My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Observasi



Jadi mereka menunggu. Mereka duduk di lantai basement yang dingin tersebut sambil terus mengamati Bestari. Namun senja berlalu dan tidak ada yang terjadi. Suara mendengkur Bestari masih terdengar nyaring dan teratur. Awalnya terdengar sangat mengganggu, namun lama kelamaan berubah menjadi dengungan yang menyatu dengan latar belakang. Karena bosan, Rainy memejamkan matanya dan tidak lama kemudian tertidur dengan bersandar di dada Raka. Ketika Natasha dan Ace kembali dengan selimut, kopi dan snack, ia membagikannya kepada mereka, kemudian turut duduk di lantai tak jauh dari rekan-rekannya. Selain Rainy yang tertidur dengan nyenyak, semua orang sibuk dengan handphonenya masing-masing. Hanya Batari yang sesekali mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah Bestari.


Sejam kemudian Rainy terbangun. Saat membuka mata dan melihat bahwa semua orang masih berada di posisi yang sama seperti sebelum ia tidur, Rainy menyadari bahwa tidak ada yang terjadi selama ia tidur kecuali kemunculan Natasha dan Ace. Rainy mengangkat dagunya dan mendongak ke arah Raka. Pria itu balas menatapnya dengan seulas senyum indah terukir di bibirnya. Mata pria itu bersinar hangat, membuat Rainy dipenuhi rasa bahagia. Mine! Pikir Rainy dengan bangga.


“Apa kau lapar?” Tanya Raka dengan suara rendah. Rainy menggeleng. Ia kemudian menoleh ke arah kerangkeng tempat Bestari berada. Wanita itu tampak masih terbaring di tempat tidur sambil mendengkur nyaring.


“Apakah tidak ada yang terjadi?” Tanya Rainy dengan suara serak karena habis bangun tidur. Raka menggeleng.


“Ia tidak bergerak dari tempatnya semula.”


“Berapa lama aku tertidur?”


“Sekitar 1 jam.”


Rainy bangkit dari posisi bersandarnya dan duduk tegak. Ia melihat rekan-rekannya yang lain sedang makan dari sebuah kotak makanan, di tempat duduknya masing-masing.


“Aku memesankan Mie Goreng Seafood untukmu.” Ucap Raka sambil menunjuk ke arah setumpuk kotak makanan berwarna putih yang di atasnya tertera lambang Cattleya Resort. “Kau mau?” Tanya Raka lagi. Rainy menggelengkan kepalanya.


“Apa kau belum makan?” Tanya Rainy pada Raka. Raka menggeleng. Tentu saja dia belum makan. Bagaimana caranya ia makan apabila Rainy terus berbaring dalam pelukannya? Menyadari ini, Rainy merasa bersalah. Bukan Raka namanya, bila tidak bisa mengetahui apa yang dipikirkan gadis itu. Tak ingin Rainy menyalahkan diri untuk hal yang tidak penting, Raka berkata,


“Aku sudah makan 2 potong croffle tadi. Jadi aku masih kenyang.” Ucap Raka.


“Ah! Croffle!” Wajah Rainy langsung berseri mendengar kata itu. Ia kemudian menarik keluar kotak kue berlabel Éclair dari tumpukan kotak makanan dan membukanya dengan penuh antisipasi. Di dalamnya terdapat sepotong Éclair, sepotong tiramisu, 2 potong croffle, sekantung kacang mede goreng dan sekantung melinjo manis pedas yang crispy. Selama bekerja dengan Rainy, Natasha mempelajari seluruh kebiasaan Rainy dengan hati-hati. Sekarang ia bisa memilihkan snack untuk Rainy dengan mudah. Bossnya itu lebih suka snacknya memiliki rasa manis dan manis pedas. Setiap kali Natasha melihat variasi snack yang dimakan oleh Rainy setiap hari, ia akan menggerutu dalam hati. Entah kemana semua kalori yang dihasilkan oleh gula tersebut pergi? Mengapa tidak ada selapis lemakpun yang terlihat di tubuh Rainy kecuali di bagian dadanya? Sungguh tidak adil!


Rainy meraih sepotong Croffle dan mengigit pastry yang dipanggang hingga krispy dan dilapisi oleh caramel itu dengan nikmat. Mr. Jack sudah melatih anak buahnya dengan baik. Croffle buatan mereka sama enaknya dengan buatan Mr. Jack.


