My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Klien Pertama



Waktu menunjukan pukul 4 sore ketika seorang bapak tua berusia sekitar 60 tahun yang mengenakan kemeja koko lengan pendek berwarna krem dan celana panjang longgar berwarna khaki yang terlihat bagus dan rapi, diantar oleh salah satu pegawai Eclair menaiki tangga menuju ke apartemen di lantai 2. Ia diterima oleh seorang pria muda yang tampan, tinggi dan bertubuh kekar, dengan ramah. Pria tersebut kemudian membawanya melintasi dapur yang trendi dan ruang makan yang luas, menuju ke living area yang dikelilingi oleh jendela-jendela yang tinggi dan besar pada dinding-dinding terluarnya.


Di atas salah satu sofa panjang berwarna putih, duduk seorang wanita muda, di dampingi oleh seorang gadis belia bertubuh mungil yang mengenakan setelan jas pendek dan kemeja berwarna hitam yang dipadukan dengan celana bermotif tartan berwarna merah dan seorang pria tampan yang mengenakan kemeja lengan panjang berwarna abu-abu serta celana panjang berwarna gelap. Wanita muda yang duduk diapit oleh keduanya mengenakan gaun panjang dan jas army berwarna putih. Rambutnya ditata membentuk sanggul mungil yang menggantung di atas bahu kirinya, dengan anak-anak rambut yang lebat membingkai wajahnya yang sangat cantik. Wajahnya hanya dihiasi lipstik berwarna merah muda, yang menonjolkan kilau kulit mudanya yang sehat, mulus dan segar. Di belakang mereka, seorang pria bertubuh tinggi dan langsing yang wajahnya tertutup bayangan gordyn sehingga tidak terlihat sedang berdiri bersandar di jendela yang tertutup rapat.


Ketika si pria tua mendekat, ketiga orang yang duduk di sofa bangkit dan berdiri. Si pria muda berjalan mendekat dan mengulurkan tangan sambil tersenyum ramah. Pria tua itu menyambut uluran tangan tersebut dan menyadari bahwa si pria muda mengenakan sarung tangan sutra sewarna kulit yang tipis dan nyaris tidak terlihat.


"Pak Sutrisno, saya Raka, yang berbicara dengan bapak melalui telepon tadi pagi." ucap Raka memperkenalkan diri. Sutrisno tersenyum sopan dan mengangguk.


"Ini adalah atasan saya, Rainy," Rainy mengulurkan tangannya dan menyalami Sutrisno dengan sopan. Memandang wajah Rainy dari dekat mengingatkan Sutrisno pada kejadian yang sudah lama berlalu. Dalam hati Sutrisno bertanya-tanya mengapa wanita muda secantik Rainy tampak muram dan tidak menunjukan senyumnya.


"Ini adalah Natasha, Sekretaris atasan saya." Raka memperkenalkan Sutrisno pada Natasha yang menyambut uluran tangannya dengan senyum ramah di wajahnya yang cerah. Sangat muda, sangat cerdas dan sangat penuh vitalitas hidup, nilai Sutrisno dalam hati.


"Silahkan duduk, pak." ucap Rainy mempersilahkan.


Sutrisno mengambil tempat di sofa yang berada di sebelah sofa yang Rainy tempati sebelumnya. Setelah pria tua tersebut duduk, barulah Rainy, Raka dan Natasha kembali duduk. Dari arah dapur, Ace datang dengan membawa secangkir teh panas yang terletak diatas piring kecil, yang mengeluarkan wangi yang hangat yang menenangkan. Cangkir teh tersebut kemudian diletakan di atas meja di hadapan Sutrisno. Mencium wanginya, Sutrisno tersenyum.


"Monggo diminum, pak." Ucap Ace mempersilahkan sambil tersenyum. Sutrisno mengangguk dan balas tersenyum.


Terimakasih, nak." Jawabnya dengan ramah. Setelah Ace berbalik untuk kembali ke dapur, Sutrisno mengulurkan tangan dan mengambil piring kecil beserta cangkir di atasnya, lalu menyeruput tehnya dengan hati-hati. Sutrisno tersenyum puas lalu meletakkan kembali cangkir tehnya ke atas meja.


"Tehnya masih seenak yang saya ingat." Pujinya. "Saya kira setelah pak Jaya tidak ada, saya tidak akan dapat merasakan teh ini lagi. Syukurlah." Ucap Sutrisno.


"Ini adalah teh kesayangan kakek saya. Bukan teh mahal, hanya racikan teh dan melati yang ditanam, dipetik dan kemudian dikeringkan sendiri oleh nenek saya dengan cara yang masih tradisional. Saya juga sangat menyukainya." jawab Rainy. Sutrisno mengangguk dan tersenyum, menerima penjelasannya.


