
Ketika Rainy sampai di gym, Arka sedang memukuli samsak dengan beringas. Keringat mengucur deras membasahi seluruh tubuhnya, namun ia tidak tampak ingin berhenti untuk beristirahat. Rainy meletakkan tangannya di punggung dan mengatupkan bibirnya saat berjalan mendekat. Ketika melewati sebuah kursi, ia melihat botol minum Arka yang berwarna hitam tergeletak begitu saja di atasnya. Rainy mengambilnya dan kembali berjalan mendekati Arka. Ia berhenti di hadapan Arka dan mencoba menarik perhatiannya dengan mengulurkan botol minuman milik pria tersebut. Namun pria itu hanya mengangkat matanya sesaat, sebelum berbalik memutari samsak, sehingga Rainy harus berhadapan dengan punggungnya. Tanpa memperdulikan Rainy, Arka kembali memukuli sansak tersebut. Rainy menyipitkan matanya dengan kesal. Huh? Jadi orang ini tahu caranya ngambek? Tanya Rainy dalam hati.
Rainy kemudian kembali berjalan menuju ke depan Arka. Ia mencoba memamerkan senyum terbaiknya dan kembali mengulurkan botol minuman tersebut pada Arka. Arka berhenti memukul dan mengangkat wajahnya untuk bertatapan dengan Rainy. Namun tatapannya tampak datar, seolah-olah ia tidak memiliki emosi apapun. Tak lama kemudan Arka kembali memeunggunginya dan melanjutkan latihannya. Rainy mengerutkan wajahnya pada punggung Arka dengan kesal. Mencoba mengabaikanku? Pikir Rainy. Memangnya kau pikir kau bisa?
Setelah memperbaiki ekspresi wajahnya dan memasang senyum yang terlihat aneh karena dipaksakan, Rainy kembali mengitari Arka sehingga ia kembali berhadapan dengan pria itu. Kali ini Arka malah tidak repot-repot memandangnya sama sekali, tapi langsung mengitari samsak dan memberikan punggungnya kembali pada Rainy. Rainy menghentakkan kakinya dengan kesal. Bibirnya bergerak-gerak mengatai Arka tanpa suara. Childish! Awas saja kubalas 10 kali lipat! Rainy menarik nafas panjang. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari sesuatu untuj digunakan menarik perhatian Arka. Pada akhirnya matanya kembali tertumbuk pada kursi tempat Arka meletakkan tasnya. Rainy berjalan kesana, menyampirkan tali tas Arka ke bahunya, lalu menyeret kursinya untuk memindahkannya ke depan Arka. Setelah itu Rainy duduk dan meletakkan tas Arka ke atas pangkuannya.
Rainy membuka botol minum milik Arka dan mulai menyedot air minum dari dalamnya dengan ekspresi acuh tak acuh. Ia lalu membuka tas Arka dan mengeluarkan isinya satu persatu. Handuk, ikat kepala, sarung tangan. semuanya berwarna hitam. How boring! Baju ganti, sebuah celana pendek dan kaus lengan pendek berwarna hitam. Rainy mengerutkan keningnya dengan perasaan tak puas. Ia baru menyadari betapa sepupunya ini sangat tergila-gila dengan warna hitam. Kemudian Rainy mengambil handphone Raka yang sudah pasti juga berwarna hitam. Tanpa casing, tanpa tempered glass atau sekedar soft case pelindung. Polos!
Tiba-tiba Rainy melihat sepasang kaki sudah berdiri begitu dekat di hadapannya. Rainy mengangkat kepalanya dengan perlahan dan mendongak untuk memandang si pemilik kaki. Tapi mengapa ia tinggi sekali sih? Leher Rainy terasa sakit karena harus mendongak setinggi-tingginya untuk biaa melihat wajah sang pemilik kaki. Untuk mengakomodasi lehernya, tanpa sadar tubuh Rainy menjadi condong ke belakang. Ketika akhirnya Rainy bisa melihat wajah Raka, tubuhnya yang makin condong ke belakang tertarik oleh gaya gravitasi sehingga terjatuh tanpa bisa Rainy tahan. Kedua tangan Rainy bergerak-gerak, mencoba menyeimbangkan diri, namun tidak berhasil. Dengan ngeri Rainy terpaksa memasrahkan tubuhnya untuk jatuh dan bersiap-siap untuk merasakan rasa sakit di tubuhnya. Hanya saja ternyata rasa sakit itu tidak pernah datang. Sebelum ia sempat terjatuh, Arka dengan gesit menangkap tubuhnya dan menahannya agar tidak terjatuh.