“Gadis kecil, baunya sangat enak. Bisakah kau membaginya untukku?” tiba-tiba suara Bestari memanggil dari balik kerangkengnya. Dengan terkejut mereka menoleh ke arahnya. Karena semua orang sedang makan, tidak ada yang menyadari bahwa suara dengkur Bestari telah menghilang dan wanita itu telah bangkit dari ranjangnya. Saat itu ia sedang memandang ke arah Croffle di tangan Rainy dengan penuh minat.


Rainy menahan Crofflenya di mulut dan bangkit dari duduknya. Raka turut bangkit bersamanya, diikuti pula oleh Bestari dan Mr. Jack.


“Apakah ibu lapar?” Tanya Batari. Ia mendekati Bestari dengan membawa sebuah Rice Box. Tapi Bestari hanya meliriknya sekilas dengan tanpa minat dan kemudian menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak mau itu. Bau makanan yang dipegang gadis itu tercium lebih enak.” Ucap Bestari. Batari memandang ke arah Rainy dengan pandangan meminta maaf.


Rainy menggigit crofflenya dan memasukkan sisanya ke mulut Raka, lalu membungkuk dan mengambil kotak kuenya, kemudianberjalan mendekati Bestari sambil berkata,


“Ibu, hidung anda sungguh luar biasa. Bagaimana bisa anda mencium wangi makanan dingin dari jarak sejauh ini.” Ketika Rainy sampai di depan Bestari, ia memiringkan kotak kuenya hingga bisa masuk ke sela-sela jeruji besi dan mendorongnya ke arah Bestari. Bestari menyambutnya dengan senyum lebar.


“Gadis cantik, kau terlihat dingin dan jahat, tapi ternyata hatimu sangat baik.” Puji Bestari. Kata-katanya membuat Mr. Jack, Ivan dan Natasha sontak tertawa. Ace malah sampai tersedak karena ia sedang menyesap kopinya ketika komentar Bestari tersebut sampai ke telinganya. Sementara itu Raka tersenyum dan Rainy hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal tanpa perubahan ekspresi yang berarti.


Batari menatap ibunya dengan tidak percaya. Bagaimana bisa ibunya bicara tanpa filter pada orang yang telah menolongnya? Namun Bestari mengabaikan tatapan putrinya. Ia membawa kotaknya dan duduk kembali ke atas ranjang. Bestari menaruh kotak tersebut ke atas pangkuannya, membuka tutupnya dan langsung mengambil Croffle, lalu menyuapkannya ke dalam mulutnya sendiri dengan ekspresi girang. Matanya terpejam dan senyum mengembang di wajah tuanya, saat ia mengunyah croffle dengan perlahan.


“Mungkin itu karena sekarang ibu sudah berkumpul dengan putri ibu dan merasa bahagia sehingga minat ibu terhadap makanan kembali.” Ucap Raka sambil tersenyum. Ia berjalan mendekat dan berdiri di samping Rainy.


“Emm.” Wanita tua itu mengangguk. “Mungkin saja.” Ia tersenyum pada Rainy dan Raka sambil terus mengunyah. “Ini semua berkat bantuan kalian. Terimakasih.” Ucap Bestari kemudian. Raka dan Rainy hanya mengangguk. Mereka menerima ucapan terimakasih Bestari tanpa banyak basa-basi.


“Ibu, bagaimana keadaan tubuh ibu? Apakah badan ibu terasa baik-baik saja?” Tanya Batari. Bestari yang sedang memegang sendok kue kecil yang terbuat dari plastik berwarna putih, menganggukkan kepalanya kuat-kuat sebelum menghujamkan sendoknya pada sepotong tiramisu cake dengan penuh rasa tertarik.


“Tubuhku hanya terasa sedikit lelah. Tapi masih baik-baik saja.” Sahutnya. Ia mengangkat sendoknya dan meletakkan sendok tersebut ke dekat hidungnya untuk mencium aroma potongan cake yang ada di atas sendok. “Ini wanginya seperti kopi?” Komentarnya. Ia lalu memasukan ujung sendok tersebut ke dalam mulutnya dan tak lama kemudian kembali memejamkan mata.


