam diri Rainy.


"Apakah sejak tadi kalian tak bisa mendengar kata-kataku dengan jelas? Atau aku perlu memaparkannya satu demi satu agar kalian lebih dapat memahaminya?" ejek Rainy dengan suara rendah. Dengan sengaja ia menyeret pelan setiap kata yang diucapkannya sehingga terdengar mengancam.


"Aku adalah indigo. Dengan kemampuanku, semua yang telah kalian lakukan dan yang sedang kalian rencanakan padaku, tak ada yang tidak aku ketahui!" Mendengar ini, wajah Rosa dan Rudi langsung memucat.


Rainy menyandarkan dirinya ke kursinya, menyilangkan sebelah kakinya ke atas kakinya yang lain dan meletakkan telapak tangan kirinya diatas punggung tangan kanannya yang berada di pangkuannya. Sikap tubuhnya tampak sopan, namun senyumnya yang sinis dan sorot matanya yang dingin membuat punggung yang melihatnya terasa bagai dirayapi oleh sebuah tangan dingin.


"Dan jangan lupa, siapa yang memilihku untuk menjadi pemimpin di keluarga ini. Apa kalian meragukan kemampuan Lilith?" sebelah sudut bibir Rainy naik membentuk senyum mengejek. Rosa dan Rudi mematung di tempatnya, tampak kehilangan kendali atas tubuh mereka karena rasa takut. Jantung mereka terasa bagai diremas-remas oleh sebuah tangan tak terlihat, terancam untuk berhenti berdetak kapan saja.


Sesungguhnya mereka tidak lupa. Oh, walaupun ingin, mereka tidak mampu untuk lupa. Kematian Adnan merupakan pukulan yang paling keras yang pernah mereka terima seumur hidup mereka. Sejak itu mereka tidak lagi memiliki nyali untuk mencelakai atau cuma sekedar mencoba mengambil keuntungan dari Rainy. Namun kejahatan mereka terhadap Rainy sudah mereka lakukan sejak sebelum mereka mengetahui keberadaan Lilith.


Bagaimana mungkin membatalkan hal yang sudah terjadi? Dalam hati Rosa dan Rudi menyalahkan kedua orang tua mereka. Seandainya Jaya Bataguh dan Marlena memberitahu mengenai Lilith sejak awal, mereka tidak akan berani mencoba merebut perusahaan dan hak untuk memimpin keluarga dari tangan Rainy. Kejahatan yang mereka lakukan pada Rainy adalah karena kesalahan Jaya Bataguh dan Marlena. Sayangnya Rosa dan Rudi lupa bahwa normalnya orang yang baik tidak akan mencoba mencelakai orang lain, apalagi anggota keluarga sendiri, apapun alasannya. Apabila mereka orang yang benar, mereka tidak akan mengambil jalan yang salah, tak perduli seberapapun besarnya godaan yang di lambaikan di depan mata mereka. Sungguh orang-orang yang munafik!


"Rainy, aku benar-benar minta maaf." ucap Rosa pelan. Ia menunduk karena malu.


"Rainy, aku juga minta maaf ya." Rudi ikut bersuara. Menatap kedua orang itu yang tiba-tiba rela merendahkan diri mereka untuk meminta maaf membuat Rainy mencibir dalam hati. Namun wajahnya hanya menunjukan ekspresi yang datar dan menjaga jarak. Rainy memandang keduanya dengan dingin. Ia menarik nafas panjang kemudian berkata,


"Pastikan saja untuk menjaga perusahaan dengan baik. Jangan pernah memperlakukan karyawan dengan tidak benar dan kendalikan anak-anak kalian dan juga anak-anak Ulak Adnan."


"Aku janji akan melakukannya." Jawab Rosa cepat.


"Aku juga akan melakukan yang kubisa untuk membantu Rosa." Tambah Rudi.


"Pembicaraan ini sudah selesai. Silahkan pergi." Usir Rainy dengan nada datar. Mendengar ini Rosa dan Rudi langsung bangkit dari duduk mereka.