"Pak Sutrisno, saya mohon maaf karena perubahan tempat pertemuan yang tiba-tiba. Saya harap bapak tidak keberatan." Ujar Rainy. Sutrisno menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa, nak Rainy. Dimanapun sama saja. Yang terpenting adalah saya bisa bertemu dan berbicara langsung dengan nak Rainy." jawab Sutrisno.


"Saya dengar sebelumnya bapak adalah klien kakek saya?" tanya Rainy. Sutrisno menggeleng.


"Yang menjadi klien pak Jaya adalah atasan saya, pak Hariadi. Tapi saya memang mengenal pak Jaya karena bila atasan saya datang untuk berkonsultasi dengan pak Jaya, beliau selalu mengajak saya untuk menemani." Sutrisno menjelaskan.


"Melihat nak Rainy dan nak Raka, saya jadi teringat bahwa dulu, waktu pertama kali saya diajak atasan saya untuk menemui pak Jaya, saya pernah bertemu dengan nak Rainy dan nak Raka yang saat itu sedang bermain di halaman." Cerita Sutrisno sambil tersenyum.


"Benarkah?"


"Tolong maafkan saya, pak, karena saya sama sekali tidak bisa mengingatnya." ucap Raka. Sutrisno menggeleng.


"Wajar saja karena terjadinya memang sudah lama sekali. Lagipula baik nak Raka maupun nak Rainy, saat itu masih sangat belia. Saya mengingatnya karena waktu itu nak Rainy melakukan sesuatu yang bagi orang biasa seperti saya, sangat aneh dan misterius."


"Apa yang saya lakukan?" tanya Rainy.


"Saat itu saya sedang berjalan di belakang atasan saya untuk melintasi halaman menuju rumah pak Jaya. Nak Rainy sedang berada dalam gendongan nak Raka yang berdiri tak jauh dari kami. Saat melihat kami, nak Rainy tertawa sambil melambai-lambaikan tangan. Tadinya saya pikir nak Rainy melambaikan tangan pada kami. Namun kemudian ketika nak Raka menurunkan nak Rainy ke atas tanah, nak Rainy berlari melewati kami dan berhenti tepat di belakang saya. Nak Rainy tertawa riang dan masih terus melambaikan tangan dan berbicara ke udara yang kosong, seolah-olah sedang berbicara dengan seseorang, padahal di hadapan nak Rainy tidak ada siapa-siapa. Belakangan pak Jaya memberitahu kami bahwa ada sosok seorang anak laki-laki yang masih sangat kecil berjalan mengikuti atasan saya kemanapun beliau pergi. Sosok inilah yang di sapa nak Rainy waktu itu." cerita Sutrisno.


Karena tak satupun dari Rainy dan Raka yang mengingat kejadian tersebut, Rainy hanya mengangguk.


"Sepertinya saat itu saya masih terlalu muda untuk mengingatnya." jawab Rainy. Sutrisno mengangguk mengiyakan.


"Ah, tentu saja. Saat itu nak Rainy masih sangat belia. Wajar bila tak mampu mengingatnya. Bagi anak-anak muda seperti nak Rainy dan nak Raka, waktu itu pasti terjadi sudah lama sekali. Tapi bagi orang tua seperti saya, peristiwa itu seperti baru terjadi kemarin. Hidup terasa berlalu terlalu cepat. Sepertinya baru kemarin saya melihat nak Rainy yang masih sangat belia berjalan dengan langkah yang masih kurang stabil. Tapi sekarang nak Rainy sudah menjadi wanita dewasa, dan pak Jaya sudah tiada lagi di dunia ini." ucap Sutrisno, tampak melankolis. Namun sesaat kemudian ia tersadar dan tersenyum malu.


"Maafkan saya karena jadi berbicara melantur." pintanya. Rainy menggelengkan kepalanya dan Raka tersenyum menenangkan.


"Tidak apa-apa, pak." sahut Raka.


"Pak Sutrisno, bisakah bapak menceritakan alasan bapak untuk menemui saya?" tanya Rainy. Sutrisno mengangguk.


"Saya datang untuk meminta nasehat dari nak Rainy tentang cucu atasan saya." cerita Sutrisno.


Copyright @FreyaCesare


Author Note:


Saya siapkan chapter ekstra untuk bonus weekend. Selamat berakhir pekan. ^.^


Please leave comment and support Author karena komentar pembaca adalah sumber motivasi saya.


Terimakasih.


Freya