“Hmmm! Enak sekali! Tukang kuenya pintar sekali! Kue ini cocok sekali dengan seleraku!” Puji Bestari. Mendengar ini, si ‘Tukang Kue’ berjalan mendekati kerangkeng dan berdiri di belakang Batari.


“Itu kue buatan saya, Ibu.” Ucap Mr. Jack dengan bangga. Bestari menoleh dan bertanya heran,


“Kamu tukang kue?”


Mr. Jack mengangguk.


“Benar, Ibu. Saya pembuat kue paling jago di kota ini!” Ucap Mr. Jack membanggakan diri. Bibir Rainy langsung berkedut mendengar klaimnya yang tidak tahu malu sementara itu Batari mendengus geli.


“Kak Jaka adalah Chef dari toko kue yang ada di resort ini. Hampir semua kue yang ada di dalam box itu adalah buatan Kak Jaka, bu.” Beritahu Batari.


“Benarkah? Berarti di masa depan aku bisa makan kue seperti ini  terus dong?” Tanya Bestari dengan mata berbinar-binar. Great! Pikir Rainy geli. Fellow pastries lovers. Mr. Jack mengangguk.


“Tentu saja, Bu. Apabila saya jadi menantu ibu, maka kapan saja ibu ingin makan kue, pasti saya akan siapkan untuk ibu.” Sahut Mr. Jack dengan penuh semangat.


“Setuju!” Ucap Bestari dengan nyaring, membuat senyum Mr. Jack menjadi semakin lebar, sementara Batari menatap keduanya dengan terpana. Ibu, engkau terlalu mudah disogok. Mengapa kau langsung setuju begitu saja hanya karena Kak Jaka menjanjikan persediaan pastry yang tidak pernah habis untukmu di masa depan? Mengapa tidak menahan persetujuanmu sedikit dan bersikap layaknya seorang ibu yang mewaspadai bahwa kekasih putrinya adalah seekor serigala jahat berbulu domba? Setidaknya dengan cara itu, kak Jaka akan menjadi semakin hati-hati dalam memperlakukan dirimu dan putrimu yang berharga ini. Pikir Batari, merasa sedikit kecewa. Namun walaupun mengeluh dalam hati, Batari sebenarnya sangat bersyukur bahwa Bestari ternyata bukanlah pribadi yang sulit dimenangkan hatinya. Wanita tua itu sangat terbuka dan jujur. Di masa lalu, beliau pasti adalah wanita yang periang dan penyayang.


“Ibu, apakah menurutmu malam ini kau akan kembali berubah menjadi Kuyang?” Tanya Raka. Mendengar pertanyaan ini, suapan Bestari terhenti di tengah jalan. Untuk sesaat tatapan matanya tampak kosong, sebelum kemudian ekspresinya kembali seperti semula. Bestari mengangguk sambil menyuapkan cakenya.


“Belakangan ini, hampir tiap malam aku kehilangan ingatanku. Jadi besar kemungkinan akan terjadi kembali malam ini.” Ujar Bestari.


“Jam berapa biasanya ibu berubah wujud?” Tanya Raka lagi.


“Entahlah. Aku tidak tahu. Biasanya aku langsung tertidur selepas maghrib dan baru bangun saat subuh, terutama karena aku tidak pernah menyalakan lampu di pondok itu. Tanpa penerangan dan tanpa apapun yang bisa dilakukan, tidur adalah satu-satunya pilihan yang tersedia. Jadi begitulah.” Bestari mengangkat bahu dengan tak acuh sambil kembali memusatkan perhatiannya pada box pastries di atas pangkuannya. Melihat sikap ibunya yang tampak tanpa beban ini membuat hati Batari terasa sakit. Ibunya sudah terlalu terbiasa hidup dalam keterbatasan akibat ilmu Kuyang yang diwarisinya sehingga ia tidak lagi merasa hal itu sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan.


Batari kemudian menoleh pada Rainy dengan tatapan memohon. Rainy yang menyadari apa yang ingin disampaikan Batari lewat tatapan matanya itu, berjalan mendekati Bestari dan berkata dengan serius.


“Ibu, apabila saya punya cara untuk membuang ilmu Kuyang dalam tubuh ibu, apakah ibu bersedia melakukannya?”