"Kami pergi, Rainy. Kalau kau memerlukan apapun jangan segan untuk memberitahuku ya." Ucap Rosa sebelum berbalik dan berjalan keluar dari ruangan dengan Rudi mengekor di belakangnya. Ketika pintu menutup di belakang mereka, Rainy langsung melepaskan seluruh ketegangan di tubuhnya dan menyandarkan diri ke sofa. Ia memejamkan matanya dan mencoba mengatur nafasnya untuk menenangkan emosinya.


Kosongkan pikiran dan tarik nafas pelan melalui hidung.... Tahan sebentar... Buang perlahan melalui mulut. Rainy mencoba melakukan teknik rileksasi yang dipelajarinya di kampus untuk membuatnya merasa lebihnya nyaman. Ulangi lagi; tarik.... Tahan... Buang... Rainy baru melakukannya selama 5 menit ketika sebuah suara merdu yang memikat terdengar di dekatnya.


"Pertunjukanmu sungguh hebat, Rainy. Belum pernah selama beberapa ratus tahun ini aku merasa terhibur seperti hari ini."


Rainy membuka matanya perlahan dan mengangkat kepalanya dari sandaran kursi. Di sofa tunggal tepat di depannya, Lilith sedang duduk dengan anggunnya. Tubuhnya indahnya bersandar dengan rapi pada punggung sofa sementara sebelah kakinya disilangkan di kaki yang lain. Kedua sikunya bersandar pada sandaran tangan sofa sementara kedua telapak tangannya saling berhadapan dan membentuk segitiga dengan ibu jari yang bertemu di bagian bawah. Matanya yang indah menatap Rainy dengan berbinar-binar dan bibir merahnya yang sewarna darah tersenyum menggoda. Terhadap kata-katanya, Rainy hanya diam, memandang Lilith tanpa ekspresi.


"Aku tak pernah bertemu seseorang yang dengan tanpa beban memberikan semua yang ia miliki kepada orang lain, bahkan pada orang yang telah berkali-kali mencoba menyakitinya. Apa kau tidak merasa sayang?" tanya Lilith ingin tahu.


"Tidak." sahut Rainy dingin.


Rainy hanya mengangkat bahunya dengan tak acuh.


"Malas. Terlalu merepotkan."


"Ah." Lilith menepuk bibirnya pelan dengan ujung jari telunjuknya. "Aku ingin tahu, hal apa yang bisa membuatmu merasa tertarik."


"Easy. My freedom from you."


Mendengar ini tawa Lilith langsung berderai. Suaranya terdengar bagai gemerincing bel angin; indah dan menenangkan, membuat Rainy mencibir penuh hinaan dalam hatinya. Apabila Iblis bisa memberikan rasa tenang yang sesungguhnya maka semua manusia akan berakhir di dalam neraka jahanam!


"Dream on." ucap Lilith ringan.


"Surely."


"Are you really hate me that much?" Lilith menyipitkan matanya melihat sikap Rainy yang dingin dan tanpa ekspresi.


"Emm." Rainy mengangguk pelan membenarkan.


"Ah, kau menyakiti hatiku!" keluh Lilith dengan suara manja, memasang ekspresi terluka. Melihatnya, Rainy mengangkat sebelah alisnya. Iblis ini sungguh ratu drama!


"Bukankah Iblis tidak punya hati?" tanyanya mengejek. Lilith mengangguk mengiyakan.


"Emm. Kami tidak punya." Lilith mengangguk. Senyum indahnya kembali mengembang, membuat wajahnya yang cantik terlihat bagai bunga magnolia yang sedang mekar dengan sempurna.


"I thought so too." Rainy mengangguk dan mengalihkan perhatiannya pada kuku jari tangannya yang terpotong pendek dan polos tanpa cat kuku, sepenuhnya mengabaikan Lilith.


"So, kau menyingkirkan aku dari perusahaan?" tanya Lilith pelan.


Copyright @FreyaCesare


Glossary:


Ulak : Panggilan untuk paman atau bibi yang merupakan anak pertama


Fun Fact:


Teknik pernafasan yang dilakukan Rainy adalah sebuah teknik rileksasi yang sangat berguna untuk mengatur emosi. Apabila pada suatu waktu kamu merasa penat, gelisah dan lelah hati, kamu bisa coba teknik ini untuk menenangkan diri. Kalau tertarik coba aja cek di youtube untuk tutorialnya.