Rainy mengerjap-kerjapkan matanya. Saat ia melihat wajah Arka yang begitu dekat dengan wajahnya, Rainy mengulurkan kedua tangannya dan mencubit pipi Arka keras-keras.
"Apa aku harus mencelakakan diri sendiri dulu baru kau mau berbicara denganku?" tanya Rainy dengan kesal. Mendengar ini, Arka mendengus. Sudah beberapa lama ini Arka merasa bahwa semakin lama Rainy menjadi semakin ekspresif, sekaligus juga semakin jahil. Rainy juga lebih aktif dalam memulai percakapan dan tak segan untuk mengajak bercanda. Tampaknya bersama Raka memberikan Rainy hati yang lebih terbuka dan ekspresi yang lebih jujur.
Arka menegakkan tubuh Rainy, sebelum kemudian melepaskannya. Ia lalu mengumpulkan barang-barang yang tadi dikeluarkan oleh Rainy dari dalam tasnya dan memasukkan kembali dengan rapi. Rainy memandang benda-benda itu sambil mengerutkan wajahnya.
"Mengapa hanya ada warna hitam? Memangnya kamu ninja?" tanya Rainy.
"Warna hitam lebih mudah untuk di kenakan." sahut Arka. Tangannya masih sibuk memasukkan barang-barangnya kembali ke dalam tas. "Mengapa kau membongkar tasku?" tanya Arka. Mendengar ini, Rainy mengerutkan bibirnya.
"Karena aku bosan." sahutnya. "Siapa suruh kau mengabaikanku! Mengapa kau mengabaikan aku?" Rainy balik bertanya.
"Karena aku bosan." sahut Arka, mengulang kata-kata Rainy, membuat gadis itu kembali mengerutkan wajahnya.
"Kalau kau tidak ingin berolahraga, mau apa kau kemari?" tanya Arka. Mendengar ini, Rainy langsung bangkit dari duduknya dan mendekati Arka.
"Aku mau minta maaf." sahut Rainy dengan jujur.
"Memangnya kau tahu apa salahmu?" tanya Arka.
"Sepertinya begitu."
"Sepertinya?" Arka mengangkat alisnya. "Now tell me, apa salahmu." suruh Arka.
"Siapa yang memberitahukan hal itu padamu?"
"Raka."
"Well, dia salah."
"Eh?"
Arka menyampirkan tasnya ke bahu dan mulai berjalan menuju pintu keluar. Rainy mengikutinya.
"Raka salah? Jadi bukan itu yang membuatmu marah padaku?" tanya Rainy dengan heran.
"Siapa yang bilang aku marah padamu?" Tanya Arka.
"Kau memang marah padaku! Bahkan tadi saja kau masih mengabaikan aku!" tuduh Rainy.
Tiba-tiba Arka berhenti melangkah dan langsung membalikkan tubuhnya untuk menghadap Rainy, membuat Rainy yang sedang berjalan tepat di belakangnya, tak sempat menahan langkahnya dan langsung bertabrakan dengan Arka. Kepala Rainy membentur bibir Arka dengan keras, membuat Arka meringis kesakitan. Arka mengusap-usap bibirnya yang sakit.
"Mengapa kepalamu keras sekali?" tanya Arka.
"Tentu saja karena ini kepala! Kalau lembek nanti dikira cangkang telur!" sahut Rainy dengan kesal. Rainy menangkap sebelah tangan Arka dan berkata,
Tolong beritahu aku apa yang membuatmu marah." pinta Rainy. Arka menarik nafas panjang dan menatap wajah cantik Rainy dengan perasaan sendu. Dulu ia berpikir bahwa dirinya telah mati rasa sehingga tak akan lagi bisa merasakan fluktuasi emosi akibat hubungannya dengan orang lain. Namun ternyata terbukti bahwa dugaannya sama sekali tidak benar. Saat ini Rainy adalah satu-satunya orang yang mampu membuat emosi kembali bergerak. Setelah beberapa menit, akhirnya ia membuka mulut untuk berbicara.
"Aku tidak pernah marah padamu. Aku hanya sedang marah pada diriku sendiri." jawab Arka dengan serius.
"Eh? Kenapa kau marah pada dirimu sendiri?" tanya Rainy lagi.
"Karena walaupun telah berusaha keras, aku masih tidak cukup kuat untuk melindungimu." jawab Arka dengan wajah serius.
Copyright @FreyaCesare